
Erni menyeret adiknya yang sudah berganti pakaian dengan piyama keluar kamar kos, mengunci pintu kamar kos adiknya dengan kunci yang masih tergantung saat digunakan membuka tadi.
“Apa-apaan sih kak” protes Leyna berusaha melawan.
Erni tak memperdulikan protes adiknya. Didorongnya Leyna hingga ke dalam mobil yang sudah menunggu dengan Dewa di dalamnya.
“Jalan Dewa” perintah Erni.
Dewa menepuk driver sewaan yang sudah paham situasi.
Dewa lelaki gagah dan tampan, jauh dari penampilan Johan yang sederhana cenderung kampungan. Penampilan Dewa sungguh elegan.
Jabatannya yang tinggi membuat Dewa sangat dihormati. Namun karena ia menginginkan cinta Leyna adik Erni, maka Dewa menghormati Erni yang telah membantunya menemukan kembali kekasihnya yang empat tahun menghilang.
Mobil mewah itu melaju melewati Johan yang sedang berjalan menuju kos Leyna tanpa memperhatikan kiri kanan. Johan terfokus ingin segera bertemu Leyna di kamar kos sesuai janjinya.
Di dalam kendaraan, Leyna tidak melihat Johan karena ia terus melotot mengarah ke wajah kakaknya. Dengusan nafasnya menahan amarah yang ingin ditumpahkan jika tak ada orang lain di situ.
“dret.drrt” smartphone dewa bergetar. Pesan singkat baru saja masuk. Dewa membuka pesan dan membaca.
“Bos, ada laki-laki masuk ke kos yang bos maksud” tulisan pada pesan dari anak buah Dewa.
“Garap!” Dewa membalas singkat, namun anak buahnya sudah paham apa yang harus dikerjakan.
“Siap Bos” jawaban dari anak buah Dewa.
Mobil terus melaju menembus jalanan Jogja hingga memasuki lobby hotel bintang lima dengan cepat.
Erni bergesas turun untuk kembali ke kamarnya. Sebelum berlalu ia mencegah Leyna yang hendak menyusulnya.
“Kamu ikuti kata-kataku kali ini” hardik Erni sambil mengarahkan telunjuk ke wajah Leyna.
“Silahkan selesaikan urusanmu dengan Leyna Dewa, biar papa dan mama aku yang urus” perintah Erni ke Dewa.
Mata Erni melotot kepada Leyna yang memandang kakaknya dengan malas.
Senja telah menjelang, lampu lobby hotel telah menyala benderang.
“Besok subuh kami kembali ke Lampung dengan penerbangan pertama” Erni memberi informasi, Dewa hanya mengangguk.
Begitu pintu tertutup, driver sewaan yang telah berpengalaman itu segera melarikan mobilnya, meninggalkan hotel mewah tempat keluarga Hartanata menginap.
Perjalanan yang cukup lama meski driver mengemudikan seperti orang gila. Dewa sengaja sama sekali tak membuka suara, begitupun Leyna yang otaknya belum menyambung akan peristiwa yang dirancang kakaknya.
“Celaka, smartphone dan dompet masih di tas Erni karena aku titipkan tadi pagi” sungut leyna dalam hati.
“Bagaimana aku memberi kabar kepada Johan kalau pertemuan dengan papa harus ditunda?” hati Leyna gelisah sepanjang perjalanan, hingga tak mampu berfikir untuk bersuara.
Pagi tadi Erni menawarkan untuk membawakan dompet dan smartphone yang telah dimatikan agar tak mengganggu saat upacara wisuda.
Di sebuah lereng gunung yang cukup sepi. Villa yang menyendiri diterangi lampu seperti istana di malam hari.
Driver menghentikan laju mobil hingga berhenti di depan pintu. Seorang lelaki tua dengan sigap menyambut dan membawakan tas Dewa.
“Mari tuan, kamar yang anda minta telah saya siapkan” pelayan tua itu mendahului Dewa begitu mobil telah melaju kencang meninggalkan halaman villa.
Leyna hanya mengekor saja, karena gelap di luar sana membuat bulu kuduknya meremang.
Sebuah kamar mewah dengan tempat tidur besar terlihat empuk.
“Silahkan” kata pelayan kepada Leyna mempersilahkan agar leyna istirahat.
Sebenarnya Leyna enggan melakukan semua ini, namun tekanan Erni membuat ia menurut saja agar tak membawa masalah kepada papanya.
Perasaan Leyna terlalu kaku akan kehadiran Dewa, tetapi lelah seharian menggoda tubuhnya untuk berbaring di atar sprei lembut. Kasur empuk seakan mengundang kantuknya untuk segera beradu.
__ADS_1
Leyna melangkah mendekat dan melemparkan dirinya ke peraduan tanpa memperdulikan sekitar.
Leyna berbaring terlentang menatap langit-langit. Pikirannya menerawang mencari Johan, namun tingkahnya yang demikian justru kantuk lebih cepat datang.
Samar Leyna masih mendengar percakapan Dewa dengan pelayan tua sebelum matanya sungguh berat terbeban.
Leyna terlelap membawa Johan dalam mimpi, sementara Dewa membersihkan diri di kamar mandi setelah pak tua pergi.
Dalam sela mandinya, Dewa begitu bahagia berhasil membawa kembali Leyna berkat bantuan Erni.
Ia tak berlama-lama mandi karena ingin segera menikmati kembali kenangan indah empat tahun lalu di hari terakhirnya sebelum berangkat studi.
Hanya berbalut handuk, tubuh Dewa yang gagah berotot itu terlihat segar kembali.
Dewa berdiri di samping tempat tidur, dimana Leyna dengan wajah polos terlihat tertidur bahagia.
“Kembalilah kepadaku Leyna sayang” begitu bisik hati Dewa.
Perlahan Dewa menaiki tempat tidur mendekati Leyna yang masih tertidur. Dikecupnya kening Leyna lembut seperti ia mengawali malam perpisahan mereka dahulu.
Terlihat bibir Leyna tersenyum dalam tidurnya. Kecupan Dewa pasti membangkitkan gairah pada mimpi indahnya.
Melihat Leyna tidak bereaksi karena didera lelah, Dewa kembali mencium lembut, kali ini di bibir Leyna.
Cara Dewa memperlakukan Leyna empat tahun lalu, membuat gadis itu tertanam kesan mendalam sebuah kenangan indah sepanjang hidupnya. Kecupan itu merasuk ke dalam mimpinya.
Dewa nekat, perlahan membuka kancing piyama Leyna agar gadis itu tak segera terjaga. Dewa takut ada penolakan jika Leyna dalam keadaan terjaga.
Kecupan-kecupan lembut di dada, membuat Leyna sedikit mengangkat tubuhnya dalam alam tak sadarnya. Sungguh mimpi indah yang sangat menggairahkan bagi Leyna.
Tak sadar dalam pengaruh mimpi tangan Leyna meraih dan memeluk dengan mesra kepala Dewa yang ada di atas dadanya. Membuat Dewa semakin ingin melanjutkan kemesraan.
Namun setelah beberapa lama, kantuk telah terkalahkan oleh getaran asmara.
Leyna buru-buru melepaskan pelukan dan menutup dadanya dengan piyama yang telah terbuka.
“Oh, apa yang kau lakukan Dewa?” Leyna terkejut.
“Maafkan aku Leyna” desah Dewa mendekap Leyna yang hendak beranjak,. Dewa membisikkan lembut kata itu dekat telinga Leyna hingga hatinya bergetar.
Kata itu yang keluar sesaat setelah semua yang ia miliki ia serahkan kepada Dewa empat tahun lalu.
“Jangan lakukan ini Dewa. Aku tak sanggup menerimanya” ujar Leyna
Leyna tak bisa bergerak karena meski dekapan Dewa lembut, cukup untuk mengunci tubuhnya.
“Apa yang sebenarnya engkau mau Dewa?” bisik Leyna kembali.
“Aku menginginkan mutiaraku kembali” kata Dewa.
“Sudah cukup terlambat Dewa, aku sudah tersesat” Leyna berusaha menghindar dari pelukan Dewa, namun tak dapat dilakukkannya.
“Mengapa kau tinggal aku setelah malam indah itu” protes Leyna
“Apakah kamu juga melakukannya dengan pacarmu?” selidik Dewa tanpa menjawab pertanyaan.
Leyna menggeleng.
"Kalaupun kamu melakukan, aku akan tetap mengambil mutiaraku yang hilang"
Empat tahun lalu Dewa meyebutnya Leyna sebagai mutiara untuk menunjukkan bahwa Leyna begitu berharga bagi Dewa.
Dewa tahu Leyna adalah gadis yang setiap tindakannya dapat dipercaya.
Itulah sebabnya Dewa sampai salah membuat keputusan karena ia percaya setelah malam terakhir dalam pertemuan dengan Leyna sebelum studi. Dewa berharap kenikmatan cinta yang ia tanamkan dapat mengikat Leyna selamanya.
__ADS_1
“Aku menjaganya Dewa, tetapi aku telah berjanji akan memberikan di malam pertama kami dengan Johan” desah Leyna.
“Tidak Leyna, aku memintamu kembali” Dewa memaksa.
“Dewa, kamu tahu aku orang yang tak pernah ingkar janji. Aku telah berjanji akan menjadi istri Johan, memelihara dan membesarkan anak-anaknya” elak Leyna.
“Aku akan menunggu luluhnya hatimu sayang, aku sangat membutuhkanmu. Untuk kali ini aku ingin kau mengingkari janjimu kepada orang lain. Sekali ini saja” Dewa merajuk.
“Jangan mengujiku Dewa. Aku bukan orang yang bisa ingkar janji” Leyna mengingatkan.
"Jika kau bersikeras, aku akan memaksa Leyna" Johan meninggikan nada suaranya, pertanda menahan ketidaksabaran.
Dewa tidak memperdulikan apa yang dikatakan Leyna.
“Kalau aku tak bisa mendapatkan mutiaraku kembali, maka lebih baik tak ada seorangpun yang boleh memilikinya” Dewa mengancam.
Leyna bergidik. Ia bisa membayangkan apa yang dilakukan Dewa jika sudah nekat. Saat ini ia sendirian di villa sepi.
“Dewa kenapa, untuk apa?”
“Ssssttt!” dewa menutup bibir mungil nan seksi Leyna dengan jari telujuknya.
Dewa kembali melakukan aksi.
Leyna terdiam mendapatkan perlakuan Dewa. Meski marah, dalam hal asmara Dewa tetap lembut penuh gairah.
Leyna ingin menolak, tetapi kekarnya otot Dewa bukanlah lawannya. Pemberontakannya yang tak seberapa tak mampu melepaskan pelukan Dewa.
"Jangan Dewa cukup" Leyna menggelengkan kepalanya ke kiri ke kanan untuk menghindari ciuman Dewa yang membabi buta.
Tangan kekar Dewa menahan kepala Leyna, sementara tubuhnya menahan tubuh Leyna agar tak banyak bergerak.
Dewa menyusur seluruh bagian tubuh Leyna yang telah terbuka. Menghujamkan angkara asmara hingga Leyna mulai tak berdaya. Dewa berhasil membangkitkan kenangan lama.
Berkat gempuran ciuman dan jilatan dewa, akhirnya Leyna terjatuh dalam hawa. Tak ada penolakan berarti dari Leyna yang telah berfikir bahwa ia telah terjebak dalam kenangannya sendiri.
Leyna mulai perlahan membalas ciuman Dewa di pada mulutnya. Pertanda Dewa telah menguasainya. Dewa membentangkan ke dua tangan Leyna dan menggenggap jemari Leyna dengan jemarinya yang kekar.
Usaha Dewa membangkitkan api asmara Leyna tak berhenti di situ saja, hingga seluruh Piyama Leyna telah tercecer entah kemana. Kepala Dewa terus menyusur dari unjung kepala hinga berakhir pada tempat dimana kenangan lama benar-benar menguasai Leyna.
Leyna hanya mendesah, akhirnya terjatuh dan pasrah pada kenangan lama, tak hendak menolak ketika Dewa berusaha membangkitkan gairahnya.
“Kamu ingat ini yang kita lakukan saat itu sayang” tanya Johan sambil mengulang perlakuan kepada Leyna empat tahun lalu.
Dewa mencium bagian sensitif Leyna hingga Leyna menjadi makin dalam terjebak dalam kenangan, tanpa sadar Johan hampir menghilang dari ingatan.
“Malam yang indah Dewa, aku menyerahkan segalanya kepadamu dengan rela, namun menjadi kepedihan karena kau pergi tanpa pesan” dalam gairah yang mulai membara, ada titik airmata Leyna di sudutnya.
Sebenarnya masih ada pertentangan kecil dalam batin Leyna akan keinginannya menjaga hubungan dengan Johan, namun kenangan indah yang berusaha dibangkitkan Dewa membuat gairahnya sedikit demi sedikit kembali membara.
Leyna makin terjatuh dalam lembah asmara.
Leyna tak terlalu keras menolak perlakuan Dewa, karena selama ini iapun sebenarnya memendam kerinduan yang sama dengan Dewa.
Leyna mampu menolak gairah Johan karena kenangan noda Dewa yang tak terhapuskan.
Kenangan akan kenikmatan yang ia dapatkan dari kokohnya tubuh Dewa terus mengganggunya selama menjalin hubungan dengan Johan.
Melihat Leyna mendongakkan kepala dengan mata terpejam, Dewa tahu bahwa Leyna telah terbakar asmara. Dewapun meningkatkan permainannya.
Leyna pasrah dalam pelukan malam, ingatannya terbang ke awan menggali kembali nikmat yang pertama ia temukan saat kelas 2 SMA.
Dewa!
Malam ini telah Leyna serahkan kembali kehormatannya dengan gairah membara, menghabiskan seluruh sisa tenaganya untuk menaguk berkali-kali kenikmatan ia bisa.
__ADS_1