
Dewa terkapar kelelahan berselimut kepuasan di kamar hotel mewah di tengah kota.
Sementara Leyna terganjal rasa tidak puas hingga tak dapat tidur kembali.
Leyna turun dari peraduan meninggalkan Johan yang tak bergerak hendak enuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
tanpa sengaja Leyna melihat layar ponsel Dewa menyala, tanda ada notifikasi baru saja masuk.
Melewati meja rendah itu Leyna curiga nama Erni muncul di notifikasi pesan yang sudah bertumpuk.
Leyna nekat mengambil ponsel Dewa yang tertinggal di meja setelah menerima telepon tadi.
Diberanikan diri sambil menahan nafas membuka pesan dari Erni kakak Leyna. Jantungnya berdegup.
“Ah, beruntung tidak ada kunci layar” gumam Leyna.
“Terima kasih Dewa. paketnya sudah aku konfirmasi” pesan terakhir yang baru saja masuk.
Leyna menggeser ke atas layar pesan karena penasaran begitu panjangpercakapan antara Dewa dengan kakaknya.
“Paket? Ada bisnis apa antara Erni dan Dewa?” tanya Leyna dalam hati.
Rasa penasarannya semakin tak tertahan, pesan panjang sejak beberapa hari lalu Leyna dapatkan.
“Bagaimana khabar Leyna Er?” bunyi awal pesan dikirim oleh Dewa kepada Erni.
“Entahlah, dia sudah kembali ke Jogja” balas Erni.
“Loh Kapan?” tanya Dewa melanjutkan dialog dalam pesan.
“Kamu tidak tahu? Kamu tak pernah menghubunginya?” Erni balas bertanya.
Leyna melihat ke peraduan. Dewa benar-benar pulas tertidur. Nafasnya sungguh teratur membuatnya semakin mantap untuk melanjutkan mencari tahu isi pesan yang sangat panjang itu.
“Mungkin nomorku diblokir Er. Aku tak bisa menghubungi Leyna” pesan Dewa mengisyaratkan kekecewaan.
“Kami sekeluarga akan ke Jogja minggu depan” tulis pesan Erni.
“Ada acara pentingkah?” tanya Dewa.
“Nggak sih, si Leyna wisuda saja. Bener-benar merepotkan anak ini” keluh Erni dalam pesan.
“Kabari aku kalau kalian sudah di Jogja ya Er, aku ingin bertemu Leyna” pinta Dewa.
Leyna menggeser layar ke bawah. Layar pesan menunjukan hari Sabtu, tanggal saat Leyna melaksanakan wisuda.
“Aku OTW penerbangan ke Jogja, kalian menginap di mana?” tanya Dewa mengawali pesan hari sabtu kemarin.
“Kami menginap di hotel, tapi ini aku dan Leyna dalam perjalanan ke kos dia” balas Erni.
Dewa mengguling ke samping membuat jantung Leyna terhenti. Beruntung posisinya justru membelakangi Leyna yang duduk di sofa tempat Johan saat menyalakan ponsel tadi.
“Sebaiknya nanti aku ke kos dia saja. Tolong kamu shareloc ya Er” pinta Dewa.
“Baiklah, tunggu aku sampai di sana nanti” balas Erni kembali.
Leyna kembali menggeser pesan yang menyertakan gambar tempat kosnya.
“Ya ampun Dewa. Leyna benar-benar sudah gila. Bagaimana bisa ia tinggal di tempat kumuh ini?” Tulis Erni dalam pesannya sesaat setelah taksi onlien tiba di kos Leyna. Erni bergidik saat memasuki kos Leyna saat itu.
“Ini lokasinya” sebuah titik peta disertakan dalam pesan agar Dewa mudah menemukan kos Leyna.
“Tapi dia sedang ada kencan dengan pacar simpanannya rupanya” tulis erni.
“Seperti apa rupa dia? lelaki macam apa yang bisa menundukkannya?” Dewa ingin tahu tampang pacar Leyna.
“Aku juga belum tahu. Sepertinya cuma pegawai rendahan perusahaan abal-abal. Tapi dia sedang tidak ada” pesan Erni menjelaskan.
“Er, aku ingin membawa Leyna keluar. Kamu bisa bantu?” tanya Dewa, pesannya ditambah pesan icon meringis menjijikkan.
“Bantu bagamana?” tanya Erni.
Dewa menjelaskan kedudukannya di mata Leyna saat ini.
“Leyna pasti tidak mau kalau aku yang mengajak. Nomorku saja diblokir. Tolong Er, bujuklah dia agar bersedia aku ajak keluar” pinta Dewa.
__ADS_1
“Ah, dia ini bandel dan sulit. Akupun tak akan bisa membujuknya” elak Erni tahu sifat adiknya dan hubungan dengan Leyna yang kurang dekat.
“Paksa Er, Bagaimanapun caranya” desak Dewa dengan emot dua tangan ditangkupkan untuk memohon.
“Nggak bisa Dewaaaa. Dia tuh kalau sama aku maunya melawan saja” Erni juga merasa posisinya memang tidak baik di mata Leyna.
Leyna sesekali berhenti untuk mengamati jangan sampai Dewa terbangun saat dia sedang mengoprek isi pesannya.
“Aku akan beri hadiah kau apa saja kalau berhasil mengajak Leyna keluar” janji Dewa dalam pesan.
“Ah masa. Hadiah apa?” Erni penasaran.
“Terserah apa pintamu” tegas Dewa.
“Aku berencana jalan-jalan ke eropa dengan pacarku” tawar Erni.
“Oh sebesar itukah harganya?” Dewa tercengang, sebuah emot oragn menepuk kepala disusulkan.
“Ya, plus mama! kecuali kamu ingin pejalananmu ke Jogja sia-sia” Erni masih menambahkan.
“Oke oke. Aku bisa mendapat paket tour eropa untuk dua pasang dari agen yang aku bantu perijinan. Kamu pakai saja” janji Dewa.
“Kamu tidak kecewa? tidak ingin kamu gunakan sendiri?” Erni menguji keseriusan Dewa.
“Tidak. Sudah beberapa kali aku dapat dari agen lain” ujar Dewa dalam pesannya.
Deg! Jantung Leyna tertahan sejenak pesan berikutnya membuat darah berdesir.
“Saat ini aku tak akan ke mana-mana karena istriku sedang hamil muda dan agak bermasalah dengan kandungannya” jelas Dewa.
“Oh ya, selamat ya” ujar Erni.
"Ah, Dewa yang aku kenal dulu, ternyata memang kini jauh berubah" batin Leyna.
“Tapi janji Er, kalau aku melakukan apapun kepada Leyna kamu nggak apa-apa kan?” tanya dewa
Serrr.. darah Leyna makin berdesir.
Tangannya sedikit gemetar sehingga beberapa kali ia kesulitan menggeser layar.
“Melakukan apa?” Tanya Erni takut juga sesuatu terjadi pada adiknya.
“Kamu tahulah sesama orang dewasa” pesan Dewa dengan tambahan emot bersiul dengan tiga tanda hati melingkupi.
“Oh, Cuma itu. Bukankah kamu sudah mengambil kegadisan adikku saat masih SMA? He he he” Erni malah menambahkan emot tertawa di pesannya.
“Kamu tahu saja” Dewa bertanya dengan bangga.
Sial kalian berdua, begitu pikir Leyna dalam hatinya, aku kalian anggap barang untuk tawar menawar.
“Ya tahulah, sama anak perempuan saat itu” jelas Erni.
“Jadi boleh kan” desak Dewa.
“Silahkan, toh kalian sudah pernah merasakan” ungkap Erni enteng saja.
Dewa terbatuk, Leyna meletakkan telefon dengan layar tengkurap agar cahayanya tidak terlihat. Namun dewa hanya menarik selimut untuk menutup tubuhnya yang kedinginan karena AC ruangan dipasang terlalu rendah saat permainan yang panas tadi.
Leyna kembali menggeser layar.
“Terima kasih Er, adikmu sungguh luar biasa. Aku ingin menikahinya kalau boleh” tulis Dewa mengawali pesan hari minggu jam agak siang.
“Loh, bukannya kemarin diajak jalan saja sulit sekali” Erni penasaran.
“Mulanya memang menolak, tetapi akhirnya permainanku mampu menaklukkannya berkali-kali tanpa paksaan” tulis Dewa penuh bangga.
"Aku semakin mantap ingin menikahi Leyna. Boleh kan Er” desak Dewa.
“Terserah dia saja Dewa, aku sih tidak masalah. Bagaimana dengan istrimu?” tanya Erni.
“Kalau dia menolak aku akan menceraikannya” kata Dewa pedas. Leyna geregetan membaca pesan-pesan itu, namun tak mampu melawan hatinya.
“Ya terserah apa mau kalian sajalah” kata Erni sekenanya
Leyna kembali menggeser isi pesan, hari sudah minggu malam. Jadi sekitar Dewa menelepon tadi.
__ADS_1
“Terima kasih Er, aku sungguh puas" pesan yang menjijikkan bagi Leyna.
"Ini nomor seri paket wisata yang kamu inginkan” Dewa mengirimkan dua nomor seri berisi dua pasang paket tour eropa. Bisa digunakan untuk empat orang.
“Terima kasih Dewa, kamu memang baik” Puji Erni yang mendapatkan apa yang ia inginkan.
Dan Leyna menggeser pesan terakhir.
“Terima kasih Dewa. paketnya sudah aku konfirmasi”.
Leyna meletakkan ponsel kembali ke tempatnya.
Lama ia duduk tercenung di sofa itu dengan perasaan tak menentu. Leyna ingat tadi ingin ke kamar mandi membersihkan sisa cinta yang kini telah mengering.
Di kamar mandipun ia terduduk lama, entah berapa menit atau berapa jam, terdiam merenungi perjalanan hidup yang ia buat sendiri. merenungi nikmat dan sakit yang saling menindih.
“Aku tidak boleh menyerah pada diri sendiri” Leyna akhirnya berjanji dan bangkit, perlahan menuju peraduan untuk merebahkan diri.
Dewa terbangun saat Leyna naik ke tempat tidur. Waktu sudah pukul tiga pagi.
“Sayang kamu belum tidur?” tanya Dewa.
“Hmm..” jawab Leyna.
“Mengapa? Belum tuntas?”
“Hmm..” entah mengapa Leyna yang begitu pedih hatinya justru mengiyakan saja semua pertanyaan Dewa.
Dewapun bangkit memeluk Leyna dibawah tubuhnya.
Leyna kembali terpancing asmara dan menggila dalam kegalauannya sampai fajar menjelang.
Mereka mengakhiri pertemuan dengan permainan panjang.
Setelah nafas tertata, Dewa segera membersihkan diri. Ketukan di pintu terdengar. Sopir sewaan sudah menunggu di luar kamar.
“Sudah hampir terlambat Bos” teriaknya dari luar.
“Ya sebentar” Dewa menjawab sambil berkemas.
Leyna mengantar ke depan pintu dengan berbalut selimut.
“Dah sayang” Dewa mengecup dahi Leyna didepan sopir sewaan.
Baru beberapa langkah Dewa meninggalkan pintu Leyna berkata.
“Dewa, ini terakhir kali, tak perlu kita ulang lagi” kata Leyna.
Dewa terhenyak sontak berhenti. Emosinya langsung naik ke atas kepala.
“Bos” sopir mengingatkan waktu terbang telah dekat.
“Tak perlu kau ceraikan istrimu hanya karena aku” Dewa tercekat mendapati Leyna telah tahu statusnya entah darimana, karena Dewa tahu Leyna tak membawa alat komunikasi.
“Bos, aku nggak bisa jamin bos gak terlambat” sopir mengingatkan melihat Dewa kembali ke depan pintu.
Leyna segera menutup pintu dan mengunci dari dalam. Terduduk lesu persandar pintu , tangisnya pecah.
"Leyna. Leyna, apa yang kau bicarakan" teriak Dewa kalap sambil menggedor pintu.
"Sudah Dewa, mohon jangan sakiti aku lagi" histeris
Yakin pintu telah aman Leyna berlari menuju tempat tidur yang ia gunakan mengobati kerinduan semalam.
Tertelungkup di kasur tangisnya semakin pecah. Leyna ingin menumpahkan segala kepedihan dengan mengeringkan airmata hingga lelah menggantikan.
***
Remuk rasa tulang belulang karena permainan super panjang, dan kecewa karena semua tak sesuai yang dia inginkan, serta tangis yang mengeringkan airmata membuat Leyna tertidur sampai menjelang petang.
“Johan maafkan aku” begitu ungkap hatinya berkali-kali dalam mimpi.
“Apakah Johan mau menerimaku jika tahu perbuatanku” batin Leyna.
Tapi sial, Dewa tak meninggalkan sepeserpun uang. Sore ini kamar harus chek out.
__ADS_1
Johan, terpaksa menjadi akhir dari tujuan. Leyna mencegat taksi konvensional di jalan depan hotel mewah seperti gadis yang kehilangan arah.