Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap47. Bimbang


__ADS_3

"Yang ini tipe pemikir cerdas Jo, tapi menurutku ini bisa menjadi batu sandungan bagimu kelak" ucap Anna sambil menunjukkan sebuah berkas lamaran yang telah dia beri beberapa tanda kepada Johan.


Mereka berdua berdiskusi memilah berkas-berkas yang akan di bawa ke rapat pimpinan. Diskusi dilakukan dengan santai menggelar kasur lantai di apartemen tempat Anna menginap, Sementara Leyna istirahat di apartemen Johan sendirian.


"Batu sandungan bagaimana Ann?" Johan belum paham maksud ucapan Anna.


Johan memandangi Anna yang telah berganti menggunakan piyama bermotif bunga berwarna dasar biru cerah agar lebih santai. Mereka duduk cukup berdekatan dalam suasana keakraban.


Tubuh Anna yang tinggi semampai dengan lekuk seksi berkulit seputih kapas menjadikan rambut sebahu yang dibiarkan terurai terlihat hitam berkilau.


"Apakah maksudmu karena kecerdasannya dia bisa menggeser kursi pimpinan?" Tanya Johan.


"Sejak kapan kamu mulai memiliki ambisi memimpin perusahaan Jo?" Seloroh Anna melemparkan senyuman. Anna faham etos kerja Johan tak bisa diragukan.


"Ah, kamu ini tinggal menjawab pertanyaan saja kok pakai berputar-putar. Dasar psikolog" Johan membalas.


Anna berbicara sambil menikmati cemilan dan minuman yang ia sajikan untuk dirinya dan Johan.


"Dasar perempuan, doyan cemilan tetapi mengapa Anna tetap seksi tak terjadi pembengkakan" Johan mengaggumi penampilan Anna dalam hati.


"Bagus kan Jo, kalau kamu memiliki ambisi. Asal ambisi kamu tetap dibarengi fokus pada pekerjaan, maka perusahaan justru juga ikut berkembang" Anna masih saja berbelok kata.


"Kamu kan tahu aku bekerja keras karena ingin memanfaatkan kemampuanku pada batas paling maksimal yang aku bisa. Soal aku kalian tunjuk memimpin di sini, itu adalah dosa kalian" Johan mulai bersungut-sungut.


"Wah, enak saja kamu ini. Berkah yang kamu terima, dosa yang kamu lemparkan kepada kami" Anna malah tertawa-tawa lepas mendengar istilah yang diungkapkan Johan.


"Huh, sudahlah. Terus apa tadi maksudmu batu sandunganku sebagai pimpinan di sini?" Johan berusaha mengekembalikan pembicaraan kepada pokok persoalan.


"Baiklah.Kujelaskan sesuai sudut pandangku. Kamu boleh berbeda pandangan" Ujar Anna.


"Begini Jo, anak ini memiliki nilai akademi yang mengaggumkan, tetapi dari catatanku pada tes psikologi, dilanjutkan dengan tes wawancara tadi, anak ini memiliki ego pribadi yang sangat tinggi" terang Anna perlahan agar maksudnya dapat ditangkap oleh Johan.


"Hmm.. menjelaskan atau menyindir nih?" Johan menatap tajam ke arah Anna sebagai tanda ia sungguh memperhatikan penjelasan.

__ADS_1


"Syukurlah kalau ada yang merasa, jadi penjelasanku akan lebih mudah kamu terima" Anna melepas senyum manis yang tak berkesudahan yang menggoda pikiran Johan.


"Huh, kalau bukan pimpinan sudah dari dulu kukejar bibir nakalmu itu An" bisik hati Johan tergoda juga karena berduaan berlama-lama dengan Anna.


"Sudaaah, mau melanjutkan nggak nih?" kejar Johan agar pikirannya tak melayang kemana-mana


"Ce'ileeee... Kalau ada yang nungguin begitu ya? Sudah nggak sabar balik ke kamar yaa....? Mulai nggak menarik nih yang di sini?" Goda Anna.


"Siapa bilang? Tentu sangat menarik di sini. Tuh Kancing piyamamu meruntuhkan konsentrasiku. Sengaja menggoyang keimananku ya?" Johan menggerakkan dagunya menunjukkan kancing paling atas piyama Anna yang tak tertutup sempurna.


"Ah, sial kamu Jo, dari tadi memanfaatkan ya? Bisa-bisanya ada yang menunggu di kamarmu, di sini kamu mencari kesempatan" wajah Anna yang seputih salju terlihat memerah menyadari kulit dadanya sedikit terbuka sehingga Johan dengan mudah melihatnya.


Anna membetulkan kancing piyamanya sembari menahan malu.


"Tenang Ann, aku tak akan mengejar sesuatu yang maya, meski kamu lebih cantik dari Leyna, kamu ini hanya bayang-bayang yang tak mungkin kusentuh" suara Johan terdengar kegirangan melihat Anna kali ini salah tingkah di hadapannya.


"Sial kamu. Bayang-bayang kan hitam. Kau pikir aku kurang putih apa? Nih lihat!" Anna menyorongkan tangan kiri memamerkan kepada Johan betapa mulus dan putih kulitnya.


Tangan berkulit putih bersih itu menjadikan bulu-bulu halus berjajar rapi dan mulus yang menghiasinya telihat begitu nyata.


Meski sudah sering ngobrol berdekatan dengan Anna, belum pernah ia memperhatikan kulit tangan Anna sedekat itu. Hanya beberapa senti di depan hidungnya, hingga aroma wangi terhirup sampai ke otaknya.


"Aku tahulah Ann, itu baru tanganmu yang tak pernah kulihat tertutup kain gaunmu. Belum bagian-bagian yang tertutup  dua lapis pakaian setiap hari" Johan tertawa kegirangan melihat Anna seperti gadis ingusan menarik tangannya cepat lalu meremas bagian atas piyama dengan tangannya agar tertutup rapat.


"Sudah terlambat, aku sudah melihatnya tadi. Terima kasih bonusnya malam ini" Johan semakin ngakak tertawanya.


"Bruk!"  setumpuk berkas terlempar  ke muka Johan membuat tawanya semakin membahana.


"Mau lanjut nggak nih?" Ujar Johan usai menghentikan tawa yang membuat Anna buyar seluruh konsentrasinya.


"Apanya?" Jawab Anna sekenanya.


"Memang kamu mau diapain?" Johan kembali menggoda.

__ADS_1


"Ctak" sebuah pulpen kembali mendarat di jidat Johan membuatnya kembali tertawa-tawa.


"Dasar mesum" sungut Anna wajahnya makin memerah seperti kepiting rebus siap disantap.


"Ha ha ha, bukannya terbalik, jangan-jangan kamu membayangkan aku sebagai seorang pengusaha rintisan yang sedang menunggumu di sana." Johan semakin bersemangat menggoda pimpinan personalia cantik yang ada didepannya.


Ternyata meski terlihat dewasa dan memegang jabatan tinggi, gadis secantik Anna ini juga punya sisi manja dan kekanakan.


"Kukira cuma Leyna gadis tegar yang suka kekanak-kanakan" batin Johan membuat bibirnya tak dapat menyembunyikan senyuman nakal.


"Kenapa kamu senyum-senyum mesum begitu?" Anna menangkap arti berbeda dari senyuman Johan.


Sebuah gelas terangkat dengan tangan kanan, sementara tangan kiri Anna masih mencengkeram leher bajunya sendiri.


"Stop-stop-stop, ingat berkas ini harus kamu bawa ke pimpinan besok" Johan mengacungkan berkas yang tadi dilemparkan Anna ke wajah Johan.


Anna menurunkan gelas yang dipegangnya.


"Soal sentuhan pada bayangan aku bisa berikan jika diberi kesempatan" Johan masih penasaran dengan godaan.


"Tuh kan.HHuuuh" Anna mendengus dan kembali mengangkat gelas minumnya.


"Eits stop!" Johan mengacungkan berkas yang masih dipegannya sambil tersenyum nakal.


Melihat Anna menurunkan gelas dan terdiam dengan muka masih memerah dihadapannya, Johan menahan senyuman sambil merapikan berkas yang berserakan.


"Sekarang aku serius Ann. Ayo kira lanjutkan penilaian" Johan menunjukkan wajah sungguh-sungguh. Anna masih cemberut.


"Lucu juga gadis ini kalau sedang merajuk, hilang sudah sikap elegan dan tegasnya, berubah jadi gadis imut yang menggemaskan." Johan keras berusaha menahan agar senyum tak terlempar dari bibirnya.


"Beruntung sekali pria yang memilikinya" pikiran Johan tak henti mengagumi gadis yang selalu meruntuhkan hati setiap pria dihadapannya.


Mereka melanjutkan diskusi dengan sesekali dihiasasi godaan nakal Johan yang merasa di atas angin malam ini.

__ADS_1


Waktu telah lewat tengah malam saat mereka selesai memilih beberapa kandidat kandidat yang memenuhi persyaratan untuk penyaringan akhir bersama pimpinan. Johan kembali melangkah menuju apartemen sendiri.


__ADS_2