Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap52. Deburan Jantung Hati


__ADS_3

Lama juga antrian pelabuhan merak kali ini, barisan panjang kendaraan berbagai jenis merayap perlahan dan sesekali terhenti menunggu giliran. Maklum suasana menjelang week end dengan kondisi cuaca yang ekstrim membuat banyak perjalanan kapal ferry yang terganggu. Johan sudah cukup cemas andai penyeberangan rombongan keluarga tertunda, maka akan merepotkan acara pernikahan yang telah disiapkan oleh keluarga Tuan Hartanata untuknya akan berantakan akibat alam yang tidak bersahabat.


Setelah beberapa lama kendaraan kami memasuki lambung ferry, terdengar suara terompet kapal disusul dengan suara gemuruh propeller menghantap air. Ya, kami berada di barisan paling belakang sehingga meski agak sayup, suara air bergelora seperti membangkitkan kembali semangat Johan melanjutkan perjalanan cinta.


Johan mencari udara segar ke dek kapal setelah kesesakan berjam-jam duduk dalam kendaraan saat mengantri di Pelabuhan. Krakatau terlihat samar dalam semburat jingga yang semakin menghitam menuju malam.


“Hmmm.. biasanya ada Leyna menggelayut di pundakku kala menatapmu wahai rakata” seru batin Johan menahan dendam rindu.


Johan memejamkan mata, membayangkan indah pesona sore Krakatau dengan Leyna disampingnya. Alunan ombak yang cukup tinggi selalu mengiringi debur jantung hati mereka setiap selat ini  mereka seberangi.


Sepasang telapak tangan lembut menggengam lemah di lengan kanan Johan, aroma wangi segar gadis manja menyeruak hidungnya. Johan berharap kepala mungil berhias wajah cantik itu segera menyusul menumpang di bahu kanannya.


“Ada yang mengganggu pikiranmu Jo?” Johan terhenyak. Ia mengira tadi hanya bayangan yang dirasakan memegang tangannya.


“He he he he … kenapa kamu seperti bertemu hantu begitu, sudah nggak sabar ya menunggu hari pernikahanmu” Sebuah suara yang sangat kukenal mengejutkan lamunannya.


“Oh Niken” Hanya itu kata yang keluar. Johan menyunggingkan sebuah senyuman yang selama ini tak pernah terpikir oleh Niken bahwa senyuman tulus Johan bisa menghanyutkan perasaan seorang gadis.


“Semua baik-baik saja kan Jo, kamu terlihat begitu tegang dan sedikit pucat” cerca Niken melihat laki-laki tegar di depannya itu terlihat seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk.


“Oh Iya. Semua baik-baik saja. Perjalanan cukup lancer meski tadi agak lambat mengantri di Pelabuhan” Johan seperti telah menemukan Kembali kesadarannya dari lamunan.


“Maaf, aku mengagetkanmu, karena beberapa kali kupanggil kamu tak juga menengok” ujar Niken merasa bersalah, membuat Johan agak tersenyum malu karena tertangkap sedang melamun.


Di geladak hanya terlihat mereka berdua karena suasana senja itu sebenarnya tak seindah bayangan Johan. Musim ombak dan angin barat yang dingin serta suasana menjelang maghrib membuat penumpang lain enggan keluar.


“Brak” tiba-tiba sebuah ombak besar menghantam lambung kapal membuat guncangan yang cukup besar.


Niken yang terbanting ke arah Johan secara reflek didekap oleh Johan menjaga agar goncangan berikutnya membuat Niken yang tak dapat menjangkau pagar tepian kapal tak terlempar kearah atau terjatuh.


Dekapan Johan cukup erat membuat dada Niken sesak tertekan ke dada Johan.

__ADS_1


“Maaf Ken” Sejenak guncangan berhenti, Johan mengendorkan dekapannya sambal meminta maaf, namun Niken justru melingkarkan tangan ke punggung Johan dan mendaratkan bibir ke pipi Johan dengan lembut.


“Selamat menempuh hidup baru ya Jo” suara Niken terdengar bergetar.


Meski Berusaha menyunggingkan senyum, ada tanda ia keras menahan agar taka da tetas bulir air di matanya.


“Belum lagi Ken, Masih besok resminya” kilah Johan.


“Tak akan mengubah situasi bahwa kamu telah berhasil membuat kehidupan baru” ujar Niken tak juga melepaskan peluk eratnya.


“Aku harap sore ini menjadi bekal terakhir kelak kamu menjalani rumah tangga. Aku senang kamu telah menemukan jalan kebahagiaan yang selama ini kusia-siakan” lanjut Niken. Johan menatap mata Niken yang hamper lengket di wajahnya karena Niken mendekap begitu erat punggung Johan.


“Kamu laki-laki luar biasa Jo. Kamu pintar menyembunyikan perasaan, hingga banyak wanita tak mampu memahami apa yang ada di dalam hatimu. Kamu tegar menahan setiap luka hati yang kamu dapatkan tanpa ada orang yang tahu” ujar Niken..


“Ah, kamu terlalu jauh mendeskripsikan hidupku Ken” Johan berusaha mengelak.


“Kamu pernah mencintaiku kan Jo” Niken bertanya tanpa basa-basi. Lengannya tak juga mengendur dari punggung Johan.


“Kalau kamu malu menjawab, coba senyum saja untuk mengiyakan” entah kekuatan apa yang menarik paksa bibir Johan untuk menyunggingkan senyum, hingga wajahnya makin panas memerah.


“Maaf Jo, kala itu aku hanya mengejar kebanggaan, status dan kesenangan” kata Niken.


“Aku tahu kamu mencintaiku, aku sempat menunggu keberanianmu untuk mengungkapkan, namun tak jua kau sampaikan” lanjut Niken.


“Maafkan aku Ken, aku anak dari keluarga miskin, sementara laki-laki yang mendekatimu semua orang berharta. Maafkan ketakutanku saat itu andai aku ungkap rasa cintaku, dan kamu menolak, mungkin aku akan merasa hancur. Lebih baik aku masih dekat denganmu meski hanya sebagai pengantarmu bertemu pacar-pacarmu” sesal Johan.


“Sebenarnya aku hatiku sakit sekali Jo, mengapa kamu saat itu tak mau jujur” kejar Niken


“Maaf Ken, aku takut, malu. Aku merasa begitu kecil di hadapanmu saat itu” jawab Johan.


“Kamu yang merusakku Jo” ketus Niken.

__ADS_1


“Maksudmu? Aku tak menyentuhmu. Bahkan mengungkapkan cinta saja aku tak mampu” elak Johan.


“Aku tak menyangka laki-laki penakut sepertimu besok akan berdampingan dengangadis yang cantik dan kaya” Niken tak lagi dapat menahan titik airmata.


“Saat itu aku berusaha membuatmu terbakar api cemburu agar timbul keberanianmu untuk menyalahkanku. Kamu kira aku gadis murahan yang bisa dibawa-bawa lelaki kaya? Kamu gila Jo!” Niken menghambur airmata di dada Johan, hingga Johan merasakan dadanya basah oleh hangat airmata Niken.


“Maafkan aku Ken. Kamu tak akan pernah paham perasaan pemuda miskin sepertiku” Johan hanya mampu berbisik. Hatinya kaku seperti sebongkah es menghantam perasaanya.


“Mengapa baru sekarang?” Tanya Johan.


“Karena semua sudah tak ada beban Jo” Jawab Niken.


Niken mendongak menatap Johan.


Johan menundukkan kepalanya, menumpangkan dahinya ke dahi Niken. Mata mereka hampir bertemu anda hidung mancung Niken tak menghalangi hidung Johan.


“Kamu pemuda tegar, pemberani di kehidupan, tapi pengecut dalam cinta Jo” Tak menunggu kata-kata keluar dari bibir Johan, Niken segera mengejar bibir Johan dengan bibirnya. Niken mencium bibir Johan dengan membabi buta.


Sesekali ombak tinggi masih menghambur ke lampung kapal, hingga guncangan terasa mengayun-ayunkan kedua insan seakan sedang menikmati percintaan.


“Ken” hanya itu kata yang mampu keluar dari mulut Johan karena Niken segera berusaha membungkam dengan bibir seksinya.


Setelah beberapa lama puas melumati bibir Johan, Niken mulai mengendurkan dekapan.


“Ken, apakah aku harus …..”


“Tidak Jo. Kamu sudah jadi milik seorang gadis hebat yang mampu mengorek cinta di hatimu” elak Niken.


“Aku hanya ingin kamu tahu, aku pernah berharap dapat menitipkan hatiku padamu di masa lalu. Untuk saat ini kita masing-masing tak boleh lagi ada beban” Niken melepaskan pelukan berganti memegang kedua tangan Johan dengan kedua tangannya.


“Baiklah, terima kasih” ujar Johan seperti anak kecil yang dinasehati neneknya.

__ADS_1


Pelabuhan sudah semakin jelas terlihat, lampu sorot memandu kapal agar merapat ke tempat yang tepat. Johan  merangkul Niken Kembali menuju kendaraan. Sesekali Hidungnya mencium kepala Niken.


__ADS_2