
Fajar masih jauh dari terbit. Mess perkebunan sudah sibuk dengan para perempuan yang mulai membersihkan diri dengan mengantri memenuhi deretan kamar mandi. Suara saling mengingatkan terdengar silih berganti dari depan pintu yang tetutup rapat agar giliran boleh segera berganti. Sementara para pekerja perkebunan bahu membahu membantu ibu catering memulai persiapan memasak sarapan.
Johan menggeliat mendengar kemeriahan hari yang belum bisa disebut pagi. Dengan badan berat keluar dari kamar untuk bergabung dalam suasana meriah di luar sana. Johan melihat pintu kamar Niken yang semalam terlihat sedikit terkuak, sekarang tertutup rapat, sedangkan pintu kamar Anto terbuka dengan lampu terang benderang tanpa penghuni.
Johan tersungging senyum dibibir. Samar-samar terdengar desah nafas bersahutan seakan saling berburu mengejar fajar. Johan sungguh bisa memahami suara apa yang sedang ia dengar.
“Heh, Calon pengantin gak boleh melamun” terdengar suara setengah berbisik mengingatkan Johan, namun seakan tak ingin menggganggu suasana fajar.
“Eh ibu, sudah selesai mandi Bu?” Johan mendekati ibundanya yang telah nampak segar keluar dari arah belakang mes besar yang terdapat dapur dan kamar mandi.
“He’eh, ngapain kamu terlihat bengong sambal senyum-senyum di depan kamar orang” ibunda Johan menggoda anaknya, namun wajahnya memang tak terbiasa dengan senyuman karena mungkin beban hidup yang terlalu berat dalam keseharian. Apalagi hari ini, ia akan menjadi besan orang besar dan sebagai orang tua mempelai laki-laki tak mampu berbuat banyak untuk kehormatan anaknya.
“Enggak Bu, baru melek aja, mata masih berat mau membangunkan ibu ternyata sudah tertinggal” kilah Johan menutupi rasa malunya karena ketahuan sedang memperhatikan kamar orang.
“Sejak kapan kamu merasa bisa bangun mendahului Ibu?” kata ibunda Johan.
“Ah, Ibu bisa saja” Johan tersenyum bangga kepada ibunda yang selalu terlihat tegar meski dalam situasi yang sungguh tak mengenakkan bagi semua orang.
Johan memeluk ibundanya, mengecup keningnya untuk semakin mendamaikan hatinya.
“Doa restu bapak dan ibu sangat berharga bagiku hari ini” pinta Johan kepada ibundanya.
“Oh iya, Bapak dimana bu?” tanya Johan penasaran karena belum melihat orang tuanya itu.
“Biasalah bapakmu, kalau sudah ngumpul keluarga pasti lupa waktu. Giliran orang harus berkarya ngoroknya masih mengundang gempa” meski terdengar bernada jengkel, namun Johan tahu cinta dan kesetiaan ibundanya tidak ada pengganti bagi bapaknya.
“Tadi bapakmu masuk kamar, ibu terbangun dan segera mandi ini” lanjut ibunda Johan.
“Apakah harus aku bangunkan” tanya Johan.
“Nggak usah, kayak nggak tahu sifat bapakmu. Kalau tidurnya terganggu ngamuknya bisa berminggu-minggu” ibunda Johan melarang keinginnan anaknya demi kedamaian hari ini.
“Sudah, kamu bersiap mandi saja dulu, kamu kan juga harus berias nanti” perintah ibunda Johan kepada anaknya.
Johan menuju kamar mandi mess mandor dengan berbagai macam pikiran. Hatinya berada diantara rasa senang dan bahagia karena bisa menyatukan Niken dan Anto dalam cinta yang nyata, namun sebersit rasa cemburu masih tersisa karena ia tak pernah mampu sungguh-sungguh menjadi bagian pengisi hati Niken.
__ADS_1
“Ah, Leyna adalah gadis yang jauh lebih cocok di kehidupanku kelak” demikian elak hati Johan saat Kembali sadar ini adalah hari pernikahannya.
Dengan sedikit dendang, ia memantapkan diri untuk segera mandi, mempersiapkan hari besar yang menjadi penantian bagi setiap insan.
***
“Ayo segera sarapan bergantian dengan yang berdandan supaya nanti tidak terburu-buru ke tempat perhelatan” terdengar perintah-perintah saling bersahutan di sela gelak tawa yang tak ada habis-habisnya sejak semalam.
Candaan dan guyonan tak berhenti meski mereka sedang makan ataupun sedang sibuk menata riasan.
Pernikahan ini tidak hanya calon mempelai saja yang Bahagia. Para pengiring juga merasakan kebahagiaan karena bisa sekalian bertemu dengan keluarga di rantau, hingga mereka enggan kalau waktu terus berjalan.
Mereka sebenarnya ingin acara ini terjadi di kampung, hingga mereka bisa terus bercanda tanpa terbeban perpisahan.
Tim perias yang disewa oleh keluarga tuan Hartanata sudah siap menggelar peralatan di ruang tengah mes mandor yang cukup luas setelah perabortan dipinggirkan.
“Pengantin pria yang mana?” seorang perempuan dari tim perias bertanya ke sana kemari mencari Johan.
“Masih di kamar sepertinya” sahut seseorang menjawab.
Johan yang duduk di sudut kamar Niken hanya menatap Anto seakan meminta saudaranya itu menertibkan suara-suara di luar.
“Aku nggak bakal mengigit calon istrimu” canda Johan. Anto segera keluar menemui tim perias.
“Eh maaf mbak, kalau pengantin pria dirias sendiri boleh nggak mbak?” tanya Anto kepada tim perias.
“Tapi mas, nanti bagaimana …” kilah seorang asisten perias yang tadi mencari-cari Johan.
“Nggak apa-apa, saya yang bertanggung jawab” potong Anto hingga pertanyaan asisten tadi tak sempat selesai.
“Lagipula pengantin pria sudah mulai dirias dikamar” lanjut Anto menjelaskan.
“Lah masnya ini siapa?” tanya asisten perias membelalakkan mata.
“Saya sepupunya” Anto menjelaskan.
__ADS_1
“Aduuh.. sepupunya saja ganteng begini, boleh dong kenalan mas” celetuk asisten yang lain yang sedang merias seorang gadis.
“Minta nomor hp dong mas” canda yang lain lagi.
“Ya kalau mbak punya ban hitam karate boleh dicoba sama tunangannya yang sedang merias pengantin pria di kamar” canda gadis yang sedang dirias lalu melempar senyum lebar melihat muka memerah dari asisten perias.
“Maaf ya mas, mbak, anak-anak ini memang sukanya bercanda. Mulutnya gak bisa menahan kalau ada pria ganteng” pemimpin perias yang terlihat sudah cukup berumur berusaha meredam canda para asistennya agar tidak kebablasan.
“Nggak apa-apa. Sudah biasa kok” jawab Anto sambil tersenyum lebar.
“Ih.. jadi mas ganteng sudah biasa digodain ya kan” asisten itu merasa mendapat angin.
“Hush, sudah kamu ini kalau kerja suka kebanyakan candanya, makanya gak laku-laku dikira candaan melulu”
“Aduh ibuu” agak keras pukulan sisir besar ibu perias ke kepala asistennya. Semua yang ada di ruangan tergelak-gelak melihat sang asisten menjadi semakin merona wajahnya.
Anto kembali ke kamar Niken, melihat dua insan itu ikut tersenyum-senyum mendengar candaan di luar.
“Aku pengin Johan terlihat tampan seperti impianku ya mas Anto” rajuk Niken manja kepada kekasihnya.
“Yaaa.. terserah kamu, kan kamu yang meriasnya” jawab Anto sekenanya.
“Yaah.. cemburu ya?” goda Niken.
“Enggaklah, orang mau naik pelaminan sama anak juragan, mana pantas aku cemburui” kilah Anto.
Niken hanya tersenyum-senyum. Anto tidak puas lalu melanjutkan menggoda.
“Lagian soal cintamu …..” Anto sengaja menggantung kalimatnya, menunggu Niken penasaran dan benar saja ia menghentikan riasan dan menengok.
“Semalam sudah tiga kali kamu membuktikan”
“ctak” kaleng hairspray mendarat tepat di kepala Anto hingga membuatnya meringis.
“Aduh, kepalaku bocor Ken, kamu nggak mau mengobatinya”
__ADS_1
“Mbuh..” Muka Niken merah padam menahan malu, namun ia sempatkan melirik kepada kekasihnya hingga tahu Anto hanya berpura-pura. Johan terpingkal-pingkal melihat tingkah pasangan dewasa yang bertingkah seperti bocah baru gede itu.