Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap32. Papa Pulang dengan Tangan Hampa


__ADS_3

Pagi di Lobby bandara panggilan check in telah berkumandang,


Tuan Hartanata masih menengok ke belakang.


Masih sempat terlihat Pak Sukirman sopir yang setia melajukan kendaaraan Kembali ke hotel atas perintah Tuan Hartanata.


Tuan Hartanata masih tetap berharap putrinya kembali ke hotel untuk bersama pak Sukirman menempuh jalan darat ke Lampung seperti kesukaanya.


“Sudahlah Pa, Papa tahu sendiri kan kelakuan Leyna yang suka seenaknya” ujar Erni kepada Tuan Hartanata.


“Memang adikmu ke mana Er? Apakah tidur di kos?” mama Leyna ikut penasaran.


“Dia bersenang-senang dengan mantannya yang kembali Ma” terang erni.


Nyonya Hartanata membelalakkan matanya dan tersenyum gembira. Ibu anak itu saling paham siapa laki-laki yang mereka maksudkan.


“Mantan apa?” Tanya Tuan Hartanata tidak memahami yang istri dan putri sulungnya bicarakan.


“Makanya Pa, kalau kerja itu lihat-lihat waktu, sampai anakmu sendiripun tak kau kenali” sungut nyonya Hartanata.


“Leyna itu punya pacar pejabat Pa, tidak pegawai rendahan seperti yang Papa banggakan” kata Erni.


“Hhh, ya sudah, kita segera masuk saja. Aku sebenarnya paling benci pulang dengan tangan hampa” sungut Tuan Hartanata sambil melenggang ke pintu check in dengan kesal, diiringi istri dan anaknya yang justru terlihat gembira.


“Sudah Pa, tidak usah difikirkan. Dia pasti sedang bersenang-senang” Erni menenangkan Papanya yang sedang memulai panggilan telefon.


“Man, kalau sudah tidak capek kamu pulang saja sekarang” Tuan Hartanata menghubungi sopirnya yang masih menunggu di kamar hotel dengan setia, karena yakin putrinya tak akan kembali ke hotel.


“Biarkan Leyna mengurus dirinya sendiri bersama pacarnya” lanjut Tuan Hartanata.


“Baik Pak” Pak Sukirman yang sudah berkemas sejak tuannya belum berangkat fajar tadi, segera meninggalkan kamar menuju lobby untuk check out dan bersiap menempuh perjalanan panjang sendirian.


“Aneh, mengapa anak itu memberi khabarpun tidak. Teleponnya tidak dapat aku hubungi” perkataan Tuan Hartanata, membuat Erni terlonjak.


“Ada apa sayang?” Tanya Nyonya Hartanata kepada putrinya.


“Oh tidak Mah, kaget saja suara pengumuman keras sekali” kilah Erni.


“Jangan melamun ah, tidak baik kamu banyak melamun” hardik Nyonya Hartanata.


Erni teringat kemarin pagi sebelum berangkat ke kampus bersama-sama untuk menghadiri wisuda, Leyna menitipkan barang-barangnya ke dalam tas Erni. Ada smartphone yang belum sempat dinyalakan dan dompet Leyna yang berisi uang dan tools perbankan di dalam tasnya saat ini.


Erni tak berani mengatakan kepada mamaya, karena jika papanya mendengar bisa jadi ia kena marah dan kepulangan dibatalkan.


Erni sudah kangen rumahnya yang mewah dengan pelayanan penuh. Pacarnya yang masih tetap ia rahasiakan meski telah berhubungan sejak SMP, pasti telah merindukannya, meski hanya beberapa hari ia tinggalkan.


Erni menarik nafas lega.


“Selamat tinggal Jogja, selamat tinggal Leyna” bisik Erni dari atas pesawat yang melaju di landasan.


***


Leyna telah membersihkan badannya menggunakan perangkat mandi yang disediakan pengurus villa.


Gadis mungil lincah berperawakan tomboy itu tak pernah melewatkan bangun pagi meski semalaman hanya tidur beberapa saat.

__ADS_1


Bahkan meskipun kali ini tidur setelah seluruh terkuras demi kerinduan dewa kepadanya, tenaga supernya tetap muncul saat fajar tiba.


Pagi-pagi Leyna telah bertemu pelayan tua villa itu dan meminta untuk menyediakan nasi goreng dengan telor mata sapi kesukaan Dewa. Salah satu kesukaan Dewa yang masih tetap melekat dalam ingatan.


Piyama kusut namun masih bersih karena hanya dipakai selama perjalanan ke villa ini ia kenakan kembali karena tak ada baju pengganti.


Leyna tersenyum mengingat ia tubuhnya yang polos hanya tidur sebentar dibalik selimut tebal dalam hawa dingin alami pegunungan.


Disampingnya Dewa, pejabat yang gagah dan tampan, kekasihnya yang hilang memeluknya tak berkesudahan hingga ia terbangun fajar tadi.


Dari meja rias di sudut kamar dekat pintu kamar mandi, Leyna tersenyum melihat wajah tampan Dewa yang terlelap di kasur tempat mereka menaguk kenikmatan bersama semalaman. Ingatannya akan Johan sungguh sirna begitu saja.


Rambutnya yang basah karena keramas sedang ia keringkan dengan handuk ketika mendengar smartphone Dewa bergetar berkali-kali. Ingin membangukan tetapi tak tega karena melihat Dewa begitu lelap dibuai mimpi.


Getar berulang-ulang menggoda Leyna untuk bangkit dari duduk untuk melihat smartphone yang ada di kantung celana panjang yang tergeletak di dekat kakinya.


Rasa penasaran membuat Leyna memberanikan diri perlahan mengambil smartphone itu dari kantung celana.


“Mama” begitu tertera di layar selama smartphone bergetar. Ada gambar profil perempuan yang tentu saja lebih cantik dari dirinya.


“Deg” Leyna terhenyak.


“Istrinya?” tanya hati Leyna


“Kurang ajar kamu Dewa” rutuk Leyna.


Segera ia kembalikan smartphone itu kembali ke kantung celana.


“Sarapan Nyonya” ketukan terdengar dari balik pintu kamar membuat pikiran Leyna teralihkan.


Pelayan tua mengantarkan sarapan yang dipesannya.


“Terima kasih pak” kata Leyna ramah.


“Dengan senang hati Nyonya” pak tua membalas ucapan Leyna, mundur keluar dan menutup pintu perlahan.


“Nyonya. Nyonya sialan!” umpat Leyna dalam hati mendengar panggilan pelayan tua.


Mengingat kekuasaan Dewa, Leyna tak mau main-main dengannya. Leyna akan merahasiakan bahwa telah melihat wajah istri Dewa dalam profil panggilan.


Baginya keinginan Dewa menemuinya sampai datang ke Jogja masih membuat Leyna bangga. Dewa sungguh masih menginginkan kehadirannya.


Leyna berusaha bersikap biasa, menekan perasaan dan membuang jauh kesedihan.


Karena hari sudah semakin siang Leyna membangunkan Dewa dengan mencium bibirnya. Cara yang efektif sejak mereka masih SMA.


Dewa meraih kepala Leyna yang sudah wangi dan menciumi wajahnya.


“Kamu sudah mandi?” tanya dewa


“Hmmm” Leyna mengiyakan.


“Sarapan” kata Leyna


“Hmmm” Dewa meningkatkan intens ciuman ke bibir Leyna.

__ADS_1


Gairah pagi laki-laki, apalagi dibangunkan dengan cara mesra bangkit dalam diri Dewa.


Meski lelah telah tak tertahankan semalam tak menghalangi Dewa untuk memulai kembali permainan.


Leynapun  melayani kemauan Dewa tanpa melepas semua pakaian. Dan mereka kembali menaguk kenikmatan yang terdalam. Hingga kelelahan kembali membuat mereka terbaring berdampingan dengan nafas bersahutan.


“Terima kasih Leyna” ucap Dewa. Mereka masih  berdampingan menatap langit-langit kamar.


“Hmmm” Leyna menjawab.


“Apakah hubungan ini akan berlangsung selamanya Dewa” pertanyaan yang ingin Leyna ajukan. Namun tetap ia tahan. Takut Dewa curiga ia telah mengambil smartphone dari saku celananya.


Setelah berlama-lama berbaring berdua, akhirnya mereka mampu bangkit menuju meja untuk sarapan.


“Kita pulang jangan terlalu siang Dewa” ajak Leyna.


“Kenapa? Kamu kan sudah bebas sekarang, tak ada tanggung jawab kuliah lagi” sergah Dewa.


“Kau lihat aku hanya membawa pakaian yang tertempel di tubuh ini, risih jika tak berganti” kata Leyna.


“Kau bisa memakai bajuku. Atau kalau mau tak perlu berbaju selama disini” Dewa menggoda. senyumnya terkembang


Leyna tersenyum manja. Meski ia hampir yakin mama dalam profil pemanggil tadi adalah istri Dewa, namun cinta pertama yang tumbuh saat baru masuk SMA dahulu sungguh sangat sulit dicerna.


Leyna tak mampu merasa cemburu atau disakiti. Ia hanya ingin disayangi.


Empat tahun menahan rasa sakit telah cukup untuk menutup segala rasa hanya karena Dewa telah memiliki seorang istri.


Entah kekuatan apa yang membuat Leyna bisa wajar saja menerima itu semua. Dalam benaknya, jika kali ini Dewa hanya mempermainkannya demi balas dendam karena terpisah empat tahun, toh masih ada Johan.


"Johan!, mengapa tanpa sadar nama itu kembali ke otakku" rutuk Leyna.


“Kita pulang agak sorean Leyna, beristirahatlah dahulu agar capekmu berkurang di sini. Jemputan baru akan datang setelah makan siang” rayu Dewa. Entah hasrat apa yang membuat Leyna tak membantah sehingga masih ingin berlama-lama dan rela dalam pelukan Dewa.


“Istirahatlah dulu sementara aku mandi” perintah Dewa. Leyna beranjak dari meja makan dan kembali melangkah ke tempat tidur.


Selesai mandi, mendapati Leyna terlelap kembali, Dewa menggunakan kesempatan untuk keluar menuju ruang utama demi meneliti smartphone.


“Maaf bos, misi tidak seratus persen berhasil, tetapi anak itu sudah kuberi peringatan” pesan anak buah Dewa yang membuatnya kesal.


“Papa kok tidak pulang weekend” pesan istri Dewa dan segera dihapus tanpa dibalas.


Dewa melihat beberapa miscall dari istrinya dan menghapus sejarahnya.


"Dret drrt" ponsel bergetar.


“OTW bos” bunyi pesan baru saja masuk dari driver di barengi sharing lokasi terkini perjalanan kendaraan yang menunjukkan masih butuh waktu hampir 1 jam.


Dewa masuk kembali ke kamar, menyusul Leyna yang masih tertidur. Dewa menunduk diatas Leyna, memberikan ciuman yang menggairahkan. Dengan mata berat dan tubuh penat Leyna membalas ciuman-ciuman Dewa.


Dewa kembali berhasrat dan memulai permainan.


Hanya dengan pemanasan kecil mereka kembalibersiap menaguk kenikmatan bersama.


“Yak ampun Dewa. Lima kali?” tanya Leyna sambil tersenyum manja.

__ADS_1


“Kamu masih sanggup kan?” Tanya Dewa di sela-sela ciuman.


“Hmmm” Leyna mengangguk dan merekapun kembali tenggelam ke dalam kerinduan yang akhirnya telah terbayarkan.


__ADS_2