
Johan kembali ke kamar. Mendengar suara pintu terbuka, dengan malas Leyna membuka matanya.
"Mas Jo" desah Leyna memelas.
Johan mendekati pembaringan Leyna, menatapnya penuh kasih. Leyna mengulurkan kedua tangan ke arah Johan setelah kekasihnya itu duduk di sampingnya.
Johan tak bisa menolak, rangkulan Leyna yang menariknya mendekat. Dibaringkannya kepala Johan di dada Leyna. Jemari Leyna memainkan rambut Johan dan sesekali mengelus kepalanya.
"Maafkan aku Mas Jo" suara Leyna serak. wajahnya menunjukkan kegalauan yang tak tertahan.
"Sudahlah Ley, jangan lagi dibahas. Aku tak ingin kamu merasa terbeban dengan situasi kita" Johan berusaha menghindar.
Johan hanya tak ingin mendengar cerita-cerita yang mungkin saja bisa meruntuhkan rasa cintanya kepada Leyna.
Johan ingin menerima apapun yang dialami Leyna tanpa mendengar secuilpun cerita. Cintanya sudah begitu dalam meskipun selama ini ia terus meragukan, apakah Nona Leyna bisa menerima cinta dari pria miskin pegawai rendahan dari sebuah perusahaan yang tak dikenal banyak orang.
Johan menduga-duga sendiri bahwa hal buruk telah terjadi pada Leyna, namun ia tak ingin membawanya ke dalam kehidupannya.
"Mas Jo apakah kamu sungguh mencintai aku" suara serak Leyna lebih mirip desah karena diucapkan begitu lirih.
"Dengan segenap hati dan jiwaku Ley. Seperti yang selalu aku ucapkan kepadamu. Aku tak pernah menganggapmu pacar. Aku sudah menikmati hubungan ini sebagai seorang suami meski satu hal yang kau jaga itu masih belum bisa kau berikan kepadaku sampai hari ini" kata Johan.
Setelah beberapa bulan berpacaran bahkan Johan selalu menyerahkan seluruh gajinya untuk dikelola Leyna. Ia hanya mengambil sesuai kebutuhan terutama untuk ongklos perjalanan ke kantor.
"Hheehhh" Leyna menghela nafas panjang berusaha melepas beban.
"Kamu tak percaya? Apakah kamu tak bisa merasakannya Ley? Dengan apa aku harus membuktikan?" Kata Johan.
"Sampai kapan?" Leyna memendam banyak kekhawatiran.
"Sampai hembus nafas terakhirku" jawab Johan meyakinkan kekasihnya.
"Hheeehhh" Leyna kembali menghela nafas berusaha menyakinkan dirinya sendiri akan ucapan Johan.
"Apa yang membuat meragukanmu Ley?" tanya Johan kehabisan akal untuk membuat Leyna mempercayainya.
"Apakah ada laki laki yang bisa dipercaya sampai sejauh itu?" Tanya Leyna bimbang.
"Apakah kamu ingin membuktikan?" Johan menatap mata Leyna dalam-dalam tanda kesungguhan. Leyna hanya terdiam, mengalihkan matanya dari tatapan Johan.
Leyna takut matanya mengungkap kebohongan, tetapi bagi Johan dianggap sebagai ketidakpercayaan akan ucapannya.
"Apakah aku perlu menghembuskan nafas terakhir hari ini untuk membuktikan bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu tanpa harga yang harus kau tebus?" Johan bertanya dengan nada tegas.
"Maksudmu?" tanya Leyna.
"Jika kematianku saat ini, saat masih dalam pelukanmu, apakah kamu akan percaya itu?" tanya johan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Kali ini Leyna menatap Johan dengan ketakutan mendengar nada suaranya yang tak ada tanda-tanda candaan. Leyna mengeratkan depakan di kepala Johan menutup rasa ngeri atas ucapan Johan.
"Jika harus berakhir ditanganmu silahkan pilih jalannya Ley" Johan memastikan.
Leyna menitikkan air mata dan mendekap kepala Johan makin erat di dadanya, mencium dahi Johan dan membasahi dengan linangan air mata.
Johan tanpa suara, diam tak bergerak membiarkan kekasihnya memperlakukan dirinya hingga gundah Leyna terasa mereda.
"Kalau begitu. Kalau kamu sungguh-sungguh maukah kamu lamar aku Jo. Jadikan aku istrimu maka aku akan melayanimu seperti janjiku" kata Leyna lemah.
Johan bangkit melepaskan diri dari pelukan Leyna, dan duduk disampingnya. Johan menatap Mata Leyna lekat.
"Baiklah akan kulakukan" kata Johan.
"Lakukan apa?" tanya Leyna tak paham.
"Baiklah aku akan melamarmu hari ini " lajut Johan.
"Aku pasti terima Jo" Leyna berusaha tersenyum.
"Bukan, bukan ke kamu, aku akan menemui Tuan Hartanata. Papamu. bangunlah kita akat berangkat siang ini berdua" Johan mengulurkan tangannya untuk membantu Leyna bangun.
Leyna menutupkan tangannya ke mulut sendiri menahan senyum yang mulai hadir di bibir.
"Kamu memang lucu Jo" Leyna tak sedikitpun berusaha bangun. Ia tak percaya sedikitpun ucapan Johan karena sebenarnya saat diminta datang ke hotel beberapa hari lalu Johan banyak alasan.
Meski kariernya baik, pandai melayani customer perusahaanya yang komplain langsung ke departemennya, namun Johan benar-benar rendah diri menghadapi keluarga Tuan Hartanata hingga Leyna bertekad mengawalnya.
Johan menarik ke dua tangan Leyna dengan paksa.
"Bangunlah. Mandi, keramas di sini mumpung kos sedang sepi, segarkan badanmu sementara aku akan mengambilkan pakaian di kos kamu" Kata Johan sambil membangunkan paksa Leyna yang tak memberikan perlawanan.
"Selesai mandi kita akan ke bandara untuk penerbangan ke lampung" Lanjut Leyna.
Meski Leyna tak percaya dan menganggap Johan hanya bercanda, perintah mandi menyegarkan badan diturutinya. Leyna juga tak ingin jika harus keluar kos terlihat menggunakan pakain Johan yang sedikit kedodoran.
Johan berlari ke luar menuju kos Leyna meninggalkan kekasihnya yang berjalan dengan malas ke kamar mandi pria di kos Johan.
***
Kembali ke kamar setelah selesai mandi membuat badan Leyna segar. Kemeja Johan yang sejak tadi dia pakai sudah terasa tak nyaman karena kotor telah dipakai Johan sejak kemarin.
Memasuki kamar, Leyna melihat Johan telah kembali dari mengambil pakain di kos.
"Oh Jo, sudah kembali?" Leyna heran. apakah Johan yang begitu cepat bolak-balik dari ke kosnya, atau ia yang mandi terlalu lama.
Leyna melihat beberapa potong pakaiannya telah ada dalam ransel Johan. Ia mengambil satu pasang bersiap memakainya.
__ADS_1
"Kamu gak mau keluar dulu?" Meski mereka berpacaran sudah pada level berat, Namun Leyna belum pernah mengganti pakaian di hadapan Johan.
"Perlukah?" Johan menggoda.
"Ya terserah" ucap Leyna.
"Tidak, kali ini aku ingin tetap di dalam kamar" Johan tersenyum menatap Leyna.
"Terserah" Leynapun berbalik membelakangi Johan dan mengganti pakaiannya.
Selesai mengganti pakaian Leyna mengambilperangkat rias sederhana yang diambil Johan dari kamar kosnya.
Leyna berdandan seperti biasa, make up dasar telah membuat dirinya kembali terlihat cantik dan segar. Johan baru menyadari ada hal yang kurang dari Leyna.
"Aku mengambil peralatan make up dari meja riasmu. Tetapi aku tak melihat telepon dan dompetmu. Sejak kemarin aku tak melihat kamu menaruh barang-barang itu di sini, Apakaaaah...." selidik Johan.
Melihat airmuka Leyna yang telah segar dan cantik berubah muram, Johan tak jadi meneruskan pertanyaannya.
"Mengapa kamu masukkan baju-bajuku ke dalam ransel Mas Jo?" Leyna keheranan banyak pakaiannya diambil Johan.
Ia mengira akan diminta menginap beberapa lama di kos ini untuk menuntaskan urusan mereka semalam.
"Katanya mau dilamar" ujar Johan.
"Hemm, kan sudah aku terima, aku siap sekarangpun kalau mas Johan menginginkan"Leyna menawarkan.
Johan menutup ransel dan menggendongnya di punggung. Mendekat Leyna lalu mencium bibirnya.
"He he he, mau meniru kakek Muten Roshi si kura-kura genit ya, mencium gadis pakai menggendong tas segala" Leyna memulai senyum cerahnya dengan berat.
"Aku nggak mau kena tumpahan darah dari hidungmu" Leyna mencoba bercanda meski terasa garing.
Johan tak menjawab, merangkul pundak Leyna dan berkata.
"Kita berangkat" Ajak Johan.
"Beranbgkat ke mana?" Leyna sedikit melawan tarikan Johan.
"Ke bandara, nanti kita makan di sana setelah mencetak tiket" Kata Johan.
"Ke bandara? mau terbang ke mana?" Leyna masih belum paham juga.
"Ke Lampung sayang, aku akan melamarmu dihadapanTuan Hartanata. Harus berapa kali aku mengulang?" terang Johan.
"Bohong" Leyna mencubit lengan Johan.
Johan berjalan keluar dan menutup pintu.
__ADS_1
"Kamu mau aku kunci di situ" kata Johan sambil pura pura menutup pintu. Leyna akhirnya mengekor Johan.
"Mas Jo, jangan mengerjaiku. Kita mau ke mana?" kejar Leyna sambil sesekali berlari kecil karena langkah Johan yang lebih panjang dan cepat.