Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap56. Pesta Besar


__ADS_3

“Ayo segera ke halaman kita akan berdoa bersama dahulu sebelum berangkat” seru pak Muji memberikan komando kepada seluruh kerabat pengiring mempelai pria.


Semua dengan penuh semangat segera mengerubung di depan pak Muji. Wajah-wajah cerah tak terbersit sedikitpun rasa kantuk dan lelah, meski semalaman hampir tak istirahat setelah perjalanan panjang bagi pengiring, maupun kerja keras bagi saudara-saudara pekerja.


“Jangan sampai ada yang tertinggal, karena tuan Hartanata ingin semua pekerja kebun hadir di perhelatan tanpa kecuali” Anto mengingatkan teman-teman kalau tidak mau disebut anak buahnya di perkebunan.


“Kamu kenapa masih pakai kaos Min, belum dapat jatah batikmu?” teriak Anto agak jengkel kepada seorang pegawai yang masih berkaos.


“Anu mas, maaf tadi baru selesai mencuci piring-piring yang kotor bareng Supri pas dengar pak Dhe Muji memanggil” Parmin mengacungkan plastik berisi baju batik sambil menengok ke arah Supri yang ikut salah tingkah karena juga belum berganti baju.


Tinggal anak-anak yang tadi sibuk membersihkan peralatan makan yang belum berganti baju. Seluruh pengiring telah menggunakan baju tradisional dan berdanan. Sedangkan pegawai perkebunan telah mengenakan baju batik baru yang warnanya seragam sesuai perintah tuan Hartanata.


Keluarga Hartanata harus berangkat sendiri ke sentra batik agar bisa mendapatkan warna batik kembar sejumlah seluruh karyawan yang tidak berdandan tradisional.


“Ya sudah, sana ganti baju dulu” perintah Anto. Berdua mereka buru-buru ke deretan kamar mandi mes karyawan berganti baju batik yang telah mereka tenteng sebelumnya.


“Pastikan semua pintu terkunci, jangan ada yang tertinggal” Anto mengingatkan sekali lagi kepada para karyawan. Perkebunan memang selalu aman, tetapi karena banyak barang yang ditinggal rombongan, Anto tidak ingin memancing perilaku jahat orang.


“Ayo, segera berangkat agar tidak terlalu buru-buru di jalan” pak Muji kembali memberi komando kepada rombongan usai doa sederhana bersama.


“Lho, anak-anak perkebunan naik apa To? Aku nggak melihat bus atau kendaraan lain” tanya pak Muji kepada Anto.


“Itu ada beberapa ranger pakde, kendaraan terbuka yang biasa dipakai masuk kebun” jawab Anto.


“Sudah dandan ganteng-ganteng masak pakai kendaraan terbuka begitu?” pak Muji sedikit tak terima, takut nanti mempermalukan tuan rumah kalau ada apa-apa.


“Biasalah pak Dhe, anak-anak kalau disuruh naik kendaraan tertutup malah suka protes. Gak bisa ngerokok sambil jalanlah, yang pusinglah. Ada saja alasannya” Anto menjelaskan.

__ADS_1


“Tapi apa tidak mempermalukan tuan Hartanata? Seakan beliau tidak mampu menyediakan kendaraan yang pantas” pak Muji masih penasaran.


“Sudahlah pak Dhe, tidak usah pikirkan mereka. Tuan Hartanata saja menyerah menghadapi kemauan mereka ini. He he he..” Anto menjawab sambil merasa geli mengingat bagaimana tuan Hartanata yang biasanya keras akhirnya kali ini mengalah kepada para karyawan yang tidak mau disewakan bus pengangkut dari perkebunan ke tempat perhelatan karena ingin lebih bebas.


“Mari pak Dhe, sepertinya semua sudah siap, jangan sampai molor acaranya hanya karena menunggu kita meperdebatkan kendaraan” ajak Anto melihat semua rombongan sudah siap di atas kendaraan.


***


“Mas Johan, nanti rombongan mempelai pria transit di rumah para pekerja rumah tangga tuan Hartanata ya!” jelas Anto kepada Johan usai semuruh kendaraan telah tiba di rumah tuan Hartanata yang telah ramai tamu undangan.


Anto menghentikan kendaraan dekat pintu pagar samping rumah megah yang hampir tak pernah dibuka selama ini.


“lho ranger nggak ikut sampai sini To?” tanya Johan mereka telah turun dari kendaraan dan bersiap melewati pintu samping.


“Anak-anak langsung ke tenda undangan mas, lewat gerbang utama” jelas Anto.


“Maafkan saya ya besan, kesombongan saya membuat saya tidak mampu menyisihkan waktu untuk bertemu besan sebelum ini” ujar tuan Hartanata.


Ayah Johan kaget mendapat perlakuan yang begitu istimewa. Tergagap ayah Johan menjawab.


“Oh, saya yang harus meminta maaf seharusnya sebagai orang tua mempelai pria harus bisa menaruh hormat dan menghargai keluarga perempuan” Ayah Johan terbata-bata.


“Selamat datang semuanya, maaf kalau kami tidak bisa menyambut dengan baik kedatangan kalian” kata tuan Hartanata setelah menyalami besan perempuan smbil menebar senyum lebar.


Melihat dua orang pria belaku seperti itu, beberapa perempuan yang hadir disitu tak mampu menyembunyikan rasa haru.


“Betapa baiknya keluarga kaya ini, sampai sedemikan hingga beliau menyambut kami orang kampung ini” begitu batin mereka.

__ADS_1


“Mari-mari silahkan masuk” sambut tuan Hartanata dengan bersemangat setelah berkenalan dengan pak Muji yang bakal menjadi wakil sesepuh mempelai lelaki.


“Ayo Jo, sudah lama ini menjadi rumahmu sendiri meski kamu belum pernah melewati pintu ini” Johan hanya bisa menunduk, meraih dan mencium tangan pria yang beberapa menit ke depan akan menjadi orang tuanya juga.


“Ini pintu milik nona Leyna mas Jo, pintu andalan kalau lagi ngambek” bisik seorang asisten rumah tangga sambil cengengesan.


“Hush” asisten yang lain mengingatkan sambil mencubit lengan.


Para asisten rumah tangga yang mengiringi tuan Hartanata hanya mampu berdiri dibelakang tuannya tanpa bisa berkata-kata karena tak menyangka tuan mereka dapat berlaku begitu rendah hati seperti itu. Maklum biasanya beliau sangat tegas dalam kesehariannya.


“Maaf Tuan, sebaiknya tuan segera ke depan. Belum saatnya berbaur dengan keluarga mempelai laki-laki saat ini” nasehat pak Muji.


“Pak, panggil saya pak ya pak Muji. Jangan pernah memanggil tuan” tuan Hartanata berkata sambil tersenyum.


“Oh iya pak, mohon maaf atas kelancangan saya seakan memberi perintah, tetapi ini hanya sebatas menjalani tradisi” jelas pak Muji.


“Ya… ya…, saya paham. Saya hanya tak dapat menyembunyikan kebahagiaan atas kedatangan kalian” tuan Hartanata seakan enggan beranjak.


“Iya pak. Kami juga bisa merasakan kebahagiaan yang sama. Terima kasih sebelumnya atas kebahagiaan yang luar biasa ini” pak Muji mewakili suara rombongan mempelai pria meskipun belum dalam pidato sambutan resmi.


“Baik, baik. Saya akan ke depan. Sepertinya acara memang sudah saatnya dimulai. Saya minta diri” tuan Hartanata sungguh seakan tak mau berpisah dengan orang-orang sederhana yang terlihat begitu bahagia itu.


Pak Muji mengangguk setuju. Semua rombongan menyunggingkan senyum bahagia mengiringi tuan Hartanata yang bergeser perlahan menuju tempat perhelatan. Suara gamelan mengiringi suara MC yang telah memanggil-manggil pemilik hajatan untuk mempersiapkan diri.


Acara berjalan dengan hikmat, tamu undangan memandang takjub kepada mempelai perempuan yang perlahan menuju pelaminan. Mereka saling berbisik akan kecantikan sang mempela, meski bertubuh mungil, namun memiliki daya tarik magis yang membuat semua mata tak lepas memandangnya.


Demikianpun sepasang mata yang sejak awal acara seakan tak berkedip mengikuti segala gerik Leyna sejak keluar dari kamar pengantin menuju ke pelaminan.

__ADS_1


Perhelatan telah dimulai bagi pasangan dan keluarga mempelai. Pesta besar akan segera menyusul bagi para pegawai.


__ADS_2