Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap29. Membuka Peluang sang Mantan


__ADS_3

Upacara wisuda yang berjalan lancar dan sukses tetap saja terasa melelahkan bagi Leyna si gadis tomboy yang memiliki tenaga ekstra dalam kesehariannya.


Duduk berlama-lama dengan pakaian tradisional belum pernah dilakukan Leyna selama hidupnya.


Kalaupun memakai pakaian tradisional pada peringatan hari Kartini saat sekolah dulu, Leyna akan memilih pakaian tradisional yang lebih simpel, itupun tidak ada waktu duduk diam.


Leyna gadis tomboy lincah yang tak mengenal diam di masa kecilnya hingga remaja. Ada saja ulah dan kelakuannya untuk membuat tubuhnya tetap bergerak.


"Papa, Mama, dan Erni langsung ke hotel saja. Nanti sore aku menyusul dengan Johan sekalian aku perkenalkan. Soalnya baru nanti sore dia bisanya" ujar Leyna kepada Tuan Hartanata, usai makan siang di sebuah resto.


Papa Leyna terlihat tersenyum bangga, namun mama tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Sedangkan Erni kakak leyna terlihat wajahnya menunjukkan raut tidak suka, sehinga meninggalkan meja dan mengikuti ke mamanya yang beranjak untuk membayar tagihan.


Baru Papa Leyna yang pernah melihat Johan dan tahu anaknya telah lama berpacaran. Mama dan Erni mengira Leyna masih berhubungan dengan Dewa.


Sambutan Leyna kepada Dewa yang cukup hangat saat dipesta kepulangannya membuat Ibu-anak itu menyimpulkan bahwa Leyna masih ada hubungan dengan Dewa.


"Mengapa nggak ke hotel saja pacarmu, nanti sore bisa disuruh datang sendiri atau kamu jemput" Tuan Hartanata yang selalu berbicara lembut kepada putrinya, membuat rasa iri Erni makin meninggi.


"Nggak bakal  berani dia Pa, baiknya nanti aku temani saja dari pada malah nggak datang" kata Leyna.


"Baiklah, biar kamu diantar pak Sukirman saja nanti dari hotel" Tuan Hartanata memberi saran.


"Nggak usahlah Pa, kasihan pak Sukirman harus mondar mandir di jalanan macet Jogja. Aku bisa naik taksi online" Leyna mengelak.


"Er. Kamu temanilah adikmu ke kosnya naik taksi online, Papa dan Mama langsung ke hotel" perintah Tuan Hartanata kepada putri sulungnya ketika istrinya telah kembali dari kasir.


"Memang ada apa Pah?" tanya Erni.


"Sudah, temani saja adikmu" Tuan Hartanata tidak mau dibantah.


"Ih, Merepotkan saja sih" Erni bersungut-sungut.


"Aku sudah biasa sendiri Pah" Leyna tidak nyaman jika kakaknya harus mengetahui tempatnya kos yang jauh dari kesan mewah.


"Kamu ini lho Er, adik baru kembali ke dalam keluarga sudah dimusuhi saja" hardik Tuan Hartanata.


"Papa ini sih sukanya membeda-bedakan" Erni mengungkapkan rasa irinya.

__ADS_1


"Membedakan bagaimana? Kamu ini kuliah sudah sesuai keinginanmu Papa urus sampai selesai. Selesai kuliah sudah Papa siapkan jabatan di perusahaan, apa lagi yang kurang dari Papa?" Tuan Hartanata naik pitam.


"Iya-iya, aku temani" keluh Erni.


Leyna sampai tidak nyaman, karena sebelum meninggalkan rumah dahulu, tak pernah orang tuanya marah sampai seperti itu.


Leyna buru-buru mendekati mamanya yang tak berani bersuara saat suaminya sedang naik darah.


Leyna mencium tangan mamanya lalu beralih ke papanya. Dekapan erat papa yang ia dapatkan makin mebuat Erni semakin membenci adiknya.


Taksi online berupa kendaraan kelas rakyat yang merapat di depan restoran membuat Erni makin emosi. Meski tak berkata sepatahpun, Leyna tahu kalau Erni tidak menyukai perjalanan dengan mobil murah ini.


"Sesuai aplikasi ya pak" perintah Leyna sembari melempar senyum ke driver.


"Baik kak, kita jalan ya" kata driver, dibalas anggukan dan senyuman yang ia lemparkan lewat spion di dalam mobil.


"Laki-laki macam apa sih pacarmu itu, merepotkan amat. Kenapa tak kau minta Dewa yang tergila-gila padamu sejak kecil itu saja tak kau minta jadi suami" omel Erni setelah perjalanan mereka beberapa lama dihiasi dengan saling diam.


Leyna hanya tersenyum saja melihat kakaknya mengomel, ia segan dengan driver yang bisa mendengar perbincangannya dari kursi tengah.


"Dewa ya, sekarang sudah sukses menjadi pejabat. Kulihat kalian berciuman di depan toilet saat pesta di rumah dulu" Erni nerocos saja meski tak ditanggapi.


"Bagaimana dia tahu aku sedang wisuda?" Akhirnya Leyna harus membuka suara juga.


"Kamu ini, apakah nomor Dewa kamu blokir? Katanya kamu tak pernah membalas pesannya" omel Erni.


"Kakak memberitahu Dewa kalau aku wisuda hari ini?" keluh Leyna.


"Iyalah. Kata Dewa dia tak pernah memutuskan hubungan kalian. Begitupun kamu, apalagi kamu menerima ciumannya di rumah dulu" suara Erni sampai membuat driver melirik dari kaca spion.


"Dia ingin kepastian akan hubungan kalian" terang Erni. Leyna hanya menghembuskan nafas melepas kegundahannya.


"Mari kak sudah sampai titik" kata driver.


Leyna turun dan melangkah menuju rumah kos.


"Apa ini Leyn?" sungut Erni.

__ADS_1


"Kamu..... Sungguhh?" Erni merutuki Leyna yang tak mempedulikan pertanyaannya.


Erni sebenarnya enggan masuk rumah sederhana tempat kos Leyna jika bukan karena perintah papa mereka.


Leyna bersigegas menuju kamar dan meletakkan barang-barang pada tempatnya, mengambil pembersih rias dan baju ganti menuju ke kamar mandi.


Leyna Membayangkan apa yang akan dikatakan keluarganya saat nanti malam bertemu dengan keluarganya


Leyna berlama-lama di kamar mandi agar badannya benar-benar terasa segar kembali. Sementara Erni merasa risih di kos yang sepi karena masing-masing mahasiswa yang wisuda bersenang-senang dengan keluarganya entah ke mana.


Meski kamar Leyna bersih dan rapi, namun Erni tak terbiasa dengan rumah sederhana dan kamar mandi yang dipakai bersama.


"Eiih lama amat tuh bocil kurang ajar, bikin repot saja" rutuk Erni dalam hatinya.


Terdengar suara mobil berhenti di luar, Erni telah menduga bahwa Dewa yang beberapa waktu lalu meminta sharelok posisinya telah menemukan tempatnya berada.


Dering telepon dengan nama Dewa di layar, membuat Erni berlari keluar daripada mengangkatnya. Dewa tak hendak masuk ke kos sederhana itu. Ia memilih menunggu di mobil sewa bersama sopirnya.


Keluar dari kamar mandi Leyna terkesiap saat melihat ke luar pintu utama, Dewa sedang melempar senyum gagahnya.


Erni buru-buru menuju kamar Leyna.


"Ayo segera ikut" ajak Erni.


"Ke mana?" Tanya Leyna.


"Aku harap kali ini kamu tidak usah membantahku. Barusan aku berjanji pada Dewa bahwa kamu akan menemuinya" Erni memaksa Leyna.


"Tapi Kak, aku ada janji dengan Johan" tolak Leyna.


"Johan lagi Johan lagi. Apa yang kamu harapkan dari pegawai rendahan dari perusahan abal-abal yang gak terkenal itu?" sungut Erni


"Pokoknya selesaikan masalahmu dengan Dewa. Jadilah perempuan yang bertanggung jawab" Lanjut Erni.


"Aku tidak bisa Kak, aku harus menemui Johan dulu. Dia belum bisa dihubungi karena masih sesi presentasi" elak  Leyna.


"Sudahlah, urus Johanmu nanti saja. Sekarang yang penting berbicaralah dengan Dewa. Ingat kalian belum pernah menyatakan putus" bentak Erni sungguh emosi.

__ADS_1


Erni menyeret Leyna keluar, menutup dan mengunci pintu yang anak kuncinya belum sempat dicabut. Erni dengan kasar meyeret Leyna menuju mobil yang ditumpangi Dewa.


"Jalan dan antarkan aku ke hotel Dewa, kalian nanti silahkan berbicara berdua. Biar aku yang beritahukan ke Papa kalau kalian jalan berdua"


__ADS_2