
Perut kenyang menikmati makan malam tak membuat Johan dan Leyna mengantuk. Berdua menuju teras belakang penginapan dimana terdapat tempat yang dapat mereka gunakan untuk bersantai menikmati malam.
Penginapan itu berdiri di tepi lereng persawahan sehingga pemandangan lepas kearah dataran rendah perkotaan yang dihiasi kerlap-kerlip lampu malam.
Johan menyelonjorkan kaki setengah berbaring di tempat bersantai yang dibuat dari jaring di teras penginapan menghadap lembah yang indah. Leyna membaringkan tubuhnya dalam pelukan Johan.
Nyanyian serangga seakan mengalunkan irama kemesraan, membangun suasana hangat di semnilir dingin angin malam. Cukup cerah tak banyak awan membuat pemandangan begitu mengagumkan.
Sesekali terlihat cahaya bergerak berkelok-kelok pertanda masih ada yang melakukan perjalanan dengan kendaraan di lereng pegunungan. Johan dan Leyna berlama-lama menikmati suasana dalam diam.
Leyna memegang lembut tangan Johan yang memeluknya. Telapak tangan Johan terasa hangat di perut datar Leyna.
Leyna duduk manja dengan kepala di dada Johan, badanya bersandar di lengan.
"Mas Jo..." tanpa bergerak, lembut suara Leyna memecah kesunyian.
"Hmmm.." Johan mencium lembut atas kepala Leyna yang ada di depan wajahnya. Ia tak ingin kehangatan itu sirna oleh keinginan melihat wajah Leyna.
"Apakah Mas Jo sungguh mencintai Leyna" tanya Leyna.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang" Johan menggosok-gosokkan hidung dan dagunya ke kepala Leyna dengan penuh kasih sayang.
Sebenarnya wajah Leyna memang biasa saja. kalau dibandingkan dengan Imah yang tadi menemani mereka di halte, apalagi jika dibandingkan Anna, manajer personalia di kantornya yang selalu membuat semua pria menengok jika berpapasan dengannya.
Namun bagi Johan yang menarik dari Leyna adalah kelincahan dan penampilan tomboynya. Johan langsung penasaran dan ingin mendekati Leyna saat pertama melihat di kos sebelah dulu.
Mereka berdua berbincang dengan suara rendah, bahkan bunyi jengkerik hampir mengalahkan pendengaran.
"Nggak apa-apa, pengin bertanya saja" Leyna menjawab pertanyaan tanpa mengubah posisinya.
"Apa kamu meragukannya?" Tanya Johan. Leyna diam saja seakan mengiyakan.
Padahal selama mereka menjalin hubungan, Johanlah yang selalu tidak yakin akan kesungguhan Leyna. Apalagi setelah terbukti status sosial kekasihnya bagaikan langit dan kerak bumi. Harga diri Johan sempat jatuh kedalam lembah yang paling dalam.
"Sebenarnya aku sempat merasakan bahwa aku hanya sebuah pelarian Ley" balas Johan mengunggkapkan keluhan.
"Kok bisa begitu?" sergah Leyna.
"Sejak aku mengajakmu pertama ke Prambanan, kamu tidak pernah memberi kepastian akan hubungan kita" terang Johan
"Karena mas Johan belum pernah mengatakan kepadaku kata-kata Aku Cinta Padamu " tuduh Leyna.
__ADS_1
"Benarkah? Kamu ini pelupa atau sengaja melupakan" Johan hampir tak terlewat ingatan setiap detil hubungannya dengan Leyna.
"Mas Johan pernah mengatakan? Kapan?" Leyna penasaran. menarik tubuhnya sedikit ke depan agar bisa memutar tubuh dan menatap wajah Johan.
"Awal-awal kita pacaran dulu" Johan memegang dagu kekasihnya dengan jempol dan telunjuknya. Matanya menatap lekat ke mata bulat kekasihnya, mendekatkan wajahnya dan menempelkan dagunya ke dagu Leyna.
"Aku mencoba mengatakan itu, tatapi yang aku dapatkan tamparan dan kata GOMBAL" lanjut Johan tersenyum mengingat betapa malunya dia saat itu.
"Yah, mas Johan mengatakan didepan teman-teman kos, aku kira cuma candaan" rajuk Leyna lalu merapatkan wajahnya ke bahu Johan. Juga menjadi malu mengingat peristiwa itu.
"Karena peristiwa itulah aku menahan ucapan cintaku" Johan menepuk-nepuk lembut belakang kepala Leyna lalu menariknya menjauh dari bahu.
Menatap wajah Leyna, Johan melanjutkan.
"Maka aku menggantinya dengan tindakan-tindakan, apakah itu belum cukup membuktikan?" Leyna menggeleng.
"Belum, aku juga ingin dirayu dengan kata-kata mesra seperti perempuan lain" Leyna merengut pura-pura marah.
"Hmmm..." Johan bergumam.
"Apakah sepenting itu?" desak Johan
"Apakah sesulit itu mas Johan untuk mengucapkan?" tuntut Leyna.
"Plak, Gombal" sebuah tamparan lembut mendarat di pipi Johan.
"Kamu terpaksa kan" Leyna menambah manyun bibirnya. seakan sungguh marah kepada Johan.
Johan meraih lengan kananLeyna merapatkan pegangan tangan kirinya ke lengan kanan Leyna, menarik tangan yang berada di belakang kepala Leyna sambil menyorongkan wajahnya sendiri.
Leyna tak lagi menolak tahu apa yang diinginkan kekasihnya. Leyna memejamkan mata merasakan sentuhan bibir Johan untuk mencium bibir mungilnya.
Johan memperlakukan lembut kekasihnya, sehingga membuat Leyna merasa nyaman dan membalas ciuman dengan hangat. Johan meraih punggung Leyna dengan kedua tangannya merapatkan badan Leyna ke dadanya.
Bintang-bintang mulai menyembunyikan diri menyaksikan gelora cinta sejoli yang semakin lupa diri, kabut menyelimuti agar serangga malam tak iri.
"Kita pindah ke dalam Jo" pinta Leyna. Suaranya lebih mirip desah bidadari.
"Ya, sepertinya kabut mulai turun seperti rintik gerimis" Johan memandang langit yang mulai tak secerah semalam.
Sudah biasa di lereng pegunungan cuaca sering berubah diluar perkiraan.
Mereka beranjak menuju penginapan mewah di atas lereng sawah itu. Hangat semakin terasa membuat mereka semakin mesra saja.
__ADS_1
Johan dan Leyna bergulingan di kasur empuk berlapis sprei putih bersih. Johan mencium belakang telinga Leyna sambil mengelus lembut belakang pinggangnya. Perlakuan yang menjadi kesenangan Leyna.
Inchi demi inchi ciuman Johan menyusuri tubuh Leyna. Leyna menegangkan otot-ototnya menahan rasa.
Nanar mata Johan memandang Leyna secara keseluruhan. Leyna sungguh menikmati permainan dengan mata terpejam.
Permainan mereka membuat sprei lembut itu berantakan
"Sudah" keluh Leyna menghempaskan punggungnya ke kasur dengan nafas tergengah-engah.
Mendapati itu, nafas Johan semakin memburu kesadarannya menjadi separuh hilang. Didekapnya Leyna dalam pelukan. Johan melanjutkan permainan. Bibirnya membabi-buta menggigit kecil telinga Leyna.
Ciuman Johan pada bibir Leyna dibalas gigitan kecil yang semakin mengaburkan kesadaran Johan.
Johan sudah bersiap dalam totalitas pertempuran ketika suara Leyna menggema di telinganya.
"Jo. Apakah kamu rela jika pada malam pertama kita aku sudah tidak perawan." bisik Leyna diseling sengal nafasnya.
"Jdaaarrr" kesadaran Johan kembali seakan tubuhnya terhempas ke bumi dari awan yang tinggi. Sakit, sesak, dan kecewa, malu berbaur menjadi satu.
Johan berguling turun dari atas tubuh Leyna yang busananya sudah terbuka entah ke mana. Ia mengambil selimut lembut kamar mewah itu dan menutupkan kepada Leyna dan dirinya. tubuhnya sendiri sudah hampir tak memakai apa-apa.
Kaus berkerah milik Johan ikut terseret diatas selimut, namun tak hendak ia memakainya.
"Maafkan aku ya Jo, aku belum siap" Leyna mengecup lembut dahi Johan yang menatap langit-langit dalam diam. hanya matanya berkedip-kedip mengisyaratkan kekecewaan yang mendalam.
Sedikit air menitik dari mata Johan menandakan ia menahan kekecewaan yang mendalam.
"Jo, kamu marah?" Leyna setengah bangkit, menggenggam selimut dengan tangan kiri di depan dadanya dan menciumi wajah Johan.
Johan masih dalam kebingungan akan perasaanya sendiri, namun ia tak ingin membuat kekasihnya kecewa.
"Hampir empat tahun kita bisa menjaga ini Jo, jangan sampai di ujung kebahagiaan kita justru ternoda" Leyna terlihat muram, matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku berjanji Jo, setelah kita sah menjadi suami istri nanti, aku bersedia melayanimu setiap hari, bahkan kalau kau minta sampai tujuh kali sehari" ujar Leyna penuh emosi.
Johan meraih tubuh kekasihnya, membawa kepala Leyna ke atas dadanya, memeluk dan mencium rambut diatas kepala Leyna untuk menunjukkan bahwa ia adalah ksatria yang mampu mengalahkan diri sendiri demi gadis yang sangat dicintainya.
Di bawah selimut Johan merasakan air mata hangat menetes di dadanya yang terbuka. Johan sesekali mengelus kepala Leyna bergantian dengan ciuman diatas kepala sampai Leyna tertidur dipelukan.
Kokok ayam sesekali terdengar di kejauhan, sementara di luar gerimis mengiringi malam menyambut pagi.
Johanpun jatuh tertidur dalam pelukan mimpi.
__ADS_1