
“Kita turun di halte ini saja Kak, nanti saya tunjukkan angkotnya” ajak Imah.
Ternyata sebagian besar penumpang justru turun di persimpangan besar ini.
“Nggak perlu ke terminal Mah?” Tanya Leyna.
“Nanti malah memutar-mutar Mbak, nanti juga angkutan akan lewat sini” jelas Imah.
Mereka berurutan turun dari bus.
“Eh ada Mall juga ya di sini” celetuk Leyna melihat halte tempat mereka turun tidak jauh dari sebuah Mall.
“Sudah lama sih Kak” Imah tersenyum sambil tersipu, merasa disindir oleh Leyna sebagai orang pinggiran. Jarang kota pinggiran memiliki Mall seperti itu.
Berdiri cukup lama menunggu angkutan tiba membuat Leyna tak sabar. Beruntung ada teman baru yang memahami kota ini, hingga banyak informasi tentang kota ini yang Leyna dapatkan.
“Aku duluan ya Mah” Putri berpamitan melihat angkutan yang menuju ke rumahnya sudah berhenti di halte. Imah mengangguk, melambaikan tangannya.
“Daah” dua sahabat itu saling melambaikan tangan.
“Maaf ya Kak, saya keburu kemalaman nanti” kilah putri.
“Yaa.. selamat jalan, hati-hati” Leyna ikut melambaikan tangan.
Angkot yang membawa putri perlahan melaju meninggalkan halte.
“Kamu tidak segera naik Imah” Leyna bertanya kepada Imah yang sejak tadi belum juga menaiki angkutan. Padahal angkutan ke arah rumah Imah telah beberapa kali lewat.
“Sebentar kak, saya tunjukkan dulu angkutan yang harus Kakak pakai, jangan sampai salah karena seharusnya ini sudah pemberangkatan terakhir” terang Imah.
" Nanti kalau tertinggal kakak harus mencari penginapan lagi di sini" Lanjut Imah.
“Kalau kamu mau pulang tidak apa-apa, nanti kan sopirnya menawarkan. Kamu tidak takut kemalaman?” tanya leyna.
“Tidak Kak, rumah saya dekat kok. Kalau Putri memang lebih jauh rumahnya. Aku hanya beberapa menit dari sini” Jawab Lyna.
“Nah itu angkutannya Kak, nanti angkutan akan berakir di pasar. Kakak turun di pasar itu. Kakak harus melanjutkan menggunakan ojek” Imah menjelaskan.
“Terima kasih ya. Kamu sampai repot menunggu begini” ucap Leyna menjabat tangan Imah.
Johan yang sejak tadi menyerahkan komunikasi kepada Leyna agar gadis-gadis itu lebih nyaman, ikut berjabat tangan.
"Saya senang bisa membantu Kak" Imah gadis yang ramah, senyum selalu menghiasi bibirnya setiap kali berinteraksi dengan orang lain.
“Nanti sampai di sana pasti sudah malam. Kakak bisa berkemah kalau mau. Soalnya kalau menginap di glampingnya mahal banget” ujar Imah. Leyna hanya membalas dengan senyuman.
“Wajah dan penampilanmu memang menyesatkan kok Say” bisik Johan di telinga Leyna. Mendengar Imah menganggap Leyna gadis dari kalangan biasa.
Leyna berusaha menghentikan olokan Johan dengan menyorongkan kepalanya dengan manja hingga bibir Johan tersentuh telinga Leyna. Buru-buru Johan menjauhkan wajahnya dengan tersipu karena dilihat berpasang-pasang mata dari dalam angkutan.
"Kami sudah menabung satu tahun kok Dik" Johan berbohong sambil melirik kekasihnya, cubitan lembut mendarat di pinggangnya.
Imah tersenyum-senyum saja karena sudah melihat kemesraan Johan dan Leyna sejak di atas bus dari Jogja tadi.
__ADS_1
Sesaat angkutan berhenti di halte, Johan dan Leyna segera naik ke dalamnya.
“Hati-hati ya Imah” seru Leyna dari balik jendela kaca.
“Daah Kak, Kakak berdua Juga” balas Imah.
“Terima kasih kamu sudah menunggu kami sampai dapat angkutan” lanjut Leyna.
Mereka berpisah untuk menempuh perjalanan masing-masing.
Jarak yang tidak terlalu jauh ditempuh cukup lama. Meski jalur ke arah pegunungan namun cukup padat karena rupanya perjalanan mereka bersamaan dengan jam pulang kerja bagi karyawan,
Sesampai pasar yang diceritakan Imah, belum lagi sempurna kaki turun, mereka telah diburu dan diperebutkan tukang ojek. Leyna ditarik beberapa pengojek ke sana-kemari.
“Ke Silancur kan mbak?” tebak tukang ojek yang akhirnya memenangkan perebutan. Leyna mengangguk.
Satu tukang ojek yang memenangkan merebut Johan mengekor di belakang.
Johan dan Leyna menaiki boncengan motor yang bentuknya sudah tidak karuan, meninggalkan pasar dan pandangan kecewa pengojek yang tersisa.
Suara motor yang berisik mengiringi perjalanan yang berguncang diatas jalanan beraspal kasar.
“Mau kemping di Silancur Higland kan mbak?” tanya tukang ojek menghentikan motornya di depan tempat wisata yang sedang viral itu.
“Antar kami ke Silancur Glamping Pak” Jawab leyna setengah berteriak melawan suara knalpot yang berisiknya,
“Tapi disana jauh lebih mahal lho mbak” tegas pak Ojek. Leyna cemberut menatap wajah Johan yang mengoloknya dengan senyuman.
“Maksudnya gimana Mas?” tanya pak Ojek tidak faham.
“Nggak apa-apa pak, lanjut aja, antarkan kami ke sana” Johan menahan senyuman, melihat kekasihnya makin cemberut.
“Gimana sih masnya ini, gak jelas ngomongya” pak Ojek mengomel sambil mengarahkan kendaraanya ke tujuan diikuti ojek yang memboncengkan Johan
Sesampai di depan loby Silancur Glamping Leyna memberikan upah yang telah disepakati sebelum berangkat tadi.
“Waduh, yang pas saja mbak tidak ada kembalian” ujar pak Ojek.
“Ya sudah pakai saja buat berdua” kata Leyna.
“Beneran ini Mbak” Leyna tersenyum berlalu meninggalkan dua tukang ojek yang bahagia.
Leyna memilih kamar glamping untuk dua orang. Johan tidak mau membantah keinginan kekasihnya.
Jika bersama teman-temannya, Johan biasa camping dengan ongkos puluhan ribu saja, sudah termasuk sewa tenda, kali ini ia akan menikmati saja berkemah mewah ala keluarga Hartanata.
Merah senja telah berlalu. Pada satu sisi kamar glamping terlihat kerlap-kerlip lampu. Malam yang indah tanpa banyak kabut yang mengganggu.
“Itu daerah mana mas?” tanya Leyna kepada OB yang mengantar mereka sambil menunjuk ke arah kerlap-kerlip lampu.
“Oh, itu kota Mbak, jika malam hari kerlip lampunya indah sekali, sedang esok pagi Mbak bisa menikmati terbitnya matahari dari arah ini” terang OB sambil menyerahkan kunci.
Leyna meningglkan OB berjalan ke sudut ruangan tempat minuman kemasan dan air panas dalam termos diletakkan. Ia mengambil daftar menu yang juga ada disitu.
__ADS_1
“Pengin makan apa mas Jo” tanya Leyna kepada kekasihnya.
“Terserah” Jawab Johan sambil sibuk memindahkan isi tas punggung yang sejak tadi membebaninya ke lemari yang terlah disediakan.
“Kok terserah sih? Ini pilih dong” Leyna menunjukkan daftar menu kepada Johan. Johan tersadar. Tumben kali ini Leyna memilih makanan.
“Kalau kali ini aku ikut pilihanmu boleh kan?” ujar Johan.
“Hem, tapi gak boleh ngomel kalau tidak sesuai selera ya?” ancam Leyna.
Johan tersenyum, dalam hatinya berbisik :
“Nggak kebalik Say, aku anak kampung yang bisa makan apa saja” Leyna melirik kekasihnya yang senyum-senyum sendiri
Leyna menuliskan beberapa menu yang akan mereka santap nanti malam dan memberikan kepada OB.
Sepeninggal OB untuk kembali ke lobby, Leyna melemparkan badannya ke kasur empuk yang ada di situ.
“Ah, gila sekali perjalanan hari ini ya Jo” Leyna masih angin-anginan dalam memanggil kekasihnya. Kadang pakai Mas, kadang masih terbiasa langsung menyebut nama.
“buk-buk-buk” Leyna tersenyum manja, tangannya menepuk kasur disebelahnya memberi tanda agar Johan ikut berbaring di sampingnya.
Meski terlihat capek, namun wajah Leyna memancarkan kebahagiaan yang tak dapat disembunyikan.
Johan mendekat, duduk di samping Leyna. Tangan kanannya meraih pundak kekasihnya tangan kiri menelusup dibawah punggung Leyna. Johan memaksa mambalikkan badan Leyna. Leyna mengikuti saja gerakan Johan sampai bertengkurap dengan dua tangan mengulur sejajar di samping badan.
Leyna merasakan punggungnya nyaman mendapat pijatan.
“Tidak usah Mas Jo, aku tidak apa-apa” cegah Leyna. Tangannya berusaha menahan tangan Jogan.
Namun tanpa sepatah kata, tangan Johan menyingkirkan tangan Leyna dan melanjutkan pijatan.
Beberapa lama Johan memijat lembut seluruh badan Leyna yang menikmati dalam diam setengah terpejam.
“Terima kasih ya Mas Jo” desah Leyna hampir tak terdengar, setelah beberapa saat pijatan Johan sungguh membuat tubuhnya menjadi nyaman.
“Untuk apa? Untuk pijatannya atau untuk ditemani perjalannanya?” tanya Johan tetap duduk tak mengurangi pijatan.
“Bukan Mas Jo” jawab Leyna.
“Lalu” Johan tak mengerti maksud Leyna.
Leyna membalikkan badan terlentang menatap wajar Johan. Tangannya diacungkan ke arah Johan berharap dapat meraih punggung Johan berharap mendapatkan pelukan.
“Terima kasih kamu telah mencintai aku dengan tulus” ada titik air di sudut mata nya, Johan semakin tak mengerti apakah kekasihnya sedang sedih atau bahagia.
Johan menunduk, Leyna menarik leher Johan agar dapat memeluknya. Mendekap erat kelapa Johan. Mencium belakang telinga dan berbisik sambil menahan isakan.
“Terima kasih kamu sudah menjadi kekasihku” Johan hanya diam dalam dekapan Leyna. Hatinya menahan berjuta pertanyaan akan jalan hidupnya yang penuh kejutan.
hatinya penuh tanya,
"Mengapa tiba-tiba"
__ADS_1