Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap24. Silancur Gelora Muda Penuh Cinta


__ADS_3

"Ayo Ley, kita segera berangkat. Nanti keburu sore" Johan seakan tak sabar melihat kekasihnya masih kesulitan memasang anting di depan cermin.


Johan menahan rasa geli melihat Leyna meringis sambil memiringkan kepalanya  sementara dua tangannya terlihat di telinga memegang anting emas yang cantik.


Terasa agak aneh, gadis tomboy-nya berusaha memasang anting di telinganya.


"Bantunin kenapa, malah senyum-senyum saja" keluh Leyna


"Baiklah Yaaaang" Johan mendekat. Leyna bertingkah lucu dengan memegang kepalanya seperti yang dilakukan saat menggoda tadi. Johan meradang.


"Sudah, biarin aja. Kepalamu mau peyang, mau penjol aku tetap pacarmu" Johan sedikit kesal.


"Tumben aja Mas Johan mengobral Yang Sayang hari ini" Leyna cekikikan.


"Ya sudah kalau nggak mau kupanggil Sayang" gusar Johan. Leyna semakin cekikikan. Wajahnya didekatkan ke wajah Johan sambil jari telunjuk menunjuuk ke pipi sendiri.


"Kenapa? Mau ditampar" Johan menggoda.


"Nah Lo, cinta itu yang penting ditunjukkan dengan tindakan. tidak cukup diucapkan" ujar Leyna.


"Ya sudah kalau nggak mau" Leyna pura-pura menjauh. Tangan Johan sigap menahan belakang kepala Leyna dan menghujani wajah Leyna yang sudah berdandan dengan ciuman.


"Sudah, sudah, ini bantu" Leyna meyerahkan anting emas kepada Johan agar Johan menghentikan ciuman.


"Pasti ini pemberian papa atau mamanya" Johan menduga-duga sambil berusaha memasang anting ke telinga kekasihnya.


"Mimpi apa kamu sampai memasang anting segala" tanya johan sedikit heran.


Selama mengenal Leyna, Johan tak pernah melihat Leyna mengenakan asesori.


Leyna melepas kabel charge lalu meraih samartphonenya untuk dimasukkan ke tas Johan. Johan tahu artinya ia harus menggendong tas itu selama bepergian.


"Dompetnya mau kamu pegang?" tanya Johan melihat Leyna hanya memasukkan smartphone.


"Aku lihat dulu, apakah aku sudah bawa uang cash untuk perjalanan nanti" Kata Leyna mengambil lembaran uang kertas dan menyerahkan ke Johan.


"Apa?" tanya Johan.


"Buat bayar angkutan" Jawab Leyna.


"Tidak usah Yang, Peyang. Sudah ada pecahan di kantongku" tolak Johan.


Baru kali ini Leyna memaksa Johan menggunakan uang Leyna untuk kebutuhan mereka berdua.


"Gak jadi pergi saja kalau begitu" Leyna tetap menyorongkan uang yang cukup banyak dihadapan Johan sambil menghentakkan kedua kakinya. Johan mengalah.


Johan melangkah mengambil tas punggungnya setelah Leyna memasukkan dompet ke kantong kecil tasnya.


"Berat sekali tasku" keluh Johan. meletakkan kembali dan membuka reslteting tas untuk melihat isinya.


"Kamu bawa laptop, dan baju sebanyak ini?" Johan bertanya. Leyna hanya mengangguk saja.


"Memangnya kita mau ke mana?" tanya Johan kembali.


"Kamu tahu Silancur?" Johan menggeleng menjawab perytanyaan Leyna.

__ADS_1


"Kita ke Magelang" Leyna berujar sambil tersenyum.


"Mageeelang?" Johan terberanggah. Leyna mengangguk, bibirnya tetap tersenyum.


"Berangkat siang begini?" Leyna tak henti mengangguk bibir tetap tersenyum ditambah mata berkedip. ekspresinya sungguh lucu.


"Aku mau refreshing, Week end. Kalau mas Jo keberatan tidak ada yang memaksa" kata Leyna lambat-lambat.


"Aku bisa berangkat sendiri" lanjut Leyna.


Johan mendengus.


"Angkat tasnya" perintah Leyna.


"Baiklah princes peyang, penjol" Leyna sudah tak mempedulikan lagi olokan Johan.


"Kita pamit dulu ke bapak kos biar nggak dicari nanti kalau kita tidak pulang ke sini" kata Leyna.


"Maksudmu kita mau menginap di Magelang. di mana tadi?" tanya Johan.


"Silancur" Jawab Leyna.


Sesampai di depan pintu rumah induk, ibu kos menyambut kedua sejoli yang berdiri berdampingan di depan pintu tidak bersedia masuk dan terlihat agak tergesa.


"Aduuh, cantiknya nak Leyna. Akhirnya keluar juga dari peraduannya" puji ibu kos sambil mencolek hidung Leyna. dan mencubit pipinya.


"Pak ini lho anak-anak mau berpamitan" ibu kos berjalan beberapa langkah ke belakang memanggil suaminya.


"Ehem" Johan berdehem di telinga Leyna.


Leyna melotot dan mulutnya meringis pura-pura marah. Tangan kirinya memegang lengan Johan dan tangan kanan mencubit pinggangya.


Johan tak berusaha mengelak, karena memang tidak sakit. Leyna menyandarkan kepala di lengan Johan.


"Oh, kalian. Nak Leyna sudah baikan?" tanya bapak kos sambil berjalan mendekati kedua sejoli.


Leyna hanya menjawab dengan anggukan sambil menebar senyum manisnya.


"Ya sudah pasti to pak, lihat lho mereka sudah terlihat bahagia seperti pasangan pengantin baru saja" ujar ibu kos menggoda.


Leyna buru-buru melepaskan tangannya dan berdiri agak menjauh dengan muka memerah.


"Ya nggak apa-apa nak Leyna. Kalian kan sudah dewasa" lanjut ibu kos merasa bersalah.


"Bapak dan ibu selalu memperhatikan hubungan kalian selama kos di sini" kata bapak Kos.


"Bapak perhatikan, hubungan kalian baik dan sehat, jadi kami tidak mau mencampuri apapun masalah kalian" terang bapak kos.


Leyna kembali mencubit pinggang Johan.


"Tuh dengerin" bisik Leyna.


"Kalau nanti menikah, jangan lupa undang kami nak Leyna" Ujar ibu kos berseloroh.


"Ibu mau datang ke Lampung kalau kami menikah?" tanya Leyna seakan ia sungguh akan segera menikah.

__ADS_1


"Ya.. moga-moga tidak ada halangan" jawab ibu kos.


"Benar bu? Kalau ibu mau nanti saya belikan tiket pesawat buat keluarga biar tidak capek" janji Leyna


"Oh, tidak usah. kalau memang bisa ke pesta ibu akan cari tiket sendiri. Naik bus saja"  kata ibu kos.


"Tidak bu. Sungguh kalau ibu bersedia nanti saya belikan tiket pesawatnya" desak Leyna.


"Ngak usaaaah, uang tiket bisa dipakai nak Leyna untuk keperluan lain. Sayang uang begitu besar" elak ibu kos.


"Ah belum tau dia, uang tiket segitu tak ada artinya bagi keluarga Tuan Hartanata" batin Johan sambil tersenyum.


"Ibu ini. Memang menikahnya kapan, kok malah berdebat saja. Masuk nak Johan, nak Leyna" bapak kos berusaha menghentikan perdebatan dan mempersilahkan Johan dan Leyna untuk masuk ke rumah induk.


"Terima kasih pak, kami hanya memberitahu kalau kami nanti tidak balik kos karena ada kepentingan di Magelang" Johan menolak tawaran bapak kos mengingat waktu sudah lewat siang.


"Oh, begitu. Yah, baiklah. hati-hati di perjalanan" kata bapak kos.


Kedua sejoli menuju halte untuk memulai perjalanan ke terminal.


***


"Adik, maaf" Johan menghentikan langkah dua gadis yang terlihat seperti dua orang mahasiswi saat beriringan melintasi peron terminal.


Keduanya berhenti dengan tatapan penuh curiga. Leyna segera berusaha menguasai suasana.


"Maaf dik, di trans Jogja tadi kami dengar adik mau ke Magelang ya" tanya Leyna ramah. Gadis berperawakan tinggi dan berambut panjang dengan kulit sawo matang itu mengangguk.


"Boleh kami bareng, kami belum pernah ke Magelang, jadi belum tahu peron mana kami harus menunggu" terang Leyna.


Gadis sawomatang dengan bulu lembut di tangannya memandang kepada sahabatnya si gendut dengan rambut  lurus pendek diatas bahu.


Mereka saling berpandangan.


"Oh maaf, kenalkan saya Leyna dan ini kekasih saya Mas Johan" Leyna berusaha mencairkan suasana yang terasa kaku.


"Saya Putri" si gendut menyambut uluran tangan Leyna dan Johan.


"Saya Imah" gadis tinggi menyusul bersalaman


"Kalian mahasiswa baru di Jogja ya?' Tanya Leyna


"Iya kak" jawab Imah. Mereka berempat mulai berjalan beriringan kembali.


"Ke Magelang ke tempat saudara kak?" Putri mulai berani bertanya.


"Bukan, kami ingin melihat Silancur, sekalian istirahat week end di sana, apakah kalian tahu tempat itu?" Leyna mencari informasi


"Iya, tahu kak. nanti bareng kami saja turunnya, terus berganti angkutan pedesaan yang menuju ke sana" ajak Imah.


"Rumah kalian dekat Silancur" tanya Leyna.


"Tidak kak, tapi nanti kita bisa turun di halte yang sama, tidak perlu sampai terminal, nanti saya tunjukkan angkutannya" Jelas Imah.


Sesampai di peron keberangkatan bus ke Magelang, mereka berempat segera naik bus bumel yang sudah siap berangkat untuk mengantarkan mereka ke Kota Magelang.

__ADS_1


__ADS_2