
Johan sedang sendirian menikmati acara televisi di ruang depan rumah kos. Kanebo kering entah ke mana. Mungkin main atau bahkan menginap di kos teman-temanya yang tidak pulang kampung untuk menghilangkan kebosanan karena di kos sendirian karena Johan sudah aktif bekerja kembali.
Pikiran Johan sedang terfokus ke pekerjaan yang bakal diembannya. Pekerjaan yang menuntut tanggung jawab besar namun seakan datang begitu tiba-tiba.
Pikiran untuk segera meninggalkan Jogja dan janji Anna bahwa kantor Jakarta akan beroperasi segera jika Johan mau ke sana memenuhi angannya.
Kemampuan Johan sungguh akan dipertaruhkan.Sebagian masa depan perusahaan akan berada di tangannya dengan tiba-tiba.
Duduk sendiri Johan berusaha meredakan kegelisahan dengan menikmati film lepas di telivisi, Meski tak terlalu berkonsentrasi.
Johan melihat sebuah kendaraan berbelok masuk ke gang tempat kos.
Jantung Johan berdebar karena di ujung gang kendaraan yang ternyata taksi itu berhenti cukup lama dengan sinar lampu depan menyorot ke arah kosnya.
Taksi itu tak bergerak maju atau mundur untuk beberapa lama.
Johan melirik benda-benda yang bisa dijadikan senjata andai para preman yang mengeroyoknya yang datang. Benda-benda itu memang disiapkan anak-anak kemarin saat berjaga-jaga.
Seseorang turun dari taksi dan menuju ke arah kos nya.
Siluet sesosok orang tidak jelas wajahnya karena dari belakang tersorot lampu yang menyilaukan mata berjalan menuju pintu kos. Dari perawakannya Johan menduga itu sosok perempuan, dan deg! Johan merasa mengenali siluet di depan pintu itu.
“Jo, pinjami uang untuk bayar taksi” sendu suara yang ia kenal berhenti di depan pintu.
“Leyna? Apa yang terjadi?” Johan keheranan melihat kusut kekasihnya
“Tolong cepat Jo, sopir taksi keburu marah” kejar Leyna.
Tanpa bersuara lagi, Johan bergegas mengambil sejumlah uang yang disebutkan Leyna dan memberikannya. Leyna menuju taksi yang menunggu pembayaran tanpa mematikan mesin.
Kembali menuju kos Johan Leyna memeluk Johan dengan mesra. Johan tidak bisa membalas pelukan Leyna begitu saja karena pikiran terganggu dengan berbagai tanya.
Kejengkelan karena Leyna tak menghubunginya usai wisuda sebenarnya sudah cukup untuk menaikkan darah Johan.
Kedatangannya ke kos malam-malam naik taksi mengisyaratkan Leyna tidak berangkat dari kos yang selama ini kosong setiap Johan melintas, menambah kejengkelannya.
“Kamu darimana saja” Johan menyelidik.
“Maafkan aku Jo aku kena tipu” ujar Leyna.
“Kena tipu bagaimana?” tanya Johan.
“Besok saja aku ceritakan Jo, aku lelah ingin istirahat” kata Leyna.
Johan merasa nada suara Leyna tidak biasa. Johan mengantar Leyna ke kamar dan membiarkannya tidur dalam kesendirian.
“Aku istirahat di sini ya Jo” Johan mengiyakan.
Johan membiarkan Leyna sendirian dengan maksud agar tak mengganggu istirahatnya. Johan melihat Leyna begitu lelah dan seakan penuh beban pikiran hingga membuatnya tak tega untuk terus bertanya.
__ADS_1
"Baiklah, istirahatlah. Aku akan kembali ke ruang depan" kata Johan
Johan kembali ke kamar depan, duduk di kursi yang biasa digunakan menikmati acara televisi.
Entah mengapa, film lepas di telivisi terasa lebih menarik minatnya dibandingkan memberikan banyak pertanyaan kepada Leyna kali ini.
Film selesai pukul sebelas malam. Johan yakin kanebo kering tak akan pulang. Johan mematikan telivisi, menutup pintu depan lalu kembali ke kamarnya.
Didapatinya Leyna terbaring di kasurnya, dengan selimut menutup seluruh tubuh sampai keujung kepala.
Johan mendengar ada isakan dari balik selimut, rasa iba di hati Johan mengalahkan rasa jengkel di hatinya karena perlakuan Leyna yang mematikan telepon dan tak menghubunginya setelah meninggalkan begitu saja.
Perlahan berbaring di samping Leyna, Johan menarik selimut di bagian kepala. Benar saja, mata Leyna sembab sepertinya menangis selama ia tinggal menikmati acara telivisi.
“Ada masalah apa?” Johan bertanya tanpa minat.
Leyna tak segera menjawab. Air matanya semakin deras meskipun tangisnya hanya isakan yang dalam.
"Ceritakan padaku Ley, barangkali aku bisa membantu meringankan bebanmu" rasa iba kan kasih yang tulus di hati Johan telah mencairkan segala kejengkelan dan amarah yang ia pendam.
Leyna semakin tergugu dalam isakan. Johan mencoba menenangkan dengan meraih dan memeluk kepala Leyna dalam dekapan.
Airmata membasahi dada Johan,namun perlahan Leyna mulai menghentikan tangisan.
Johan kembali membelai kepala Leyna.
“Aku kena tipu orang tak dikenal Jo. Untung aku masih selamat” akhirnya Leyna menjawab sambil terisak.
“Ada orang menawarkan aku pekerjaan, aku sebenarnya menolak karena aku curiga orang yang tidak mengenal kami menawarkan pekerjaan besar kepadaku yang baru saja lulus kuliah” lajut Leyna.
“Orang itu mengajak aku menemui pamannya pemilik perusahaan yang bisa memberiku gaji besar. Aku menolak karena curiga, Bagaimana mungkin orang tak dikenal menawarkan gaji besar kepada mahasiswa yang baru lulus.. Tetapi kakakku memaksa, katanya kalau aku tidak mau, dia yang akan datang ikut orang itu” Leyna masih dalam isakan yang semakin berat.
"Lalu mengapa jadi kamu yang tertipu" tanya Johan.
“Aku sadar kakaku mungkin kena gendam, tetapi aku ingin menyelamatkannya, akhirnya aku yang ikut dia, berputar-putar naik taksi tanpa tujuan sebelum akhirnya memaksaku memberikan sejumlah uang"
"Bagaimana kamu bisa lolos?" tanya Johan.
"Aku berhasil lari meninggalkannya dalam sebuah ATM saat memaksaku menarik sejumlah uang, aku hanya memberikan PIN dan meninggalkannya” cerita Leyna, isakan kembali memenuhi tenggorokannya.
“Maafkan aku Jo” desah Leyna. Johan terus secara perlahan mengelus kepala Leyna.
“Mengapa tidak kau biarkan kakakmu saja yang ikut dia?” Johan penasaran.
“Kakakku tidak mengenal Jogja, kalau dia yang ikut bis tertipu luar dalam. Hartanya jauh lebih banyak, maka akuberuaha menyelamatkannya” kata layna.
"Tetapi aku tidak apa-apa Jo, beruntung aku selamat" Ujar Leyna
Lama Johan memandangi wajah Leyna dalam diam. Batinnya berjanji.
__ADS_1
"Andai kamu telah diperkosa oleh orang itu sekalipun Leyna. Aku tetap akan menjadi suamimu yang setia. Meski empat tahun aku menahan diri dan menjaga kemurnianmu, aku tak kecewa hanya karena orang lain mengambilnya terlebih dahulu" Johan membatin janjinya dengan hati yang teriris.
“Sudah tak usah disesali, harta bisa dicari. Yang penting kamu selamat” hibur Johan hambar, suaranya menjadi sedikit serak.
"Baiklah kita tidur, aku sangat lelah Leyna. Lupakan saja apa yang terjadi, anggap sebagai pembelajaran yang berharga" kata Johan kepada kekasihnya.
Tak ada reaksi apapun dari Leyna, hanya isakan Leyna yang berirama membuat kantuk Johan yang kurang tidur menjadi semakin berat.
Setelah terjadi pengeroyokan, Johan begadang bersama anak-anak mahasiswa dan pemuda yang ikut berjaga beberapa hari kemarin. Sehingga malam ini terasa begitu melelahkan.
Entah satu atau dua jam Johan tertidur dia rasakan ciuman bertubi-tubi ke wajahnya. Leyna menciumi Johan dalam isak tangisan yang tertahan.
Leyna menepuk-nepuk pipi Johan.
Johan terbangun dengan pakaian sudah terbuka sebagian. Dilihatnya Leyna sudah tanpa busana menindihnya. Selimut yang tadi dipakainya telah berserak di lantai.
Johan tak bisa menerima perlakuan Leyna. Ia sadar Leyna masih dalam pengaruh kebingungan karena mendapatkan pengalaman buruk.
Merasa Johan tak memberikan tanggapan, Leyna semakin membabi buta berusaha membuat Johan terbakar api asmara.
Namun Johan menarik lengan Leyna yang duduk diatasnya. Bukan untuk membalas ciuman atau kenikmatan. Johan membaringkan Leyna disampingnya membalutnya dengan selimut dan membenahi pakaiannya sendiri.
“Jangan lakukan ini Ley, jelas kamu belum siap menerima aku seutuhnya. Kamu hanya marah kepada keadaan. Aku tak mau merusakmu jika belum kau lakukan dengan kerelaan” cegah Johan.
Leyna menangis sejadi-jadinya. Memukuli dada Johan berkali-kali. Johan membiarkannya sampai Leyna lelah dan berhenti sendiri.
Johan kembali memeluk Leyna yang sudah terdiam dengan kasih sayang, namun kantuk kembali menyerang tak lagi terbendung. Johan kembali tertidur.
Selang beberapa lama, Leyna yang tak bisa tidur mengulang perbuatannya. Menghujani Johan dengan ciuman dan berusaha membangkitkan gairahnya.
“Sial kamu Jo, mengapa hal begini menjadi begitu sulit bagimu?” rutuk Leyna dalam hati. Ia telah kembali menindih Johan yang masih terbuai dalam mimpi.
Johan kembali terbagun, mendekap erat Leyna agar berhenti menciuminya, menarik kepalanya ke dekat leher Johan.
Leyna memberontak dan terus berusaha membuat Johan terbakar asmara.
“Ayo Jo aku siap menyerahkan seluruhnya bagimu malam ini, tolong lakukan Jo” pinta Leyna dalam isakan yang memelas.
Leyna menyusur tubuh Johan yang setengah terbuka.
“Sadar Ley, kita tunggu saatnya” entah mengapa Johan merasa begitu bebal malam ini. Johan tahu Leyna hanya dibakar amarah. Ia tak mau gegabah.
Johan kembali membaringkan Leyna di sampingnya, menyelimuti tubuh polosnya. Leyna kembali terisak dibalik selimut dalam pelukan Johan.
Lama Johan memeluk Leyna , rasa kantuk kembali menghampirinya, Johan tertidur dengan pelukan hangat menyelimuti Leyna. Ia sudah tak peduli lagi dengan pakaiannya.
Sebaliknya Leyna sungguh jengkel dan penasaran dengan sikap Johan. Menjelang fajar Leyna kembali nekat menyingkirkan selimut dan menindih Johan dengan tubuh polosnya.
Ini usaha Leyna dalam keputusasaan, segala daya ia kerahkan. Johan terperdaya namun tak pernah sempurna.
__ADS_1
Johan berusaha menyadarkan Leyna yang bertindak bagai kuda gila. Entah roh apa yang merasukinya. Sayang, rasa iba dan kasih tulus Johan tak bisa menerima perlakuan yang demikian.
Meski secara fisik akhirnya ia terlihat sebagai lelaki jantan, namun permainan tak selesai dengan benar. Akhir dari permainan tak seperti yang diharapkan Leyna. Kegagahan Johan menyerah sebelum permainan benar-benar dimulai.