
"Apa aku akan kamu usir lagi dari sisimu Mas Jo" Leyna bertanya tanpa mengendurkan pelukan tangannya ke punggung Johan.
"Kapan aku pernah mengusirmu Pey" tanya Johan tidak mengerti arah pertanyaan kekasihnya.
"Oh, dari tadi Mas Jo memanggilku Pey, apa maksudnya?" Leyna mendongakkan kepala menanti jawaban dari Johan.
Senyum tersungging di bibir Johan.
"Peyang!" jawab Johan membuat mata Leyna membualt tanda tak mengerti, mengapa kata olokannya justru sekarang menjadi panggilannya
"Pepeyku sayang" ulang Johan.
Leyna melepaskan pelukan lalu memukuli dada Johan dengan bawah kepalan tangan mungilnya.
"Kamu jahat mas Jo, Jorok ah" rajuk Leyna manja.
Meski menerima pukulan bertubi-tubi, Johan tak mau melepaskan pelukannya, sehingga Leyna hanya bisa menarik kepala dan punggungnya sementara pinggangnya masih menempel pada tubuh Johan.
"Ih, pikiran kamu sendiri yang jorok. Bagian mananya yang jorok coba" goda Johan membuat Leyna makin semangat memukuli dada Johan.
"Embuhlah. Gimana kalau panggilan itu sampai terdengar orang lain coba?" rengek Leyna.
"Ya biar orang lain tak mengganggu belahan jiwaku" ucap Johan membuat Leyna hampir kehilangan kesadaran.
"Ouwh, segitunyakah Mas Jo mencintaiku" hati Leyna meleleh bagai coklat terkena belati panas. Pedih tapi nikmat.
"Jadi aku gak akan pernah diusir lagi kan?" Leyna mengulang pertanyaan yang belum sempat terjawab karena Johan mengalihkan pembicaraan.
"Kapan aku mengusirmu Pey?" Johanpun memberikan jawaban yang diulang.
"Kemarin bukan mengusirmu, tetapi ingin menjaga kemurnian hubungan kita sesuai keinginanmu" tebak batin Johan menduga Leyna tahu tujuan dibalik ia mengantarkan pulang.
"Papa yang membelikan tiket, aku hanya menuruti keinginan beliau" kalimat itu yang keluar dari mulut Johan.
Entah sesuai dengan hati dan pikiran atau tidak, ia hanya ingin kekasihnya menjadi lebih tenang.
"Sudah, mandi dulu sana. Biar nanti sudah segar saat kita makan bareng-bareng di kuliner bawah" Johan melepaskan perlahan pelukannya seakan tak rela tubuh mungil itu terlepas dari lengket di tubuhnya.
Tak pelak sebuah kecupan mendarat di dahi Leyna sebelum benar-benar pelukan dilepaskan.
Pandangan Johan tak lepas dari kekasihnya itu sampai sebuah senyuman terlepas di depan pintu kamar mandi sebelum pintu itu rapat dikunci dari dalam.
"Jangan lama-lama mandinya Pey" perintah Johan.
"Iyaaa" Jawab Leyna dari balik pintu.
__ADS_1
Johan membawa koper yang dilemparkan begitu saja saat Leyna merajuk tadi. Membuka penutupnya dan menata isinya ke dalam lemari pakaian yang ada di kamar tidurnya.
Johan mengambil satu gaun cantik hadiah ulang tahun ke 20 yang dibelikannya untuk Leyna. Rupanya Leyna sangat terkesan padaulang tahunnya yang ke 20.
"Hmm. Apakah dia begitu terkesan dengan hadiah ulang tahun ini sehingga gaun murah bagi keluarga Hartanata itu tetap disimpan dan rajin dikenakan" batin Johan membuat bibirnya tersungging senyuman.
"Mas Jo, ambilkan baju dong, aku lupa" teriakan Leyna dari dalam kamar mandi.
Johan membawa gaun yang ada di tangannya agar dikenakan kekasihnya. Ia ingin nanti saat makan malam terlihat cantik.
"Iihh, ngapain sih" Leyna protes saat Johan mendorong pintu kamar mandi agar terbuka sedikit lebuih lebar.
"Ini Lho, tanganku gak muat" Kata Johan berusaha memasukkan tangannya untuk menyerahkan gaun.
"Jahat ah, curang. mau ngintip ya" protes Leyna.
"Boleh?" goda Johan.
"Hisshh, jorok ah. Udah sana" Leyna kembali menutup pintu.
Johan meninggalkan pintu kamar mandi melihat ponselnya menyala tanda ada pesan masuk.
"Makan Jo, Kita turun ke basement" isi pesan dari Anna.
Basement tower apartemen yang luas itu dilengkapi dengan kuliner dan minimarket di samping parkir tamu, sedangkan parkir penghuni berada di underground yang lebih privat.
"Makan sate saja ya, aku lagi pengin makan sate, aku turun dulu untuk memesan biar nanti kamu sampai sudah siap saji" terang Anna dalam pesannya.
"Aku satu tongseng dan satu gulai saja" pesan Johan.
"Idih, kayak mau perang saja, segitu laparnya ya. he he he" canda Anna dalam pesan di ponsel Johan.
"Udah Mas, cepetan" Leyna sudah berdiri di samping Johan sambil menggosok-gosokkan handuk ke rambut belakangnya yang tak pernah dipelihara sampai panjang.
Johan mandi tergesa-gesa agar Anna tak menunggu terlalu lama nantinya. Mengenakan kaos berkerah dan celana kasual Johan diiringi kekasihnya yang bergaun murah meski menghabiskan sebagian gajinya saat di Jogja dulu.
Terlihat Anna tengah memelototi ponselnya pada sudut resto yang menyajikan sate sebagai menu utamanya.
"Sudah jadi pesan An?" Tanya Johan. Anna masih menunduk memelototi pesan-pesan di ponselnya.
"Sudah" Anna mendongakkan kepala melihat Johan.
Melihat Johan tak sendiri sebuah senyuman manis yang selalu mengguncang jiwa para pria terlompat dari bibir Anna.
"Gila, cantik sekali perempuan ini, apa ini yang bikin mas Jo seperti tak rela aku datang tadi?" batin Leyna penuh curiga.
__ADS_1
"Perkenalkan An..." kata Johan langsung dipotong oleh Anna.
"Leyna kan?" sahut Anna sambil berdiri dari tempatnya duduk. Johan memelototkan matanya.
"Uh, apa Mas Jo sudah pernah menceritakan diriku ke perempuan ini?" batin Leyna. Tak mau kalah manis bibirnya membalas senyum Anna, dan menyambut uluran tangan.
"Aku Anna, teman kerja Johan. Aku di bagian personalia" terang Anna melihat air muka Leyna memendam berbagai pertanyaan dalam benaknya.
Anna tak mengungkap kalau dia punya jabatan, tetapi Leyna tahu kalau perempuan itu manajer personalia karena beberapa kali Johan menelepon di hadapannya.
"Kok kamu tahu namaa....?" Johan ragu karena ia tak merasa belum pernah memberitahu nama kekasihnya ke orang kantor.
"Lha kemarin lusa kamu ijin berangkat sendiri ke Jakarta karena mau mengantar kekasihmu Leyna kan?" potong Anna kembali.
"Ih, ingatan gadis ini memang lengket seperti nasi ketan" batin Johan. Bibirnya hanya mampu menyunggingkan senyuman.
"Sudah duduk, itu pesanan sudah datang" perintah Anna.
Leyna sebenarnya agak kikuk juga makan bersama teman kerja Johan yang cantiknya bisa membuat para gadis memilih meleleh menjadi cairan coklat bersembunyi di bawah meja.
Tetapi melihat Anna yang begitu cair dalam bercengekerama, Leyna menjadi lebih percaya diri.
"Kok kamu malah pesan gulai, bukan sate setengah matang Jo?" tanya Anna sambil tersenyum menggoda.
"Uhuk, Pff" Johan terbatuk hampir saja menyemprotkan makanan di mulutnya.
Anna tersenyum lebar, sedangkan Leyna hanya memelototi kekasihnya, tak paham mengapa pertanyaan sederhana itu membuatnya terbatuk.
"Ah, kamu ini ada-ada saja An" kata Johan.
"Oh ya, aku minta ijin nanti Leyna menginap di Apartemen. Bisa meminjam salah satu apartemen tamu An?" Johan melanjutkan.
"Kamu mau ambil kunci ke Jogja? Kemarin aku cuma diberi dua kunci ini" Anna tak henti menebar senyum penuh makna seperti kebiasaan dia saat menggoda teman-temannya.
"Baiklah kalau begitu biar Leyna nanti kutitip tidur di apartemenmu saja kalau begitu" pinta Johan salah tingkah.
"Maaf Jo, aku ini gadis dari suku Quileute. Kalau tidur ngelindur suka berubah menjadi serigala. Kamu gak takut kekasihmu tercabik-cabik? goda Anna. Ia tertawa bahagia bisa menggoda pasangan muda di hadapannya itu.
Leyna memelototkan mata ke arah Johan, karena tahu suku Quileute dalam film lawas Twilight Saga adalah manusia yang bisa berubah menjadi serigala.
Leyna tak percaya omongan Anna, ia cuma heran mengapa perempuan cantik ini begitu akrab dalam canda dengan kekasihnya.
"Ehm, baiklah, kalau begitu aku minta ijin Leyna menginap di apartemenku saja"kata Johan sambil menggosok dahinya seperti orang kebingungan.
"ha ha ha, kamu ini lucu Jo, apa kamu kira aku ini istri simpanan pak RT? Sudahlah jangan seperti anak kecil. Apartemen itu hakmu selama kamu nanti memimpin agensi di sini" akhirnya tawa Anna pun lepas
__ADS_1
"Oh iya, kalau kamu sibuk malam ini, biar aku selesaikan pekerjaan sendiri" Goda Anna sambil bangkit hendak berjalan menuju kasir.