
“Ada yang masih kamu butuhkan Jo. Apakah masih ada kebutuhan yang kurang?” Cegat Anna melihat Johan masih sibuk mondar-mandir melakukan final checking sebelum acara dimulai.
“Aku rasa cukup An, Aku tidak melihat hal yang keluar dari perencanaan” meski tak terdengar mantap, namun Johan merasa yakin semua persiapan sudah sesuai.
“Semoga berjalan dengan lancar Jo, ini menjadi pertaruhan kita di mata direksi” bisik Anna menambah debar jantung Johan yang mulai reda kembali berdegup.
“Hmmm.. Aku hanya punya waktu seminggu sejak cuti pernikahanku. Terima kasih selama aku cuti, kamu menangani hampir semua persiapan yang kita butuhkan” Johan kepada Anna.
“Kita ini tim Jo. Kita masih akan terus menjadi tim meski nanti ruang kita berjarak” Anna menenagkan Johan.
“Aku sungguh berhutang kepadamu” Johan memandang lekat ke mata Anna.
“Sudahlah, bayar itu nanti dengan kesuksesan cabang di sini” Anna menuntut.
“Mana Istrimu? Seharusnya ia duduk di deretan depan disamping kursi yang disediakan untuk kepala cabang” tanya Anna.
Johan melongok ke deretan kursi kehormatan, namun tak ditemukannya istrinya.
“mungkin dibelakang panggung An, tadi dia bersikukuh mau menunggu di sana sebelum aku duduk di depan panggung” kilah Johan.
Anna dan Johan berjalan beriringan menuju belakang panggung. Pembawa acara sudah mulai mengawali acara dengan kepiawaiannya merangkai kata-kata.
“Ada yang melihat istri pak Johan?” Anna bertanya ke para karyawan yang bekerja untuk kelangsungan acara.
Semua yang ditanya Anna menggelengkan kepala. Selain memang tak melihat, mungkin mereka juga kurang memperhatikan sosok istri Johan, sebab selama seminggu Johan terlibat persiapan, istrinya tidak selalu terlihat hadir diantara karyawan.
“Coba aku cari dulu ya An, Ponselnya tidak aktif, barangkali dia kembali ke apartemen” Johan hendak menuju apartemaen tempatnya tinggal sembari tangannya masih memegang ponselnya yang menempel di telinga.
“Biar aku bantu cari ke toilet perempuan dulu Jo. Siapa tahu Leyna sedang ada kepentingan di sana. Tunggu saja dulu di sini” Anna menahan Johan karena acara sudah mulai berjalan.
“Tolong salah satu ke apartemen pak Johan untuk menengok apakah istrinya kembali ke sana, cepat beri khabar apapun yang kamu dapati ya” perintah Anna kepada salah seorang pembantu acara.
__ADS_1
Anna buru-buru menuju toilet perempuan perusahaan. Sayup didengarnya suara dari dalam.
“Hoeek, hoeik” Anna menebak suara yang terdengar mungkin suara Leyna. Buru-buru ia menuju toliet perempuan yang cukup luas dengan beberapa pintu WC berderet bersih terawat. Anna menuju pojok toilet dimana terdapat deretan wastafel, dengan Leyna seorang diri terlihat kurang sehat.
“Kamu sakit Ley?” selidik Anna.
“Eh, Kak Anna. Maaf. Sepertinya aku agak masuk angin. Sudah seminggu ke dokter tapi tiba-tiba hari ini terus terasa mual” Leyna merasa kurang nyaman menyadari Anna menyusulnya dalam situasi yang kurang menyenangkan.
“Boleh?” Anna meminta ijin untuk meletakkan punggung tangan ke dahi, Leyna hanya mengangguk.
“Kok tersenyum?” Leyna heran menatap ke wajah Anna yang terlihat ceria dengan senyum lebar.
“Kamu hamil?” Meskipun belum bersuami, namun Anna adalah wanita dewasa dengan segudang ilmu di dalam kepalanya. Johan memang belum memberitahukan kepada siapapun akan keadaan istrinya, karena selama seminggu semua sibuk mempersiapkan acara untuk hari ini.
“Selamat” Seru Anna kegirangan, melihat Leyna tidak bereaksi apapun terhadap tebakannya.
Leyna menyambut uluran tangan Anna, disusul tangannya diseret oleh Anna hingga dekapan lembut Anna seakan seorang kakak yang begitu bahagia mendengar khabar adiknya telah sempurna menjadi seorang wanita.
“Baiklah, nanti kalau memang kamu maasih belum kuat untuk mendampingi Johan di acara pengguntingan pita, biarkan nanti karyawan saja yang menggantikanmu membawa nampan gunting untuk diserahkan kepada direktur” Anna menerocos memaparkan cadangan rencana seandainya Leyna tak bisa menjadi bagian seremoni.
“Nggak apa-apa Kak, rasanya tidak masalah. Hanya rasa mual saja yang datang dan pergi membuat tidak nyaman” Leyna tidak nyaman kalau acara besar yang sudah dipersiapkan berhari-hari oleh suaminya, atau bahkan mungkin berbulan-bulan oleh perusahaanya menjadi kurang lengkap karena ketidakhadirannya di ujung acara.
“Baiklah, mari” Anna mengulurkan tangan menggandeng leyna dengan penuh kebahagiaan. Entah mengapa ia ikut merasa begitu bahagia mendapati Leyna telah berbadan dua.
“Tapi kamu harus hati-hati Ley. Tidak boleh terlalu capek di usia kandungan yang belum terlihat begitu” Sambil berjalan Anna mencoba menasehati Leyna.
“Kata siapa kak” Leyna serius bertanya.
“Kata akulah, aku kan tadi yang bilang” Jawab Anna.
“Tahu dari mana?” suara leyna bernada datar saja, namun dengan warna suara yang dibuat-buat.
__ADS_1
“Eh, sialan kamu ternyata bisa bercanda ya, aku kira mual membuatmu tertekan” Anna mencubit lembut pipi Leyna seakan menggoda adik kecilnya.
“Yaa.. kan gak mungkin itu pengalaman Kak Anna” Leyna belum mau berhenti menggoda rekan kerja suaminya itu.
“Gitu ya! Awas, jangan mentang-mentang kamu hamil duluan lalu bisa menyalip kedewaanku. Dasar pasangan bocah nakal” Anna menonjok pelan pundak Anna. Mereka berdua pun tertawa bahagia.
Melihat istrinya berjalan sambil bersama Anna sambil tertawa, Johan menjadi merasa lega. Buru-buru ia setengah berlari menghampiri dua perempuan yang dikaguminya.
Sejurus di depan mereka, pertayaan meluncur dari mulut Johan seperti berondongan peluru hampa.
“Kamu dari mana Pey? Kamu sakit? Kenapa kamu terlihat agak pucat? Obatnya kamu bawa?” cerosos Johan.
“Sudah nggak usah pura-pura perhatian” sergah Leyna membuat Johan terkesiap. Mulutnya terkunci, namun sejuta pertanyaan begemuruh dalam hati.
Anna dan Leyna tak menghentikan langkahnya, hingga Johan berbalik arah
“Apa pula salahku An?” Johan mengalihkan obyek pertanyaan.
“Mana aku tahu, suaminya kan kamu” Anna ikut-ikutan menggoda Johan yang makin kebingungan.
“Anna, Leyna, sayang” Johan kelimpungan di belakang kedua wanita itu, sementara keduanya terus berjalan sambil menahan senyuman.
Johan tak berani berkata-kata lagi karena mereka telah sampai di depan panggung dimana para tamu kehormatan oleh pembawa acara telah dipersilahkan untuk menempati kursi yang disediakan.
Johan duduk di samping Leyna yang duduk hampir tanpa ekspresi bagi pengamatan mata Johan. Sementara Ana di sebelah kananya di deretan para manajer yang semuanya tidak membawa pasangan. Johan memang mendapat keistimewaan karena akan menjalankan kantor cabang yang hendak diresmikan ini.
Sambutan demi sambutan, acara hiburan dan selingan, pembagian dorprize dan penghargaan berlangsung silih berganti, hingga saatnya acara puncak pengguntingan pita sebagai lambang pembukaan cabang tiba.
“Para direksi dan kepala cabang beserta istri dipersilahkan menuju panggung untuk mendampingi bapak komisaris yang akan menggunting pita sebagai tanda bahwa kantor cabang ini telah resmi dibuka” kata pembawa acara berapi-api diiringi musik yang menghentakkan hati.
“Leyna!” Johan menggamit lengan istrinya yang terlihat sedikit pucat.
__ADS_1
“Nggak apa-apa mas, aku kuat. Cuma menahan sedikit mual” Kilah Leyna.