Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap53. Malam Pengantin


__ADS_3

Gelap telah meliputi bumi saat kendaraan kami perlahan memasuki jalur perkebunan. Di ujung jalan, yang bergelombang karena angkutan berat, terlihat memancar terang melebihi biasanya lampu-lampu dari mes para pekerja. Cahayanya yang memburam berusaha menembus lebat hujan  menambah berat perjalanan sejak keluar dari Pelabuhan tadi.


Beruntung para pekerja telah memasang  tenda-tenda di halaman parkir antara mess pekerja sampai mess mandor, sehingga dapat digunakan untuk menurunkan seisi kendaraan dengan cukup aman.


Para pekerja berhamburan keluar mencari keluarga yang telah lama dinantikan untuk sebuah perjumpaan yang istimewa. Sebagian pengiring pengantin pria dari des aitu memang memiliki saudara yang bekerja di perkebunan Tuan Hartanata.


Isak tangis haru memecah suara hujan yang menghajar atap tenda. Kaki basah karena genangan air di tempat parker itu tidak menghalangi rasa rindu yang hanya bisa mereka curahkan satu atau dua tahun sekali di kampung.


Pertemuan orang-orang kampung itu menjadi terasa lebih haru, karena kali ini kerabat desa, orang tua merekalah yang berkesamparan dating mengunjungi secara Bersama-sama. Ini adalah kebahagiaan yang mungkin tak selalu dapat dipetik oleh setiap anak-anak rantau.


Johan menyeret tangan Niken menuju ke mess mandor, sambal sedikit berlari menghindari cipratan air hujan yang terbawa angin. Hampir tak ada yang mempedulikannya kali ini karena semua orang sibuk dengan keluarga masing-masing.


“To, kamu masih di dalam kamar?” teriak Johan di depan pintu ruangan Anto.


“Maaf mas, aku baru selesai mandi, tadi barusan selesai menemani anak-anak memasang tenda dan lampu-lampunya sampai hujan menjadi lebat” jawab Anto dari balik pintu.


“Kamu gak kangen sama aku” Johan menggoda.


“cekrek” terdengar suara kunci pintu terbuka.


“Aiih.. Mas Johan ini ada-ada saja …” suara Anto langsung tercekat melihat Niken juga sudah ada di depan pintu kamarnya.


Hatinya berdegup kencang hingga hanya berdiri mematung yang dapat ia lakukan.


“Eh.. Gimana sih? Malah seperti patung ketemu patung” canda Johan. Nikenpun memerah padam mukanya.


“Sudah… kayak bocah baru gede saja” Johan sengaja mendorong keras tubuh Niken ke arah Anto, hingga Niken terhuyung menubruk Anto yang sedang terpana.


“Eeeh” Anto berusaha menahan tubuhnya agar tak terjatuh tertindih.

__ADS_1


“Ayo kasih ciuman sekali lalu segera atur itu para tamumu, nanti mereka masuk angin kakinya terendam air hujan semalaman” Ujar Johan seakan memerintah mandornya.


Merasa diberi perintah, serta melihat Anto yang seperti masih ragu akan kehadiran Niken dalam pelukan, Niken mendahului mencium keduabelah pipi Anto hingga mendapatkan balasan kecupan lembut di keningnya.


“Cukup-cukup, nanti kelaman gak bisa dilepas, tamu-tamu bisa kedinginan” Johan berusaha memisahkan dua sejoli dimabuk asmara itu.


Anto melepaskan pelukan, Niken berbalik dan meninju dada Johan dengan keras. Alih-alih menahan sakit, Johan malah tertawa seakan senang dapat mempermainkan dua insan asmara.


Anto buru-buru keluar meminta para pekerja mengatur diri dan keluarganya seperti yang disepakati.


***


Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian semua orang di perkebunan berkumpul di tenda besar yang lebih kering untuk bersantap malam. Hujan masih belum benar-benar reda, seakan tak rela meninggalkan sambutan untuk para tamu yang telah menempuh perjalanan begitu jauh.


“Mohon maaf para sesepuh dan saudara-saudariku, agar tidak terlalu malam nanti kita beristirahat, disela-sela menikmati hidangan saya mewakili keluarga Tuan Hartanata yang saat ini tidak dapat menyambut kedatangan di sini, karena di rumah beliau juga sudah berlangsung acara upacara adat” ucap Anto memecah suasana makan dibawah rintik hujan.


“Mohon maaf karena tempat dan tata cara kami menyambut mungkin kurang berkenan kepada para sesepuh maupun saudara sekalian” Lanjut Anto.


“Iya Pak Dhe” Anto langsung menghentikan bicaranya dan memberi kesempatan kepada pak Muji sebagai wujud rasa hormatnya.


“Sudahlah To, Kamu pasti juga belum makan sejak tadi kan?” tanya pak Muji.


“Eh.. Iya Pak Dhe” Anto jujur menjawab.


“Sekarang kamu makan Bersama kami. Biarkan pilihan kami ini jadi kehormatan bagi keluarga mempelai perempuan, bahwa kami ke sini sebagai keluarga besan, bukan sebagai tamu kehormatan” ujar pak Muji.


“Kami Bahagia bisa bermalam dan tidur bersama anak-anak, keponakan, sepupu yang hanya bisa kami lakukan setahun sekali” Lanjut pak Muji.


“Kami orang-orang kampung ini bisa nggak mampu bangun besok pagi kalau tidur di Kasur empuk di kamar mewah yang tvnya berisik semalaman seperti di gambar yang dipamerkan Johan kemarin” Pak muji berkata-kata dengan nada serius, tetapi yang hadir disitu malah tertawa.

__ADS_1


“Mas Anto, kami ini ke sini mau menyaksikan pernikahan putera kampung yang kami anggap sukses, bukan mau wisata. Bukannya menolak bobok manis di hotel mewah, kami hanya ingin melepas kangen dengan kalian” celetuk salah satu rombongan dari sudut tenda yang agak gelap.


“Tolong jangan anggap kami sebagai beban, kami lebih senang kalau bisa begadang semalaman di sini seperti malam lebaran dimana anak-anak kami sedang pulang ke kampung” Ujar yang lain lagi.


Johan mendekati Anto. Sambil tersenyum dia bercanda.


“Kapok gak kamu dimarahi orang sekampung? Sudah kubilang bukan aku yang minta mereka menginap di mess, tapi para sesepuh dan keluarga sudah sepakat sejak aku minta hadir di sini. Sudah sana makan temani Niken yang duduk sendirian” ujar Johan mendamaikan hati Anto.


Anto Hendak memberikan closing dari sambutannya namun dicegat suara pak Muji.


“Wiis to, sana makan dulu keburu dingin hidangannya” pak Muji tegas.


Anto hanya bisa mengalah meski dalam hati bersungut-sungut,


“Mana mungkin hidangan kelas tuan Hartanata dingin hanya karena angin malam”


Pak Muji melempar senyum lebar menduga-duga yang ada di pikran Anto.


“Kamu juga makan sana” perintah pak Muji kepada Johan.


“Saya puasa pak Dhe, besok kan hari pernikahan” elak Johan yang tak merasa lapar menunggu hari esok dengan rasa hati yang bercampur aduk.


“Sudahlah, itu kan tradisi lama di mana mempelai paling jauh hanya beda desa. Kuperhatikan dari pagi kamu tak selera makan. Apa gunanya upacara besar, mewah, dan  megah kalau akhirnya kamu jatuh sakit”.


“Tapi apa tidak menyalahi adat pak Dhe?” Johan masih bertahan.


“Menyalahi adat itu kalau kamu merugikan dirimu sendiri dan orang lain, sepanjang kamu berlaku lurus, tidak ada yang merasa dirugikan, tidak ada adat yang kamu langar” Pak Muji berkata bijak.


“Tapi…” Johan masih berusaha bersikukuh.

__ADS_1


“Sudahlah, semua yang hadir di sin ikan saudara-saudaramu. Mereka sudah paham betul karakter dan sifatmu. Mereka lebih senang kalua esok kamu tampil segar dan tampan seperti seorang bangsawan yang mewakili keberadaan mereka” Pak Muji memaksa.


Johan hanya mengangguk, berjalan perlahan ke arah meja prasmanan, mengambil menu yang ternyata adalah makanan-makanan kesukaan yang sengaja disiapkan secara istimewa oleh saudara-saudara di perkebunan.


__ADS_2