
Johan kembali ke apartemennya setelah lewat tengah malam.
Berdiskusi dengan Anna merupakan hal yang menyenangkan bagi Johan.
Waktu berjalan cepat tanpa menjadi bosan. Bukan hanya karena penampilan Anna yang begitu elegan. Tinggi semampai, berkulit bersih dengan rambut hitam terurai indah menghiasi wajah cantiknya. Namun kecerdasan gadis yang humble, dan cair dalam persahabatan itu menjadikan siapapun yang ada didekatnya enggan untuk beranjak.
"Syukurlah Leyna bisa beristirahat" bisik hati Johan melihat kekasihnya berbalut selimut meringkuk di tempat tidur.
Sebuah gelas dengan sisa kopi ada di meja samping tempat tidur. Mungkin usaha Leyna untuk menahan kantuk, namun tak berhasil.
"Bocah ini seneng banget sih hawa dingin" Johan mencari remote AC untuk menurunkan level cooling agar suhu kamar tak terlalu dingin.
Johan merebahkan diri di belakang Leyna yang tidur meringkuk seperti bocah besar yang polos berbalut piyama di bawah selimut. Hanya kepala Leyna tersembul dari balik selimut satu-satunya yang dibawa Johan dari kos.
Johan memandang langit-lagit kamar berbantal dua tangan yang ia tekuk di bawah kepala.
"Mimpi apa kamu Ley? Pernahkah aku ada di sana, dalam mimpi-mimpi indahmu" bisik hati Johan kembali.
Sudah hampir empat tahun Johan menjalin hubungan dengan Leyna.Tak pernah ada cerita ia diimpikan oleh kekasihnya. Pun demikian ia heran dengan dirinya. Sebesar apapun rasa kangen kepada Leyna tak pernah ia memimpikan gadisnya. Mungkin karena Johan tak pernah berpisah lama dengan gadisnya itu.
"Iiih.. susah banget tidur kalau capeknya kebangetan begini" Johan berusaha menutup mata. Ia tak ingin mengganggu istirahat kekasihnya yang terlihat pulas. Capek baru dirasakan saat ia telah merasa menyelesaikan tugasnya hari ini.
"Malam ini, coba kaureeenungkan. Ketika cinta harus memilih dalam hatimu"
"Aih yak ampun kenapa lagu kenangan Pance Pondaag yang sore tadi diputar di tempat makan malah tertanam di otakku. Jangan-jangan ottakku mulai jadul nih. Anak sekarang mana paham lagu beginian" pikir Johan mengingat lagu lawas berjudul "Ketika Kamu Harus Memilih"
Tetapi melantunkan lagu kenangan yang ia dengar saat makan meski hanya sepotong-sepotong justru membuat Johan lebih cepat terlelap.
***
Sebuah kecupan di dahi Johan membuatnya terbangun dari mimpi indah. Sedikit membuka mata Johan melihat Leyna tersenyum ketika mendapati Johan mulai terbangun.
"Jam berapa Pey?" Suara Johan masih serak karena kesadarannya belum pulih seluruhnya.
"Entahlah, sepertinya sudah menjelang pagi. Aku terbangun dan sudah tak bisa tidur kembali" jawab Leyna masih memeluk Johan dengan dagu di letakkan di dada Johan.
"Sebentar aku ke toilet" Johan mengangkat kepala Leyna karena adik kecilnya sudah memberontak menahan air sisa metabolisme semalam.
__ADS_1
Cukup lama Johan di toilet. Maklum ritual pagi membersihkan sisa metabolisme akan sulit karena terganggu adik kecil yang tegang menghadapi pagi.
Kembali ke pembaringan Johan mendapati Leyna telah berselimut kembali menghindari AC yang terasa dingin di pagi hari.
Johan pun bergidik merasakan hembusan AC, sehingga menyusul Leyna ke balik selimut. Namun mata Johan melotot ke arah Leyna saat tangannya hendak memeluk kekasihnya itu karena tak merasakan sentuhan kain.
Lengannya merasakan hangat dan lembut kulit perut Leyna.
Penasaran Johan mengangkat selimut dan melihat dibaliknya. Ternyata Leyna telah menaggalkan pakaian, hanya menyisakan segitiga pengaman berwarna hitam.
"Pey?" Johan memandang kekasihnya dari samping. Leyna memiringkan tubuhnya menghadap Johan. Memberikan senyuman manis yang menggoda.
"Apa yang harus aku lakukan, mengapa kali ini Leyna berinisiatif seperti ini?" Pikir Johan. Ini baru kali ke dua Leyna mendahului kehendak Johan setelah di kos beberapa hari kemarin sampai membuat Johan ketakutan.
Leyna tak berkata-kata. Hanya senyuman manis dan sebuah kecupan mendarat di bibir Johan.
"Apakah harus kali ini? Apakah aku masih bisa menahan jika melanjutkan permainan" Johan masih bimbang dengan kejadian di kos saat Leyna tiba-tiba seperti kuda betina gila yang mengamuk.
Namun kali ini Leyna mengawali segalanya dengan lembut. Ciuman-ciuman Leyna merambati Johan senti demi senti.
Senyum selalu menghiasi bibirnya saat mata mereka bertemu. Sangat berbeda saat leyna seperti kuda betina. Uraian air mata mengiringi permainannya.
"Ambilah seluruhnya, aku ingin menjadi ibu dari anak-anakmu" Leyna menatap Johan dengan senyuman.
Johan meraih kepala Leyna, memeluknya di dadanya. Dengan nakal Leyna menggigit kecil dada Johan dan mengenai bagian yang cukup sensitif. Johan sedikit terlonjak.
Leyna menarik kepalanya dan kembali melemparkan senyuman menggoda. Setengah duduk mulai membuka kancing-kancing pakaian Johan yang masih diam dalam kebimbangan.
Meski mengetahui Johan masih bimbang, Leyna tak peduli lagi, semua bagian berusaha ia lepaskan.
Setelah berhasil melepas semua bagian pakaian Johan, Leyna duduk di paha Johan. Memijat kecil dada kekasihnya yang tak terlalu bidang itu dan mengurut dari pundak sampai kebagian perut.
"Enak?" tanya Leyna melihat kekasihnya memejamkan mata menikmati perlakuannya. Johan hanya mengangguk kecil.
Leyna menundukkan badannya, meraih bibir Johan dengan bibirnya sehingga Johan mulai mengikuti permainan Leyna.
Kamar ber AC dingin itu mulai terasa menghangat bagi pasangan muda itu. Johan mulai menikmari permainan dan mencoba menguasai keadaan.
__ADS_1
Leyna turun dari atas tubuh Johan untuk memberi kesempatan. Permainan pun semakin seru dan menegangkan bagi Johan.
Setelah merasa cukup Johan berusaha menembus pertahanan Leyna. Johan melakukannya dengan lembut dan perlahan, sehingga Leyna merasa sangat nyaman.
Mereka melakukan permainan itu dengan penuh perasaan. Mencurahkan seluruh cinta dan kasih sayang. Perlahan namun pasti suhu kamar mulai merangkak semakin panas, namun pasangan kekasih itu terus meningkatkan permainan.
Mereka tak ingin permainan berakhir, namun meski Johan terus berusaha menunda puncak permainan, dan terus berusaha melakukan perpanjangan, namun pertahanannya terus menipis akibat serangan-serangan Leyna yang semakin intensif sambil mendekap erat punggung Johan.
Hingga akhirnya Johanpun menyerah dengan nafas mendengus-dengus di telinga Leyna dan tubuh lemas menindih kekakasihnya.
Dekapan erat dari Leyna mulai mengendur perlahan tanda usainya permainan. Keringat mereka bersatu dari perut sampai dada.
Johan mengangkat kepala yang masih sedikit bergetar untuk melihat wajah kekasihnya. Leyna menyunggingkan senyum tanda kebahagiaan telah memberikan seluruh harapan kepada Johan.
"Kamu baik-baik saja?" sungguh pertanyaan konyol dari Johan. Leyna hanya mengangguk sambil tersenyum manja.
"Kamu tidak menyesal?" kembali kekonyolan dilontarkan Johan.
Leyna menggeleng kecil lalu meraih kepala Johan. Menyorongkan bibirnya ke bibir Johan untuk memberi tanda bahwa ia sedang berbahagia.
"Jadilah suamiku Mas Jo, Ayah dari anak-anakku" pinta Leyna manja.
Johan menggeser tubuhnya, menjatuhkan di samping Leyna, lalu memeluk erat kekasihnya itu sebagai jawaban kesanggupannya. Leyna meletakkan kepalanya di Dada Johan dengan manja.
"Aku akan mencintaimu sampai maut memisahkan kita Pey. Namun jika saat itu tiba, saat maut menjemputku, kuharap itu adalah saat dimana kalian, kamu dan anak-anakku telah siap dengan semuanya. Anak-anak telah sukses dengan kehidupannya" Johan meyakinkan kekasihnya.
"Kamu ingin anak berapa dariku?" tanya Leyna.
"Sebanyak yang kamu mampu berikan" jawab Johan.
"Seberapa banyak itu?" Leyna membelalakkan matanya.
"Kalau sepuluh, nanti seperti orang kuno, kalalu lima saja kamu sanggup" goda Johan.
"Ihh.. Banyak amat, emang Mas Jo kuat bayarin sekolahnya?" rajuk Leyna manja.
"Iya Juga ya. Tapi kan anak membawa rejekinya sendiri. Siapa tahu mereka bisa mendapatkan beasiswa" Ujar Johan sekenanya.
__ADS_1
"Iih, nggak lucu ah, maunya gratisan melulu" Leyna mencubit pipi kekasihnya.