
Akhirnya Johan harus bertanggung jawab penuh akan perkembangan kantor cabag. Meskipun orang-orang pusat seperti Anna akan mensupport, namun tetap saja beban harus dipanggul di pundak Johan sepenuhnya.
Hari terlihat cerah di luar jendela sana. Suasana kerja hari pertama cukup bersemangat, para pegawai baru yang masih didampingi anak-anak dari pusat terlihat antusias melakukan transfer ilmu.
“Thok thok” dua kali ketukan di pintu ruang kerja Johan, belum dijawab sudah terlihat Anna membawa dua paket makan siang menuju ke mejanya.
Anna menyeret kursi untuk duduk dihadapan Johan.
“Hmmm.. tinggal sejengkal saja bagian kulit Anna yang belum kulihat” batin Johan nakal memikirkan kejadian semalam.
“Ih, melamun macam melihat hantu saja kamu Jo” sapa gadis berkulit putih itu terlihat manja.
“Ih, malah senyum-senyum sendiri seperti orang kesurupan saja” Anna melambaikan tisu yang ia pegang ke depan mata Johan hingga berkedip-kedip kena angin yang ditiupkan.
“Hmmm.. Anna bisa setenang itu setelah peristiwa semalam?” batin Johan bertanya-tanya.
“Gadis lain pasti sudah malu bertemu denganku, tapi ini malah cengengesan” lanjut batin Johan.
“Jo, ini hari terakhir aku di sini. Nanti sore aku harus pulang ke Jogja. Banyak hal yang sudah aku tinggalkan selama membantumu di sini. Kamu harus siap sendiri” ujar Anna seakan menasehati.
“Benar-benar tenang sekali gadis ini” bisik hati Johan.
“Baiklah. Bagaimanapun Aku harus siap kan” jawab Johan tak kurang rasa heran.
“Lagi pula, yang kangen di sana pasti sudah tak rela kalau kamu berlama-lama di sini” goda Johan.
“Entahlah, selama ini hubungan kami datar-datar saja. Tak ada peristiwa yang istimewa” Anna berkata.
“Ih, gak enak bener ya pacaran orang kaya yang semuanya sudah serba ada. Kok kayak gak ada seninya” goda Johan. Anna tidak bereaksi. Mungkin batinnya membenarkan saja omongan Johan.
“Tapi kangen dong, kamu kan sudah berminggu-minggu di sini. Ketemu cuma lewat alat komunikasi” Johan menatap lekat wajah Anna, menduga-guda apa yang sedang ada dalam pikiran gadis yang tak bisa dibilang muda lagi ini.
“Entahlah, hanya saja semalam aku bermimpi aneh. Tak biasanya aku memimpikan tunganganku, apalagi sampai mimpi bermesraan” Anna berbicara lirih saja seakan kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
“Nah, itu tandanya kangenmu sudah diubun-ubun” ujar Johan sambil melemparkan senyuman.
“Heh, nggaklah. Aku bukan tipe yang begitu” Anna mengelak.
“Atau mungkin tunanganmu sudah begitu merindukan dan selalu memikirkanmu sampai jiwanya melayang kepadamu” Johan terkekeh-kekeh melihat kali ini Anna seperti gadis yang sedang kebingungan memikirkan keadaan.
“Biasa saja sih dia selama kami telponan atau vidcall-an, tapi mimpiku sungguh aneh semalam” Anna masih saja lirih bersuara mengemukakan rasa heran.
“Memangnya kamu mimpi seperti apa?” Johan sedikit khawatir kalau-kalau Anna menjadi ingat dan marah kepadanya.
“Sebagai pria yang dingin, aku tak pernah diperlakukan istimewa. Hubungan kami biasa-biasa saja bahkan hanya terasa seperti keluarga. Seperti hubungan kakak dan adik saja” Anna mengingat-ingat perjalanan perjodohannya sampai pesta tunangan.
“Masak sih?” Johan terheran-heran ada cara demikian orang berpacaran.
“Sorry An, aku bertanya jangan tersinggung” Johan ragu hendak bertanya.
“Hmm. Apa?” Anna mantap menjawab.
“Kamu sudah pernah berhubungan badan?” Johan sudah bersiap membuat tangkisan andai pertanyaan itu membuat Anna reflek melayangkan pukulan.
“Hah” Johan membelalakan mata.
“Kenapa? Ada yang aneh kalau gadis seusiaku masih perawan?” tanya Anna.
“Oh bukan-bukan. Perawan atau tidak perawan, biasanya gadis kalau ditanya seperti itu setidaknya berubah perasaan” jawab Johan.
“Biasa aja tuh” Ana berujar seakan tak ada hal istimewa dalam obrolan.
“Ya.. ya.. gak salah kamu lulusan psikologi” Johan maklum akan situasi.
“Enak ya Jo kalau pacaran kayak kamu?” nada bicara Anna seakan iri akan hubungan Johan dan Leyna.
“Enaknya? Selama pacaran aku ke mana mana naik angkutan. Sesekali kubonceng motor kalau dapat pinjaman” Johan tidak paham apa yang membuat Anna menginginkan hubungan seperti yang dialaminya.
__ADS_1
“Yah, itulah. Naik bus bisa pegang-pegangan. Atau naik motor bisa peluk dari belakang” Anna mengungkapkan pendapat yang bagi Johan tak logis untuk seorang gadis.
“An, hampir semua gadis yang aku kenal pengin punya pacar bermobil. Nyaman pacaran tidak kepanasan tidak kehujanan” Johan menatap heran gadis dewasa di hadapannya.
“Gak enak sumpah Jo. Siang ditelpon, halo sayang nanti sore nonton ya, aku jemput. Sorenya mobil datang bunyikan klakson aku naik langsung jalan, pulang nonton turun mobil bilang bye masuk rumah, paling lanjut telponan. Gitu terus dari jaman batu” Anna seakan bosan dengan caranya berpacaran.
“Trus, kenapa kamu betah banget?” Johan dengan bodohnya bertanya.
“Aku tuh sudah dijodohkan dari kecil. Entah mengapa aku tak ada rasa tertarik dengan pria lain. Sampai bertunangan ya rasanya seperti berhubungan dengan kakak saja. Ketemu ya biasa, lama gak ketemu ya biasa saja. Kecuali semalam” Ana menjelaskan.
“Oh iya Jo, kalau tak salah ingat rasanya semalam aku melihatmu dekat lift?” tanya Anna tiba-tiba.
“Deg” Hati Johan terkesiap. Tapi Johan menangkap tanda-tanda Anna tak ingat apa yang ia alami.
“Masa sih?” Johan mencoba menguji ingatan Anna dengan pura-pura bertanya.
“Yah.. waktu aku keluar lift, bukannya kamu yang masuk lift menuju lobby?” Anna bertanya sambil mengernyitkan dahinya. Mencoba memeras ingatannya yang terasa berat kali ini.
“Hemmm” Johan hanya bergumam. Hatinya cukup lega mengetahui Anna tak sepenuhnya mengingat kejadian semalam.
“Kamu mau kemana malam-malam, aku tak sempat menanyaimu karena rasanya capek dan ngantuk sekali sampai nggak tahan” Johan semakin lega melihat kenyataan Anna sungguh seperti orang hilang ingatan.
“Maunya sih mencari angin segar ke kampung di seberang. Ngopi di angkringan yang biasanya ramai” sampai lewat malam.
“Kamu sendirian kan?” Anna memastikan ingatannya.
“He em. Leyna tidur karena gak enak badan” jawab Johan.
“Kamu bagaimana sih, istri baru sedang sakit kok malah ditinggalkan” Anna keheranan dengan sikap rekannya yang tak biasa.
“Hmm. Yah entahlah, rasanya sedang ingin saja” jawab Johan tak dapat menyembunyikan kegundahan.
“Atau sedang ada masalah lagi dengan istri yang baru seminggu kamu nikahi?” Anna seperti sudah biasa mengetahui drama pasangan yang penuh intrik ini.
__ADS_1
Johan hanya menghela nafas panjang karena tidak yakin apakah kejadian semalam dengan Leyna adalah sebuah masalah dalam hubungannya. Johan sebenarnya sudah terbiasa dengan perilaku Leyna yang sering berubah-rubah. Namun karena perubahan itu begitu ekstrim dan terjadi hanya satu minggu setelah resepsi pernikahan yang sangat meriah, Johan menjadi ragu-ragu menyimpulkan.
“Oh Ayo Jo, ini tadi aku pesankan makan siang. Anggap saja ini pesta pribadi kesuksesan kamu mengawali pekerjaan di sini” Anna membuka paket makanan yang hampir dingin karena ditinggal dalam perbincangan.