Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap51. Perjalanan Keluarga Besar


__ADS_3

"Bapak itu sudah membicarakan dengan saudara-saudara disini kalau berangkatnya lusa Jo, kamu ini suka  sekehendakmu sendiri saja" ayah Johan begitu marah mendengar pernyataan Johan yang bahwa keberangkatan mereka akan dilaksanakan esok.


"Pak, di sana nanti akan ada acara pada malam sebelum hari H. Lagi pula janganlah perjalanan jauh dilaksanakan mempet jadwal. Ini bukan perjalanan ke kampung sebelah" kilah Johan berusaha bersabar.


"Kamu ini selalu menggurui orangtua. Kamu merasa sudah bisa melakukan apa-apa sendiri, sehingga melupakan orangtua yang selama ini membesarkanmu" ayah Johan serasa mau meledakkan seluruh tumpahan amarahnhya.


"Pak, aku sudah berusaha berkomunikasi dengan keluarga selama ini, tetapi tidak mendapat tanggapan. Aku juga sudah sejak awal membahas keberangkatan ini. Kita sekeluarga saja, karena aku tak memiliki dana untuk menanggung banyak orang" Johan perih mengungkapkan alasan kepada orang tuanya.


"Kamu pikir menikah sesederhana itu? Kamu mau mempermalukan orangtuamu" bukannya mengendur, kemarahan ayah Johan semakin menjadi saja.


Ibu Johan yang ada di dekat mereka hanya menahan rasa. tak berani menengahi pertengkaran kedua laki-laki yang ia sayangi itu.


"Sudah, terserah maumu saja. Bapak sudah bosan setiap kali bertemu sama kamu, hanya pertengaran yang bapak dapatkan" ayah Johan beranjak dari tempat perdebatan, keluar rumah dan seperti biasa pergi entah ke mana.


Pedih hati Johan, di H-3 pernikahan, ia dan orangtuanya masih saja menjalani pertengkaran. Ibu Johan berkaca-kaca,hanya bulir airmata yang dapat ia berikan sambil tak tega menatap anak sulung yang berjuang sendirian sejak akhir-akhir belajar di perguruan tinggi sampai menjelah hari yang seharusnya menjadi kebahagiaan bagi seorang laki-laki.


"Merry belum pulang bu?" ujar Johan berusaha menutupi kegaluan hati.


"Entahlah, dari pagi tadi dia pergi, mengapa sesiang ini belum juga kembali" ujar ibu Johan dengan suara yang masih menahan getar hati.


Johan menyalakan telivisi, Duduk di tikar yang ia gelar di depan telivisi yang acaranya tak ada yang nyangkut di hati.


Kegundahan karena seakan pernikahannya tak mendapat dukungan penuh dari orangtuanya membuatnya pusing di kepala.


Dengan keterbatasan uang yang ia miliki,johan bermaksud berangkat ke Lampung hanya dengan keluarga intinya. tetapi bapaknya besikukuh malu, jika tidak ada pengiring setidaknya keluarga besar yang mendampingi.


Namun menyewa kendaraan besar  selama berhari-hari tidak pernah terlintas di pikirannya selama ini. tiga hari lagi Johan adalah raja sehari. Namun hari ini pikirannya terbersit untuk lari saja dari kenyataan yang ia hadapi.


"Bapak Ibu mana mas?" suara Merry adik Johan mengangetkan lamunan.


"Entahlah Mer, Sedang keluar rumah tadi" Johan dengan lesu menjawab adiknya yang baru datang.


"Kamu ini mau menikah kok loyo begitu sih mas?" selidik Merry. Johan berusaha menyunggingkan senyuman.

__ADS_1


"Kamu dari mana?" Johan menanggapi Merry dengan balik bertanya.


"Ke mantan Ibu Kos, menanyakan apakan mobilnya bisa aku pinjam untuk perjalanan kita besok" jawab Merry.


"Gimana hasilnya?" Johan masih terdengar enggan.


"Kebetulan tidak dipakai, tadi sekalian mencari sopir yang biasa pegang mobil ibu kos, tapi belum ketemu. Sedang mancing entah ke mana kata istrinya" Merry menjelaskan usahanya membantu kakaknya.


"Hheh.." Johan menghembus nafas merasakan keberuntungan mendapatkan jodoh tak semulus yang ia duga dari sisi keluarganya sendiri.


"Kata istrinya nanti sore pulang, nanti kita ke rumahnya lagi" hibur Merry.


"Aku kenal baik orangnya kok mas, dia pasti tidak keberatan membantu kita" Merry berusaha menenangkan kakaknya yang sedang dialanda kegelisahan.


"Aku juga sudah berpesan ke istrinya, kalau dia bersedia biar nanti memberi khabar ke kita, baru kita datang ke rumahnya" ujar Merry kembali.


"Terima kasih nduk, meskipun aku tak pernah memperhatikan kamu bertumbuh, namun kamu tak pernah lelah membantuku" Johan sedikit terhiburkarena mendapat perhatian dari adik yang ia kasihi.


"Sebaiknya kita menata antaran yang akan kita bawa saja. Meski sederhana setidaknya kita bisa memenuhi syarat sebuah pernikahan sesuai adat yang diminta" ujar Merry.


Seperangkat alat rias produk dalam negeri dengan merk terbaik. Alas kaki, kain batik dan beberapa pernik adat yang disarankan oleh Merry.


"Bukan soal harganya mas, tetapi soal bagaimana kamu menghargai pasanganmu. Jangan berkecil hati" Johan pedih mendengar adiknya yang masih bau kencur justru menasehatinya dengan bijak.


Johan berusaha membesarkan hatinya sendiri.


***


Sebuah bus kecil berhenti di depan rumah Johan. Setelah memarkir dengan baik dan mematikan mesin sopirnya turun menuju rumah Johan.


"Belum ada yang datang mas? Saya sengaja menghentikan trayek lebih awal agar bisa bersiap sedini mungkin sebelum yang lain datang" ujar mas priyo, tetangga yang Johan kenal sejak masih kecil sebagai sopir bus profesional.


"Siapa yang Mas Priyo maksud?" tanya Johan tak habis mengerti.

__ADS_1


"Keluarga yang akan menjadi pengiring mas Johan" terang mas Priyo.


"Oh. belum ada tuh mas, kami berencana berangkat agak siang memang" jawab Johan meski tak terlalu paham yang dimaksud oleh mas Priyo.


Pagi itu di rumah hanya ada Johan, Merry dan ibu Johan yang sejak tadi sibuk memasak untuk bekal perjalanan.


"Bapak nggak bilang kalau saya akan ikut mengantar mas Johan ya?" tanya mas Priyo.


"Oh, belum. Sejak kemarin bapak tidak di rumah, jadi saya belum bertemu dan berbicara lagi" Johan mulai memahami situasi.


Rupanya meski kemarin menentang keras pendapat Johan, namun sebagai orangtua, ayah Johan tak lepas tangan begitu saja.


"Sarapan dulu Pri, mumpung masih panas" Ibu Johan yang tadi mendengar suara bus berhenti di depan rumah segera menyiapkan sarapan untuk sopirnya.


"Sudah mbakyu, nanti saja bersama yang lain" mas Priyo merasa tidak enak jika harus makan sendirian.


"Jangan Pri. Kamu bakal kami andalkan dalam perjalanan panjang yang melelahkan. Jangan semua harus menuruti orang lain" kata ibu Johan lembut.


"Ini sudah aku ambilkan, nanti nambah lagi ke belakang. Aku harus bebenah diri"ujar ibu Johan.


"Baiklah mbakyu. Terima kasih sudah repot-repot" Mas Priyo berbasa-basi.


"Enggaklah. Sudah siap dari tadi, tinggal menunggu yang lain" kata ibu Johan sembari melangkah ke kamar.


"Ayo mas Johan, sarapan dulu" mas Priyo meminta ijin mendahului sarapan.


"Silahkan mas. Biar nyaman saya tinggal saja ya. Sembari menyiapkan apa-apa yang harus saya bawa.


Johan kembali sibuk menyiapkan barang-barang dan hantaran yang akan dibawa kecalon mertua. Keluarga yang akan ikut mengiring Johan ke pelaminan sudah mulai berdatangan.


Ibu Johan sibuk menyambut sekaligus menawarkan sarapan yang telah disediakan di meja besar. Meski memendam pedih atas persiapan pernikahan anaknya yang terlampau sederhana dan seadanya, namun ibu Johan berusaha menunjukkan kebahagian atas pujian-pujian keluarga dan kerabat.


Setelah mobil milik mantan ibu kos Merry datang, Sopirnya agak terlambat karena sarapan di jalan.

__ADS_1


Persiapan akhir segera dilakukan dan perjalanan panjang yang mengaduk-aduk perasaan Johan akan segera dilaksanakan.


__ADS_2