Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap35. Pulanglah Ley, Tenangkan Hatimu


__ADS_3

"Tenanglah Ley, maafkan aku tak mampu menuruti keinginanmu" Ujar Johan.


Gagal membangkitkan gairahnya sendiri, Johan kembali jatuh tertidur meski fajar menjelang. Mendekap erat Leyna apa adanya. Mendengarkan degup kegelisahan Leyna dengan hatinya untuk menunjukkan betapa besar kasih sayang yang ia berikan.


***


"Buk, Buk...., Buk" suara gebukan terdengar dari halaman belakang kos. Hari masih cukup temaram saat Johan tersadar Leyna tak lagi dalam dekapannya.


Dengan malas Johan bangkit dan berpakaian untuk menengok ke halaman belakang. Dilihatnya Leyna berdiri dibawah pohon menggunakan kemejanya memukuli piyama yangyang diikat dalam bentuk gulungan.


Leyna memukul-mukul gulungan yang diikat dengan tali agak panjang ke ranting rendah, sambil mengomel tak jelas.


Johan dapat merasakan kepedihan di hati Leyna akan perkara yang diceritakannya, sehingga mendekap lembut pinggang hingga perut  Leyna dari belakang dengan iba. Dadanya menempel kuat ke punggung Leyna dengan harapan marahnya segera reda.


"Aku tak peduli apa yang terjadi padamu Ley, Aku akan mencintaimu sampai titik akhir nafasku. Aku tak pernah berhitung harga denganmu" Janji Johan dalam hati.


Leyna tak mempedulikan pelukan Johan pada pinggangya, tangannya terus memukul benda bergantung itu dengan centong nasi yang didapatkan dari dapur kos.


"Sudah sayang, tenangkan hatimu" Bisik Johan lembut dibelakang telinga Leyna.


"Belum! Belum tujuh-puluh tujuh kali" rupanya komat-kamit Leyna menghitung jumlah pukulan.


"Kata dukun itu harus tujuh puluh tujuh kali agar hilang sialku" Leyna menjadi kalap.


Johan melepaskan dekapan agar Leyna dapat memuaskan kemarahannya. Johan hanya memandangi penuh tanya entah apa yang dilakukan Leyna. Ia tak ingin menggangu.


"Korek Jo, Aku lupa membawanya tadi. Ambilkan aku korek api" perintah Leyna. Johan buru-buru ke dapur mengambil korek api dan segera diberikan kepada Leyna.


Meskipun Johan tak paham apa yang ada dipikiran Leyna, ia menurut saja dengan harapan segala kengundahan kekasihnya itu segera tuntas.


Leyna berkali-kali mencoba menyalakan korek kayu yang selalu patah dan gagal menyala. Keras kemarahan hatinya justru berkali-kali membuatnya gagal membuat api.


Johan mendekat bermaksud membantu.


"Tidak, Harus aku sendiri. Ini bukan urusanmu. Ini sialku" cegah Leyna setengah menangis. Johan menjadi merinding melihat sikap Leyna namun tak berani bertindak agar suasana tak semakin runyam.


Johan hanya memperhatikan segala gerak-gerik Leyna tanpa suara, hingga akhirnya piyama tergulung yang digantung di ranting itu menyala.


Setelah api hampir menghabiskan seluruh gulungan diiringi isak dari Leyna.


Johan kembali mencoba menenangkan Leyna dengan memeluk Leyna membekap kepalanya hingga menghalangi pandangan Leyna ke api dengan tubuhnya. Leyna berusaha memukul dada Johan, namun dibalasnya dengan menguatkan dekapan.


Johan menangkap tangan kanan Leyna dan menariknya ke leherJohan  agar Leyna mau memeluknya.


"Sudah sayang. Apapun yang terjadi padamu, bebankan semua kepada kesalahanku. "  akhirnya Johan berbisik lembut di telinga Leyna yang membuat tangisnya semakin meledak.


Leyna kembali berusaha memukul dada Johan yang terus membekap kepala dan dada Leyna ke dadanya sendiri.

__ADS_1


Untuk beberapa saat mereka berdiri dalam pelukan yang menyesakkan nafas Leyna.


Basah dirasakan Johan di dada karena beberapa lama Leyna menangis di sana.


Mereda tangis Leyna, Johan membimbing agar Leyna mau kembali ke kamar dan beristirahat. Johan membuatkan minum hangat dan meminta Leyna berbaring kembali di peraduan yang semalam mereka gunakan.


Johan mengambil ponsel lalu keluar dari kamar untuk menghubungi Anna. Begitu Anna terdengar di seberang, Johan segera berkata.


"Anna, apakah aku jadi kau pesankan tiket" Johan bertanya.


"Belum Jo, kamu masih ragu karena kamu belum memastikan jawaban. Aku memutuskan akan membeli siang ini. Toh bukan week end, pasti tak terlalu sulit pesan mendadak" jawab Anna.


"Apakah sekarang kamu sudah memutuskan?" Anna mendesak.


"Aku ada masalah dengan Leyna, An" Johan keceplosan menyebutkan nama pacarnya. Anna di seberang tersenyum manis dan bergumam.


"Hmm Leyna"


"Maaf An, apakah bisa hari ini aku tidak masuk kerja?" Johan ragu-ragu karena terlalu sering ia meminta keistimewaan di perusaah itu.


"Yah, seperti yang aku bilang kemarin Jo, kalau kamu berangkat sore ini ke Jakarta, kamu tak harus ke kantor hari in sehingga ada waktu untuk  berkemas, Pak Edy sudah tak menerimamu menjadi anak buahnya lagi karena kedudukanmu sudah sejajar beliau saat ini" terang Anna.


"Tidak An, aku tidak bisa berangkat sore ini meski aku tetap minta dispensasi" kata Johan.


"Lantas?" tanya Anna


"Baiklah, aku tahu dedikasimu kepada perusahaan. Tapi ingat Jo, jangan mencampurkan masalah pribadi ke pekerjaan" nasehat sang manajer personalia.


"Apa aku perlu berjanji An?" Johan melontarkan pertanyaan yang tak berguna.


"Ha ha ha ha, aku kira kamu sudah dewasa Jo" Anna hanya menjawab dengan seloroh saja.


"Terima kasih Ann, sampai ketemu di Jakarta" Johan menutup pembicaraan.


"Baik Jo, semoga cepat terselesaikan apapun masalahmu" mereka mengakhiri panggilan.


Johan kembali berusaha melakukan panggilan.


Kali ini nama Anto yang ia muat dari buku kontak. Setelah cukup lama dan beberapa kali berusaha melakukan panggilan akhirnya :


"Pagi mas? apa khabar?" Anto mengawali menyapa begitu sambungan berjalan.


"Tidak begitu baik To" Jawab Johan.


"Ada apa mas? apakah budhe sakit lagi?" Anto buru-buru memotong.


"Bukan To, ini masalah pribadi" jawab Johan disela mengambil nafas dalam.

__ADS_1


"Aku kira kamu cukup dekat dengan Tuan Hartanata kan To?" tanya Johan.


"Ya begitulah Mas,Ada apa? Apakah ada hal penting tentang putrinya? Aku tak melihat Nona Leyna pulang bersama mereka kemarin lusa" Tanya Anto penasaran.


"Betul To. Kalau boleh aku ingin berbicara dengan beliau"pinta Johan.


"Ya, ya. kalau begitu. Tunggu sebentar. Jangan dimatikan" mendengar nada suara yang sungguh-sungguh dari sepupunya Anto segera bertindak, menuju tempat Tuan Hartanata menghabiskan pagi di saat tak ada yang dikerjakan.


Tuan Hartanata melihat Anto berjalan menuju arahnya dengan tergesa-gesa.


"Pak, apakah Bapak sedang sibuk?" Anto tak mematikan sambungannya.


"Ada apa To? Apakah ada yang penting sehingga kamu begitu terburu-buru?" Tuan Hartanata berbalik tanya.


"Ini sepupu saya pak. Si Johan ingin berbicara" kata Anto.


Mendengar nama pacar putrinya yang gagal ia temui di Jogja disebut Anto, Tuan Hartanata segera merebut ponsel dari tangan Anto.


"Halo Johan. Bagaimana khabar putriku. Mengapa tak muncul saat kepulanganku dulu" tanya Tuan Hartanata tegas, membuat Johan menciut.


Johan cukup terkejut akan pernyataan Tuan Hartanata.


"Oh, Begitu rupanya. Jadi selama ini Leyna dan kakaknya ke mana?" batin Johan.


"Dia baik Pak. Dia ada bersama saya sekarang" hanya itu jawaban Johan Ia tidak. Ingin mengetahui permasalahan lebih jauh, karena ada hal lebih penting ingin ia sampaikan.


"Oh, baiklah" Tuan Hartanata terdengar begitu lega.


"Sambungkan aku ke dia" Perintah Tuan Hartanata.


"Maaf Pak, Leyna sedang istirahat, boleh saya menyampaikan satu hal Pak" tawar Johan.


"Kurang ajar juga ini anak" pikir Tuan Hartanata.


"Saya bersama Leyna ingin bertemu Bapak secara langsung" Pinta Johan.


"Benarkah? Kapan? Hari ini?" Tuan Hartanata terdengar gembira.


"Apakah boleh?" Johan memastikan.


"Oh, tentu saja, Saya sudah tunggu-tunggu beberapa hari ini" baru kali ini Tuan Hartanata terdengar kegirangan.


"Jam berapa kalian bisa berangkat, biar nanti admin pesankan tiket pesawat" Tuan Hartanata terdengar tak sabar.


"Tidak Pak, biarkan saya pesan tiket sendiri saja" elak Johan.


"Tidak. tidak. Jangan! Kalian berangkatlah siang ini. Saya tunggu. biar Mandor meminta admin kantor untuk memesan tiket segera" Tuan Hartanata memaksa.

__ADS_1


"Terima kasih pak" Johan mengakhiri pembicaraan.


__ADS_2