
Tujuan utama Johan ke Lampung sebenarnya hanya ingin mengantarkan Leyna untuk kembali ke orang-tuanya.
Johan ingin agar ada yang mendampingi Leyna saat ia tinggalkan.
Tingkah Leyna yang bagi Johan sungguh di luar nalar membuat khawatir jika harus ditinggal ke Jakarta untuk waktu yang cukup lama.
Namun tentu saja Johan tak akan menceritakan secuilpun apa yang dia alami malam kemarin dimana Leyna datang ke kosnya dengan penampilan kusut kelelahan, dan berperilaku bagaikan perempuan gila.
Johan tak begitu menikmati perjalanan sampai pesawat mendarat di kota tujuan.
Tak banyak penumpang pesawat yang turun bersama Johan dan Leyna. Mereka berjalan beriringan menuju terminal kedatangan.
Melihat Papanya menjemput, Leyna melepaskan dekapan tangannya ke lengan Johan dan berhambur menubruk Papanya. Hanya Tuan Hartanata dan Anto yang menjemput di bandara.
“Papa..” jerit Leyna disusul isakan tangis dan urai air mata. Tangannya melingkar pinggang dan mendekap erat Tuan Hartanata.
“Leyna. Sayang. Anakku” Tuan Hartanata tergagap. Heran mendapati putrinya yang keras kepala dan tegar memeluknya dalam isakan.
“Maafkan Leyna Pa” Tuan Hartanata tak paham, namun kasih kepada putrinya menggerakkan tangan paruh baya kekar itu untuk mengelus kepala putri kesayangannya.
“Mengapa kau mengangis Leyna?” Tanya Tuan Hartanata Leyna tak menjawab, hanya pelukan yang semakin erat.
Tuan Hartanata hanya menduga-duga, pasti ada peristiwa yang sangat penting terjadi pada putrinya.
Sementara agak jauh, Anto menyambut sepupunya dengan senyum bangga. Anto ikut bahagia sepupu pemalu dan selalu ditolak wanita itu justru mendapatkan permata dari keluarga yang sangat dihormatinya.
“Apa khabar Mas” Anto memeluk Johan.
“Yah, beginilah to” sambut Johan.
Setelah melepaskan pelukan Anto berusaha memukul lembut perut Johan. Johan berusaha mennghindar, namun justru celaka yang ia dapatkan.
“Augh, uh” Johan lirih mengaduh hingga hampir terbungkuk. Anto kaget bukan kepalang melihat sepupunya tidak bercanda.
“Maaf mas, aku kira aku tak sekeras itu aku memukul” bisik Anto, agar tak ada yang mendengar mereka memendam masalah.
Salam peluk dan pukul perut sebenarnya biasa Anto lakukan kepada Johan sejak mereka remaja. Dulu salam itu sebagai tanda keakraban yang dalam bagi mereka.
Namun karena memar-memar di badan, Johan berusaha menghindar. Tak disangka justru tangan Anto mendarat tepat di pusat sakit.
“Tidak To, bukan salahmu” bisik Johan kembali sambil berusaha menahan sakit dan meneggakkan badan.
“Ada masalah dengan tubuhmu Mas?” Anto berusaha menyelidik, namun Johan memberi tanda dengan kepalanya bahwa Tuan Hartanata dan Leyna sudah selesai melepas kerinduan.
“Nanti aku ceritakan” bisik Johan.
Tuan Hartanata berjalan mendekati tempat Johan dan Anto berdiri.
__ADS_1
“Jadi ini si Johan yang mampu membuat putriku menitikkan air mata” Tuan Hartanata sebenarnya tidak benar-benar tahu mengapa putrinya datang dalam tangisan di pelukannya.
“Maafkan saya pak” ucap Johan memberi salam sambil sedikit membungkukkan badan.
Sampai saat ini Johanpun masih kebingungan dengan apa yang terjadi kepada Leyna. Ia percayta saja bahwa Leyna kena tipu orang tak dikenal.
Johan menduga kemungkinan sesuatu yang sangat buruk telah dilakukan penipu itu.
“Apa kalian sudah makan?” Tuan Hartanata penuh perhatian
“Sudah Pa, kami makan di bandara tadi sebelum berangkat” kata Leyna. Wajahnya masih menampakkan kekakuan menghadapi papanya.
“Kalau begitu kita langsung pulang saja To, kita ngobrol sambil jalan” perintah Tuan Tuan Hartanata kepada mandornya.
“Baik pak, saya ambil kendaraan dulu” jawab Anto.
“Tidak usah, aku ingin jalan bersama kalian saja ke tempat parkir” ujar Tuan Hartanata.
“Ayo Mas” ajak Anto kepada sepupunya.
Tuan Hartanata berjalan di depan diiringkan Anto, sedangkan Leyna kembali mendekap lengan Johan dengan mesra.
Mereka berjalan santai di area parkir menuju sebuah ranger double cabin yang telah dimodifikasi menjadi cukup mewah.
Tuan Hartanata seperti biasa duduk di samping Anto yang mengemudikan kendaraan. Leyna dan Johan mengambil kursi belakang.
Anto menjalankan kendaraan perlahan. Tak ada yang tergesa-gesa kali ini.
“Saya melihat Leyna sejak awal dia kuliah Pa" Jawab Johan.
Anto terkejut sehingga melitik dari kaca spion kabin dengan mata sedikit melotot.
“Begundal kampung pemalu itu? Aku tidak salah dengar?” batin Anto. Dilihatnya Nona Leyna duduk sambil bersandar mesra ke bahu Johan.
Senyum Leyna mengembang melihat Anto melirik mereka ke belakang. Anto buru-buru mengalihkan pandangan ke depan.
"Hmm, sudah selama itukah, tak heran putriku seakan benar benar lenyap dari rumah" Kata Tuan Hartanata.
"Tapi kami baru akrab setelah beberapa bulan Pak” terang Johan.
“Kalian berhubungan lebih serius sejak itu?” tanya Tuan Hartanata.
“Saya tidak bisa mengatakan demikian Pak. Mungkin sejak balik kembali ke Jogja Leyna setelah kepulangan ke Lampung, Leyna baru bisa menerima saya” ucap Johan. Leyna tak memberikan reaksi.
“Benar begitu sayang” Tuan Hartanata berusaha menengok putrinya dari kursi depan. Leyna mengangkat ke dua bahunya.
“Terserah yang dia rasakan saja Pah” ujar Leyna selengekan.
__ADS_1
“Kok terserah. Lantas apa maksud ucapanmu sebelum wisuda di hotel kemarin?” tanya Tuan Hartanata kepada putrinya.
“Entahlah. Itu spontan saja” elak Leyna merasa malu karena ada Anto di situ.
“Ngomong soal apa Ley” tanya Johan ke Leyna penasaran.
“Nggak ada, Lupa” sungut Leyna.
“ha ha ha ha. Putriku bilang kamu telah meminta jadi istrimu sejak pertama kalian jalan-jalan" Johan menjadi malu mengingat peristiwa itu.
"Saat di hotel itu aku sungguh berharap kamu secara jantan berani datang ke tempat kami menginap untuk mengatakannya kepadaku soal itu” ujar Tuan Hartanata.
“Papah ih, sudah ah, ngomong yang lain saja” Leyna melihat di spion, Anto melirik ke belakang dengan wajah heran. Johan menggeleng-gelengkan kepala kepada Anto.
“Apakah orang tuamu sudah mengetahui hubungan kalian” tanya Tuan Hartanata.
“Belum sejauh ini yang mereka ketahui Pak, tetapi orang tua saya tidak pernah mengatur kehidupan saya secara rinci” jelas Johan.
"Apakah mereka pernah bertemu putriku?" selidik Tuan Hartanata.
“Leyna pernah dua kali ke rumah di kampung, bertemu dengan orang tua saya saat awal kami dekat dulu” kata Johan.
“Hmm. Jadi apakah mungkin.... andaikan aku ingin bertemu orang tuamu secepatnya?” tanya Tuan Hartanata.
“cit.cit” Anto sampai salah menekan rem.
Tuan Hartanata, Johan dan Leyna sampai hampir terantuk benda yang ada di depannya.
“Wah, kamu ini benar-benar bisa melukaiku kalau caramu mengemudi begini To, salahmu sendiri terlalu lambat menanggapi ucapanku” ujar Tuan Tuan Hartanata.
Johan menatap tajam ke spion melihat Anto untuk menebak apa maksud ucapan tuan Hartanata.
Leyna menatap wajah Johan yang keheranan. Anto menggelengkan kepalanya dengan keras tanda menolak ucapan Tuan Hartanata.
“Tidak. Tidak Mas. Bapak selalu bercanda saja soal ini” Anto jadi merasa tak enak kepada sepupunya.
Ranger memasuki halaman luas dengan taman yang asri. Rumah besar Tuan Hartanata pemilik perkebunan sawit terluas di daerahnya.
Sebelum ranger benar-benar berhenti, Tuan Hartanata berpesan.
“Tolong jaga putriku dengan sungguh-sungguh. Aku tak mau ada orang yang berani melukai hatinya” pesan yang bagi Johan bisa terdengar bagai perintah yang mengandung ancaman.
Pak Sukirman tergopoh-gopoh menyambut kendaraan yang datang. Namun akhirnya hanya berdiri menunggu karena hanya ada satu tas punggung yang telah dibawa Johan.
“Hmmm. Putriku ini memang bandel Johan. Sejak kecil dia itu anakku yang keras kepala. Tak ada laki-laki yang bisa menundukkan hatinya, tak pernah kulihat titik air mata” Tuan Hartanata membanggakan putrinya.
Namun dalam hati Leyna ada bantahan.
__ADS_1
“Ahhh... Papa tak benar-benar mengenalku” elak batin Leyna membuat hatinya terasa perih.
Ingatannya kembali ke beberapa malam kemarin. Hari penuh nikmat kenangan yang ia reguk bersama Dewa, namun berakhir dalam kecewa.