
"Sudah selesai semua wawancaranya ya An?" tanya Johan melihat sudah tak ada berkas lagi di hadapan Anna.
"Ya, Jo. Itu tadi yang terakhir" Jawab Anna.
"Banyak sekali calon karyawan yang harus diwawancara hari ini ya An, benar-benar melelahkan" Ujar Johan.
Johan menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menarik dua tangannya ke atas untuk meregangkan otot-ototnya.
"Aku beruntung ada kamu yang membantu, sehingga pertanyaan-pertanyaan bisa lebih fokus kepada tehnis dan kebutuhan karyawan yang tepat" kata Anna sembari merapikan berkas-berkas yang akan di analisa di apartemen nanti untuk menentukan penilaian.
"Nanti masih bantu aku untuk memilih calon karyawan yang paling tepat lho Jo, jangan buru-buru istirahat" pinta Anna.
Johan menggangguk tanda bersedia.
"Heeehh, sampai sore begini baru kelar saking banyaknya calon yang diwawancara" Johan menghela nafas.
"Bagaimana Jo, apakah menurutmu para kandidat itu bisa membantumu mengembangkan perusahaan di sini" telisik Leyna.
"Kalau secara keilmuan, secara akademik ada beberapa kandidat yang istimewa. Pengetahuannya cukup bagus untuk anak fresh graduate" jelas Johan.
"Artinya mungkin kita tidak perlu bersusah payah untuk membuka lowongan pekerjaan lagi kan?" harap Anna.
"Yah, kalau penilaianmu secara kepersonaliaan sudah cukup kita tidak perlu membuang tenaga lagi untuk perekrutan ulang" Johan pun berharap yang sama.
"Baiklah, kita kembali ke apartemen untuk istirahat dahulu. Kita lanjutkan nanti malam untuk finalisasi penilaiannya. Semoga kandidat yang kamu anggap istimewa itu secara psikologis juga memiliki nilai tinggi" ajak Anna kepada Johan.
"Oke, lelah dan jenuh juga duduk seharian memelototi berkas dan mendengar jawaban-jawaban konyol beberapa anak baru gede" Johan beranjak dari kursinya untuk kembali menuju tower apartemen yang disewa perusahaan untuk rumah dinas.
"Nanti selesai makan malam langsung ke tempatku Jo, biar kita selesaikan hari ini, sehingga besok sudah bisa aku bawa untuk diputuskan di rapat direksi" Ajak Anna sebelum mereka berpisah memasuki apartemen masing-masing.
Masuk ke apartemennya, Johan melemparkan dirinya ke pembaringan untuk beristirahat sejenak. Jam makan malam masih beberapa jam lagi.
Johan tak buru-buru membersihkan diri. Ia ingin menikmati berbaring untuk melepaskan lelah seharian. Kantukpun segera menyelimutinya.
Entah berapa lama ia tertidur saat semartphone yang tergeletak disampingnya bergetar.
"Dreet drrt" .terpampang nama "Peyangku" di layar.
Kantuk Johan langsung lenyap. Tak biasanya Leyna berinisiatif menghubunginya dahulu.
"Hmmm, Pepey tumben" Johan menyapa dengan suara masih berat karena sisa kantuk.
Johan tak lagi berani memanggil "yang" kepada Leyna karena sempat dikerjain. namun terbersit di pikirannya singkatan dari peyang menjadi pepey malah tak sengaja jadi panggilan mesra. Atau sebaliknya sebutan pepey sayang disingkat jadi peyang ya? Entahlah, yang penting panggilan mesra itu unik. Beda dari yang lain.
"Iih, segitunya sih Mas Jo, nggak senang ya aku telepon" rajuk Leyna
__ADS_1
"Aduh, bentar Pey, aku duduk dulu. Sedikit pening kepala karena kaget tidurku tadi" Johan bersaha bangkit dari pembaringan untuk duduk di pinggirnya.
"Uh, dasar tukang tidur" keluh Leyna.
"Habis tadi capek sekali, sehari ini cuma istirahat sebentar" kilah Johan.
"Baru ditelepon aja keliatan gak semangat begitu. Jangan-jangan kalau ketemu menghindar lagi ke mes mandor" Leyna bersungut-sungut di seberang sambungan.
"Eng.. maaf Pey. Itu karena aku belum siap tinggal di rumah besarmu bersama keluargamu" Johan menjawab sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Belum siap atau ada hal yang lebih menarik di mes mandor?" Leyna menyelidik.
Johan paham dengan apa yang dimaksud Leyna.
"Enggaklah, bukan itu" meski minum bersama para pekerja perkebunan, Johan tidak sampai mabuk karena ingat sedang di rantau orang.
"Kalau aku menyusul ke situ, ke apartemenmu, apa mas Johan juga akan menghindar?" desak Leyna.
"Ehm gimana ya. Apartemen ini kan tempat tinggal kedinasan karyawan, kita belum resmi suami istri, jadi mungkin aku harus minta ijin khusus. Bedalah sama di kos umum" kata Johan.
"Halah, ribet amat sih cuma mau numpang menginap saja" Leyna terus bersungut-sungut.
"Yah, kan semua pakai aturan Peyaaang" Johan meremas dan menarik-narik rambutnya hingga makin kusut setelah tadi terbangun dari tidur belum dirapikan.
"Apartemenmu benar nomor 704 kan" tanya Leyna.
"Tuh, Mandor sepupumu bisa kehilangan pekerjaan andai saja tidak mau mengatakan yang sebenarnya" ujar Leyna sedikit ketus.
"Waduh sial, cuma gara-gara nomor apartemen bisa separah itu akhibatnya" batin Johan.
"Bener nggaksih. Kok malah diam saja" Leyna terdengar tak sabar.
"Iyaaa. Bener Pepey sayang. Emang kenapa?" Johan merayu agar kekasihnya tak semakin ketus saja.
"thok-tok-tok" terdengar ketukan keras di pintu apartemen.
"Ngapain Anna kurang kerjaan gak pakai bell saja sih" sungut Johan merasa terganggu.
"Bentar Ann" Kata Johan sembari memencet tombol mikrofon kamera tamu, tanpa memperhatikan layarnya. Telinganya masih menempel smartphone.
"Ann siapa Mas? Anna? Anna Manajer personaliamu" tanya Leyna di seberang sambungan seakan curiga.
"Iyaa. siapa lagi. Tadi janjian mau menyeleseikan pekerjaan bersama" Ujar Johan sambil menekan kode keamanan pintu apartemen.
"Alesan ya? pekerjaa apa kurang kerjaan. Kok malam-malam" tuduh Leyna.
__ADS_1
"Ya ampun Ley, masa kamu gak percaya kalau di Jakarta ini kami sedang bekerja bersama memikul beban perusahaan sih?" Johan sedikit kesal juga akhirnya.
"Astaga!" Johan kaget begitu pintu terbuka.
"Kenapa? Gak rela kerjamu aku ganggu? Heh, aku bukan hantu" Ketus sekali Leyna di depan pintu apartemen.
"Kamu toh. Bukan Anna yang mengetuk pintu tadi?" tanya Johan agak keheranan.
"Gak boleh? Aku cari hotel saja kalau nggak boleh menginap di sini" Leyna sudah berbalik saja dan hendak meninggalkan lorong apertemen.
Johan buru-buru menangkap lengan Leyna dan menyeretnya masuk ke apartemen.
"Kamu ini kenapa sih, rewel melulu" Baru kali ini Johan berani agak ketus kepada kekasihnya.
Leyna merasa kaget dengan sikap Johan yang tidak seperti biasanya. Bicara ketus kepadanya.
Leyna menyeret dengan enggan kopor yang ia bawa dari Lampung menuju ruang tamu dan melemparkan pantatnya ke sofa panjuang sambil manyun.
Johan mendekat dan bertumpu dengan lutut di depan Leyna.
"Kamu ini kenapa Pey. Apa yang salah, kenapa tiba-tiba kamu datang ke sini tanpa memberitahuku?" rayu Johan kembali dengan lembut.
"Apa sekarang mau ketemu calon suami saja harus minta ijin dahulu Mas Jo. Dulu ketemu pacar bisa sewaktu-waktu, bahkan boleh menginap di kamarmu" Ucap Leyna sendu.
"Bukan itu maksudku" Johan menggenggam kedua tangan Leyna yang berada dipangkuan untuk menenteramkan hati kekasihnya.
Serba salah memang Johan setiap berbicara kepada kekasihnya itu.
"Apa ada masalah di rumah, sehingga baru sehari aku ke sini, kamu menyusul tanpa memberitahu" Johan khawatir sesuatu terjadi di keluarga Tuan Hartanata karena kehadirannya kemarin.
"Dreet. drrrrt" Nama Anto muncul bersamaan dengan getar smartphone milik Johan. Hati Johan semakin curiga dengan kedatangan Leyna.
"Ada apa To?" Tanya Johan buru-buru.
"Mas, Nona Leyna tidak terlihat di rumah dari siang, Padahal kamarnya tidak terkunci. Ini tuan Hartanata sampai jam segini belum mau pulang dari mess karena bingung mencari putrinya" cerocos Anto dari seberang sambungan.
"Mas, halo. Mas Johan" Anto memanggil-manggil sepupunya mengira sambungan tidak normal karena tidak ada jawaban. Sementara Johan sibuk mengalihkan panggilan ke mode video.
"Nih bicara sendiri To, nanti aku salah ngomong" Johan menghadapkan kamera ke Leyna yang malah membuang muka.
Melihat putrinya ada di sambungan kamera Johan dan Anto, meski tak mau bicara, Tuan Hartanata menarik nafas lega.
"Sudah To, biarkan saja mereka berdua" Terdengar samar-samar suara lega Tuan Hartanata. Faham putrinya sedang tak mau dinganggu dan dicampuri urusannya.
"Plak" saat Johan sedang mematikan sambungan, sebuah tamparan mendarat di pipinya disusul dekapan erat dua tangan Leyna di punggungnya. Kepalanya meyandar ke dada Johan.
__ADS_1
Johan mengelus belakang pinggang kekasihnya. Perlakuan yang biasanya membuat Leyna menjadi lebih jinak selain usapan pada rambut dahinya.