
"Aku mau bikin sarapan ya Mas Jo" Ujar Leyna setelah mendaratkan sebuah kecupan di pipi Johan.
Meski rambut masih acak-acakan, dan baju kusut karena sudah dipakai semalam, Leyna malah tampak semakin cantik di mata Johan.
"Bajuku mana?" tanya Johan melihat kekasihnya.
"Ambil yang bersih dilemari, sudah kotor tuh dibawah" Leyna menjawab sambil meledek, membiarkan kekasihnya tak berbusana dibawah selimut.
Johan sendiri masih enggan beranjak dari peraduan. Bersembunyi dibalik selimut karena sejak tadi pakaian yang semalam dikenakan tak dia temukan.
"Ambilkan dong. Pey" pinta Johan.
"Ih, kayak bayi aja. Ambil sendiri saja" goda Leyna sambil menarik selimut yang menutup tubuh kekasihnya.
"Issh, kamu ini Jorok ah" Johan menggenggam erat ujung selimut yang membalut tubuhnya. Menahan agar selimut tak berpindah tangan.
"Habis Mas jo kayak bayi sih, bagun ah, jangan males-malesan" Leyna tertawa-tawa sambil terus berusaha menarik selimut.
"Sudah stop, nanti koyak. Ini selimut satu-satunya" Ujar Johan khawatir karena yang terbawa adalah selimut yang cukup tua.
"Nggak. Bangun dulu jangan kayak bayi" Leyna tak henti menggoda dengan manja.
"Yaah, kan biasa bayi kalau habis nyenyen terus bobok" Johan balas menggoda dengan kalimat manja.
"Bug" sebuah bantal terhempas keras ke wajah Johan.
"Ufsh" reflek tangan Johan yang hendak menahan hantaman bantalpun gagal. Bantal dengan telak mendarat di wajahnya.
Leyna telah keluar kamar untuk memanasi air yang akan dipakai menyeduh kopi pagi dan dua mangkuk mie instan yang biasa mereka makan saat masih kos.
"Aih tumben nih dapat full room service lengkap. Padahal semalam tak ada mimpi" batin Johan saat hidungnya menghirup nikmat aroma kopi dan gurihnya mie instan.
Dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka Johan melihat Leyna di ruang utama menaruh mangkuk berisi mie instan kuah dengan telor yang direbus langsung seperti kesukaan Johan.
"Selamat pagi semuanya, waah. Kayak pengantin baru bulan madu saja kalian, pagi-pagi sudah mau suap-suapan" Suara Anna mengagetkan Johan yang masih bermalas-malasan.
"Ah, sial. Pasti tadi Leyna membuka pintu utama dan lupa mengaktifkan kuncinya. Anna juga main srondol saja" pikir Johan.
"Pagi kak, saparan mie instan ya, sekalian aku buatkan. Suka kopi juga kan?" Balas Leyna dari dapur setengah berteriak.
"Nggak usah repot-repot. Kalian ini penghuni apartemen tapi selera kos gak ilang-ilang. Kenapa nggak pesan antaran saja" ujar Anna.
Johan melihat Anna di ruang utama langsung bersembunyi di bawah selimut. Kelimpungan karena pintu kamar yang masih terbuka tak memungkinkan ia bangun untuk mencari pakaian. Johan diam dan pura-pura tidur saja.
__ADS_1
"Nggak ah Kak, pengin yang ringan saja dulu" kilah Leyna.
"Johan belum bangun?" tanya Anna penasaran karena tak melihat rekan kerjanya itu.
"Tau tuh, emang sukanya molor melulu, bentar aku bangunin" Kelit Leyna berpura-pura. masih dari dapur suaranya dibuat lebih keras untuk memberikan sinyal kepada kekasihnya.
"Jangan, biarkan istirahat dulu" tolak Anna.
"Ini aku seduhkan kopi mumpung airnya masih panas, mau gulanya seberapa?" panggil Leyna agar Anna ke dapur.
Leyna berharap Johan punya kesempatan memenutup pintu dan memakai baju jika Anna jauh dari ruang utama.
"Sudah, biar aku buat sendiri sini" kata Anna lalu menyusul Leyna ke dapur.
Saat menuju daput Anna sempat menengok ke dalam kamar. Mukanya memerah melihat Johan masih dibalik selimut dengan baju berserakan di lantai.Anna diam saja paham akan situasinya.
Anna menghubung-hubungkan dengan penampilan leyna yang masih acak-acakan meski terlihat sudah menyiapkan sarapan.
"Yak ampun, kenapa pakai menegok segala sih An" batin Johan yang mengintip dari balik selimutnya.
Melihat Anna sudah melewati pintu dan terdengar obrolan di dapur, Johan buru-buru menutup pintu kamar dan mengenakan pakaian, kembali ke tempat tidur menahan malu yang tak ketulungan.
"Ngapain sih lama banget mereka ngobrolnya?" batin Johan tak nyaman setelah kembali ke balik selimut.
"Iya bentar" Johan berusaha bangkit dengan enggan masih merasakan malu. Ia menduga Anna telah memikirkan apa yang Johan dan Leyna mereka lakukan sebelumnya.
"Cuci muka dulu Ih, Jorok" perintah Leyna.
"Hmmm" Johan hanya bergumam sambil melangkah gontai ke kamar mandi. Leyna kembali menutup pintu kamar.
"Sarapan dulu Kak, nanti mas Jo biar aku buatkan lagi. Lagian dia sebenarnya nggak suka mie instan buatanku" Ajak Leyna kepada Anna.
"Kok nggak suka, memangnya mie instan buatanmu kenapa?" tanya Anna heran.
"Coba saja dirasain" Anna menyorongkan semangkuk mie instan dengan telor yang sudah berkurang panasnya.
"Enak. Mie instan kan bumbunya standar sama saja" kata Anna mencicip mie buatan Leyna.
"Ehm, Kak Anna belum pernah merasakan masakan Mas Jo sih. Selama ini kalau kami makan mie instan selalu Mas Jo yang buatkan" terang Leyna.
"Nah, itu kali yang bikin lebih enak. Karena dibuatkan oleh orang yang disayang. pasti membuatnya dengan hati" Ujar Anna.
"Enggak sih paling pakai telor" kata Leyna polos saja membuat Anna hampir tersedak pada suapan pertamanya.
__ADS_1
"Maksudku membuatnya sungguh-sungguh dilandasi hati yang tulus penuh kasih sayang Non" Anna terkekeh-kekeh.
"Kak, kalau di perusahaan ini, apakah ada organisasi istri pegawai?" tanya Leyna. Anna sampai menghentikan suapannya.
"Maksudmu?" Anna tak paham arah pembicaraan Leyna.
Dua gadis dewasa itu berbincang seakan telah lama berteman.
"Ya semacam ibu-ibu PKK begitu" Leyna bertanya dengan polosnya.
"He he he. Ini kan perusahaan swasta Non. Mana sempat kami mengurusi hal-hal semacam itu. Pekerjaan perusahaan saja sering kurang waktu" Anna menjelaskan.
"Ouw.. kirain ada kumpul-kumpul, arisan begitu" ujar Leyna.
"Yaa.. kalau kamu mau, nanti kamu rintis kegiatan semacam itu he he he" Anna malah cengengesan.
"Ah. nggak. ngak. Aku justru nggak suka kalau harus ada acara begitu" Leyna buru-buru berkelit.
"Lha kenapa?" Tanya Anna.
"Aku nggak suka kumpul-kumpul yang rada-rada resmi atau ada ikatan macam itu" jawab Leyna.
"Nggak kok non. Di perusahaan swasta karyawan tidak wajib berorganisasi sosial semacam itu. Bahkan tidak ada kurasa. Kalaupun ada orang-orang perusahaan swasta membentuk atau bergabung club, biasanya hanya untuk kesenangan di luar perusahaan" Ana panjang lebar membagi pengetahuannya.
"Eh, memang kapan kamu mau menikah sama Johan?" tiba-tiba Anna mengajukan pertanyaan yang mengalihkan pokok pembicaraan.
"Ehmm.. maunya sih secepatnya?" Jawab Leyna.
"Lho nggak mau kerja dulu, atau belajar lagi selagi masih muda" selidik Anna.
"Malas Kak. Aku nggak suka segala hal yang berbau-bau formal. Aku pengin bebas saja jadi ibu rumah tangga" kata Leyna.
"Lah, kamu ini aneh. Sekolahmu kan tinggi, mengapa cuma mau jadi ibu rumah tangga?" Anna heran dengan keinginan Leyna.
"Entahlah. pengin menikmati saja apa yang bisa aku nikmati tanpa diatur oleh orang lain" kata Leyna.
"Kan bisa saja kamu nanti diatur-atur sama suamimu" kata Anna.
"Yah, itu kan hal yang berbeda. Toh tidak ada ikatan kewajiban dengan sederet tata tertib formalnya" kilah Leyna.
"Ya.. ya.. kurasa kebahagiaan dan kepuasan batin tidak harus diukur dengan alat ukur yang sama" sebagai seorang psikolog handal dengan nilai akademik yang mengagumkan Anna tentu dapat dengan mudah memahami pribadi seseorang.
Dua gadis dewasa yang baru saja bertemu itu semakin akrab dengan obrolan soal kehidupan.
__ADS_1