Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap23. Tertangkap Basah


__ADS_3

Selesai mandi Johan menuju ke dapur. Disudut dapur ada rak persediaan yang tertutup rapat karena beberapa waktu lalu kos hendak ditinggal penghuninya.


Johan ingat ia meninggalkan satu dus Mie instan di rak itu tiga bulan yang lalu. Tangannya membuka kunci dan melihat masih ada kardus di sana. Johan berharap masih ada sisa meski sudah tertinggal terlalu lama.


Tiga bungkus mie instan kuah kesukaan Leyna ia amati tanggal kadaluwarsanya masih beberapa hari lagi.


"Ah, tak apalah. Bagaimanapun belum kadaluwarsa. Rasanya melilit sekali perutku pagi ini. Aku ganjal dulu pakai Mie" Gumam Johan pada diri sendiri.


Johan mengambil dua bungkus untuk direbus. Satu bungkus akan dia masak untuk Leyna seperti biasanya.


Jika ingin makan mie instan di kos bersama Leyna Johan yang memasak sendiri.


Leyna tidak bersedia lagi memasak mie instan untuk Johan karena setiap kali dia yang membuat, Johan tidak mau menghabiskan.


Entah mengapa hanya merebus mie instan, jika Johan yang melakukan, rasanya lebih nikmat. Mungkin tangan Johan yang sudah biasa memasak untuk keluarganya  saat masih di kampung, membuat tangan Johan lebih bertalenta dibanding dengan Leyna.


Sementara Johan sibuk di dapur, Leyna memasangkan charge smartphone mewahnya ke colokan listrik. Leyna ingin memberi kabar kepada ayahnya. Janji yang telah ia lupakan dua hari ini.


Dua hari di dalam tas, smartphone mewah itu mulai kekurangan daya.


Tidak banyak kontak yang ia lakukan dengan smartphone barunya sehingga mudah saja menemukan nomor papa Leyna.


Panggilan menggunakan mode speaker karena Leyna berencana berbicara dengan papanya sambil membenahi barang-barang bawaan yang sudah dua hari terbengkalai sementara pengisian bateray tetap berlangsung.


Leyna memindahkan isi koper ke lemari pakaian. Memilih beberapa baju ganti yang nyaman untuk bepergian ke tas punggung Johan.


Sementara sambungan dibuat oleh jaringan, Leyna tersenyum sendiri mengingat papanya yang ngotot agar Leyna memegang perangkat komunikasi.


Leyna sebenarnya telah menjadi sangat terbiasa dan nyaman tanpa handphone di tangan gara-gara pelarian yang ia lakukan.


Ingatannya melayang semasa di Singapura. Meski papanya memaksa Leyna untuk memilih tipe smartphone di hadapan sales counter, Leyna hanya tersenyum.


"Sudah, papa saja yang pilihkan. Leyna nurut saja" jawab Leyna karena memang tak merasa membutuhkan.


"Kamu mau yang model bagaimana?" papanya masih berusaha memaksa.


"Sudahlah Papa, apa saja. Yang penting kan kalau Papa mau bicara aku bisa menjawab" papa Leyna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala atas keras kepala putrinya.


"Coba ambilkan yang paling bagus" perintah Tuan Hartanata kepada sales counter yang dengan ramah melayani anak beranak itu.


"Mari Pak silahkan dilihat. Ini sampel saja, nanti jika berkenan membeli, kami ambilkan dari stok" terang sales counter.


"Ini sudah yang paling bagus di sini?" Tuan Hartanata ingin kepastian.


"Benar Pak, ini sudah yang termahal.smartphone ini baru rilis satu minggu lalu" sales counter meyakinkan.


Tuan Hartanata menyorongkan kartu kredit dan kartu debit tanpa banyak bertanya.


"Saya tidak bawa cash, mana yang bisa?" tanya tuan Hartanata.

__ADS_1


"Dua-duanya bisa, Bapak mau memakai yang mana?" Tuan hartanata menyerahkan kartu debitnya.


Leyna belum sepenuhnya selesai membereskan isi koper ketika terdengar suara dari speaker.


"Halo.... Putriku sayang, mengapa baru menghubungi Papa sekarang?" suara dari seberang sesaat sambungan terhubungkan.


"Hmm, maaf Pa, Ley agak kecapekan menempuh perjalanan"  Leyna berbohong.


"Oh, suaramu kok terdengar begitu, kamu sakit?" tanya Tuan Hartanata di seberang sambungan kepada putrinya dipenuhi nada kecemasan.


"Enggak Pa, cuma sedikit capek saja" tegas Leyna.


"Cepat minum obat, minum vitamin jangan sampai sakit" Papa Leyna begitu khawatirakan putrinya.


"Papa, aku baik-baik saja" Leyna berkata lembut kepada Tuan Hartanata.


"Ada dokter atau klinik dekat situ kan, Ini nanti biar mandor nanti cari tiket ke Jogja buat Papa agar bisa mengurus kamu" kata tuan Hartanata


"Makan mie ya Sayaaang" kata Johan sambil mendorong pintu pintu kamar dengan kaki karena dua tangannya membawa mangkuk-mangkuk berisi mie panas.


Johan tak menyadari kalau Leyna sedang berbicara dengan papanya, dalam mode speaker pula.


"Lho siapa itu sayang, kamu sedang dimana?" Tuan Hartanata suaranya lantang dari speaker. Johan terkesiap. Leyna sempat terdiam menatap Johan sebelum akhirnya menjawab.


"Oh, aku sedang di kos Pa, itu tadi suara pacarku" Leyna tersenyum melirik ke arah kekasihnya. Johan merasa ludahnya menjadi padat dan begitu sulit ditelan.


"Benarkah? Apa benar putri kecilku sudah punya pacar?" Tuan Hartanata penasaran.


"Coba.. coba papa ingin melihatnya" Tuan Hartanata mengganti panggilan ke dalam mode video call. Leyna melihat suasana perkebunan yang sejuk dibelakang Tuan Hartanata


"Pagi-pagi Papa sudah ke kebun? Ada masalah Pa?" tanya Leyna.


"Sudah jam sembilan kok pagi, kamu bangun kesiangan ya?" kata Tuan Hatanata. Leyna hanya mengangguk tersipu.


"Perkebunan baik baik saja, Papa cuma pengin ngobrol sama mandor. Papa kesepian karena kamu pergi lagi begitu cepat" Lanjut Tuan Hartanata.


Johan buru-buru meletakkan mangkuk melihat Leyna mengambil smartphone bersuara jernih dan dilengkapi 4 kamera itu. Leyna melambaikan tangannya agar Johan lebih mendekat, karena kabel daya masih tertancap.


"Siapa nama kamu?" tanya Tuan Hartanata tenang, setelah di layarnya muncul wajah Johan yang tampak sedikit pucat.


"Sosoknya tidak menyeramkan seperti yang aku bayangkan, Nampaknya beliau pria yang lembut hati" batin Johan.


"Tapi aku tak mau buru-buru menyimpulkan hanya dari penampilan" ungkap batinnya.


"Ss.. Saya Johan Tuan" Jawab Johan sedikit gelagapan, menjadikan Leyna tertawa cekikikan.


"Heeih, kamu kok seperti melihat hantu begitu. Tidak ada yang memanggilku Tuan. Aku tidak suka dipanggil demikian" Kata Tuan Hartanata.


"Bb Baik Pak" meski Johan berusaha menekan perasaan, tetangkap basah di kamar kos putri kesayangan Tuan Hartanata membuat Johan tetap gemetaran.

__ADS_1


"Kamu benar pacar putriku?" tanya Tuan Hartanata, suaranya bijak tanpa tekanan.


Johan menengok ke arah Leyna. Leyna cuma tersenyum, menggoyahkan dagu memberi isyarat agar Johan menjawab.


"Kalau memang demikian yang dikatakan putri tuan... eh pak" Johan masih merasa malu dengan keadaan dirinya, ia sungguh belum siap ditanya oleh orang tua Leyna.


"Haaa.. haaa... Bohong Pa, dia selalu mengaku ke semua orang aku cuma teman" Leyna mendekatkan wajahnya ke wajah Johan agar terlihat di kamera sambil tertawa lepas, membuat Johan melotot ke arah Leyna.


Tuan Hartanata hanya tersenyum melihat putrinya begitu bahagia meski hanya dari balik kamera.


"Awas kamu kalau mempermainkan putriku" Tuan Hartanata tidak mengancam, karena dari wajahnya justru tersungging senyum bahagia.


"Mandor, ke sini" Tuan Hartanata memanggil mandornya setengah berteriak. membuat Anto, mandor yang dimaksud Tuan Hartanata buru-buru mendekat.


"Kamu kalah cepaaat. Lihat putriku sudah punya pacar di Jogja. Lihat!" Tuan Hartanata menunjukkan layar ke Anto.


"Johan!" Anto memekik tertahan.


"Kamu kenal dia?" Tuan Hartanata bertanya keheranan.


"Iya Pak, dia sepupu saya. Pantas saja seminggu lalu dia kesasar sampai ke jalan dekat rumah Bapak" terang Anto. Matanya melotot di belakang Tuan Hartanata dan tangannya mengepal seakan mengancam Johan.


"Plak" sebuah tamparan mengenai pipi Johan. Diseberang, Anto terlonjak.


"Tuh mandor, sudah aku wakili" ucap Leyna. Johan hanya meringis saja melihat leyna tertawa-tawa puas diiringi pandangan kebingunganTuan Hartanata.


"Kalian?" Jarinya menunjuk Anto, lalu beralih ke layar seakan menunjuk sejoli di seberang sambungan.


"Nona Leyna memaksa saya mengantar ke bandara kemarin karena mengejar kekasihnya Pak" mereka melanjutkan obrolan masih dalam sambungan.


"Ternyata memang Johan sepupu saya yang dia inginkan" lanjut Anto menjelaskan.


"Leyna, Johan. Jadi, kalian week end, jam segini sudah ketemuan di kos dan main masak-masakan karena sudah lama pacaran?" selidik Tuan Hartanata melihat dari layar ada dua mangkuk mie instan masih mengepul asap.


"Anu Pak, saya kenal betul sepupu saya. Kami hampir seusia. Saya sangat mengenal sifatnya. Dia ini saudara saya yang sangat bertanggung-jawab" Anto memuji Johan setinggi mungkin sebagai isyarat rasa terima kasihnya kepada Johan yang telah mendekatkan hubunganya kembali dengan Nike.


"Kamu yakin?" Tuan Hartanata bertanya dengan nada yang menyejukkan.


Mendengar nada suara Tuan Hartanata ditambah pembelaan Anto, Johan menjadi tenang hatinya. Leynapun semakin berani menyandar manja kepada Johan di hadapan papanya.


"Saya yang menjamin Pak" kata Anto sangat meyakinkan.


"Baiklah putri kecilku. Kalau kamu sudah ada yang memperhatikan di sana, papa menjadi tenang. kamu sakitpun pasti ada yang menjaga" ujar Tuan Hartanata seakan begitu lega.


"Iya Pa, jangan kuatir" Leyna meyakinkan.


"Oh ya Pa, Leyna mau week end sama mas Jo ya Pa?" jadi nanti nggak di kos.


"Ya.. ya. Sudah ya, kalian segera makan itu mie nanti keburu dingin. Papa mau dengar cerita lebih banyak dari mandor" kata Tuan Hartanata. Leyna pun berpamitan dan dihadapan papanya memberikan ciuman kepada Johan.

__ADS_1


Leyna melemparkan senyuman kepada kekasihnya. Meski mie mulai dingin mereka makan lambat sekali seakan tak ingin hari berganti.


__ADS_2