Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap33. Bidadari Penyelamat itu Bernama Anna


__ADS_3

Suasana hiruk pikuk di kantin perusahaan sudah mulai berkurang. Jam makan siang sekaligus jam istirahat hampir usai. Johan masih berbincang dengan pak Edy membahas pelatihan manajemen yang baru diikuti Johan.


“Terima kasih banyak Pak Edy telah merekomendasikan saya menjadi agensi, saya tidak akan melupakan ini” ujar Johan di ujung pembicaraan.


“Tidak Jo, aku hanya menunjukkan hasil penilaian kinerja yang kulakukan kepada semua staf” Pak Edy merendahkan diri.


“Tentu tanpa kerja keras dan kreatifitas yang terus kau lakukan, tak mungkin muncul nilai-nilai itu. Jangan pernah merasa berhutang budi kepada siapapun di perusahaan ini” nasehat pak Edy kepada Johan.


“Bagaimanapun peran Pak Edy dalam membimbing saya dan menyemengati saat saya sedang dalam kondisi terendah adalah bagian dari prestasi ini Pak” kata Johan.


“Kamu ini terlalu rendah hati Jo, mbok ya sekali-sekali sombong gitu kenapa?” pak Edy berseloroh.


“Saya hanya belajar dan meneladani senior saya di perusahaan ini Pak” dibalik kalimatnya Johan memuji pak Edy.


“Ah, kamu ini terlalu tinggi menilai orang” kelit pak Edy.


“ehm, sepertinya ada yang serius ini, kelihatan tegang amat bapak berdua” Anna yang selesai bersantap siang mendekati tempat duduk Johan dan pak Edy.


“Bisa saja kamu An. Sini bergabung. Masih ada beberapa menit sebelum jam istirahat usai” pak Edy menawarkan kursi kepada Anna.


“Terima kasih Pak, saya Cuma mau minta ijin” Anna tak mengambil tempat duduk itu, namun tetap berdiri.


“Minta ijin? Ijin apa?” pak Edy penasaran.


“Jika Johan sedang tidak padat di pekerjaan, ijinkan saya berbincang dengannya di ruang kerja saya” pinta Anna.


“oh, boleh,boleh” kata pak Edy.


“Kita cuma kerja rutin kok silahkan kapanpun kalian mau, sebelum datang proyek lagi” lanjut pak Edy.


“Usai istirahat ini kalau Johan bersedia” tawar Anna.


“Ya,ya silahkan, saya sudah selesai, ini tadi tidak ada hal penting yang kami bicarakan. sekedar mengisi istirahat saja” pak Edy mengijinkan.


Mereka bertiga beranjak dari kantin menyusur koridor yang menghubungkan kantin dan gedung perkantoran karena jam istirahat sudah hampir habis. Pak Edy kembali ke ruang kerjanya, sedang Johan mengikuti Anna ke ruang personalia.


Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Anna mengangguk dan sedikit membungkukkan badan untuk memberi hormat.


Anna selain jabatannya memang pantas dihormati, sosok dan kepribadiannya memang berkharisma sebagai seorang wanita.


Ruangan Anna cukup besar. Meski banyak dokumen dan barang-barang kepersonaliaan namun ruangan itu rapi dan bersih khas sentuhan wanita.


Perusahaan memiliki OB yang rajin dan disiplin, namun saat membersihkan dan menata ruangan, pemilik ruanganlah yang berperan.


OB tak akan berani begitu saja memindah barang, bahkan hanya untuk membersihkan tempat dimana barang itu diletakkan.


“Ceritakan Jo, apa yang terjadi Sabtu kemarin” Anna langsung saja pada pokok persoalan, sesaat setelah keduanya duduk berhadapan.


Johan garuk-garuk kepala karena ia sungguh tidak paham, mengapa kejadian buruk dikeroyok preman bisa menimpanya.


Anna mengedepankan kepala sambil melebarkan mata melihat Johan tak juga bersuara kedua tangannya yang ada diatas meja dibuka pertanda menunggu cerita. Berharap ada yang bisa ia dapatkan.


“Bukan aku ingin turut campur Jo, tetapi karena kamu meneleponku dan menyebut pacarku, aku secara tidak langsung telah kau libatkan dalam perkaramu. Apa yang terjadi?” Anna mengejar dengan pertanyaan.


“Entahlah An, aku harus mulai dari mana” Johan sebenarnya enggan mengingat kejadian Sabtu lalu.

__ADS_1


“Terserah, mulailah. Something, Everything. Pokoknya apapun meski gak penting, yang membuat isi kepalamu terbersit namaku” kejar Anna sambil tangannya diputar didepan mata seperti menggambarkan buah pemikiran.


“Heh” Johan mengela nafas panjang.


“Aku spontan saja An. Aku hanya mengenal wanita yang siap kawin cuma kamu” kata Johan.


“Sial, kau anggap sapi apa aku ini, kowan kawin” Anna bercanda, memulai senyum manisnya untuk membuat Johan menjadi nyaman dihadapannya.


“Eh, maaf, maksudku sudah mempersiapkan pernikahan” jelas Johan sambil gelagapan.


“Ha ha ha” Anna malah tertawa melihat Johan begitu tegang di hadapannya.


“Rileks Jo, berbicaralah seperti biasanya. Berbicaralah sebagai teman” Anna menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya membuat suasana menjadi semakin santai.


“Jadi sore itu selesai pelatihan aku langsung menuju kos pacarku...”


“Plak” suara meja kena gebrak tangan halus Anna. Johan kaget terlonjak hingga terhenti berbicara.


“Kamu? Kamu sudah punya pacar Jo? Kurangajar!” Anna berdiri dari kursinya membungkukkan badan diatas meja sambil menudingkan jarinya kanannya lurus kepada Johan, sementara telapak kirinya yang tadi menggebrak meja masih tertempel di sana.


“Kenapa An?” Johan keheranan, ia lupa bahwa selama ini ia terus merahasiakan hubungan dengan Leyna dari orang-orang dikantornya.


Kecuali mahasiswa sekampus Leyna dan lingkungan kok, tak ada yang tahu Johan telah lama berpacaran


Johan tak pernah bercerita kepada teman kantornya karena takut jika hubungannya singkat dan gagal akan menjadikannya bahan guyonan.


“Sialan kamu Jo, jadi selama ini kamu menggodaku hanya untuk menguji kesetiaanku?” Anna memang suka bercanda dengan siapa saja.


“Ini jadinya mau bahas kelanjutan hubungan kita, atau peristiwa pengeroyokan?” ujar Johan mulai santai. hilang ketegangan melihat sikap Anna yang menyenangkan.


“Terserah, waktu dan tempat kupersilahkan kepadamu, yang mana saja boleh.” Anna tak henti bercanda.


“Cantik nggak Jo, cantikan mana sama aku Jo” Anna berusaha menggoda.


“Siapa?” tanya Johan sedikit kesal.


“Ya pacarmulah, masak premannya” kata Anna.


Johan hanya melongo menatap Anna sambil berkedip-kedip matanyatak percaya apakah Anna sungguh mengharapkan jawaaban atas pertanyaanya.


"Jo" Anna menyadarkan kebingungan Johan.


“Ah kamu ini" Johan sedikit tersipu.


"Yah, kalau kamu lihat Alfon ya begitu wajahnya, cantikan Alfon dikit. Cuma perawakannya lebih kecil, lebih kurus, tapi pipinya sedikit gembul” jelas Johan terpancing candaan Anna.


“Ouw..” Anna mengetukkan jari telunjuk di pipinya seakan berfikir dan membayangkan postur Leyna.


“Namanya, nama, nama?” Anna makin penasaran. Jari telunjukknya ditekuk-tekuk di depan Johan seakan meminta sesuatu.


“An, aku belum mau kawin, gak usah dimasukkan tunjangan daftar gajiku. Buat apa nama” seloroh Johan yang mulai kembali bisa bercanda.


“Pelit amat kamu Jo, sudah pacar dirahasiakan, namanya pun kamu pendam” Anna bergurau.


“Aku kira itu benar preman salah sasaran” ujar Johan mengalihkan perhatian.

__ADS_1


“Tapi kamu bilang mereka mengeluarkan kalimat ancaman” penasaran Anna.


“Ya mereka mengancam agar aku tak merebut calon istri orang dengan menyebutku miskin, aku tersirat ini pasti orang kaya yang kurang kerjaan” jelas Johan.


“Begini Jo. Aku jelaskan ya!” Anna agak serius sekarang.


“Pertama pacarku tidak sekaya yang kamu bayangkan hingga mampu miara preman” kata Anna.


“Kedua dia itu suara nada dering ponselku saja tak peduli, artinya dia seratus persen percaya kepadaku. Kami sama-sama pribadi dewasa. Gak pernah bertanya ini teman apa, temanmu rumahnya mana” Anna melanjutkan.


“Iya An, aku paham. Maafkan atas kelancanganku” Johan menyesali perbuatannya ysng telah menduga pacar Anna kemungkinan menganiaya dirinya.


“Bukan itu maksudku Jo, aku cuma ingin  ingin kamu fokus pada agensi kita. Manajemen sungguh membebankan keberhasilan agensi di pundakmu dan tim” ujar Anna.


“Juga di sisi lain agar kamu bisa lebih spesifik mencari biang kerok kecelakaanmu dengan meyingkirkan namaku” lanjut Anna.


“Iya An, aku ceroboh melibatkanmu” ujar Johan sendu.


"Kalau aku sama pacarku sih Jo, gak usah pakai direbut segala, kamu tinggal minta saja. Siapa tahu dia mau ngasih dengan sukarela, hi hi hi" Anna kembali kepada candanya.


"Ah kamu ini An. Aku heran kenapa perusahaan ini bisa menerima gadis selengekan kayak kamu jadi manajer personalia"  Johan sebenarnya paham, Anna hanya selengekan kepada pegawai senior yang sudah kenal dekat dan mampu memahami karakternya.


"He he he.. itulah hebatnya diriku Jo" Anna tertawa menyombongkan diri, lalu melanjutkan.


“Aku bisa memahami Jo, jangankan kamu yang tiba-tiba dikeroyok orang tak dikenal, aku yang kamu telepon saja menjadi panik” Anna menghibur Johan.


“Aku jadi was-was juga di kos An. Khawatir saat sedang lengah, para preman itu bermain belakang. Aku ingin meninggalkan tempat itu secepatnya andai bisa.” keluh Johan.


“Hem. Kamu bersedia kalau diminta pindah ke Jakarta secepatnya?” tanya Anna.


“Mengingat keselamatanku, nampaknya pergi dari Jogja secepatnya bisa menjadikan hatiku lebih tenteram, jika memungkinkan” Johan berandai-andai.


“Kamu siap jika diminta berangkat ke kantor agen secepatnya?” tanya Anna.


“Kalau diminta sekarangpun aku siap An” jawab Johan.


“Ah, kamu ini bercanda Jo, nanti pacarmu bagaimana. Eh siapa namanya tadi?. Kamu ini pelit amat sih nama pacar saja” Anna memang paling suka kalau mendapat kesempatan menggoda Johan.


“Entahlah sudah berhari-hari telepon tak dapat dihubungi. Barangkali telah kembali bersama keluarganya dan melupakan aku” Johan berujar dengan dada sesak.


“Ciyeeee...” olok Anna.


“Sudahlah An, serius aku harus berangkat kapan?” Johan mendesak.


“Besok” Anna menjawab singkat.


“Sial, ngomong sama kamu tu malah bikin baperan, kepala jadi gak nyambung sama badan” Johan sedikit gusar.


“Serius! Minggu ini aku ada wawancara rekruitmen staf di sana untuk membantu pekerjaan kalian. Kalau kamu mau, temani aku berangkat besok menggunakan kereta senja” manajer personalia itu berbicara dengan nada sok centil.


Johan hanya melongo. Seperti tak percaya kalau saja bukan Anna yang bebicara.


“Untuk sementara kita sewa kantor di sana. Apartemen tempat kalian tinggal nanti satu lokasi, hanya beda tower saja” terang Anna.


Johan belum bisa berbicara karena tak tahu apa yang harus ia utarakan.

__ADS_1


Hatinya berkecamuk dengan peristiwa-peristiwa di luar dugaan.


"Terima kasih Anna, kuanggap ini misi penyelamatan" gumam Johan


__ADS_2