
“Dingin sekali mas Jo” kalimat Leyna terdengar lebih seperti rintihan saja di telinga Johan.
“Aku matikan saja AC-nya ya Pey” Johan menawarkan, sembari meraih remote AC.
Sejurus Leyna mengangguk, Johan segera menekan tombol power pada remote itu.
“Aih, aduh. Awa hati-hati” Leyna setengah berteriak karena Johan tiba-tiba membopongnya dari sofa ruang tamu dan membawanya ke kamar.
“Hmm. Biarpun mengangkat dua, aku masih kuat” canda Johan.
Meski rasa capek tak dapat dipungkiri karena acara pembukaan yang berlangsung hampir seharian, namun tak mengurangi keinginan Johan untuk memanjakan istrinya.
“Awas kalau kamu lempar seperti biasanya” Leyna mengancam.
“Enggaklah, si mungil dalam perutmu bisa berontak kalau begitu” Johan membuka pintu kamar dengan mendorongkan kakinya.
Sesampai di tempat tidur, hohan meletakkan Leyna istrinya dengan lembut, lalu mengambil selimut. Johan berbaring disamping istrinya dan memakaikan selimut untuk mereka berdua.
“Kamu mau ngapain?” tanya Leyna agak sengit.
“Lha kamu memangnya mau ngapain?” Johan balik bertanya.
“Aku mau tidur, badanku terasa dingin sekali” ketus Leyna.
“Capek sekali hari ini, jangan berbuat macam denganku” ancam Leyna.
“Macam-macam yang seperti apa?” tanya Johan berpura-pura.
“Ah sudahlah, jangan berpura-pura” ketus Leyna.
“Berarti kalau macam-macamnya tidak denganmu boleh?” ujar Johan sambil berusaha mendekat hendak memeluk Leyna yang meringkuk memunggunginya. Namun,
“Bug” sikutLeyna mendarat tepat di ulu hati Johan hingga membuat Johan meringis kesakitan menahan nafas yang menjadi sesak tak ketulungan. Namun demikian tak ada reaksi sedikitpun penyesalan dari Leyna, bahkan ia berusaha menarik selimut.
Johan terlentang sambil menahan sakit yang begitu lambat menghilang. Setelah sakit mereda, Johan menyingkirkan sisa selimut dari tubuhnya, berguling dan turun ke pinggir ranjang untuk keluar dari kamar menghilangkan rasa dongkolnya. Meski sadar kondisi Leyna sedang tidak nyaman, namun terkena sikut di ulu hati tanpa ada sedikitpun reaksi dari Leyna, membuat hatinya dongkol juga.
“Haduh, ini TV gak ada acara yang bener juga” Hati gundah Johan membuat apapun yang di sajikan oleh stasiun telivisi terasa tidak ada yang menarik.
__ADS_1
Dengan ragu Johan melangkah meuju pintu keluar apartemen. Hatinya bimbang antara meninggalkan leyna yang baru seminggu resmi menjadi istrinya yang sepertinya sedang kurang sehat. Atau menghilangkan gundahnya dengan menghirup udara segar di taman komplek apartemen, atau bahkan ngeluyur ke kampung seberang yang terlihat masih ramai orang dan para pedagang makanan malam.
“Ah, biarlah, sebentar saja” Johan memantapkan hatinya membuka pintu apartemen. Menutupnya kembali dengan hati-hati, menyusuri lorong menuju pintu lift di ujung sana.
“Thing” suara lift mencapai lantai tempat ia menunggu. Johan hendak segera melangkah sesaat pintu terbuka, namun.
“Aduh”
“Oh maaf, Eh Anna? Dari mana?” Johan kaget karena ia tadi melangkah sambil melamun, hingga tak menyadari menyenggol perempuan yang baru keluar dari lift.
“Kamu mau ke mana malam-malam begini?” Anna balik bertanya. Dari nafasnya terseruak bau alkohol. Meski suaranya masih normal, namun Anna seperti tak stabil saat berjalan.
“Apakah Leyna sakit parah, kamu mau mencari obat?” Anna masih normal saja bertanya.
“Oh tidak. Tadinya aku mau mencari udara segar. Mari aku antar kamu ke kamar” Johan menawarkan.
“Heeh. Gimana sih pengantin baru, kenapa istri kau tinggal sendiri” tak menjawab pertanyaan, Johan menggamit lengan Anna menyeretnya ke kamar.
Menyadari langkah Anna yang tak stabil, Johan melingkarkan lengan Anna ke lehernya agar lebih mudah membawanya ke kamar Anna.
“Panas sekali di sini Jo” Johan telah menyalakan AC dengan level suhu terendah, namun karena baru mulai, suhu belum sepenuhnya tercapai.
Ana membuka kancing baju bermerk mahal yang seharusnya siang tadi dilapis blazer biru tua berpasangan dengan rok yang masih dikenakan Anna.
“Kamu mau aku antar ke kamar An?” tanya Johan tak tega melihat rekan kerjanya baru pertama ia lihat di bawah pengaruh alkohol.
“Nggak, aku mau di sini saja. Tolong ambilkan t-sirt di kopor dalam kamar” Anna meminta Johan. Disambut buru-buru mengambilkan kaos dan celana pendek yang semua bermerk mahal.
“Kamu tidak apa-apa aku tinggalkan sendirian?” tanya Johan ragu melihat keadaan Anna yang rupanya baru mulai parah pengaruh minumannya.
“Bantu aku sebentar Jo, sialan, susah amat sih!” Anna mulai meracau. Usahanya melepas kancing baju hanya berhasil sampai kancing ke dua dari atas. Jari-jarinya seperti tak mau mengikuti kemauannya lagi.
“Kamu biasa minum alkohol An?”Johan menyelidik dengan heran. Ragu antara menuruti permintaan Anna membuka kancing baju atau ia biarkan sahabatnya itu dalam kondisi demikian.
“Siapa bilang, aku dikerjain sama anak-anak kantor, kukira soft drink gak ada rasanya, ternyata sampanye, makanya begitu menyadari aku buru-buru pulang” kilah Anna.
Johan tahu anak-anak kantor pusat yang sebenarnya sangat menghormati Anna, tetapi kalau bercanda suka kebablasan.
__ADS_1
Tak tega melihat usaha Anna yang tak juga berhasil melepas bajunya, Johan mengulurkan tangan untuk membantu. Sedikit bergetar jemarinya meraih kancing-kancing baju Anna yang memejamkan mata. Sebagai prisa dewasa, hati Johan tak lepas dari godaan untuk memanfaatkan keadaan.
“Makasih Jo” Anna seakan pasrah tak berdaya, membiarkan Johan menelanjanginya.
“Maju sedikit Ann” Johan melepas baju Anna dari lengan. Aroma tubuh Anna dengan sentuhan parfum mahal menambah godaan gairah Johan. Begitu baju terlepas, tangan Anna berusaha meraih kaitan penyagga buah dada.
“Sekalian Jo, sesak sekali rasanya” Johan pun meneruskan bantuannya.
“Sebentar aku ambilkan sekalian” ujar Johan, Namun Anna menahan lengannya.
“Sudah biarkan mereka bebas” tegas Anna.
Tarikan kurang kontrol Anna terasa agak keras, hingga Johan yang posisinya kurang kuat terhuyung jatuh. Kepalanya menimpa Anna yang sandaran tubuhnya cenderung terlentang. Anna malah tertawa-tawa seakan apa yang terjadi adalah kejadian yang menyenangkan.
“Ann, Ah” usahanya untuk bangkit menghindar justru menjadikan Johan melakukan kesalahan lanjutan. Telapak tangannya yang berusaha meraih sandaran sofa terpeleset dan menyentuh payudara Anna.
Usahanya tadi mencengkeram busa sandaran justru menghasilkan remasan yang membuat Anna mendongak merasakan remasan Johan.
“Maaf Ann” Johan serba salah antara kesempatan yang seakan diberikan Anna, dan rasa sopan karena ia sangat menghormati rekannya dan sahabatnya. Anna hanya menyunggingkan senyuman. Tak ada gambaran kemarahan atau penyesalan di wajahnya.
“Aku lelah sekali Jo” Anna hanya mendesah.
“Baiklah, segeralah istirahat setelah ini” kata Johan.
Johan berusaha bersusah payah memasangkan t-shirt melewati kepala dan lengan Anna. Memasang celana pendek yang nyaman untuk tidur, lalu setelahnya melepaskan rok kerja mewah yang dikenakan Anna.
“Selamat tidur Anna” Jihan mencium kening Anna seperti ciuman seorang ayah kepada putrinya.
Anna tak menjawab karena seperti sudah hilang kesadarannya. Johan buru-buru meninggalkan kamar Anna, khawatir semakin tak dapat menguasai dirinya.
Johan memasuki kamar tidur di apartemennya. Didapatinya Leyna tetap berbaring di ranjang. Tidurnya terlihat pulas. Piyamanya tersingkap sampai sebatas dada memamerkan perutnya yang datar.
“Hmmm… di sana akan tumbuh kehidupan kecil. Keajaiban yang aku ragu apakah bisa membuatnya” bisik Johan kepada dirinya sendiri.
Johan membungkuk mendekati perut Leyna. Mencium pusar lena sambil berkata :
“Maafkan ayah ya nak. Tumbuhlah menjadi anak yang baik dan cerdas” Johan lalu menutup tubuh istrinya dengan selimut yang tadi tersingkap di samping istrinya.
__ADS_1