
Malam semakin tenggelam. Johan memeluk kepala Leyna seperti kebiasaan. Mengalihkan kecupan ke kening, lalu menjauhkan wajah Leyna dengan perlahan.
“Maafkan aku Ley, sebenarnya... “ ucap Johan merasa lega Leyna sudah mereda kemarahannya.
Namun Leyna segera membekap mulut Johan kembali dengan mulutnya hingga Johan terdiam.
Setelah beberapa lama Leyna melepaskan dekapan ke kepala Johan.
“Aku tak butuh penjelasan Jo” suara Leyna masih serak. Sisa tangisnya yang berkepanjangan tak begitu saja hilang.
Mereka saling berpandangan dalam rasa kebahagiaan yang tak segera nyaman karena kejadian kemarin di halaman rumah Johan.
Lyena tahu Johan hendak menjelaskan kejadian di rumahnya senja kemarin.
tetapi Leyna tidak mau kesenduan hatinya bertambah dengan mendengar nama Nike disebutkan oleh Johan.
Baginya kedatangan Johan malam ini sudah menunjukkan bahwa setidaknya Johan masih memberikan perhatian.
Leyna kembali merebahkan tubuhnya ke kasur, menarik tangan Johan penuh perasaan agar berbaring di sampingnya.
Leyna ingin malam ini menjadi malam yang kembali menyatukan mereka setelah hampir terputus komunikasi karena proyek Johan dan skripsi Leyna yang memakan perhatian akibat rencana studi S3 dosennya.
Dengan manja Leyna memeluk Johan.
Dalam keheningan Tak henti-henti Leyna mencium wajah Johan dari kening, pipi hingga bibirnya, karena sejak tadi Leyna merasa Johan seperti diam dan kurang menanggapi kemesraan yang ia berikan.
Johan merasa Leyna berusaha memberinya ketegasan bahwa ia lebih butuh perhatian ketimbang penjelasan dengan perlakuannya yang penuh makna. Sedikit demi sedikit Johan menyingkirkan rasa keraguan akan posisinya di hadapan Leyna.
Johan memaksa diri membangkitkan keberanian untuk kembali menanggapi kemesraan yang sebenarnya telah lama ia rindukan.
Malam semakin pekat, namun bagi pasangan itu, suasana terasa semakin hangat.
“Kamu jahat Jo” sela Leyna di tengah kemesraan. Johan sedikit menarik kepalanya menjauhkan wajah dari wajah Leyna.
“Mengapa kamu lari seperti melihat setan saat melihatku di bandara” keluh Leyna dengan suara masih parau.
“Sial, berarti dia memang melihatku sehingga matanya melotot seperti hendak menelanku” batin Johan.
Rasa malu karena peristiwa seminggu lalu itu kembali merambati batin Johan.
“Bandara? Kapan? di mana Ley?” Johan pura-pura tak paham karena tak kuasa menutupi rasa malunya.
“Jangan bohong Jo. Apa yang kamu rahasiakan dariku?” tanya Leyna.
Johan faham Leyna tidak ingin dibantah.
Johan hanya ragu-ragu jika harus menjelaskan perasaanya saat mengetahui keluarga Leyna adalah pengusaha kaya yang membuat mentalnya jatuh ke lembah hina paling dalam.
Namun malam ini Johan sedang menumbuhkan harapan kepada dirinya bahwa Leyna sungguh-sungguh mencintainya, bukan memanfaatkannya menjadi sebuah mainan.
“Siapa temanmu di Lampung Jo?” meski pertanyaan-pertanyaan Leyna hanya dijawab dengan tatapan mata, Leyna tak berhenti bertanya dalam selimut kecemburuannya.
__ADS_1
“Aku bisa menemukan temanmu jika kamu menemui kesulitan mencari temanmu itu” tegas Leyna dengan tatapan mata bersungguh-sungguh meski tetap dengan nada cemburu.
“Tidak perlu Ley” cegah Johan.
“Mengapa? Apa kamu tidak ingin aku tahu siapa lagi yang tersembunyi di hatimu?” tanya Leyna.
Sebenarnya dalam batin Leyna masih berlanjut kalimat “Selain Nike” tetapi nama itu terlalu pedih jika harus keluar dari mulut mungilnya.
“Aku akan menjelaskan semua Ley” terang Johan.
“Tidak perlu. Aku hanya perlu tahu nama temanmu di lampung saja. Aku akan menemuinya sendiri. Dimana alamat yang kau cari itu?” tegas leyna setengah mengancam.
“Apa kamu sungguh ingin tahu?” tanya Johan ragu. Namun senyum sedikit mengembang dibibirnya. Johan merasa bahagia mendengar kekasihnya kali ini cemburu pada pikirannya sendiri.
“Aku mendengarkan” desahnya perlahan.
Leyna mengangguk, memberikan ciuman di bibir Johan untuk memberinya kepastian bahwa ia ingin mendengarkan.
“Sebenarnya aku malu mengatakan kekonyolan ini Ley” lanjut Johan setelah bibir Leyna dilepaskan.
Leyna berganti memberikan dekapan kepada Johan, menempelkan sisi kepalanya ke dada Johan, mendengarkan degup jantung yang tak beraturan. Johan semakin yakin Leyna sungguh mengharapkan penjelasan.
“Aku mendapatkan alamat dari teman di kampus” Johan berputar-putar, masih merasa enggan jika nanti Leyna mentertawakan.
“Apakah kamu mencari teman kuliah?” Leyna mendesak tanpa melepaskan dekapan. Tangannya makin erat melingkar di punggung Johan.
“Bukan” Jawab Johan. Mendengar jawaban Johan wajah Leyna menjauh dari dada Johan, menatap lekat dengan penuh tanya.
“Aku mencari gadis sederhana bernama Leyna” mendengar jawaban yang sesuai harapan, senyum terkembang di bibir mungil gadis tomboy yang kali ini terlihat terlalu cantik dengan tubuhnya dibalut piyama mewah yang dibeli dari butik di Singapura.
“Apakah kamu menemukan alamatnya?” Leyna pura-pura bodoh.
Ia sudah menduga dari cerita Anto di mes mandor, namun ingin mendapat kepastian dari bibir pria di hadapannya.
Dengan senyum tertahan kembali manja di dada laki-laki yang tak berotot itu, hati Leyna seakan penuh wangi bunga.
Johanpun melanjutkan.
“Tidak. aku salah. Gadis itu telah mengalami metamorfosa menjadi princes yang sesungguhnya” jawab Johan.
“Buk” sebuah tinju mendarat di perut Johan. Meski tak terlalu sakit, tinju Leyna membuat Johan kaget sehingga mengubah posisinya dari berbaring dengan badan miring memeluk Leyna menjadi terlentang.
Tangan kanannya mengelus perutnya. Sedangkan tangan kiri masih tertindih badan Leyna sehingga Johan tak dapat menjauh menghindari cubitan Leyna yang menyusul di seluruh badan.
“Kamu memang jahat” Johan cekikikan menahan antara geli dan sakit akibat cubitan.
Leyna berusaha bangkit dengan gemas berusaha menambahkan pukulan. Namun baru setengah perjalanan Johan berusaha menarik tangan kirinya yang terbebas untuk menghindar lebih jauh.
Tak terduga tangan Johan justru keras menabrak tangan kanan Leyna yang dipakai bersandar untuk berusaha bangkit.
“Bruk”
__ADS_1
Leyna terjatuh, terhempas tepat diatas tubuh Johan yang masih terlentang. Leyna mengurungkan niatnya untuk memukul Johan.
Mereka saling menatap dalam diam.
Senyum saling berkembang. Perlahan Leyna menurunkan wajahnya menuju wajah Johan. Kembali mereka berdua hanyut dalam kemesraan.
Waktu sudah lewat tengah malam. Serangga malam bahkan telah lelah mendendandkan lagu sumbang.
Suasanya senyap menenggelamkan kedua insan yang dilanda kerinduan., mengubah amarah menjadi panas asmara yang membara.
Johan merasa jiwanya lepas dari raga terbang ke awang-awang menembus batas sukma.
Rasa yang belum pernah ia dapatkan selama hidupnya. Johan menjadi lupa segalanya, berlama-lama dalam madu cinta dan tak ingin mengakhirinya.
“Maukah kamu menjadi istriku Leyna” dalam setengah kesadarannya Johan bertanya.
Leyna tak menjawab. Bibirnya sibuk berbalas mesra dengan kekasihnya.
“Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anaku?” Johan terus meracau.
“Hmmm” hanya itu yang keluar dari mulut mungil, entah jawab apa yang di ungkapkan Leyna, namun Johan tak peduli. Tindakan Leyna ia anggap persetujuan saja.
Mereka menikmati waktu dengan perlahan. Jika bisa, mereka tak ingin malam berganti.
Johan semakin kehilangan kesadaran ketika terdengar sebuah bisikan di telinganya.
“Apa kamu rela jika malam pertama kita aku sudah tidak perawan Jo” bisikan itu sebenarnya lebih
terdengar sebagai ******* bernada.
“Duarrrrr” namun di telinga Johan terdengar seperti suara petir menyambar.
Johan segera mengendorkan dekapan tangannya dari tubuh Leyna. Kesadaran kembali ke kepalanya secara perlahan.
Membuka mata didapatinya kekasihnya telah tertindih tubuhnya. Johan menatap wajah Leyna.
“Aku ingin mempersembahkan yang seutuhnya di malam kita sudah resmi menjadi suami istri Jo”
Leyna berkata diiringi nafas yang masih tak beraturan.
Johan berguling menjatuhkan diri ke samping Leyna dengan raut muka kecewa. Johan sadar ini belum saatnya. Ia
tak ingin menyakiti orang yang dicintainya.
Menekan perasaan kecewa, Johan bangkit, melempar senyum kepada kekasihnya.
Menghadap ke Leyna yang berbaring disamping duduknya, tangan Johan lembut membetulkan kancing
piyama yang tak sadar telah terbuka hampir seluruhnya.
Johan menunduk dihadapan Leyna, mengecup keningnya dan berucap.
__ADS_1
“Terima kasih Leyna, kamu bisa menjaga kesucian hubungan kita”