ANAK GENIUSKU

ANAK GENIUSKU
Bab 36


__ADS_3

''Lee Ryder !", pekik Margot Evans sambil mendorong tubuh pria tampan itu.


''Apa ?'', sahut Lee Ryder heran.


''Ada Aaron Lee !'', ucap Margot Evans.


''Oh ?'', ucap Lee Ryder.


''Apa kamu tidak sadar jika dia akan melihat kita ?'', kata Margot Evans.


''Dia tidak akan melihat kita lagipula jika dia melihatnya, bukankah itu lebih baik lagi !?'', sahut Lee Ryder.


''Apa ?'', ucap Margot Evans kaget.


''Kenapa ?'', jawab Lee Ryder.


Lee Ryder mengusap ujung hidungnya pelan seraya tersenyum tipis.


''Lambat laun semua akan mengetahui hubungan kita bahkan Aaron Lee harus menerimanya kalau kamu kelak akan menjadi ibunya'', ucap Lee Ryder.


''Itu tidak benar ! Kita bukan pasangan yang saling mencintai !'', sahut Margot Evans.


Gadis cantik itu lalu membuang mukanya dengan kesal.


''Kita tidak saling mencintai, itu memang ! Tapi kita sedang menjalin hubungan ke arah sana'', kata Lee Ryder.


Margot Evans diam tanpa menjawabnya dan tetap memalingkan mukanya ke arah lain.


''Dan yang kamu perlu ketahui satu hal lagi bahwa aku benar-benar serius denganmu'', ucap Lee Ryder lagi.


Margot Evans menatap tajam ke arah Lee Ryder.


''Sudah aku tekankan padamu kalau aku tidak menginginkan hubungan diantara kita'', sahut Margot Evans.


''Kenapa kamu begitu keras kepala ?'', ucap Lee Ryder.


Pria tampan itu mengusap rambutnya acak seraya mengumpat pelan.


''Sial !'', ucapnya kesal.


Lee Ryder menarik kembali tangan Margot Evans lalu menatap tajam gadis cantik itu.


''Kamu harus mengerti bahwa aku sangat mencintaimu ! Kamu milikku ! Dan akan tetap menjadi wanitaku !'', sahut Lee Ryder.


''Tapi aku tidak menginginkannya !'', jawab Margot Evans.


Margot Evans menarik tangannya dari Lee Ryder kemudian membuka pintu mobil.


''Aku hanya pengasuh bagi Aaron Lee dan tidak pernah mengharapkan yang lainnya darimu !'', ucap Margot Evans.


Lee Ryder tertegun saat Margot Evans berkata demikian.


Dilihatnya gadis muda itu masuk kedalam mobil tanpa memperdulikannya lagi.


BRAK !


Pintu mobil tertutup rapat saat Margot Evans masuk ke mobil.


Lee Ryder hanya menatap kelu ke arah mobil tanpa bisa berbuat apa-apa.


''Haishhh... Apa maksudnya berkata seperti itu !?'', ucap Lee Ryder.


Lee Ryder melangkah memutari mobil miliknya ke arah samping lalu membuka pintu mobil.


Dia masuk tanpa memperhatikan Margot Evans yang telah duduk dikursi sebelahnya.

__ADS_1


''Kita berangkat Jhon !'', ucap Lee Ryder memberi perintah.


''Siap bos !'', sahut pria bernama Jhon.


Lee Ryder mendesah pelan sembari memalingkan mukanya ke arah luar mobil.


Dilipatnya kedua tangannya di depan dadanya sambil mengerutkan keningnya.


''Kita langsung ke stasiun bos ?'', tanya Jhon.


''Iya..., kita langsung kesana !'', sahut Lee Ryder.


''Baik, bos'', ucap Jhon sambil melirik dari arah kaca spion depan.


Jhon melihat atasannya sedang tidak enak suasana hatinya.


Dia mengemudikan mobil keluar dari halaman rumah dengan cepat.


Beberapa anak buah Lee Ryder tampak berjaga-jaga di sekitar halaman rumah saat mobil yang membawa Lee Ryder pergi.


Mobil terus bergerak cepat meninggalkan kawasan perumahan elit menuju ke arah kota.


Letak stasiun khusus milik Lee Ryder memang berada cukup jauh hampir berada di luar kota.


Suasana di dalam mobil terasa sepi sejak mobil melaju kencang dari arah rumah ke tempat tujuan.


Margot Evans hanya terdiam sembari terus mengarahkan pandangannya ke arah luar kaca mobil.


Sesekali terdengar suara hela nafas Lee Ryder yang tengah memperhatikan telepon genggamnya sejak tadi.


Tidak ada gangguan yang biasanya dia lakukan terhadap Margot Evans apabila gadis cantik itu tengah berada dengannya.


"Tumben... Biasanya dia selalu mengintimidasiku ? Apa dia sedang marah ?"


''Ehem... Ehem... !'', tiba-tiba Lee Ryder bersuara.


Margot Evans tidak meresponnya dan tetap mengalihkan wajahnya ke arah kaca mobil.


''Apa kamu tidak merasa aneh ?'', ucap Lee Ryder.


Tatapan Lee Ryder yang masih mengarah dengan serius ke telepon selulernya tanpa menoleh ke Margot Evans.


Margot Evans tidak menjawabnya.


Dia tahu kalau Lee Ryder mulai terusik karena dirinya mengacuhkannya.


''Aku sedang berbicara padamu !'', kata Lee Ryder.


Pria tampan itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah Margot Evans.


Margot Evans masih terdiam bergeming menatap ke arah kaca mobil yang gelap.


''Margot Evans...'', ucap Lee Ryder.


Margot Evans masih diam tanpa menjawabnya.


''Haish !?'', hela nafas Lee Ryder.


Lee Ryder menarik tangan Margot Evans lalu menggenggamnya erat.


Margot Evans terpaksa mengalihkan pandangannya ke arah tangannya.


''Haruskah aku memelukmu atau menciummu ?'', bisik Lee Ryder.


''Hah !? Apa !?'', sahut Margot Evans.

__ADS_1


''Iyah..., seperti biasanya..., menciummu dan mengintimidasimu...'', jawabnya santai.


''Oh, iya ?'', ucap gadis cantik itu seraya menaikkan kedua alis matanya. ''Bukankah itu sudah menjadi hal yang merupakan kebiasaanmu setiap harinya ?'', sambungnya.


''Iya ?'', sahut Lee Ryder berpura-pura tidak mengerti. ''Normal !''


''Astaga...'', ucap Margot Evans kesal.


''Wajar jika seorang pria menginginkannya, itu sudah menjadi hal yang biasa dialami semua pria jika melihat wanita yang disukainya'', sahut Lee Ryder.


Lee Ryder menyandarkan badannya ke bahu jok kursi mobil seraya tersenyum.


Ditariknya tangan Margot Evans ke atas pahanya.


Margot Evans tersentak pelan sambil menatap serius ke arah Lee Ryder yang tampak duduk dengan santainya.


''Tidak ada kesenangan yang paling utama dalam hidupku tanpa mengganggumu karena aku merasa kaulah bagian terpenting dalam hidupku yang wajib aku ganggu'', sahut Lee Ryder.


Pria tampan itu mengecup tangan Margot Evans.


''Dan aku merasa sangat keberatan jika hari-hariku dipenuhi gangguan yang tidak berarti...'', sahut Margot Evans.


Gadis cantik itu mendengus kesal saat Lee Ryder mengedipkan salah satu matanya ke arahnya.


Ditariknya genggaman tangan Lee Ryder tetapi buru-buru pria tampan itu menariknya kembali.


''Aku tidak sabar untuk menciummu tapi aku sadar kalau kita masih berada didalam mobil dan itu privasi'', kata Lee Ryder.


Dia mengusap tangan Margot Evans sambil terus memandangi gadis disampingnya.


''Setelah di kereta mungkin aku bisa leluasa melakukannya bahkan mungkin bisa berbuat sesuai keinginanku'', ucap Lee Ryder.


Kedua mata Margot Evans terbelalak lebar dengan indahnya.


Dia merasa sangat malu saat mendengar rayuan Lee Ryder yang mengajaknya berhubungan lebih intim.


''Aku masih sekolah..., tidak mungkin tiba-tiba terdengar kabar akan kehamilanku ?'', sahut Margot Evans acuh.


Lee Ryder tersentak pelan saat mendengar ucapan Margot Evans kemudian dia tersenyum.


''Kabar itulah yang aku tunggu-tunggu darimu bahkan aku ingin segera mempercepatnya'', jawab Lee Ryder.


Dia menatap Margot Evans dari arah tempatnya duduk tanpa mampu menutupi rasa gelinya saat melihat gadis cantik yang amat dia cintai itu.


''Jika kamu mengijinkan kabar baik itu segera terwujud dengan cepat maka aku akan dengan senang hati akan mewujudkannya'', lanjut Lee Ryder.


''Apa ?'', sahut Margot Evans terperanjat kaget.


''Apa katamu !?'', jawab pria tampan itu. ''Bukankah kamu berharap akan ada kabar yang memberitakan kehamilanmu ?'', sambungnya.


''Apa maksudmu !?'', kata Margot Evans.


Gadis cantik itu mencoba menarik tangannya tetapi Lee Ryder menahannya.


''Bukankah kamu yang mengatakannya ? Kenapa sekarang kamu mengelaknya ? Apa aku tidak keliru ?'', kata Lee Ryder.


''Tidak..., aku berubah pikiran !'', sahut Margot Evans kesal.


''Berubah pikiran ? Kenapa ?'', ucap Lee Ryder. ''Aku akan menunggu waktu itu nanti saat kita telah berada di dalam kereta'', sambungnya tegas.


''Tidak akan !'', sahut Margot Evans.


''Tidak akan pernah menolaknya bukan !?'', ucap Lee Ryder tertawa kecil.


Margot Evans bertambah kesal dengan sikap Lee Ryder kemudian dia memalingkan wajahnya kembali ke arah luar kaca mobil.

__ADS_1


__ADS_2