
Disneyland siang itu tampak ramai oleh pengunjung yang berdatangan kesana.
Lee Ryder berjalan beriringan bersama Margot Evans serta Aaron Lee diantara kerumunan orang-orang yang memasuki area wahana permainan Disneyland.
Beberapa orang berjas hitam dengan kacamata hitamnya berjalan di belakang mereka.
Tampak Aaron Lee yang selalu tersenyum riang saat dia datang ke Disneyland.
Hal yang paling dia inginkan selama ini adalah pergi berlibur bersama ayahnya karena Lee Ryder hampir tidak memiliki waktu untuknya yang sibuk bekerja sepanjang hari.
Aaron Lee menarik tangan Margot Evans lalu mengajaknya ke sebuah wahana permainan dengan tema cars land.
Bocah lima tahun itu berlari kecil kedalam wahana cars land lalu menggesek kartu miliknya ke alat pembayaran yang tersedia disana.
Margot Evans berlari menyusul Aaron Lee yang telah membayar dua karcis masuk ke wahana cars land.
Gadis dengan senyuman manisnya itu mengejar Aaron Lee yang akan menaiki sebuah mobil balap.
''Aaron Lee ! Tunggu !'', panggil Margot Evans buru-buru.
Gadis muda itu mencegah Aaron Lee yang hendak menaiki mobil.
''Jangan Aaron Lee ! Itu sangat berbahaya !'', kata Margot Evans.
''Tidak apa-apa, Margot Evans ! Aku bisa mengemudikan mobil ini ! Ini hanya sebuah permainan biasa dan tidak memiliki resiko besar !'', ucap Aaron Lee.
''Ta--tapi... Aku takut celaka karena bagiku ini permainan yang sangat menyeramkan untuk anak kecil, Aaron Lee !'', sahut Margot Evans.
''Tidak, Margot ! Ayah sering mengajariku cara mengemudikan kereta cepat atau mobil mainan setiap akhir minggu di sirkuit !'', kata Aaron Lee.
''Sirkuit !?'', ucap Margot Evans.
Dari arah belakang terdengar suara yang menjawab ucapan Margot Evans hingga gadis muda itu memalingkan wajahnya ke arah datangnya suara.
''Biarkan saja dia, Margot ! Dia sudah sangat mahir mengemudikan mobil balap karena dia telah melewati latihan panjang di sirkuit !''
Dia melihat Lee Ryder tengah berjalan mendekat ke arahnya sambil menggenggam ponsel miliknya.
''Ayah ! Kau seharusnya tidak membawa ponsel ke dalam wahana permainan ini karena akan membuatmu pada posisi berbahaya jika kamu menghidupkan ponselmu !'', kata Aaron Lee.
Lee Ryder tersenyum lebar sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.
''Tidak apa-apa, Aaron Lee ! Karena aku tahu apa yang sebaiknya aku lakukan untuk ku sendiri !'', sahut Lee Ryder.
''Baiklah... Terserah pada ayah saja... Tapi aku telah memperingatkanmu jadi jangan salahkan aku jika ayah terluka...'', jawab Aaron Lee.
''Ha... Ha... Ha... Ha... Kau bisa saja kalau bercanda, Aaron Lee !'', ucap Lee Ryder tertawa pelan. ''Bukankah aku ini ayahmu ? Bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu ?'', sambungnya.
__ADS_1
''Karena engkau adalah ayahku maka kewajibanku adalah mengingatkanmu serta memberimu nasehat agar ayah senantiasa selamat !'', kata Aaron Lee.
Lee Ryder lalu membuka pintu mobil balap untuk Aaron Lee.
''Naiklah, nak !'', kata Lee Ryder.
''Apa ayah tidak ikut bersamaku ?'', tanya Aaron Lee.
Bocah lima tahun itu kemudian naik ke dalam mobil balap Lightning McQueen warna merah kesukaan Aaron Lee.
''Tidak, aku tidak ikut naik bersamamu satu mobil, nak ! Karena aku akan naik mobil balap lainnya yang lebih dewasa dari ini !'', sahut Lee Ryder.
''Ayah pintar sekali bercanda ! Mana ada mobil dewasa disini untukmu, ayah !'', ucap Aaron Lee.
Bocah kecil itu tertawa renyah sembari mengenakan helm di kepalanya dengan memasang tali pengaman.
''Margot Evans ! Naiklah bersamaku !'', seru Aaron Lee di dalam mobil balap.
''Tidak !'', jawab Lee Ryder dengan cepat menarik tangan gadis cantik yang bersama dengannya.
''Ayah... !?'', ucap Aaron Lee.
Bocah lima tahun itu mengerutkan keningnya saat melihat Lee Ryder menahan Margot Evans naik bersama dengannya.
''Kenapa ayah melarang Margot naik bersamaku ?'', tanya Aaron Lee.
''Apa ayah meragukan kemampuan mengemudiku ?'', kata Aaron Lee.
''Tidak !'', sahut Lee Ryder sambil menggelengkan kepalanya. ''Aku sangat yakin akan kemampuan menyetirmu dan aku percaya bahwa kamu mampu membawanya kembali kemari !'', sambungnya.
''Baiklah ! Aku akan segera mengemudikan mobil balap ini !'', kata Aaron Lee.
Bocah laki-laki itu segera memasangkan sabuk pengaman pada tubuhnya erat-erat lalu kembali memeriksa keadaan mesin mobil balap yang dia naiki dengan cara menghidupkannya.
Aaron Lee sekali lagi melongokkan kepalanya ke arah luar mobil balap sembari tersenyum kepada Lee Ryder dengan mengacungkan ibu jarinya ke atas.
''Baiklah, ayah ! Aku berangkat... Dan jangan lupa susul aku, ayah !'', kata Aaron Lee sembari mengedipkan salah satu matanya kepada Lee Ryder.
''Yup ! Hati-hati ! Selamat jalan, Aaron Lee !'', sahut Lee Ryder membalas kedipan mata Aaron Lee kepadanya.
''Daaaghhh, ayah !'', pamit Aaron Lee tersenyum riang.
Terdengar suara keras dari arah mesin mobil balap Lightning McQueen warna merah yang dikendarai oleh Aaron Lee saat mobil balap itu meluncur cepat.
WUNG... WUNG... WUNG...
Mobil balap yang disetiri Aaron Lee melesat kilat melewati jalan-jalan tebing yang berkelok-kelok di area cars land.
__ADS_1
Pemandangan mendebarkan jantung itu dapat dilihat dari arah pitstop yang disediakan oleh pihak Disneyland bagi penonton atau pihak keluarga yang hanya ingin menonton.
Lee Ryder memandang jauh ke arah mobil balap yang dikendarai Aaron Lee.
''Kenapa kita tidak ikut bersamanya ? Aku merasa sangat cemas melihatnya !", kata Margot Evans
''Biarkan dia melatih keberaniannya sejak dia kecil agar kedepannya mampu memimpin perusahaan yang akan diwariskan kepadanya nanti...'', sahut Lee Ryder.
''Kau berencana mewariskan perusahaan milikmu padanya ? Apa kamu begitu khawatirnya dengan masa depan perusahaan daripada keselamatan putramu sendiri ?'', ucap Margot Evans.
Lee Ryder menolehkan kepalanya ke arah Margot Evans yang duduk disampningnya lalu menghela nafasnya.
''Tidak... Tidak ada yang aku khawatirkan sama sekali, baik itu yang berhubungan dengan perusahaan atau diriku...'', sahut Lee Ryder.
''Tapi kamu membiarkan anakmu mengambil resiko besar dengan mengendarai mobil balap sendirian bahkan kamu telah melatihnya sejak kecil di sirkuit'', ucap Margot Evans.
''Aku hanya menyalurkan keinginannya pada mobil balap yang teramat Aaron Lee gemari meski aku sendiri melarangnya karena tidak sejalan dengan visi dan misi perusahaan'', sahut Lee Ryder.
''Bukankah perusahaanmu berkaitan dengan minyak mentah serta bahan bakar ? Pastinya sangat berhubungan erat dengan visi dan misi perusahaan...'', lanjut Margot Evans.
''Yah, aku tahu itu tetapi bukan itu tujuan Aaron Lee karena dia berminat pada balapan mobil bukan pada produk emisi bahan bakar yang perusahaan kami produksi !'', kata Lee Ryder.
''Oh, begitu ya... !?'', gumam Margot Evans.
Gadis cantik itu lalu menundukkan wajahnya yang semburat merah karena malu dengan yang dia ucapkan.
Seorang pria berjas hitam mendekati Lee Ryder seraya membungkukkan badannya kemudian berbisik pelan di telinga pria tampan itu.
Lee Ryder menyimak ucapan pengawalnya sembari menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
''Baiklah, aku akan datang ke resort itu... Dan kirimkan rangkaian bunga mawar segar kepada mereka sebelum aku datang kesana !'', perintah Lee Ryder kepada pengawalnya.
Pria berjas hitam yang mengenakan kacamata hitamnya menganggukkan kepalanya cepat seraya berlari kecil keluar dari area wahana permainan.
Seorang pengawal lainnya memberikan dua gelas minuman segar untuk Lee Ryder.
''Minumlah, Margot ! Karena kita akan menunggu lama Aaron Lee selesai balapan mobil disini !'', kata Lee Ryder seraya tersenyum tipis.
''Terimakasih...'', sahut Margot Evans membalas senyuman Lee Ryder kepadanya.
''Hmmm..., sama-sama...'', jawab pria tampan itu dengan raut wajah serius.
Keduanya kembali terdiam sembari terus memperhatikan jalan lintasan sirkuit yang dilewati oleh mobil balap yang disetiri oleh Aaron Lee dengan menikmati segelas minuman segar.
Tampak mobil balap Ligthning McQueen yang dikendarai oleh Aaron Lee melaju kencang melintasi jalan berputar dan berulangkali melewati pitstop tempat dimana Lee Ryder dan Margot Evans duduk menonton bersama-sama.
Raut wajah Lee Ryder berubah serius saat melihat mobil balap yang disetiri oleh Aaron Lee melintas di hadapannya, pria tampan itu seakan-akan tengah merenungkan sesuatu dipikirannya saat itu.
__ADS_1