
Margot Evans membelai lembut rambut Aaron Lee yang berbaring di atas pangkuannya dan mulai tertidur pulas.
Suara musik dansa terdengar mengalun keras dari dalam gedung, tempat berlangsungnya pesta malam itu.
Acara pesta yang digelar oleh Chris Fulham untuk melaunching produk bahan bakar terbaru produksi perusahaan Chris Fulham. Corp.
Pesta masih terus berlangsung meriah hingga larut malam sedangkan Aaron Lee sudah tidak dapat menahan rasa kantuknya untuk menunggu acara pesta malam itu selesai.
Margot Evans memiliki idea untuk membawa bocah kecil itu ke sebuah taman bunga dan mengajaknya beristirahat sejenak sambil menunggu usai acara pesta di dalam sebuah bangunan gazebo yang ada di taman.
Malam semakin larut membuat udara disekitarnya menjadi teramat dingin hingga menusuk tulang, membuat gigil seluruh tubuh Margot Evans yang berada di luar dengan hanya mengenakan gaun terbuka berwarna merah.
Tak terasa Margot Evans mendekap erat tubuhnya dengan kedua tangannya yang gemetaran karena melawan dinginnya udara malam itu.
Sesekali ia melirik ke arah Aaron Lee yang terbaring di atas pangkuannya dengan lelapnya.
Margot Evans juga mengusapkan kedua telapak tangannya yang terasa mulai kedinginan karena udara malam itu benar-benar sangat dingin menusuk tulang.
Ditiupnya kedua telapak tangannya yang berada di depannya seraya terus mengusap-usapnya cepat.
Terlalu dinginnya udara malam itu di sekitar area taman bunga di halaman gedung tempat diadakannya acara pesta, mampu membuat Margot Evans tersentak menggigil parah.
Gadis muda itu berusaha menahan dinginnya udara malam itu hingga dia jatuh tak sadarkan diri di dalam gazebo dekat taman bunga.
Terdengar langkah kaki cepat di telinga samar-samar kemudian suara keras pintu yang tertutup rapat.
BRAK... !!!
Setelah itu suasana menjadi tenang kembali.
Margot Evans membuka perlahan-lahan kedua matanya.
Menolehkan kepalanya pelan ke arah samping kanan dan kiri secara bergantian dengan pandangan mata yang masih samar.
Margot Evans tersentak kaget karena dia baru menyadari bahwa dirinya berada di dalam ruangan kamar.
''Ehk !?'', gumam Margot Evans.
Gadis berparas cantik itu lalu beranjak bangun dari tempat tidurnya. Dan dia telah mendapati dirinya telah berada di dalam sebuah ruangan kamar tidur yang sangat luas.
Margot Evans kembali menolehkan kepalanya ke arah kanan dan kiri.
Mencoba mencari tahu keberadaannya yang sekarang dimana lalu duduk bersandar seraya mendekap tubuhnya yang masih terasa dingin.
Gaun pesta berwarna merah yang dia kenakan telah berganti seluruhnya dengan gaun tidur tipis berwarna pink muda.
__ADS_1
Margot Evans semakin bertambah kebingungan dengan perubahan penampilannya lalu menarik selimut yang tersedia di atas tempat tidur secara pelan-pelan.
Merapatkan selimut tebal ke tubuhnya yang hanya mengenakan gaun tipis.
''Aku ada dimana ? Dan kenapa gaunku seluruhnya berganti dengan gaun tidur !?'', ucap Margot Evans.
Margot Evans hanya tinggal sendirian di dalam kamar tidur luas itu dan dia baru menyadari sesuatu yang penting.
''Aaron Lee !?'', pekik Margot Evans.
Gadis muda yang masih berusia tujuh belas tahun itu langsung melompat turun dari atas tempat tidurnya seraya menyibakkan selimut tebal ke arah sampingnya.
Berlari panik menuju ke arah pintu kamar yang tertutup.
Ketika Margot Evans membuka pintu kamar, dia mengalami kesulitan karena pintu terkunci rapat dari luar kamar.
Kepanikan bertambah kuat menyerang Margot Evans saat dia mengetahui kalau dirinya berada di dalam kamar yang terkunci rapat dan seorang diri.
''Oh tidak !?'', pekik Margot Evans bingung.
Mencoba terus-menerus membuka pintu kamar yang terkunci itu dengan menariknya kuat-kuat tetapi sayangnya, usaha Margot Evans tidak berhasil dilakukannya.
Ekspresi wajah Margot Evans berubah pucat pasi sembari kedua tangannya mengusap cepat wajahnya yang mulai berkeringat dingin.
''Tuhan !'', seru Margot Evans ketakutan. ''Ada apa ini sebenarnya !?'', sambungnya.
''Apa yang terjadi pada kami !? Dimana Aaron Lee sekarang !?'', ucap Margot Evans.
Margot Evans kembali mencoba membuka pintu kamar tidur yang terkunci itu tetapi tetap pintu tidak dapat dibuka oleh dirinya.
''Oh tidak ! Tidak ! Tidak !'', ucapnya panik.
Margot Evans berlarian kian kemari di dalam ruangan kamar tidur.
Mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa untuk membuka pintu kamar yang terkunci dari luar itu.
''Aku harus segera keluar dari kamar ini ! Dan bergegas mencari Aaron Lee !'', kata Margot Evans.
Kedua tangannya gemetaran hebat saat dia mencari benda keras untuk membuka pintu kamar yang terkunci rapat.
Membuka lemari tetapi dia tidak menemukan sesuatu di dalam lemari kemudian dia berlari panik ke arah meja rias lalu membuka laci yang ada di meja.
Tetap Margot Evans tidak menemukan benda yang dia cari karena baik dalam lemari maupun laci meja rias tidak ada satupun benda keras yang bisa digunakan untuk membuka pintu kamar yang mengunci dirinya di dalam kamar sendirian.
''Apa yang harus aku lakukan sekarang !?'', gumamnya putus asa.
__ADS_1
Wajah Margot Evans yang berubah panik serta mendadak muram tampak mulai menunjukkan rasa cemas yang meningkat.
''Aku harus keluar dari dalam kamar ini ! Dan menemukan Aaron Lee secepatnya jika aku tetap di dalam kamar ini maka aku tidak bisa mencarinya !?'', ucap gadis muda itu.
Kepanikan mulai merambat perlahan-lahan di hati Margot Evans saat mengetahui bahwa Aaron Lee tidak bersama dengannya saat ini.
Margot Evans berdiri tepat di depan meja rias dengan salah satu tangan berada di pinggang sedangkan salah satu tangannya mengusap panik rambutnya yang tergerai indah.
''Tuhanku... Apa yang harus aku lakukan sekarang...'', bisiknya cemas dengan kepala tertunduk dalam. ''Tuhan, tolonglah aku !'', sambungnya gelisah.
Pandangan Margot Evans tertuju pada sebuah bangku yang ada di dekat meja rias. Bangku berukuran kecil itu menarik perhatian Margot Evans saat dia melihatnya.
''Bangku kecil !?'', gumam Margot Evans mulai mendapatkan idea.
Margot Evans lalu mulai berpikir saat dia melihat bangku kecil berbentuk bulat di meja rias kamar kemudian mengambilnya.
''Aku akan mendobrak pintu kamar ini dengan bangku kecil, mungkin saja aku bisa membukanya'', kata Margot Evans.
Margot Evans berlari cepat seraya membawa bangku kecil rias di tangannya lalu berdiri tepat dihadapan pintu kamar yang terkunci rapat.
BRAK... ! BRAK... ! BRAK... !
Margot Evans terus mengarahkan bangku kecil yang ada di tangannya ke arah atas lalu mendobrakkan bangku kecil itu ke arah pintu kamar yang terkunci rapat.
Gadis cantik bermata indah itu tidak menghentikan gerakan tangannya yang mengarah ke pintu kamar saat dia membawa bangku kecil.
Berusaha keras agar pintu kamar terbuka. Dan ternyata usaha Margot Evans tidak sia-sia.
Margot Evans berhasil membuka pintu kamar yang terkunci rapat itu dengan bangku kecil meja rias yang ada di dalam kamar.
BRAK... !
Pintu kamar akhirnya dapat dibuka oleh Margot Evans meski keadaannya rusak parah karena benturan benda keras di badan pintu kamar.
Margot Evans langsung berlari keluar sedangkan bangku kecil yang ada di tangannya dia lemparkan jauh-jauh dari dirinya saat dia keluar dari kamar.
Gadis muda itu terus berlari meninggalkan kamar yang mengunci dirinya seraya melewati jalan di rumah yang sangat luas.
Rumah yang asing dan belum pernah dia lihat sebelumnya.
Ruangan dengan deretan jendela lebar di samping ruangan tampak berjejer panjang hingga ujung jalan di dalam ruangan rumah saat Margot Evans terus berlari cepat.
"Dimanakah aku sekarang ini !? Kenapa aku merasa sangat asing di tempat ini karena aku tidak pernah mengunjungi rumah ini !?", gumam Margot Evans dalam hati kecilnya.
Saat dia mengedarkan pandangannya ke arah sekitar ruangan rumah yang cukup megah saat dia berlarian sepanjang jalan di dalam rumah asing itu.
__ADS_1
Wajah serius Margot Evans terlihat jelas merasa cemas sembari terus memikirkan keadaan Aaron Lee yang tidak bersama dengannya.
Hal utama yang membuat Margot Evans semakin bertambah panik serta merasa sangat ketakutan akan kondisi Aaron Lee sekarang ini.