
Terdengar suara derap langkah panjang menggema di ruangan rumah asing.
Suara-suara orang bercakap-cakap ramai terdengar dari arah luar kamar.
Margot Evans tampak berbaring terpejam di atas ranjang besar berselimut tebal, seorang perempuan duduk di kursi dekat tempata tidur menemaninya.
''Apa yang kamu inginkan ?'', suara seorang pria dari arah luar kamar dengan nada tegas.
Suara tawa menjawab pertanyaan pria itu bersamaan dengan itu suara benda keras jatuh.
BRAK !
''Jangan emosi ! Tenanglah sobat ! Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya berusaha menolongmu, sungguh sobat !''
Suara sahutan dari seorang pria dari arah luar kamar tempat Margot Evans berbaring tak sadarkan diri.
''Jangan membuatku emosi ! Katakan dimana dia?''
Teriak seorang pria dengan suara berat kepada pria lainnya.
''Tunggu dia masih belum sadar !''
''Belum sadar !? Apa yang telah kamu lakukan padanya ?''
''Aku tidak melakukan apa-apa padanya, sungguh !''
BRAK !
Suara keras kembali terdengar dari arah luar kamar tidur.
''Sungguh ! Aku tidak melakukan apa-apa ! Percayalah !''
''Kenapa dia bisa sampai pingsan ? Apa kamu menyakitinya ?''
''Tidak, sobat... Percayalah padaku !''
''Jangan mengelak !''
''Aku mengatakan yang sebenarnya, sobat ! Aku tidak berkata bohong padamu ?''
''Jangan sebut aku sobatmu pagi mulai dari sekarang, Brandon !''
''Apa salahku ?''
''Kamu masih bertanya apa salahmu ?''
''Jujur aku katakan padamu bahwa aku hanya sekedar menolongnya !''
''Apa aku bisa mempercayai domba sepertimu, Brandon ?''
''Tentu tidak, mana mungkin aku bisa dipercaya begitu saja olehmu tapi aku benar-benar berkata yang sebenarnya padamu...''
''Dimana dia sekarang ? Katakan padaku !''
''Dia ada di dalam kamar''
Suara langkah kembali terdengar berderap keras dari arah luar kamar tidur.
BRAK !
Pintu kamar terbuka lebar lalu masuk sosok pria tampan kedalam kamar dimana Margot Evans tengah terbaring pingsan.
__ADS_1
Pria berambut perak melangkah cepat menuju ke arah tempat tidur kemudian duduk di tepi ranjang seraya menggenggam tangan Margot Evans yang terpejam.
Tangan dingin Margot Evans terasa di dalam genggaman tangan pria tampan itu yang menatapnya cemas.
''Margot Evans...'', gumamnya pelan.
Pria berambut perak menundukkan kepalanya sedih saat melihat keadaan Margot Evans yang terlihat sangat lemah.
''Aku sudah memanggil dokter kemari dan dia sedang dalam perjalanan ke rumah ini'', ucap pria asing yang masuk ke kamar.
Pria asing itu lalu berdiri agak jauh dari arah tempat tidur dimana Margot Evans terbaring pingsan.
''Bagaimana kamu membawanya sampai ke rumahmu ini, Brandon ?'', sahut pria berambut perak.
Pria bernama Brandon menghela nafas panjang seraya merapikan letak pakaiannya lalu berkata.
''Lee Ryder...''
Ternyata pria berambut perak itu adalah Lee Ryder yang datang mencari Margot Evans.
''Aku tadi menelponmu agar kamu kemari untuk melihat kondisi wanitamu tapi aku baru tahu jika kamu tidak terlalu memperhatikannya, Lee Ryder'', sahut Brandon.
''Apa katamu !?'', ucap Lee Ryder dengan kedua mata menyipit.
''Terus terang aku katakan padamu bahwa sebenarnya aku menemukan wanitamu tergeletak tak berdaya di sebuah taman dengan seorang anak kecil tertidur dipangkuannya'', lanjut Brandon.
Brandon merentangkan kedua tangannya lebar-lebar seraya menatap lurus ke arah Lee Ryder serta berdecak pelan.
''Apa yang aku katakan itu benar, bukan ? Jika kamu tidak peduli padanya bahkan kepada anakmu sendiri, Lee Ryder !?'', ucap Brandon.
Lee Ryder terdiam tetapi pandangan matanya terlihat marah karena Brandon menuduhnya tidak pernah peduli kepada Margot Evans dan Aaron Lee.
''Yang kamu katakan salah, Brandon'', sahut Lee Ryder.
''Semua yang kamu katakan tidak benar, Brandon'', ucap Lee Ryder.
''Benarkah ?'', sahut Brandon. ''Lalu bagaimana bisa dia sampai berada di luar gedung dan hampir terkena hiportemia ?''
Lee Ryder tercekat tanpa bisa menjawabnya dan hanya terpejam menyesal.
''Aku tidak tahu itu...'', sahut Lee Ryder.
''Tidak tahu ? Jika kamu melihat kondisinya waktu itu pasti kamu akan menyesalinya seandainya aku terlambat datang menolongnya'', ucap Brandon.
''Apa separah itu !?'', kata Lee Ryder.
''Dia hampir membeku menjadi bongkahan es ! Dan putramu juga sama seperti itu keadaannya saat aku menemukan mereka di dalam gazebo taman !'', sahut Brandon.
Lee Ryder semakin memejamkan matanya sedangkan kedua tangannya menggenggam erat tangan Margot Evans yang terbaring diam di atas ranjang tidur berukuran besar ketika dia mendengar penjelasan dari Brandon tentang kondisi Margot Evans dan Aaron Lee saat mereka berdua ditemukan di area taman.
''Aku tidak tahu...'', sahut Lee Ryder.
''Untung saja aku menemukan mereka disana kalau tidak, mungkin keduanya telah menjadi patung yang terbuat dari es batu !'', kata Brandon.
''Maaf..., aku sungguh tidak tahu hal itu terjadi pada mereka...'', ucap Lee Ryder menyesal.
''Kemana kau saat itu, Lee Ryder ? Apa kamu tidak mencari mereka ?'', tanya Brandon.
Lee Ryder hanya diam tertunduk lesu saat pria bernama Brandon bertanya padanya tentang keberadaannya malam itu dimana kejadian buruk menimpa Margot Evans dan Aaron Lee di taman.
''Apa sepenting itukah acara yang kamu hadiri hingga kamu melalaikan orang-orang terdekatmu ?''
__ADS_1
Ucapan Brandon langsung mengena keras kepada Lee Ryder yang semakin bertambah bersalah atas kejadian yang menimpa Margot Evans malam itu.
''Aku tahu kalau aku bersalah tetapi aku benar-benar tidak tahu kalau mereka berada di luar gedung resort malam itu, Brandon'', sahut Lee Ryder.
''CIH !?'', keluh Brandon kesal lalu memalingkan wajahnya dari arah Lee Ryder.
Lee Ryder mendekatkan tubuhnya lebih dekat ke arah Margot Evans yang masih terbaring tak sadarkan diri.
''Lalu dimana Aaron Lee sekarang ?'', tanya Lee Ryder.
Pria bernama Brandon lalu berjalan mendekat seraya menarik kursi ke arah tempat tidur lalu duduk sambil bersandar lurus.
''Rupanya kamu masih memikirkan putramu itu !? Aku pikir setelah Catherina pergi darimu kamu akan melupakan tanggungjawabmu kepada Aaron Lee'', sahut Brandon.
''Tidak benar, aku tidak mungkin melalaikan tanggung jawabku kepada Aaron Lee meski dia putra kandung Catherina'', ucap Lee Ryder.
''Baguslah kalau begitu, artinya kamu masih memiliki setidaknya hati nurani kepada keluargamu, sejak perang dinginmu dengan ayahmu Won Shik Lee belum berakhir'', sahut Brandon.
Pria bernama Brandon menghela nafasnya sambil melipat kedua tangannya dengan menyandarkan punggungnya ke bahu kursi.
Brandon duduk seraya menghentakkan kedua kakinya pelan.
''Aku sangat mengkhawatirkan dia.. Siapa nama gadis itu ?'', kata Brandon.
Brandon bertanya sembari melirik ke arah Margot Evans yang masih terbaring diam.
''Namanya Margot Evans..., dia merupakan putri angkat ayah dan sekarang berstatus sebagai pengasuh Aaron Lee...'', sahut Lee Ryder.
''Maksudmu !? Kamu berani memperkerjakan putri angkat ayahmu sendiri..., sebagai apa tadi !? Pengasuh Aaron Lee... !?'', kata Brandon.
Ekspresi wajah Brandon langsung berubah membeku mendengar jawaban yang diucapkan oleh Lee Ryder kepadanya tentang posisi gadis cantik bernama Margot Evans.
''Kau gila !?'', kata Brandon terkejut. ''Bagaimana bisa kamu seberani itu kepada putri angkat ayahmu ?''
Brandon tersenyum kecil dan hampir tidak mempercayai ucapan yang dikatakan oleh Lee Ryder.
''Aisshhh !? Kau berani mati, Lee Ryder !?'', lanjut Brandon.
''Tidak..., aku tidak seberani itu..., aku hanya terpaksa saja melakukannya...'', sahut Lee Ryder.
Tampak Lee Ryder salah tingkah ketika sahabatnya bernama Brandon membrondongnya dengan pertanyaan panjang seputar status Margot Evans yang sebenarnya.
''Kau sengaja mencari-cari alasan memperkerjakannya sebagai pengasuh Aaron Lee hanya karena kamu jatuh cinta padanya, bukn !?'', kata Brandon.
Brandon menatap tajam ke arah Lee Ryder yang berusaha menghindari kontak mata dengannya.
''Kau berbohong ! Dan sandiwaramu terbongkar lantaran kamu sangat ingin lebih dekat dengan gadis itu, bukan !?'', lanjut Brandon.
''Apa yang kamu maksudkan itu ?'', tanya Lee Ryder panik.
''Astaga !? Kamu mengelaknya !'' sahut Brandon tersenyum tipis. ''Kamu rela kehilangan hak warismu sebagai anak kandung serta pewaris harta ayahmu hanya lantaran kamu ingin mengejar cinta gadis bernama Margot Evans !?'', sambungnya.
Brandon semakin tidak percaya dengan hal yang tidak sengaja dia ketahui mengenai perasaan Lee Ryder terhadap Margot Evans selama ini.
''Kapan kamu mulai mencintainya ?'', tanya Brandon.
Lee Ryder membalas tatapan Brandon, sahabatnya dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa dia benar-benar sangat mencintai Margot Evans.
Seakan-akan Lee Ryder ingin menyampaikan isi perasaannya terhadap Margot Evans selama ini kepada Brandon yang merupakan sahabat terbiknya.
Lee Ryder lalu menjawab pertanyaan dari Brandon kepadanya bagaimana awal dia jatuh cinta dan tertarik pada Margot Evans.
__ADS_1
''Sejak pertama kalinya aku melihatnya, datang ke rumah besar milik ayah Won Shik Lee...''