
Lee Ryder membaringkan putranya di atas tempat tidur lalu dia berjalan memutar menuju cermin panjang yang terletak di dinding kamarnya.
Melepaskan kancing kemeja lengannya satu persatu sembari menatap ke arah cermin di depannya.
Sesekali melirik ke arah tempat tidur dimana Aaron Lee terbaring sambil mendekap robot kucingnya yang dia namai Ordo II.
Sudut bibir Lee Ryder membentuk senyuman saat dia memperhatikan tingkah laku putranya, jadi teringat akan dirinya saat berumur sama dengan Aaron Lee.
Lee Ryder mengganti kemeja kerjanya dengan piyama tidurnya dan tak lupa mengoleskan cream malam pada wajahnya setelah dia membersihkannnya.
Membalikkan badannya yang tegap ke arah tempat tidur sembari berkacak pinggang.
"Kenapa kau tidak tidur di kamarmu ?", tanya Lee Ryder.
"Iya, ayah...", sahut Aaron Lee.
"Ada apa dengan tempat tidurmu, nak ?", tanya Lee Ryder.
"Emm... Margot tertidur di kamarku, ayah...", sahut bocah lima tahun itu.
"Margot !?", kata Lee Ryder.
Ekspresi Lee Ryder terkejut kaget saat mendengar nama gadis itu disebut.
Kedua alis Lee Ryder terangkat ke atas sembari berdecak pelan saat melihat ke arah putranya.
Tampak Aaron Lee tengah berguling-guling di atas tempat tidur sambil memeluk Ordo II di kedua tangannya.
"Kenapa bisa begitu ? Bukankah aku telah memberinya kamar pribadi yang lengkap untuknya lalu kenapa dia justru memilih tidur di kamarmu ?", kata Lee Ryder.
"Entah..., ayah...", sahut bocah lima tahun itu.
"Apa yang ada dipikiran gadis itu !? Kurang apa aku ini !? Lebih memilih kamar anak kecil dibanding mendatangi kamarku !?", keluh Lee Ryder.
"Mungkin..., ayah kurang memberinya kasih sayang pada Margot..., dan ayah kerap sekali menindasnya...", sahut Aaron Lee.
Aaron Lee menghentikan gerakan tubuhnya saat bergulingan di atas tempat tidur ayahnya lalu menatap Lee Ryder sambil bertopang dagu dengan kedua kaki terayun-ayun.
Robot kucing bernama Ordo II dia letakkan di samping sisi badannya.
"Aku !? Kurang perhatian !? Tidak memberinya limpahan kasih sayang !?", ucap Lee Ryder.
"Iya..., seperti itu...", sahut Aaron Lee.
"Apa !?", kata Lee Ryder tak percaya.
"Jika aku melihat ayah selalu memperlakukan Margot dengan kasar seperti memaksanya menciumnya atau menindasnya", ucap Aaron Lee.
Lee Ryder terhenyak kaget mendengar perkataan putranya yang mencoba mengingatkan dirinya akan sikapnya terhadap Margot Evans selama ini.
Pria berambut perak itu mengusap kepalanya secara acak.
"Kacau !?", ucapnya bergumam.
Lee Ryder tersindir dengan ucapan Aaron Lee tapi semua itu benar karena selama ini dia selalu memperlakukan Margot Evans sekehendak hatinya hanya dia ingin gadis itu menerima perasaannya kepadanya.
__ADS_1
"Mana mungkin aku diingatkan oleh bocah lima tahun !?", kata Lee Ryder.
"Coba ayah lebih bersikap lembut dan penuh kasih sayang pada Margot, pasti dia akan menerima ayah secara perlahan-lahan", saran Aaron Lee.
"Iya !?", ucap Lee Ryder bertambah kaget.
"Cobalah, ayah !", kata Aaron Lee.
"Mencoba !? Apa ???", tanya Lee Ryder.
"Yah, coba ayah memberinya kejutan spesial seperti membawanya pergi keluar untuk makan malam atau berdansa diluar", sahut Aaron Lee.
"Kencan ???", ucap Lee Ryder.
"Tidak perlu memberi hadiah mewah karena yang di inginkan oleh Margot Evans adalah perhatian serta kasih sayang dari ayah dengan tulus", lanjut Aaron Lee.
"Tulus ???", sahut Lee Ryder. "Padanya !?", sambungnya.
Aaron Lee hanya menjawab dengan anggukkan kepala cepat sedangkan Lee Ryder hanya berdiri tertegun.
Lee Ryder hampir tidak percaya jika dia akan mendapatkan sebuah nasehat dari putranya mengenai bagaimana dia seharusnya bersikap pada seorang perempuan terutama terhadap Margot Evans.
Pria tampan itu hanya sanggup menelan ludahnya saat mendengar nasehat putranya.
Berjalan dengan langkah panjang mendekati tempat tidurnya lalu membaringkan tubuhnya sembari menarik selimut.
"Aaron Lee, sekarang sudah larut malam hampir menjelang pagi, kita belum beristirahat dan sebaiknya kita pergi tidur", ucap Lee Ryder.
"Apa ayah malu membahas hubungan ayah dengan Margot Evans ?", tanya Aaron Lee.
"Benar, ayah malu mengakui bahwa ayah sangat mencintai Margot, bukan", kata Aaron Lee.
"Ayah..., malu !?", jawab Lee Ryder.
"Benar...", sahut Aaron Lee.
"Bagaimana bisa kita membahas hubungan dewasa ini !?", gumam Lee Ryder.
"Aku pernah melihat ayah dan Margot Evans kelelahan seperti sehabis berolahraga bersama di dalam kamar Margot", ucap Aaron Lee.
"Uhuk !? Uhuk !? Uhuk !!!", Lee Ryder langsung tersedak.
Terbatuk cukup keras ketika Aaron Lee menceritakan perihal yang dilakukan oleh Lee Ryder bersama Margot Evans di dalam kamar.
"Itu buruk... !?", gumam Lee Ryder kebingungan.
Raut wajah Lee Ryder berubah memerah karena malu saat putranya menangkap basah dirinya tengah bermesraan dengan Margot Evans sedangkan Aaron Lee tanpa berpikir panjang menceritakan hal yang pernah dilihatnya itu secara lugas dan gamblang.
Membuat Lee Ryder panik serta merasa ruang privasinya mulai terusik serta sedikit terancam kenyamanannya di rumahnya sendiri.
Aaron Lee kembali berguling-guling di dalam selimut mendekati ayahnya yang terbaring dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya.
Mendekap Ordo II lalu merapatkan tubuhnya yang mungil disamping ayahnya.
Keduanya sama-sama terbaring di atas tempat tidur dengan selimut menutupi tubuh mereka.
__ADS_1
"Sekarang kita tidur, ya", ucap Lee Ryder.
"Ayah..., kata ayah akan memberiku hadiah... Apa itu ?", kata Aaron Lee.
"Oh, iya, ayah hampir lupa jika ayah akan memberimu hadiah atas keberhasilanmu membuat Ordo II, nak", sahut Lee Ryder.
"Apa hadiah yang akan ayah berikan ?", tanya Aaron Lee.
"Ruangan rahasia, ayah", sahut Lee Ryder.
"Benarkah ???", kata Aaron Lee terperanjat senang.
"Benar, kau boleh menggunakan ruangan rahasia milik ayah di kamar ini selama kamu membutuhkannya", sahut Lee Ryder.
"Sungguh, ayah !!!", ucap Aaron Lee.
"Iya, kau boleh memakainya sesuka hatimu", kata Lee Ryder.
"Hore !!!", pekik Aaron Lee senang.
Aaron Lee lalu beranjak bangun kemudian mendekap tubuh ayahnya erat-erat sambil tertawa riang.
"Terimakasih, ayah !!!", ucap bocah lima tahun itu.
"Iya, iya, ya, nak...", sahut Lee Ryder.
Aaron Lee semakin mengeratkan pelukannya pada ayahnya dengan senyum yang terus mengembang di wajah tampannya sedangkan Lee Ryder tertawa senang sambil menepuk pelan punggung putranya.
Tak lama kemudian keduanya lalu terpejam serta tertidur nyenyak.
Senyum masih menghiasi wajah mereka berdua saat mereka beranjak tidur, raut kebahagian terlihat jelas di wajah Lee Ryder dan putranya, Aaron Lee.
Kebersamaan yang jarang terjadi diantara mereka berdua sejak perpisahan Lee Ryder dan Chaterina, ibu dari Aaron Lee yang menyebabkan kedua ayah dan anak itu tidak pernah menghabiskan waktu mereka bersama-sama.
Hubungan yang dingin dan renggang kini mulai terjalin erat saat kehadiran Margot Evans dalam kehidupan mereka saat ini.
Gadis jelita yang selalu ceria dalam menjalani hidupnya membawa angin segar dalam hubungan antara Lee Ryder dan Aaron Lee yang sempat kaku serta menjauh selama ini.
Lee Ryder yang menenggelamkan dirinya dalam kesibukan sehingga membuat kesan pada dirinya jika dia bersikap tidak peduli pada Aaron Lee, putranya sendiri.
Ditambah lagi dengan Aaron Lee yang menggemari komputer dan teknologi semakin menjauhkan hubungan ayah dan anak diantara mereka.
Suasana di dalam kamar terasa sangat damai serta tenang.
Hanya terdengar suara halus dari hela nafas Lee Ryder dan Aaron Lee saat mereka terlelap tidur di atas ranjang yang luas dan mewah.
Udara malam yang semakin dingin menambah suasana di dalam kamar lebih terasa sejuk hingga membuat keduanya larut dalam mimpi-mimpi mereka di dalam tidur.
Disisi lain dari ruangan kamar milik Lee Ryder dimana ruangan rahasia yang dilengkapi oleh komputer canggih serta serba modern masih terbuka lebar tepat dihadapan ruangan tempat tidur yang terpisah oleh pembatas ruangan berupa dinding yang mampu terbuka dan tertutup secara otomatis.
Terdengar mesin komputer yang masih menyala dari arah ruangan rahasia berbunyi pelan.
Robot kucing bernama Ordo II milik Aaron Lee terlihat berkedip pelan ketika robot itu beranjak duduk.
Sorot kedua mata robot kucing itu menatap ke arah ruangan rahasia yang masih terbuka lebar lalu melompat turun dari atas tempat tidur seraya berjalan ke dalam ruangan rahasia.
__ADS_1
Muncul cahaya terang benderang serta menyilaukan ketika robot kucing bernama Ordo II memasuki ruangan rahasia yang ada di balik dinding kemudian terdengar suara menggelegar pelan lalu suasana kembali menjadi hening.