
Margot Evans berusaha melepaskan genggaman Lee Ryder dari tangannya serta terus-menerus menghindari ciuman pria tampan itu yang agresif.
Menolak tapi tidak mampu menolaknya karena kekuatan Lee Ryder jauh lebih besar dari kekuatan Margot Evans.
"Ehk !?", ucap Margot Evans melengos.
Ketika Lee Ryder memburunya penuh gairah cinta sedangkan Margot Evans mati-matian menghindari rayuan Lee Ryder.
Kecupan demi kecupan terus mendarat di leher serta bagian tubuh lainnya Margot Evans.
Membuat Margot Evans kewalahan saat ingin melepaskan dirinya dari dekapan Lee Ryder.
"Uhk !?", rintih Margot Evans.
Dipalingkannya wajahnya dari arah wajah Lee Ryder saat pria tampan itu hendak mencium bibirnya.
"Margot... Ayolah ! Jangan seperti ini padaku..., bukankah kemarin kau berusaha merayuku saat kita di Cafe Coffee... !?", bisik Lee Ryder.
"Ehk !?", sahut Margot Evans yang kehabisan tenaga.
"Kenapa kau tidak menjawabku ?", bisik Lee Ryder.
Lee Ryder terus memburu Margot Evans dengan penuh cinta yang menggebu-gebu, menyerang gadis bermata indah itu dengan setiap ciuman yang diselingi gigitan-gigitan kecil di setiap tubuh Margot Evans.
Tubuh Margot Evans menggeliat kuat saat Lee Ryder mempermainkan tubuhnya dengan sentuhan-sentuhan mesra.
Membuat Margot Evans menggelinjang hingga keringat mengalir deras di sekujur tubuhnya yang terbuka polos.
"HENTIKAN LEE RYDER !!!", jerit Margot Evans.
Gadis cantik itu hampir kehabisan nafas saat Lee Ryder terus memburunya dengan penuh gairah cinta.
"LEE RYDER !!!", teriak Margot Evans.
"Tidak..., sampai kau merasakan bahwa diriku ada dan merasakan akan hadirnya aku, Margot...", bisik Lee Ryder.
"Tidak Lee Ryder !", sahut Margot Evans.
"Kenapa tidak ? Bukankah perkara ini yang kau inginkan dariku ?", kata Lee Ryder.
"Lain perkara dan lain ceritanya ! Tidak bisa dicampuradukkan sama, Lee Ryder...", jawab Margot Evans.
Tampak Margot Evans tersengal-sengal saat Lee Ryder memandanginya tanpa menghentikan gerakan tangannya pada tiap bagian tubuh gadis bermata indah itu.
Margot Evans melebarkan kedua bola matanya kepada Lee Ryder dengan penuh amarah.
Disentakkan tubuhnya agar jangkauan tangan Lee Ryder menjauh dari dirinya tetapi hal itu tidak menggoyahkan pria tampan itu karena Lee Ryder tetap menyentuh tiap bagian dari dirinya yang terbuka.
"Lepaskan aku !", ucap Margot Evans.
"Kenapa sikapmu sangat berbeda dari kemarin saat kita di cafe ?", tanya Lee Ryder heran.
Margot Evans yang penuh dengan peluh keringat hanya memalingkan wajahnya dari arah pandangan Lee Ryder yang menatapnya.
"Kenapa ?", kata Lee Ryder sambil menarik dagu Margot Evans. "Kenapa kau tidak menjawabnya ?", sambungnya.
"Uhk !?", gumam Margot Evans.
__ADS_1
Lee Ryder menarik dagu Margot Evans agar lebih mendekat ke arah wajahnya lalu mencium mesra bibir gadis cantik itu.
Tanpa disadari Margot Evans larut dalam ciuman mesra Lee Ryder hingga gadis cantik itu kebingungan dengan keadaan dirinya sendiri yang menerima ciuman pria yang telah merebut hatinya.
"Kenapa ?", bisik Lee Ryder seraya mengusap bibir Margot Evans yang merekah merah dengan ujung jari tangannya. "Tidak kau katakan saja kalau kau menginginkanku dalam dirimu, Margot Evans !?"
Keduanya saling berpandangan saat berdekatan.
Senyum membayang di sudut bibir Lee Ryder ketika melihat reaksi dari gadis bermata indah itu saat dia menyentuh bibirnya.
"Kau tidak bisa membohongi hatimu dengan berbagai penolakan karena aku hanya ingin meyakinkanmu bahwa aku akan ada dalam dirimu...", kata Lee Ryder.
"Tapi aku tidak merasakannya...", sahut Margot Evans.
"Apa kau ingin merasakan kehadiranku dalam dirimu ?", tanya Lee Ryder. "Jujurlah, Margot !", sambungnya.
Lee Ryder kembali mencium mesra bibir Margot Evans tapi ciuman ini lebih lama dari ciuman-ciuman sebelumnya.
Menyentakkan tubuhnya ke tubuh Margot Evans hingga mereka saling menempel erat sedangkan gadis bermata indah itu tidak kuasa saat Lee Ryder merapatkan tubuhnya pada tubuh indahnya yang mulus.
Keduanya tetap saling berciuman mesra dan saling berpelukan erat saat tubuh mereka menempel erat.
Dilingkarkannya kedua lengan Margot Evans di leher Lee Ryder saat menikmati ciuman penuh gairah cinta dari pria tampan itu.
Tak terasa keduanya sama-sama tenggelam dalam ciuman-ciuman cinta mereka serta saling menyentuh satu sama lainnya tanpa sadar.
"Ayah... !", suara Aaron Lee terdengar dari arah pintu yang terbuka lebar.
Spontan Margot Evans menghentikan ciumannya lalu terdiam kaku dipelukan Lee Ryder.
Tidak berani menoleh ke arah datangnya suara yang berasal dari Aaron Lee.
Bocah lima tahun itu menggosok-gosok kedua matanya dengan kedua tangannya saat dia berdiri di depan pintu kamar mansion.
"Kenapa kalian saling berkeringat ? Apakah kalian habis berolahraga ???", lanjut Aaron Lee.
Margot Evans semakin merapatkan badannya ke tubuh Lee Ryder tanpa berani menggerakkan badannya saat bocah lima tahun itu terus bertanya pada ayahnya.
Pandangan Lee Ryder teralihkan ke arah Margot Evans yang terlihat pucat pasi ketika mengetahui Aaron Lee memergoki dirinya bersama dengannya dan saling berpelukan erat.
Lee Ryder melirik ke arah Aaron Lee yang masih terdiam berdiri di depan pintu kamar mansion seraya menguap lebar.
"Bisakah kau menunggu kami di luar kamar, Aaron Lee ?", kata Lee Ryder.
"Kenapa ayah ?", sahut Aaron Lee.
"Tidak sopan mengetahui dua orang dewasa di dalam kamar mereka, nak ! Seharusnya kamu segera menunggu diluar kamar, Aaron Lee !?", kata Lee Ryder.
"Aku tidak sengaja, ayah...", sahut Aaron Lee yang kembali menguap.
Kedua mata bocah lima tahun itu masih sepenuhnya terpejam ngantuk tapi dia memaksakan dirinya untuk terjaga.
"Ayah tahu itu kalau kau tidak sengaja tapi ayah meminta padamu supaya kau menunggu kami berdua selesai merapikan pakaian kami, nak", kata Lee Ryder.
Lee Ryder pelan-pelan meraih selimut yang tergeletak di sampingnya kemudian menyelimutkannya ke tubuh Margot Evans yang terbuka polos.
"Tolong patuhi permintaan ayah kali ini, Aaron Lee !", pinta Lee Ryder.
__ADS_1
Lee Ryder mencium sekilas leher Margot Evans sebelum dia melepaskan pelukannya dari tubuh gadis cantik itu.
Bocah lima tahun itu berjalan keluar dari pintu kamar mansion lalu dirinya tak terlihat lagi keberadaannya.
Kesempatan baik itu tidak disia-siakan oleh Margot Evans yang langsung melompat dari arah tempat tidur lalu berlari tergesa-gesa menuju ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar mansion.
BRAK !!!
Pintu kamar mandi tertutup keras saat Margot Evans masuk ke dalamnya.
Lee Ryder hanya mengalihkan pandangannya ke arah kamar mandi yang telah tertutup rapat.
"Apa dia tidak dapat melakukannya secara pelan ?", gumam Lee Ryder.
Pria tampan itu sendiri bergegas merapikan pakaiannya yang berantakan lalu berjalan cepat ke arah pintu kamar mansion.
Lee Ryder menolehkan kepalanya ke arah luar kamar, dilihatnya Aaron Lee sedang berdiri menunggu di pojok luar kamar mansion.
"Maaf..., telah membuatmu menunggu, nak...", ucap Lee Ryder.
Senyum mengembang di wajah Lee Ryder ketika dia melihat putra kandungnya berdiri dengan kedua mata setengah terpejam serta terus-menerus menguap.
"Ayah, aku lapar...", sahut Aaron Lee.
"Lapar ? Apakah bibi Gerenda tidak memberimu sarapan pagi ini, nak ?", kata Lee Ryder.
Lee Ryder mengangkat tubuh kecil Aaron Lee lalu menggendongnya.
"Aku belum melihat sarapanku pagi ini karena aku bangun dengan telgesa-gesa lalu belari mencalimu, ayah...", sahut Aaron Lee.
"Kau masih belum benar melafalkan huruf R, nak", kata Lee Ryder lalu beranjak pergi dari kamar mansion. "Sebaiknya aku datangkan guru khusus bahasa untukmu agar kamu dapat mengucapkan kata-kata tersulit dengan mudah dan lebih baik lagi, Aaron Lee !", sambungnya.
"Ayah, aku merasakan badanku kaku...", kata Aaron Lee.
"Itu karena kau baru saja mengalami hiportemia akut, Aaron Lee", sahut Lee Ryder.
"Apa itu masalah kesehatan, ayah ?", ucap bocah lima tahun itu.
"Ayah sarankan padamu, sebaiknya kamu membuka kembali mesin ajaibmu yang canggih itu agar kau mempelajari cara penyembuhan hiportemia, nak", kata Lee Ryder.
"Kenapa, ayah ?", tanya Aaron Lee.
"Kau akan mengetahuinya sendiri penjelasan tentang hiportemia yang kamu alami beberapa hari yang lalu", sahut Lee Ryder.
"Karena itulah aku melihat obat di atas meja kamarku berderet rapi", kata Aaron Lee.
"Bukan itu alasannya tapi bisa juga dikatakan kau harus meminum obatmu secara teratur, Aaron Lee", ucap Lee Ryder.
''Akan membosankan, ayah...", sahut bocah kecil itu.
"Bagaimanapun juga kau tidak dapat menolaknya, nak", kata Lee Ryder.
"Tapi ayah...", sahut Aaron Lee setengah merengek.
Lee Ryder hanya tertawa mendengar rengekan putra kandungnya yang enggan meminum obat.
Terdengar langkah Lee Ryder yang semakin menjauh pergi menuju ke ruangan lainnya di dalam mansion mewah.
__ADS_1
Hanya bayangan Lee Ryder saat dia menggendong Aaron Lee yang terlihat membayang di atas permukaan lantai mansion lalu menghilang pergi. Dari arah kamar Margot Evans suara gemericik air terdengar keras ke luar kamar yang letaknya di ujung ruangan mansion.