
Aaron Lee membalikkan badannya ke arah suara yang memanggil dirinya saat dia berada di dalam ruangan rahasia milik ayahnya, Lee Ryder.
Kedua mata bocah kecil itu terbelalak lebar karena terkejut, bukan takut ketahuan atau takut akan dimarahi tetapi dia tidak tahu bagaimana cara untuk menjelaskan tentang Ordo II jika ada yang bertanya nanti padanya.
Seorang pria berwajah sangat tampan sedang berdiri tegak di hadapan Aaron Lee tepat di area masuk ke dalam ruangan rahasia.
"Aaron Lee..., sedang apa kau di kamar ayah ?", tanya Lee Ryder.
"Ayah... !?", sahut Aaron Lee.
Cepat-cepat Aaron Lee menyembunyikan Ordo II ke arah belakang.
"Apa yang kau sembunyikan dari ayah ?", tanya Lee Ryder.
Pandangan Lee Ryder langsung mengarah ke arah kedua tangan Aaron Lee yang disembunyikan oleh bocah lima tahun itu ke arah belakang punggungnya.
"Tidak ada...", sahut Aaron Lee.
"Tidak ada !?", kata Lee Ryder.
Lee Ryder memandangi putranya dengan kedua alis terangkat ke atas sedangkan Aaron Lee melangkah mundur berusaha menjauh dari jangkauan ayahnya.
"Tidak ada, ayah", ucapnya sekali lagi
"Tidak ada yang kau sembunyikan dari ayah !? Benarkah !? Tapi kenapa seluruh komputer milik ayah menyala !?", sahut Lee Ryder.
Lee Ryder berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya ke arah depan dada dengan pandangan lurus ke arah Aaron Lee yang terus bergerak mundur.
"Komputer itu menyala sendiri, ayah", jawab Aaron Lee.
"Mana mungkin komputer dapat menyala sendiri jika tidak ada yang menghidupkannya, mereka adalah benda bukan manusia yang hidup", kata Lee Ryder.
Lee Ryder mengedarkan pandangannya ke arah sekitar ruangan rahasia miliknya yang dilengkapi oleh layar monitor komputer lengkap.
Ruangan rahasia milik Lee Ryder seperti bukan sebuah kamar melainkan mirip semacam Laboratorium khusus.
"Ck... ! Ck... ! Ck... !", decak Lee Ryder.
Dipandanginya putranya yang berdiri agak jauh darinya dengan pandangan serius.
"Kau pintar sekali mengelak, tapi ayah akui itu merupakan sebuah keahlian khusus yang tidak mampu dimiliki oleh anak-anak lainnya seusia mu, nak", kata Lee Ryder.
"Aku tidak berbohong, ayah", sahut Aaron Lee.
"Tidak, ayah tidak pernah mengatakan bahwa kau berbohong karena menurut ayah pribadi kalau kau tidak ingin mengakui kalau kau telah menggunakan komputer-komputer ini, Aaron Lee", kata Lee Ryder.
Lee Ryder menyandarkan bahunya ke arah dinding yang terbuka lebar sambil menatap dingin ke arah Aaron Lee.
"Tidak dibenarkan untuk menuduh seseorang berbohong atau berspekulasi atau mungkin bersiasat karena tuduhan bukanlah suatu perbuatan yang pantas dilakukan oleh orang dewasa pada anak-anak", lanjut Lee Ryder.
"Maafkan aku, ayah...", sahut Aaron Lee.
Aaron Lee menundukkan pandangannya dari ayahnya sembari memainkan ujung kedua ibu jari kakinya yang saling bertautan.
"Hhhh... !?", Lee Ryder mendesah pelan. ''Ayah tidak ingin marah atau menghukum mu karena sikapmu yang tidak sepatutnya kau lakukan, Aaron Lee", sambungnya.
"Maaf, ayah", jawab Aaron Lee.
__ADS_1
Bocah lima tahun itu masih menundukkan pandangannya ke arah kedua ibu jari kakinya yang saling menempel.
"Menurut mu apa yang seharusnya ayah lakukan untuk mu sekarang setelah ayah melihat mu masuk ke dalam ruangan rahasia milik ayah", kata Lee Ryder.
Aaron Lee terdiam dan hanya memandang ke arah bawah tanpa menyahut sepatah katapun, ucapan dari ayahnya.
"Aaron Lee...", panggil Lee Ryder.
"Aku tidak tahu, ayah", sahut Aaron Lee.
Kepala bocah lima tahun itu hanya bergerak menggeleng pelan saat ayahnya bertanya pada nya tentang hukuman apa yang seharusnya dia terima.
"Kau tidak tahu !?", kata Lee Ryder.
"Iya, ayah", sahut Aaron Lee.
Cepat-cepat Aaron Lee menganggukkan kepalanya saat dia menjawab pertanyaan dari ayahnya, Lee Ryder.
"Menakjubkan sekali ! Hebat ! Luar biasa !", ucap Lee Ryder hampir tidak percaya.
Lee Ryder lalu melangkah masuk ke dalam ruangan rahasia miliknya.
Langkah kakinya yang panjang terdengar menggema di seluruh ruangan saat dia berjalan kemudian dia berhenti sembari menatap ke arah layar monitor komputer yang masih menyala.
Terdapat gambaran desain rancangan berupa gambar robot berbentuk kucing berwarna hitam yang dilengkapi dengan berbagai keterangan serta ulasannya mengenai detail robot.
"Ordo II !? Kau menamai rancangan mu dengan sebutan Ordo II !?", kata Lee Ryder.
"Iya, ayah... !?", sahut Aaron Lee.
"Kapan kau membuatnya ? Maksud ayah, desain robot berbentuk kucing ini, apa kau yang membuatnya sendiri ?", tanya Lee Ryder.
"Robot berbentuk kucing... Luar biasa..., tapi apa rancangan mu berhasil kau ciptakan ?", sambung Lee Ryder.
"Emm... !?", gumam Aaron Lee.
Tampak Aaron Lee hendak menjawab pertanyaan dari ayahnya tetapi dia ragu karena takut ayahnya akan marah jika tahu dia menggunakan komputer milik ayahnya dengan menggabungkan dua sistem agar beroperasi untuk membuat desain rancangan Ordo II.
"Kenapa kau diam ?", tanya Lee Ryder.
Lee Ryder menatap ke arah Aaron Lee yang masih berdiri tertunduk dengan kedua tangan berada di belakang punggungnya.
"Aaron Lee !? Ada apa ?", tanya Lee Ryder.
Lee Ryder mengerutkan dahinya saat memandangi putranya yang terlihat waspada terhadap dirinya.
"Kau tidak bermaksud mengacaukan sistem di komputer milik ayah, bukan ?", ucap Lee Ryder.
"Tidak, ayah..., aku tidak bermaksud seperti itu, sungguh..., aku tidak melakukannya dengan sengaja...", sahut Aaron Lee.
"Benarkah yang kau katakan itu !?", kata Lee Ryder.
Lee Ryder lalu menunjuk ke arah layar komputer miliknya yang dipenuhi berbagai gambar desain rancangan Ordo II, yang hampir tersebar di seluruh layar monitor.
Senyum kemudian mengembang dari wajah Lee Ryder saat melihat reaksi putranya yang agak ketakutan karena telah menggunakan komputer miliknya tanpa seijin Lee Ryder.
"Ayah tidak jadi memarahi mu karena tidak mungkin ayah marah pada kegeniusan yang dimiliki oleh putra ayah", kata Lee Ryder.
__ADS_1
Aaron Lee langsung mendongakkan wajahnya seraya menatap lurus ke arah Lee Ryder yang tersenyum kepada nya.
"Ayah tidak marah ???", tanya Aaron Lee.
"Tidak, mana pernah ayah marah", sahut Lee Ryder.
"Sungguh ayah tidak marah karena aku telah memakai komputer ayah ???", tanya Aaron Lee.
"Tidak", sahut singkat Lee Ryder.
Aaron Lee tertegun melihat sikap ayah nya yang berbeda dari sebelumnya, sekarang ayahnya jarang sekali terlihat emosi atau kehilangan kesabaran semenjak Margot Evans tinggal bersama mereka.
Bocah lima tahun itu lalu berpikir tentang hubungan antara ayah nya dengan Margot Evans dan dia mulai mencari suatu ide agar mereka berdua lebih intens bersama-sama.
"Ayah, bolehkah aku jujur ?", kata Aaron Lee.
"Jujur !?", ucap Lee Ryder.
Kedua mata Lee Ryder langsung mengerling cepat seraya berkata.
"Silahkan katakan saja apa yang ingin kamu ucapkan secara jujur dan tentu saja ayah akan sangat senang mendengarnya, nak", sahut Lee Ryder.
"Tapi berjanjilah kalau ayah tidak akan pernah memarahiku jika aku berkata jujur pada ayah", ucap Aaron Lee.
"Yah, baiklah... Katakan saja !", kata Lee Ryder.
Lee Ryder lalu memutar tubuhnya tepat berdiri menghadap ke arah Aaron Lee yang masih berdiri dengan kedua tangan terarah ke belakang punggungnya.
"Mm... !?", gumam Aaron Lee.
"Apa !?", sahut Lee Ryder.
Aaron Lee melangkahkan kakinya ke arah Lee Ryder dengan langkah hati-hati saat dia berjalan mendekat.
Bocah kecil itu lalu berhenti tepat dihadapan ayahnya seraya mengulurkan kedua tangannya yang memegang Ordo II.
"Ini ORDO II, robot berbentuk kucing ciptaan ku, ayah !", ucapnya tegas.
Lee Ryder tersentak kaget tetapi dia terharu saat melihat hasil ciptaan robot milik putranya berhasil dibuat dengan sukses.
"Wow !?", ucap Lee Ryder.
"Apa ayah tidak menyukai Ordo II ?", tanya Aaron Lee.
"Tidak, tidak, tidak, nak ! Bukan ayah tidak suka atas hasil kerja keras mu untuk menciptakan Ordo II, justru sebaliknya, ayah bangga padamu, nak !", sahut Lee Ryder.
Senyum merekah di wajah Aaron Lee saat ayahnya memberinya pujian atas keberhasilannya menciptakan robot berbentuk kucing yang dia beri nama dengan Ordo II.
"Ayah suka ? Apakah ayah benar-benar suka ?", tanya Aaron Lee.
"Tentu saja, ayah suka, nak", sahut Lee Ryder.
Lee Ryder lalu berjalan mendekati Aaron Lee seraya mengangkat tubuh mungil bocah lima tahun itu ke dalam gendongannya.
"Kemari lah ! Ayah punya sesuatu untuk mu, Aaron Lee", ucap Lee Ryder.
"Apakah itu, ayah ?", jawab bocah kecil itu.
__ADS_1
"Kau akan mengetahui nya sendiri", sahut Lee Ryder.
Lee Ryder berjalan sambil menggendong putranya menuju ke arah ruangan tempat tidur dengan meninggalkan ruangan rahasia yang berada di balik dinding.