ANAK GENIUSKU

ANAK GENIUSKU
Bab 37


__ADS_3

Mobil bergerak menuju stasiun yang letaknya jauh dari keramaian.


Stasiun khusus milik perusahaan Lee Ryder terlihat lenggang tanpa seorangpun lalu lalang disana.


Mobil terus melaju masuk ke area bangunan stasiun yang berada di dalam area luas penuh pepohonan disekitarnya.


''Kita telah sampai di stasiun, bos'', ucap Jhon.


Sopir pribadi kepercayaan Lee Ryder memarkirkan mobil tepat di depan bangunan stasiun.


Bangunan yang diperuntukkan khusus untuk kereta cepat dilengkapi dengan fasilitas serba modern.


Ada beberapa toko makanan khusus oleh-oleh yang menjual di area bangunan stasiun.


Lee Ryder hanya membuka stasiunnya lewat reservasi khusus melalui e-mail perusahaan karena harga yang dipatok perusahaan Lee Ryder cukup fantastis harganya.


Hampir setara dua milyar untuk sekali reservasi jika ingin menaiki kereta cepat milik perusahaan Lee Ryder.


''Apa yang lainnya telah bersiap-siap ?'', kata Lee Ryder.


''Semua sudah siap, bos. Dan anda tinggal berangkat saja ke Anaheim'', jawab Jhon.


''Tolong kamu hubungi mereka jika aku telah sampai di stasiun agar mereka membawakan barang bawaanku ke kereta !'', kata Lee Ryder.


''Siap, bos !'', sahut Jhon.


Jhon membuka pintu mobil lalu keluar dan segera menghubungi rekan-rekannya.


Lee Ryder hanya menolehkan pandangannya sekilas ke arah luar kaca mobil kemudian menutup telepon selulernya.


Dia berkata sambil membuka sabuk pengaman.


''Aaron Lee turunlah ! Kita telah sampai di stasiun dan mintalah yang lain mengantarmu terlebih dahulu !'', kata Lee Ryder.


''Baik, ayah !'', sahut bocah lima tahun itu.


Aaron Lee segera membuka pintu mobil lalu menoleh ke belakang.


''Ayah...'', ucapnya dengan nada cadel.


''Iya, Aaron Lee. Ada apa ?'', sahut Lee Ryder.


Lee Ryder memandang ke arah putranya yang duduk dikursi depan dan sedang menatapnya.


''Kenapa ayah tidak turun bersamaku ?'', tanya Aaron Lee.


''Ayah masih ada urusan penting karena itu turunlah dulu dan pergilah bersama yang lain !'', sahut Lee Ryder.


Bocah kecil itu lalu menoleh ke arah Margot Evans seraya berucap.


''Ayo, Margot Evans ! Kita turun dulu karena ayah ada urusan penting !''


''Emmm..., iya, baiklah... Ayo kita pergi dari sini, Aaron Lee !'', ucap Margot Evans.


''Iya !'', sahut Aaron Lee ceria.


''Tunggu !'', kata Lee Ryder menyela.

__ADS_1


Semua langsung menoleh ke arah Lee Ryder dengan tatapan serius.


''Tidak untuk Margot Evans !'', kata Lee Ryder sembari memejamkan kedua matanya. ''Karena ayah dan dia masih ada urusan penting, Aaron Lee !'', sambungnya.


''Oh !? Ayah ternyata berurusan dengan Margot !?'', kata Aaron Lee.


Lee Ryder langsung berdehem pelan tanpa melihat ke arah putranya.


''Pergilah, Aaron Lee !'', perintah Lee Ryder.


''Baik, ayah !'', sahut Aaron Lee.


''Dan jangan lupa menekan kunci pintu mobil, Aaron Lee !'', kata Lee Ryder.


''Iya, ayah...'', ucap Aaron Lee polos.


''Cepatlah turun ! Dan segeralah pergi ke stasiun ! Minta Jhon atau yang lainnya mengantarmu, mengerti !'', kata Lee Ryder.


''Iya, ayah'', jawab Aaron Lee.


Aaron Lee membuka pintu mobil untuk turun tanpa lupa melaksanakan perintah ayahnya untuk mengunci seluruh pintu mobil.


KLEK...


Pintu mobil tertutup dari arah luar secara otomatis seluruh pintu mobil terkunci setelah Aaron Lee mengaktifkannya.


''K--kenapa aku tidak boleh turun ?'', tanya Margot Evans.


Gadis cantik itu tampak kebingungan dengan sikap Lee Ryder.


Dia berusaha membuka pintu mobil tetapi tidak berhasil karena pintu terkunci secara otomatis saat Aaron Lee turun.


''Tidak perlu mencemaskannya karena ada anak buahku yang telah berjaga-jaga diluar mobil sekarang'', sahut Lee Ryder.


''Tapi ini tugasku sebagai pengasuhnya ! Mana mungkin aku membiarkan dia pergi tanpa pengawasanku !?'', ucap Margot Evans.


''Dia akan baik-baik saja... Tenanglah !'', kata Lee Ryder.


Lee Ryder terlihat santai duduk di kursi jok penumpang seraya mengeluarkan minuman dari kotak yang tersedia didalam mobil.


'''Aku dibayar olehmu untuk menjadi pengasuh Aaron Lee lalu kenapa kamu melarangku bersama dengannya ?'', kata Margot Evans.


Raut wajah Margot Evans mulai berubah cemas saat dia melihat sikap Lee Ryder yang santai dengan menikmati segelas minuman ditangannya.


''Oh, tidak !?'', gumam Margot Evans kalut.


Margot Evans merasakan tanda-tanda bahaya yang sengaja dikirim oleh Lee Ryder dengan sikapnya yang lain dan sedikit santai dari biasanya.


''Apa kamu masih mengingat saat kita di Toko Gangjeong ?'', kata Lee Ryder.


''Kenapa ?'', tanya Margot Evans.


Gadis berparas cantik itu memalingkan wajahnya ke arah Lee Ryder.


Dia menatap Lee Ryder dengan tatapan penuh tanda tanya.


''Aku ingin sekembalinya kita dari Anaheim, kita pergi kesana lagi..., ke Toko Gangjeong...'', sahut Lee Ryder.

__ADS_1


Pria tampan itu meluruskan kakinya sambil meminum segelas minuman dingin.


''Ke Toko Gangjeong ?'', kata Margot Evans terkejut.


''Iya, kenapa ?'', sahut Lee Ryder.


''Untuk apa ? Apa kamu ingin kita mengajak Aaron Lee kesana ?'', tanya Margot Evans.


''Tidak... Aku tidak berencana mengajak siapapun ke Toko Gangjeong karena aku ingin pergi kesana hanya berdua denganmu saja...'', sahut Lee Ryder.


''Berdua ?'', kata Margot Evans.


''Iya, hanya kita berdua saja. Kamu dan aku pergi ke Toko Gangjeong lagi !", jawab Lee Ryder.


"Aku merasa senang jika kita pergi kesana dengan mengajak Aaron Lee bersama kita", kata Margot Evans.


"Aku tidak menginginkannya...", jawab Lee Ryder.


Lee Ryder memutar gelas berisi minuman ringan ditangannya pelan.


Tatapan Lee Ryder tertuju serius ke arah gelas minuman yang ada ditangannya sembari terdiam.


"Kenapa ? Bukankah kita telah berjanji kepada pemilik Toko Gangjeong untuk mengajak Aaron Lee pergi kesana !?", kata Margot Evans.


Lee Ryder tidak menyahut ucapan Margot Evans dan hanya diam seraya menatap gelas ditangannya.


"Kenapa diam ? Dan tidak menjawab perkataanku ? Kau sakit ?", tanya Margot Evans.


Lee Ryder tetap bungkam dengan pandangan tertuju ke arah gelas minumannya.


"Tidak menjawab berarti kamu setuju dengan pendapatku", ucap Margot Evans.


"Tidak..., aku tidak setuju dengan ucapanmu karena aku tetap menginginkan kita kesana, ke Toko Gangjeong...", sahut Lee Ryder.


"Dengan Aaron Lee !", ucap gadis cantik itu.


"Tidak !", sahut Lee Ryder. "Hanya ada kita berdua saja...", sambungnya pelan.


Giliran Margot Evans yang terdiam seraya menatap Lee Ryder yang duduk disebelahnya.


"Aku sedang tidak berminat berdebat denganmu karena aku merasa lelah hari ini", lanjut Lee Ryder.


Margot Evans hanya diam sembari memalingkan pandangannya dari Lee Ryder yang terlihat tidak bersemangat.


Lee Ryder menghela nafasnya lalu meletakkan gelas minumannya di tempat khusus yang tersedia didalam mobil.


"Hufhhh... Kau tahu Margot...", kata Lee Ryder kemudian.


Margot Evans tetap diam dengan kepala agak tertunduk ke bawah.


"Aku ingin kita bernostalgia layaknya sepasang kekasih yang saling cinta, Margot Evans", kata Lee Ryder.


Lee Ryder kembali menghela nafasnya lalu berkata.


"Aku sangat menginginkanmu bahkan aku tidak sabar untuk menikahimu karena aku tidak sanggup menahan perasaanku padamu", kata Lee Ryder.


"Tapi aku belum bisa menerimanya...", sahut Margot Evans.

__ADS_1


Suasana mendadak sunyi saat mereka berdua saling terdiam di dalam mobil tanpa ada kata ataupun ucapan debat yang biasanya mereka lakukan.


Margot Evans mengalihkan pandangannya ke arah kaca mobil sedangkan Lee Ryder hanya diam terduduk tanpa berkata-kata lagi.


__ADS_2