
Kucing ku Ordo II
Aaron Lee berlari kecil menuju ke arah tabung berukuran besar serta panjang yang terdapat robot Ordo II berbentuk kucing.
Robot itu masih belum sempurna karena tidak berwarna dan masih terlihat badannya yang terbuat dari bahan metal khusus.
Wajah Aaron Lee berseri-seri riang saat bocah kecil itu menghampiri maha karyanya berupa robot.
Melompat kegirangan ketika hasil rancangannya yang berupa robot dapat divisualisasikan dalam wujud nyata.
"Hebat ! Ini sangat hebat !", ucapnya berseru senang.
Berjingkrak kesenangan saat robot ciptaannya terwujud.
"Komputer milik ayah ternyata lebih canggih dan mampu membuat robot", katanya lagi penuh riang.
Aaron Lee mendekatkan wajahnya ke arah kucing yang berdiri di dalam tabung besar yang terbuka tutupnya.
Diamatinya kucing robot itu dengan teliti serta berkali-kali dia memutari robot itu.
"Bentuknya sudah sempurna tapi masih terlihat kaku seperti robot, belum ada sentuhan akhir seperti pewarnaan pada badan robot ini", ucapnya sambil berpikir.
Aaron Lee berdiri tegak seraya memusatkan pikirannya terhadap robot miliknya yang penampilannya masih belum sempurna sesuai yang dia inginkan.
"Bagaimana caranya agar robot ini seperti aslinya ? Tidak berwujud robot lagi tetapi berbentuk kucing pada umumnya !?", ucapnya.
Bocah lima tahun itu lalu mengedarkan pandangannya ke arah sekitar ruangan rahasia, tempatnya menciptakan robot Ordo II melalui komputer canggih milik ayahnya, Lee Ryder.
Pandangannya terhenti pada layar monitor yang hampir tersebar di seluruh ruangan, menyala dengan gambar-gambar penuh desain rancangannya yaitu Ordo II.
"Ternyata seluruh layar monitor pada komputer ini menyala dengan menampilkan gambar rancangan Ordo II ciptaan ku", ucap bocah kecil itu terkagum-kagum.
Tubuhnya yang kecil berlarian kecil mengelilingi area ruangan rahasia sembari berteriak sekencang-kencangnya.
"AAAAAAAAAA... !!!!"
Suaranya terdengar kencang sekali saat dia berlarian mengitari ruangan dengan kedua tangan terbentang lebar.
"AKU PENEMU !!! AKU SEORANG PENEMU !!!", ujarnya sambil tersenyum senang.
Aaron Lee bergerak layaknya pesawat terbang yang melayang meliuk-liuk di udara sambil tertawa keras.
BIP... ! BIP... ! BIP... !
Suara dari arah komputer berbunyi kembali disertai oleh suara orang berbicara.
"SELAMAT ATAS KARYANYA YANG BERHASIL TERWUJUD ! SILAHKAN LAKUKAN LANGKAH SELANJUTNYA UNTUK MENYEMPURNAKAN SISTEM ORDO II AGAR SEGERA AKTIF DAN BEKERJA CEPAT !"
Perintah kembali terdengar dari arah mesin komputer, memberitahukan kepada Aaron Lee mengenai informasi khusus tentang langkah yang harus dia selesaikan untuk membuat hasil rancangannya berupa Sistem Ordo II yaitu robot berbentuk kucing segera disempurnakan supaya dapat diaktifkan.
Aaron Lee menghentikan laju gerakan tubuhnya yang meliuk-liuk bagaikan pesawat terbang.
Berdiri termenung di tengah-tengah ruangan rahasia milik ayahnya, Lee Ryder.
__ADS_1
Terdiam sambil memperhatikan tulisan yang tertera jelas pada layar monitor komputer yang menyala.
"Langkah akhir !?", ucapnya bergumam.
Aaron Lee melangkah lebih dekat ke arah meja komputer di depannya lalu kembali duduk di atas kursi.
Pada saat dia duduk di kursi komputer, langsung kursi itu meluncur cepat ke arah atas kemudian berhenti tepat di depan papan keyboard komputer.
Bocah lima tahun itu mulai mengotak-atik tombol-tombol yang ada dihadapannya.
Gerakan jari-jemari tangannya terlihat lincah di atas tuts keyboard saat mencoba mengoperasikan sistem Ordo II pada layar agar tersambung cepat ke arah robot yang telah tercipta.
Memasukkan program sistem Ordo II dengan menggabungkannya pada sistem komputer milik ayahnya.
TEK... ! TEK... ! TEK... !
Bunyi tuts komputer terdengar keras saat Aaron Lee menekannya.
"SISTEM ORDO II MULAI TERPROGRAM !"
Muncul berbagai deretan angka serta ribuan kata pada layar yang bergerak cepat, menandakan program mulai bekerja aktif.
Aaron Lee memperhatikan ke arah layar komputer yang bekerja saat program penyelesaian sistem Ordo II diaplikasikan menjadi satu gabungan sistem.
Bocah kecil itu menyandarkan tangannya ke atas bahu kursi saat dia memperhatikan program bekerja.
KLEK ! KLEK ! KLEK !
Terdengar suara dari arah robot yang masih berada di dalam tabung besar.
Kepala robot kucing itu bergerak ke arah samping kanan dan kiri secara bergantian sedangkan kedua mata kucing robot terbuka lebar serta berwarna merah menyala-nyala.
Kedua bola mata kucing robot berputar cepat saat program pengaktifan sistem Ordo II dimasukkan ke dalam tubuh kucing robot.
Aaron Lee terkesiap saat melihat ke arah tabung yang terbuka, didalamnya terdapat robot kucing hasil ciptaannya sedang bergerak-gerak dengan sendirinya.
"SILAHKAN MEMILIH WARNA KULIT SERTA BENTUK BULU RAMBUT PADA KUCING ROBOT ! SEGERA APLIKASIKAN PROGRAM "HIDUP" !!!"
Aaron Lee mengalihkan pandangannya ke arah layar komputer disampingnya saat terdengar suara perintah berupa petunjuk program.
"Memilih warna kucing !? Ternyata hasil gabungan program antara sistem Ordo II dengan sistem komputer milik ayah dapat bekerja sehebat ini !?", ucap Aaron Lee.
Bocah kecil itu menepukkan kedua tangannya saat hendak mencoba memilih warna untuk kucing robotnya.
Diacaknya kolom pada layar yang menampilkan berbagai pilihan kolom warna, ada ribuan pilihan warna yang dapat di campur sesuai keinginan.
"Aku akan mencampurkan tiga warna primer yang ada, yaitu warna merah, kuning dan biru agar tercipta hasil warna hitam pekat", ucap Aaron Lee.
Aaron Lee mulai menggerakkan mouse di tangannya lalu memilih kolom warna primer yaitu warna merah, kuning dan warna biru.
Menarik ketiga kolom warna menjadi satu padu hingga menghasilkan warna hitam pekat sesuai warna yang diinginkan oleh bocah lima tahun itu.
Untuk warna hitam pekat sengaja dia pilih sebagai warna utama kucing robotnya karena dia sangat menggemari warna tersebut.
__ADS_1
Hampir koleksi pakaiannya yang tersimpan di dalam lemari sebagian berwarna hitam.
Aaron Lee segera menerapkan warna hitam ke dalam gambar desain rancangannya yang bergerak memutar pada layar komputer.
Desain gambar robot berbentuk kucing telah berhasil diwarnai oleh Aaron Lee sebagai sentuhan akhir rancangannya agar tampilan robotnya semakin bertambah sempurna ketika robot bekerja nantinya.
"Gambar desain rancangan robot Ordo II ku telah aku selesaikan tinggal menunggu hasilnya pada wujud robot yang sebenarnya", ucap Aaron Lee.
Aaron Lee menggeser mouse di tangannya sembari menyentuhkan kursor panah ke arah gambar robot kucing ciptaannya.
Lima detik kemudian, program bekerja cepat pada tangan-tangan robot yang berada disisi-sisi tabung besar saat pemberian warna pada robot kucing.
Tak butuh waktu lama, robot kucing milik Aaron Lee berubah penampilannya menjadi berwarna hitam seperti wujud asli seekor kucing yang sesungguhnya.
"Meooong... !", suara kucing terdengar dari arah robot.
Aaron Lee bersorak riang lalu dia segera turun dari kursi komputer menuju ke arah tabung besar yang terdapat robot kucing miliknya.
Berlarian kecil dengan senyum lebar, menghampiri tabung berukuran besar sembari bersorak gembira.
"Yuhuiii... !!! Robot ku berhasil aku buat !!!!", ucapnya sambil memutar tubuhnya bagaikan gerakan pesawat terbang.
"Selamat malam tuan...", ucap suara robot kucing menyapa Aaron Lee.
Aaron Lee langsung menghentikan gerakan tubuhnya yang berputar-putar kemudian menghadap ke arah kucing robot hasil karyanya yang pertama kalinya dia ciptakan dan berhasil.
"Kau menyapaku ?", tanya Aaron Lee tertegun.
"Selamat malam, tuan ! Kata-kata anda merupakan perintah bagi kami, tuan !", sahut kucing robot itu.
"Kau bisa berbicara ???", tanya Aaron Lee termenung.
"Salam kenal dari Ordo II, terimakasih telah mengaktifkan sistem untuk ku, tuan", sahut kucing robot.
Kucing robot itu mengenalkan dirinya dengan menamai dirinya sendiri "ORDO II".
Aaron Lee tidak percaya jika robot kucingnya dapat beroperasi cepat serta canggih dan mampu berbicara layaknya manusia.
"Apa aku sedang bermimpi ???", tanyanya lagi.
Bocah kecil itu menepuk kedua pipinya dengan pelan berupaya agar dirinya tetap tersadar.
Aaron Lee berjalan menghampiri robot kucing di dalam tabung besar kemudian mengeluarkannya dengan kedua tangannya.
Robot kucing berwarna hitam itu menggeliat pelan saat Aaron Lee menggendongnya dalam pelukan tangannya.
Ordo II bergerak layaknya seekor kucing hidup yang sebenarnya bahkan dapat mengeong seperti hewan kucing.
Aaron Lee mengusap tubuh robot kucingnya yang bernama Ordo II dengan telapak tangannya, dia merasakan kulit robotnya seperti kulit kucing, halus serta lembut.
Tap... ! Tap... ! Tap... !
Terdengar suara langkah kaki dari arah luar ruangan rahasia yang bergerak mendekat.
__ADS_1
"Aaron Lee ! Apa yang kamu lakukan disini ?", ucap seseorang.
Suara seseorang terdengar sedang bertanya pada Aaron Lee dari arah luar, saat bocah kecil itu sedang berada di dalam ruangan rahasia milik ayahnya yang terdapat di dalam kamar tidur Lee Ryder.