
Sistem Ordo II...
Aaron Lee duduk di depan meja belajarnya yang terdapat sebuah laptop warna biru bergambar robot.
Bocah kecil lima tahun itu tengah sibuk mengotak-atik keyboard laptop serta mouse saat dia menggerakkannya pada layar laptop.
Gambar sistem berupa hewan berbentuk kucing warna hitam tergambar jelas polanya pada layar laptop saat Aaron Lee menggambarnya dengan mouse yang dia gerakkan.
KRIET...
Pintu kamar terbuka, muncul Margot Evans yang mengintip dari balik pintu kamar seraya berkata pada bocah lima tahun itu.
"Aaron Lee, apakah kau sibuk ?", tanyanya.
"Tidak, aku tidak sibuk Margot Evans, masuklah !", sahut Aaron Lee.
"Benarkah ? Apa aku tidak menggangu mu jika aku masuk sekarang ?", kata Margot Evans.
Aaron Lee memutar kursi belajarnya agar menghadap ke arah Margot Evans yang berdiri di balik pintu kamar sembari memperhatikan ke arah sekitar ruangan.
"Silahkan masuk, tidak ada hal penting yang menggangu ku", ucap Aaron Lee.
"Em..., baiklah..., aku akan segera masuk ke dalam kamar tapi tolong bantu aku untuk membuka pintu ini lebih lebar", kata Margot Evans.
"Tunggu sebentar", sahut bocah kecil itu.
Aaron Lee melompat turun dari atas kursinya lalu berlarian kecil ke arah pintu kamar, membantu Margot Evans membuka pintu agar gadis muda itu bisa masuk ke dalam ruangan dengan leluasa.
KREK... !
Bunyi pintu terbuka lebar saat Margot Evans memasuki kamar tidur.
Berjalan cepat menuju ke arah meja belajar Aaron Lee sambil berkata pada bocah kecil itu.
"Apa pintu kamar perlu diperbaiki sepertinya sedikit berat saat dibuka tadi sampai terdengar bunyi aneh !?", ucapnya seraya meletakkan baki berisi makanan serta minuman.
"Aku akan memberitahukan kepada ayah tentang pintu kamar ini, mungkin perlu diperbaiki sedikit agar bisa terbuka dengan mudah", sahut Aaron Lee.
"Benar, aku pikir juga sama seperti jalan pikiran mu, sebaiknya kita memberitahukan kepada ayah mu tentang macetnya pintu kamar mu", kata Margot Evans.
"Hmm..., iya, aku akan segera memberitahukannya kepada ayah", sambung Aaron Lee.
Aaron Lee lalu menutup pintu kamarnya sedangkan Margot Evans sibuk memperhatikan ke arah layar laptop di hadapannya.
"Kau sedang membuat rancangan apa ?", tanya Margot Evans.
__ADS_1
"Oh, aku sedang menciptakan sebuah sistem Ordo II berupa seekor kucing", sahut Aaron Lee.
"Sistem !?", tanya Margot Evans tersentak kaget.
"Ya, sistem itu akan bekerja layaknya robot yang berbentuk kucing yang dapat bergerak serta dapat berbicara seperti yang kita inginkan", sahut Aaron Lee.
"Kucing berbicara, katamu ?", kata Margot Evans mengulang pertanyaannya.
"Masih belum sempurna sistem yang aku buat itu karena perlu tahapan proses lagi untuk melanjutkannya, memang agak rumit serta memerlukan waktu untuk menyelesaikan sistem Ordo II", sahut Aaron Lee.
"Untuk apa kau menciptakan sistem Ordo II itu, bukankah kamu bisa menggunakan kartu-kartu bank ayahmu untuk membeli apa saja yang kamu inginkan tanpa bersusah-susah menciptakan sebuah sistem", kata Margot Evans.
"Perusahaan perlu adanya inovasi teknologi terbaru dan tercanggih agar mendukung perkembangan perusahaan lebih maju lagi karena kita butuh sesuatu yang inovatif untuk mencari peningkatan kualitas kerja perusahaan", sahut Aaron Lee.
Margot Evans tercengang saat mendengar ucapan Aaron Lee yang begitu terangnya saat dia menjelaskan tentang misi serta visi perusahaan milik Lee Ryder di masa depan nanti.
Tak terasa kedua tangan Margot Evans bergetar hebat, merasa bahwa anak kecil yang ada dihadapannya bukan lah anak kecil biasa tapi bocah genius yang luar biasa cerdasnya.
"Bagaimana bisa dia mengatakan hal yang seharusnya dikatakan oleh orang dewasa sedangkan dia masih kecil dan masih berusia lima tahun", kata Margot Evans.
Keringat dingin mengucur deras dari kening Margot Evans seraya berpegangan erat pada bahu kursi belajar milik Aaron Lee.
"Apa yang kau bawa, Margot ?", tanya bocah lima tahun itu.
Aaron Lee melirikkan matanya ke arah meja yang diatasnya terdapat dua minuman ringan serta makanan berupa hamburger keju, kesukaannya.
"Apa kau yang memasaknya sendiri makanan ini", tanya Aaron Lee.
"Ehk !?", gumam gadis cantik itu seraya menoleh ke arah meja belajar di dekatnya.
Kedua alisnya terangkat ke atas saat dia melihat ke arah hamburger serta minuman yang ditunjuk oleh Aaron Lee.
"Be-benar, aku sendiri yang memasaknya karena aku teringat akan hamburger kegemaran mu maka aku berinisiatif untuk membuatnya", sahut Margot Evans.
"Boleh sekarang aku mencobanya, aku sudah sangat lapar sejak tadi meski telah sarapan pagi", ucap Aaron Lee.
"Silahkan, tentu boleh saja, kita cicipi saja sekarang, bagaimana ?", sahut Margot Evans.
"Tapi aku lebih suka donat kentang daripada hamburger isi, terlalu berlemak sedangkan aku harus menjaga pola makan ku agar sehat serta seimbang", ucap Aaron Lee.
"Apa kau sedang diet ketat ?", kata Margot Evans.
"Tidak, aku tidak berdiet apapun, hanya menjaga pola makan ku agar lebih bergizi dan sehat untuk menjaga stabilitas otak di kepala ku tetap terjaga", jawab bocah lima tahun itu.
"Em, iya... !?", gumam Margot Evans.
__ADS_1
Margot Evans dengan tergesa-gesa mengambil hamburger isi dari atas baki lalu dia berikan kepada Aaron Lee agar anak genius itu segera memakannya.
Tak lupa dia membagi dua minuman ringan kepada Aaron Lee.
Aaron Lee menarik kursi belajarnya agar dia dapat duduk kembali saat Margot Evans membagi makanan serta minuman ringan kepadanya.
Dua minuman soda ringan rasa fanta dan Orange dingin hasil olahan Margot Evans untuk menemani acara santai mereka di kamar, dia sengaja membuatnya untuk Aaron Lee dan dirinya karena dia melihat bocah lima tahun itu sangat sibuk sejak tadi pagi hingga dia belum keluar-keluar dari dalam kamarnya.
"Apa kau butuh bantuan ku ?", kata Margot Evans.
"Bantuan apa ?", tanya Aaron Lee.
"Yah, mungkin saja untuk menyelesaikan sistem Ordo II yang kau rancang itu", sahut Margot Evans.
Margot Evans duduk tak jauh dari meja belajar Aaron Lee sembari mengunyah Hamburger isi di tangannya.
"Tinggal sedikit lagi untuk menyempurnakannya, tidak ada yang perlu ditambahkan dengan yang lainnya", kata Aaron Lee.
"Em..., kau sangat suka dengan komputer atau laptop, ya ? Kenapa kau sangat menggemari hal-hal berbau teknologi bukan nya bermain seperti teman-teman mu ?", tanya Margot Evans.
"Sejak kecil, ayah telah membiasakan ku dengan komputer saat dia berangkat bekerja agar aku tidak merasa kesepian karena dia tahu bahwa ayah tidak dapat menemaniku di rumah dan harus mencari uang untuk ku", sahut Aaron Lee.
"Tapi diam saja di depan komputer itu juga tidaklah baik bagi anak seusia mu karena kamu butuh teman agar kau bisa berinteraksi dengan teman-teman sebaya mu", ucap Margot Evans.
"Em... !?", gumam Aaron Lee.
Bocah lima tahun itu hanya menundukkan kepalanya ke bawah tanpa menjawab ucapan Margot Evans.
Kata-kata Margot Evans tampaknya menyentuh hati Aaron Lee yang merasakan hidupnya diperhatikan oleh seseorang.
"Bagaimana kalau kita sering berjalan-jalan setelah kamu berhasil menyelesaikan sistem Ordo II ini, kita ajak dia sekalian saat bersantai nanti", ucap Margot Evans.
Kedua mata Aaron Lee langsung berbinar-binar cerah, seakan-akan dia menyetujui rencana Margot Evans agar dia seringkali meluangkan waktunya untuk bermain di luar agar dia tidak selalu terkungkung di dalam ruangan kamarnya seorang diri.
"Ya ! Aku mau !", seru Aaron Lee senang.
"Baiklah, mari kita membuat kesepakatan untuk menepati janji kita nanti", sahut Margot Evans.
Gadis cantik itu mengangkat salah satu tangannya sambil tersenyum sedangkan Aaron Lee ikut melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Margot Evans.
"Mari kita berjanji !", kata Margot Evans.
Margot Evans menepuk tangannya ke arah tangan kecil Aaron Lee.
"Yah ! Mari kita berjanji !!!", sahut Aaron Lee ceria.
__ADS_1
Bocah lima tahun itu langsung merespon kembali dan melakukan hal yang sama dengan Margot Evans sembari menepuk-nepuk telapak tangan mereka secara berulang-ulang.
Keduanya sama-sama saling tersenyum dan kembali melanjutkan acara mereka bersantai menikmati minuman ringan yang ada ditangan mereka masing-masing.