
Tiga hari berlalu...
Margot Evans mulai terlihat sehat kembali dan beraktivitas.
Perawat terakhir kalinya bertemu dengannya hari ini, karena dia harus menberikan obat terakhir untuk Margot Evans.
Pintu kamar terbuka lebar, masuk Lee Ryder bersama Bibi Gerenda ke dalam kamar mansion tempat dia menginap di Anaheim.
''Pagi, Margot...'', sapa Lee Ryder.
Pria tampan itu mencium sekilas ujung kepala Margot Evans lalu berdiri menjauh darinya.
''Silahkan Bibi Gerenda membantunya bersiap-siap pagi ini'', kata Lee Ryder.
''Baik, tuan'', sahut Bibi Gerenda.
''Ada apa ?'', tanya Margot Evans bingung.
Bibi Gerenda mendekat ke arahnya seraya tersenyum lalu menyerahkan sebuah gaun baru kepada Margot Evans untuk berganti pakaian pagi ini.
Ekspresi wajah Margot Evans langsung tersentak kaget.
''Tu--tunggu ! Kenapa aku harus mengganti pakaianku lagi ? Aku baru selesai mandi dan mengganti pakaianku !?'', kata Margot Evans.
Margot Evans terheran-heran saat melihat Bibi Gerenda mengikat rambutnya ke atas lalu menggelungnya.
''Dokter Esteban Vizcarra akan datang kemari untuk memeriksa anda di hari terakhir anda sembuh, nona Margot'', sahut Bibi Gerenda.
''Dokter Esteban Vizcarra akan datang ?'', kata Margot Evans.
Margot Evans berkata sambil melirik ke arah Lee Ryder yang berdiri bersandar di dinding kamar mansion.
Menatap Margot Evans dengan sorot mata teduh sembari tersenyum.
''Apa !?'', ucap Margot Evans memberi tanda isyarat kepada Lee Ryder.
Kedua mata indah Margot Evans terbelalak lebar ketika dia memandangi Lee Ryder yang hanya tersenyum simpul.
''Apa anda akan mengganti pakaian anda sendiri, nona Margot Evans ?'', kata Bibi Gerenda.
Margot Evans langsung mengalihkan pandangannya ke arah Bibi Gerenda dengan kedua tangan terangkat ke arah samping kanan dan kiri.
''Kenapa aku harus berganti pakaian hanya sekedar menyambut dokter Esteban Vizcarra !?'', kata Margot Evans tidak mengerti.
''Bukan untuk menyambut dokter Esteban Vizcarra tetapi tuan Lee Ryder hendak mengajak anda jalan-jalan ke luar mansion hari ini, nona Margot'', sahut Bibi Gerenda.
''Oh !? Apa !?'', kata Margot Evans kaget.
Diliriknya kembali Lee Ryder yang hanya tersenyum tipis tanpa memberinya penjelasan apapun.
''Bagaimana anda akan berganti pakaian sekarang, nona Margot ?'', tanya Bibi Gerenda lagi.
''Astaga...'', sahut Margot Evans.
Gadis cantik dengan bola mata indah itu hanya menghela nafas panjang kemudian berkata kepada wanita di depannya.
''Biarkan aku yang berganti pakaian ke kamar mandi..., aku sudah merasa baikan, Bibi Gerenda !'', kata Margot Evans.
Margot Evans lalu berdiri seraya melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi tiba-tiba Lee Ryder mencegahnya.
__ADS_1
''Langsung saja mengganti pakaian disini ! Biarkan Bibi Gerenda membantumu, Margot !'', ucap Lee Ryder.
''Apa maksudmu !?'', jawab Margot Evans terkejut heran.
''Bibi Gerenda, tolong bantu dia melepaskan pakaiannya ! Karena sebentar lagi dokter Esteban Vizcarra segera datang !", ucap Lee Ryder.
"Baik, tuan Lee Ryder", sahut Bibi Gerenda.
Bibi Gerenda melangkah cepat-cepat ke arah Margot Evans lalu melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Margot Evans.
"A--apa-apaan ini ???", kata Margot Evans.
Wajah Margot Evans berubah merah padam serta kebingungan dengan perlakuan Bibi Gerenda kepadanya.
Tidak dapat menolak ataupun memberontak karena kekuatan tubuh Margot Evans masih belum pulih sepenuhnya sedangkan bekas infus masih membekas lekat di tangannya, meninggalkan rasa perih.
Margot Evans hanya bisa pasrah menerima perlakuan Bibi Gerenda yang melepaskan pakaian yang Margot Evans kenakan ke atas lantai kamar.
Semua berada dalam pengamatan Lee Ryder yang diam menyaksikan Bibi Gerenda menanggalkan pakaian Margot Evans lalu menggantinya dengan gaun baru pemberian Lee Ryder.
"Anda sangat cantik dalam balutan gaun peach ini, nona Margot ! Sangat sesuai dengan warna kulit anda yang putih bersih... Cantik sekali...", puji Bibi Gerenda.
Bibi Gerenda berjalan memutari tubuh Margot Evans dengan tatapan terkagum-kagum saat melihat Margot Evans mengenakan gaun baru warna peach.
"Aku hampir lupa untuk menata rambut anda, nona Margot !", ucap Bibi Gerenda cepat.
Bibi Gerenda menghampiri Margot Evans lalu meminta gadis muda itu untuk duduk di atas tempat tidur agar dia dapat menata rambut Margot Evans.
"Apa masih perlu menata rambut ? Sebenarnya akan pergi kemana sedangkan sebentar lagi dokter Esteban Vizcarra akan datang memeriksaku ?", kata Margot Evans.
Margot Evans berkata setengah mengeluh karena harus tampak rapi serta cantik pagi ini, baginya hal merias diri bukanlah suatu kebiasannya sehari-hari.
Bibi Gerenda mengeriting rambut Margot Evans agar bergelombang tergerai indah lalu menghiasnya dengan jepitan rambut dari mutiara.
Merias wajah Margot Evans dengan make-up agar penampilannya lebih segar.
"Bagaimana tuan Lee Ryder hasil pekerjaan saya pagi ini ?", kata Bibi Gerenda.
Bibi Gerenda memutar badan Margot Evans menghadap ke arah Lee Ryder yang sedang bersandar di dinding ruangan kamar mansion.
Lee Ryder agak terhenyak kaget saat Bibi Gerenda meminta pendapatnya tentang penampilan Margot Evans.
"Mengapa anda tidak merespon pertanyaan saya, tuan Lee Ryder ?", ucap Bibi Gerenda.
"Apa !? Ehk, maaf... !?", sahut Lee Ryder gugup.
"Anda tidak memuji nona Margot Evans yang telah bersusah-susah menghias dirinya ?", kata Bibi Gerenda.
Kedua alis Bibi Gerenda terangkat ke atas lalu tersenyum kepada Lee Ryder yang terlihat kikuk.
"Tidak usah bersikap sekikuk itu, tuan Lee Ryder..., anda hanya mengatakan saja pujian untuk nona Margot Evans...", ucap Bibi Gerenda.
"Oh, iya !? Dia sangat cantik sekali ! Terimakasih atas bantuannya mengubah penampilan, Margot", sahut Lee Ryder.
Dada Lee Ryder tiba-tiba berdesir kencang saat melihat penampilan Margot Evans yang tampak cantik sekali dengan balutan gaun warna peach, sangat cocok untuk gadis itu.
Lee Ryder tersenyum simpul lalu berjalan menghampiri Margot Evans yang masih duduk di atas tempat tidur.
"Baiklah, saya mohon pamit keluar karena saya masih harus mengurus Aaron Lee yang belum bangun dari tidurnya", kata Bibi Gerenda.
__ADS_1
Tampak Bibi Gerenda tersenyum ketika dia menjelaskan perihal Aaron Lee kepada Lee Ryder lalu segera pergi dari kamar mansion menuju ke kamar Aaron Lee yang letaknya di sebelah kamar Margot Evans.
Suasana kamar mansion kembali tenang saat Bibi Gerenda pergi, meninggalkan Margot Evans serta Lee Ryder hanya berdua saja di dalam kamar.
Lee Ryder berdehem pelan dengan wajah teetunduk kemudian menoleh ke arah Margot Evans yang duduk di atas tempat tidur.
"Ehem... Ehem... !? Apa kau suka dengan gaun baru itu, Margot ?", tanya Lee Ryder.
"Yah, aku suka sekali dan terimakasih atas hadiah ini", sahut Margot Evans.
Pandangan Margot Evans teralihkan ke arah lain dengan wajah merah padam.
"Kenapa ? Kau malu ?", ucap Lee Ryder.
Margot Evans tidak menjawab dan hanya duduk terdiam sambil memalingkan wajahnya ke arah lainnya.
"Kenapa kau tidak melihatku ?", tanya Lee Ryder.
Margot Evans masih tetap terdiam tanpa menjawab ucapan Lee Ryder.
"Margot..., kau marah ?", bisik lembut Lee Ryder.
Lee Ryder lalu duduk di samping Margot Evans seraya melingkarkan kedua tangannya ke pinggang gadis cantik itu.
Didekatkannya dagu Lee Ryder di atas bahu Margot Evans kemudian dipeluknya erat-erat tubuh Margot Evans dengan sesekali mencium bahu Margot Evans yang terbuka saat dia berada dipelukannya.
"Seharusnya kau tidak menunjukkan wajah cemberut seperti itu, nona muda ! Karena akan tidak enak jika dilihat oleh dokter Esteban Vizcarra dan perawat yang akan datang sebentar lagi...", ucap Lee Ryder.
"Apa aku mesti berdandan dulu menyambut mereka ? Apakah penampilanku begitu buruknya sampai aku harus merias diriku ?", sahut Margot Evans.
"Tidak, kau sudah sangat cantik meski apa adanya, Margot", kata Lee Ryder.
"Kau malu karena penampilanku yang selalu berantakan ?", ucap Margot Evans.
"Tidak, itu tidaklah benar karena aku suka melihatmu yang alami dan natural, Margot", sahut Lee Ryder.
"Kenapa aku harus mengubah penampilanku ?", tanya Margot Evans.
"Aku hanya ingin kau merasakan hal baru agar membuatmu lebih bersemangat dengan penampilan baru", sahut Lee Ryder.
"Mmmm... !?", gumam Margot Evans.
"Dengan berpenampilan baru serta berdandan akan semakin membuat aura dalam dirimu terpancar positif, dan aku menyukainya", kata Lee Ryder.
"Kau suka !?", sahut Margot Evans.
"Tentu saja aku suka denganmu, apapun yang kau sukai maka aku juga menyukainya, tidak salah bukan kalau aku semakin jatuh cinta padamu, Margot", kata Lee Ryder.
"Tapi aku belum bisa menerima cintamu secepat ini, Lee Ryder...", sahut Margot Evans.
"Apa kamu masih menolakku, nona muda ? Lalu bagaimana jika aku sering mengintimidasi dirimu agar kamu jatuh hati kepadaku ? Duda malang yang tak punya harapan masa depan cerah tanpa dirimu ini, Margot ?", kata Lee Ryder.
"Jangan suka mempermainkanku, Lee Ryder !", ucap Margot Evans.
"Benarkah !? Benarkah aku saat ini mempermainkan dirimy ?", bisik Lee Ryder lembut.
Diraihnya dagu Margot Evans mendekat ke arah wajah Lee Ryder sambil berbisik, pria tampan itu mengusap bibir Margot Evans yang dihiasi oleh lipgloss merah muda.
"Kau membuat hidupku penuh gairah, Margot...", bisik Lee Ryder.
__ADS_1
Lee Ryder lalu mencium mesra Margot Evans dengan penuh cinta.