ANAK GENIUSKU

ANAK GENIUSKU
Bab 45


__ADS_3

Margot Evans terus berlarian di area ruangan rumah asing saat ini.


Terus mencari keberadaan Aaron Lee yang yang tidak terlihat di sekitar rumah.


''Tuhan !?'', ucap Margot Evans panik. ''Bagaimana jika aku tidak dapat menemukan Aaron Lee ?''


Keringat dingin mulai mengucur deras dari wajah cantiknya saat dia berlari masuk sepanjang jalan di area koridor rumah asing itu.


Margot Evans mengedarkan pandangannya ke arah sekitarnya seraya terus bergerak cepat di area koridor rumah megah.


Pemandangan mewah terpampang jelas di seluruh ruangan rumah saat Margot Evans memasuki sebuah ruangan tertutup dengan hanya di hiasi oleh tirai-tirai lebar yang membentang di seluruh area ruangan berlapis marmer utuh yang menonjolkan keindahan pada setiap permukaannya itu.


''Dimanakah aku sebenarnya ini ?'', gumam Margot Evans.


Tubuh Margot Evans mendadak menggigil hebat saat udara dingin dari arah pendingin ruangan berhembus pelan disekitar ruangan mewah di hadapannya.


Margot Evans melangkah perlahan-lahan seraya terus memperhatikan arah samping kanan dan kirinya secara bergantian.


Ekspresi wajah Margot Evans terlihat kaku dan tidak bersemangat meski dia harus memaksa dirinya untuk itu.


Margot Evans berulangkali mengusap wajahnya yang memerah karena cemas serta tidak dapat menemukan Aaron Lee di sekitar ruangan rumah asing yang kini dia singgahi.


Sempat Margot Evans berpikir buruk tentang hal yang dia alami di rumah asing itu.


Namun dengan cepat dia mengalihkan pikirannya dari hal-hal buruk yang terjadi pada dirinya sekarang ini.


Margot Evans lalu berjalan ke arah sebuah ruangan yang tertutup rapat di ujung jalan rumah asing.


Berhenti sejenak di hadapan pintu ruangan tertutup lalu dia membuka dengan cepat pintu yang ada di depannya.


KRIEEET... !


Margot Evans menarik gagang pintu ruangan seraya mendorong daun pintu yang ada di hadapannya lalu masuk ke dalam ruangan tersebut.


Gadis cantik dengan mata lebar indahnya melangkahkan kakinya dengan langkah hati-hati.


Ruangan yang tidak terlampau luas serta hanya di terangi cahaya lampu temaram tampak lenggang.


Di dalam ruangan itu hanya ada tiang lampu yang tertata di sudut-sudut ruangan yang minim oleh cahaya lampu.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari balik gelapnya ruangan, menyapa Margot Evans yang sontak mengagetkan gadis cantik itu.


''Margot Evans !''


Margot Evans langsung menolehkan kepalanya ke arah suara itu lalu berjalan menghampirinya.


''Aaron Lee !?'', sahut Margot Evans.


''Margot !'', panggil suara itu dari balik gelapnya ruangan.


''Benarkah itu kamu ?'', tanya Margot Evans. ''Aaron Lee !'', sambungnya.


''Iya, benar, Margot Evans !'', sahut suara itu.


''Aaron Lee ! Aaron Lee ! Dimana..., dimana kamu ? Aku tidak melihatmu ?'', kata Margot Evans.

__ADS_1


Margot Evans berusaha mencari-cari datangnya suara Aaron Lee dari balik ruangan yang gelap.


Gadis cantik itu lalu meraba-raba arah di depannya yang gelap dan tidak kelihatan apa-apa. Hanya ruangan dengan minimnya lampu yang ada di hadapan Margot Evans.


''Aaron Lee ! Kemarilah, sayang !'', ucap Margot Evans.


Kedua tangan gadis cantik itu terulur ke arah depan dengan gerakan terus meraba-raba arah di depannya yang amat gelap.


Margot Evans lalu memberi perintah kepada Aaron Lee untuk mendekat ke arahnya.


''Aaron Lee mendekatlah padaku, sayang ! Peganglah tanganku !'', kata Margot Evans.


''Tapi aku tidak dapat melihtmu, Margot'', sahut suara bocah kecil dari balik gelapnya ruangan.


''Kau dimana ?'', tanya Margot Evans.


''Aku disini, Margot Evans !'', sahut suara kecil itu.


''Teruslah bersuara sayang ! Supaya aku dapat menemukanmu, Aaron Lee ! Tetaplah terus berbicara padaku !'', kata Margot Evans.


''Baik, Margot'', jawab Aaron Lee.


''Sekarang ulurkan tanganmu kepadaku agar aku dapat memegang tanganmu, sayang !'', ucap Margot Evans.


''Tapi aku tidak melihatmu, Margot !'', sahut Aaron Lee.


''Terus berbicara seperti memanggil namaku ! Kamu paham, Aaron Lee !?'', ucap Margot Evans.


''Baik, Margot !'', sahut Aaron Lee.


''Tunggu, tunggu sebentar !'', ucap Margot Evans.


''Kenapa sedari tadi aku tidak memegang tanganmu, Aaron Lee ?'', kata Margot Evans.


Margot Evans mulai merasakan curiga kepada suara yang mirip suara anak laki-laki kecil itu.


Tiba-tiba Margot Evans beranjak berdiri lalu melangkah mundur dari tempatnya tadi.


''Kau siapa ?'', tanya Margot Evans.


Tidak ada suara jawaban lagi ketika Margot Evans bertanya.


''Kau bukan Aaron Lee !'', kata Margot Evans geram. ''Siapa kau ?'', sambungnya.


Tetap tidak ada suara yang menjawab ucapan Margot Evans. Hanya terdengar suara mesin pendingin yang menyala di dalam ruangan itu.


''Kenapa kamu diam ?'', tanya Margot Evans.


Margot Evans terus melangkah mundur berusaha untuk meninggalkan ruangan tersebut tetapi terdengar suara berbicara padanya.


''Kau mau pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal padaku, nona muda ?'', kata suara seperti suara seorang pria.


''Siapa kau ?'', bentak Margot Evans.


Tawa terdengar dari suara yang datang dari balik gelapnya ruangan.

__ADS_1


''Kamu tidak perlu sekeras itu, nona muda karena aku tidak bermaksud menyakitimu'', kata suara pria.


''Kau siapa ?'', tanya Margot Evans mengulang pertanyaannya lagi.


''Aku hanya seorang penggemar berat yang sangat mengagumimu bahkan aku sangat mengidolakanmu, nona'', sahut suara pria itu.


''Penggemar !? Aku rasa tidak ! Kau bukan seorang penggemar untukku melainkan kau adalah orang aneh !'', kata Margot Evans.


Gadis bermata indah itu terus melangkah mundur.


''Tidak perlu merasa takut padaku karena aku hanya ingin mengenalmu saja sekarang'', kata pria tersebut.


''Mengenalku ? Bukankah kamu tadi berkata bahwa kamu adalah penggemarku !? Bagaimana bisa kamu tidak mengenalku ?'', ucap Margot Evans.


''Percayalah padaku !'', kata pria itu.


''Percaya padamu ?'', sahut Margot Evans tergelak sesaat. ''Bagaimana mungkin ?'', sambungnya.


''Kenapa kau tidak mempercayaiku ?'', kata suara asing itu.


''Kenapa ? Dan kamu masih bertanya kepadaku kenapa !?'', ucap Margot Evans.


Margot Evans terus meraba-raba arah belakangnya dengan berusaha mencari-cari pintu keluar dari ruangan itu.


Tetapi gelapnya ruangan menghalangi Margot Evans untuk menemukan pintu tersebut.


''Kamu akan pergi kemana nona muda ?'', ucap suara itu.


''Bagaimana kamu tahu jika aku masih muda ? Bukankah kita tidak pernah bertemu sebelumnya ?'', tanya Margot Evans.


''Kau benar-benar sangat lucu, nona muda ! Dan aku benar-benar mulai tertarik pada kelucuanmu itu !'', sahut pria asing.


''Tidak lucu ! Dan aku tidak sedang bercanda saat ini !'', sahut Margot Evans kesal.


''Baiklah, baiklah, nona muda ! Semua terserah kepadamu saja sekarang !'', kata suara pria asing.


Kembali terdengar suara tawa dari pria asing itu lalu dia berkata pada Margot Evans yang tampak sangat kebingungan dengan semua yang ada disekitarnya.


''Aku memang tidak pernah melihatmu sebelumnya tetapi aku baru melihatmu saat aku menemukanmu'', sahut suara pria asing itu.


''Menemukanku ? Dimana ?'', tanya Margot Evans. ''Dimana kau menemukanku ?'', sambungnya gelisah.


''Di sebuah gazebo dekat taman bunga'', sahut suara pria asing.


DEG... !?


Detak jantung Margot Evans mendadak berhenti ketika mendengar jawaban dari suara asing itu yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang penggemar berat bagi gadis cantik itu.


Margot Evans langsung menghentikan langkah kakinya saat itu juga.


Memegangi dadanya yang terus berdetak kencang kian tak menentu sedangkan keringat dingin terus mengalir membasahi wajah cantiknya yang bening.


Tubuh Margot Evans mendadak lemas seketika itu juga hingga membuatnya hampir jatuh lunglai ke lantai jika tidak cepat-cepat, gadis cantik itu menahan tubuhnya kuat-kuat.


Pandangan mata Margot Evans tiba-tiba mulai samar.

__ADS_1


BRUK... !


Margot Evans jatuh pingsan saat itu juga dan dia tidak dapat lagi merasakan apa-apa disekitarnya bahkan dia tidak melihat apapun lagi ketika pandangan matanya menjadi gelap.


__ADS_2