
Aaron Lee
Pandangan mata Aaron Lee terkejut ketika melihat ke arah dinding kamar ayahnya terbuka lebar tanpa seorangpun berada di sana.
Bocah lima tahun itu membalikkan badannya lurus ke arah dinding kamar yang terbuka lebar lalu terdiam.
Diamatinya secara seksama, dinding kamar yang tiba-tiba terbuka.
"Ayah !", panggilnya seraya melangkah.
Namun, masih sama keadaan di dalam kamar, tidak ada seorangpun yang terlihat dikamar ini bahkan dia tidak melihat keberadaan ayahnya.
Aaron Lee melangkahkan kakinya dengan hati-hati saat dia bermaksud mendekati dinding kamar yang terbuka lebar.
Sesekali menarik nafas dalam-dalam agar merasa dirinya nyaman meski sebenarnya dia sangat panik saat melihat dinding kamar milik ayahnya yang terbuka dengan sendirinya.
"Ayah... !", panggilnya sekali lagi.
Tetap tidak ada suara jawaban yang menyahut panggilannya, keadaan di kamar tetaplah sunyi meski Aaron Lee bersuara.
Langkah kakinya terhenti tepat di tengah-tengah pembatas antara ruang kamar tidur dengan ruangan yang ada di balik dinding yang terbuka lebar.
Tampak sebuah ruangan khusus yang sangat luas terbentang di hadapan Aaron Lee.
Ruangan yang dilengkapi oleh berbagai macam layar monitor komputer serta meja yang mengelilingi ruangan dengan perangkat canggih lainnya terdapat di dalam ruangan yang ada di balik dinding.
Sorot mata Aaron Lee terlihat sangat takjub saat dia menyaksikan kehebatan ruangan rahasia milik ayahnya yang dilengkapi peralatan serba teknologi.
"Woah... ! Ini sungguh hebat sekali ! Bagaimana ayah bisa memiliki ruangan sekeren ini !?", pekiknya senang.
Aaron Lee berlarian kecil menuju ke meja yang dilengkapi oleh layar sentuh monitor komputer yang menempel di dinding ruangan.
Keinginannya untuk mencari tahu tentang fungsi serta kegunaan seluruh piranti lengkap komputer yang ada di dalam ruangan rahasia ayahnya membuat Aaron Lee penasaran ingin mencobanya.
Bocah lima tahun itu mulai mengotak-atik keyboard yang tersedia di atas meja.
Jari-jemari tangannya bergerak lincah saat dia mulai mengaktifkan perangkat komputer di dalam ruangan rahasia milik ayahnya.
KLEK... KLEK... KLEK...
Suara tombol keyboard beradu keras saat Aaron Lee menekannya.
Alat Mouse khusus komputer yang ada disisi keyboard tak lupa dia mainkan dengan cepatnya, bergerak ke arah kanan dan kiri secara bergantian.
Pandangan mata Aaron Lee berubah sangat serius, pada saat dia mengaktifkan komputer tiba-tiba muncul dari dalam lantai sebuah kursi duduk yang dapat berputar serta di atur tinggi-pendeknya secara otomatis.
Kursi canggih itu mengangkat tubuh kecil Aaron Lee agar bocah lima tahun itu dapat duduk diatasnya dengan nyaman.
__ADS_1
Aaron Lee terpekik pelan saat tubuhnya diangkat oleh kursi canggih yang keluar dari dalam lantai ruangan saat dia mengaktifkan perangkat komputer di ruangan tersebut.
"Wow !? Ini sungguh keren !!!!", pekiknya riang.
Aaron Lee langsung bertepuk tangan ketika kursi bergerak naik ke atas, mensejajarkan tubuhnya dengan meja komputer di depannya.
Tubuh Aaron Lee kini lebih mudah menjangkau seluruh perangkat komputer yang ada di atas meja karena kursi canggih itu membantunya untuk meraih berbagai macam jenis tombol yang berjejer di atas meja komputer.
Tangan mungil Aaron Lee mulai bergerak cepat mengaktifkan komputer dengan mencoba menekan tombol yang ada.
Saat dia menekan tombol START seluruh perangkat komputer berkerja aktif.
Seluruh layar monitor yang ada di ruangan kamar menyala seluruhnya dan terdengar suara keras dari arah layar.
"SELAMAT DATANG DI RUANGAN KHUSUS ! SAMBUTAN PADA TAMU YANG DATANG AKAN SEGERA DIAKTIFKAN ! SILAHKAN KLIK TOMBOL MERAH UNTUK MEMBANTU ANDA BEKERJA !"
Aaron Lee semakin bertambah kagum saat mendengar layar monitor komputer milik ayahnya dapat berbicara layaknya mesin robot.
Terbersit dalam pikiran bocah lima tahun itu untuk mencoba komputer canggih ayahnya untuk menyelesaikan rancangannya yang baru dia ciptakan berupa sistem Ordo II.
"Mungkin komputer milik ayah dapat membantu ku menciptakan Ordo II...", ucapnya.
Aaron Lee mulai menekan tombol merah yang ada di dekat tombol panah sesuai dengan petunjuk perintah.
TIT... ! TIT... ! TIT... !
Suara keras berbunyi dari arah komputer saat dia menekan tombol merah.
Bergerak cepat tetapi teratur serta rapi tersusun sehingga memudahkan pengguna komputer lebih terarah dan mudah mengaplikasikan informasi yang akan dia pilih.
Aaron Lee menyentuh sebuah kolom informasi yang membahas tentang cara mengaplikasikan sistem robot.
Seketika layar monitor penuh dengan informasi yang membahas mengenai cara kerja sistem robot dan bagaimana cara untuk mengaplikasikan sistem pada rancangan agar terwujud menjadi sebuah robot sempurna.
"Komputer milik ayah benar-benar hebat dan sangat membantu sekali, aku lebih mudah untuk mencari informasi cara kerja sistem untuk Ordo II", ucap Aaron Lee.
Aaron Lee melirik ke arah sudut layar yang berisi deretan pilihan sistem.
"Aku akan mencoba memasukkan gambar hasil rancangan ku berupa sistem Ordo II mungkin bisa membantu ku untuk mengaktifkan segera robot Ordo II melalui komputer ini", lanjutnya seorang diri.
Aaron Lee membuka file miliknya melalui perangkat komputer milik ayahnya, mencoba menghubungkan antara sistem komputer milik ayahnya dengan sistem Ordo II yang tersimpan di dalam perangkat komputer miliknya yang ada di kamar tidurnya.
Kembali terlihat jari-jemari tangannya bergerak lincah serta sangat cepat saat bermain di atas tombol-tombol keyboard.
"Berhasil !", serunya senang.
Ketika dia dapat menyambungkan sistem Ordo II dengan sistem komputer yang ada di dalam ruangan rahasia.
__ADS_1
BIP ! BIP ! BIP !
Tertera tulisan petunjuk pada layar monitor yang berisikan tulisan mengenai informasi tentang aktif nya kedua sistem yang terhubung paralel.
"SELAMAT SISTEM ORDO II TELAH TERHUBUNG DENGAN SISTEM KAMI. DAN SILAHKAN MULAI MENGOPERASIKAN SISTEM !"
Suara kembali terdengar dari arah komputer, memberikan petunjuk kepada Aaron Lee untuk mengoperasikan kedua sistem agar dia dapat segera mengaplikasikan sistem Ordo II menjadi sebuah robot.
"Aku akan memasukkan gambar rancangan Ordo II ke dalam komputer agar bekerja cepat menjadi sebuah robot sempurna", ucap Aaron Lee.
Aaron Lee mulai membuka file miliknya yang berupa sistem Ordo II yang memuat sebuah rancangan tentang robot.
Saat dia membuka file yang memuat rancangan sistem Ordo II, muncul berbagai bentuk rancangan berupa gambar robot berbentuk kucing yang belum terangkai dengan sempurna.
Aaron Lee menggabungkan dua sistem menjadi satu agar lebih mudah baginya menyelesaikan susunan rancangan Ordo II.
Pada saat gambar robot berbentuk kucing mulai diaplikasikan pada sistem komputer.
Gambar desain rancangan milik Aaron Lee berputar cepat lalu pada arah samping dia duduk, keluar perangkat dari dalam meja yang tak jauh darinya.
Semacam tabung besar panjang muncul keluar dari dalam meja panjang yang mengelilingi ruangan rahasia.
Aaron Lee terkesima saat tabung berukuran besar serta panjang tiba-tiba keluar dari dalam meja komputer disampingnya lalu muncul berbagai tangan mesin robot di sekitar tabung.
BIP... ! BIP... ! BIP... !
Bunyi suara keras terdengar lagi dari arah tabung serta layar monitor komputer saat mesin-mesin berupa tangan robot mulai bergerak serta bekerja di sekitaran tabung.
Tabung mulai terbuka secara bersamaan saat tangan-tangan robot masuk ke dalam tabung.
Gerakan tangan-tangan robot sangat cepat saat mereka bekerja di dalam tabung berukuran besar serta panjang itu.
Tidak butuh waktu lama untuk menunggu hasil kerja tangan-tangan robot pada tabung karena lima menit kemudian muncul sebuah robot berbentuk kucing yang masih belum berwarna.
Kucing robot masih terlihat polos seluruh tubuhnya, belum sempurna seperti gambar rancangan Ordo II yang dibuat oleh Aaron Lee.
Namun kemunculan robot kucing Ordo II telah mampu membuat Aaron Lee kagum sehingga bocah kecil itu berteriak senang tanpa lagi memikirkan warna robot hasil rancangannya.
Aaron Lee bersorak gembira sembari berteriak sekencang-kencangnya.
Kedua tangannya yang mungil mengepal kuat di kedua sisinya sedangkan ekspresi wajahnya terlihat sangat senang saat melihat hasil rancangannya yaitu Ordo II berupa sistem berhasil membuat sebuah robot berbentuk kucing yang sempurna.
Sekali lagi Aaron Lee menjerit keras penuh semangat.
"Aku berhasil !!!", teriaknya senang.
Aaron Lee lalu mengalihkan pandangannya ke arah kursi seraya berkata pada kursi canggih itu.
__ADS_1
"Tolong turunkan aku ! Karena aku ingin melihat robot hasil rancangan ku. Cepatlah, turunkan aku !", pinta Aaron Lee.
Kursi tempatnya duduk bergerak turun saat Aaron Lee memerintahkan kepada kursi canggih itu untuk menurunkan dirinya.