
Bugatti Chiron Profileee terparkir di area cafe coffee dekat alun-alun kota Anaheim.
Keluar Lee Ryder dari dalam Bugatti Chiron Profilee berwarna silver menuju ke arah pintu lain mobil yang terbuka.
Lee Ryder membantu Margot Evans agar turun dari mobil.
''Kau tidak perlu seperti itu karena aku bisa turun sendiri dan aku sudah sehat, Lee Ryder'', kata Margot Evans.
''Aku tahu itu tetapi sudah menjadi tanggung jawabku untuk menjagamu'', sahut Lee Ryder.
''Apa kau tidak bermaksud menggendongku ?'', kata Margot Evans.
Margot Evans tersenyum manis ke arah Lee Ryder seraya menyandarkan tubuhnya ke bahu kursi mobil dengan kedua tangan terulur lurus ke depan.
Sikap Margot Evans membuat Lee Ryder tertegun melihat perubahan dari sikap gadis cantik itu yang menjadi manja seusai dia sakit.
Lee Ryder membalas senyuman Margot Evans dengan kedipan mata.
''Kau lebih manja seusai sakit, nona ! Apakah aku diijinkan untuk menggendongmu jika kau bersedia, sayang ?'', ucap Lee Ryder.
''Tentu saja, aku bersedia. Untuk apa aku harus menolak sesuatu yang seharusnya aku dapatkan dari seorang pria spesial untukku'', sahut Margot Evans.
''Spesial !?'', ucap Lee Ryder. ''Wow !? Kedengarannya sangat keren, nona muda !'', sambungnya.
''Tentu saja itu sangat keren, kenapa tidak ?'', kata Margot Evans.
''Kau nakal sekali, kata-kata dengan sebutan ''itu'' tidaklah terdengar baik, nona !'', sahut Lee Ryder.
Lee Ryder lalu mengangkat tubuh Margot Evans kedalam gendongannya saat keluar dari dalam Bugatti Chiron Profilee.
Senyum mengembang di wajah Margot Evans sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Lee Ryder saat pria tampan tersebut menggendongnya.
''Lalu sekarang !? Siapa yang akan menutup pintu mobil ini ?'', kata Lee Ryder.
''Apakah perlu kita menutup pintu mobil ?'', sahut Margot Evans.
''Seandainya seseorang membawa kabur mobil ini, apa yang bisa aku lakukan untuk menebusnya !?'', ucap Lee Ryder.
''Aku akan menyerahkan urusan itu kepadamu karena jujur saja aku tidak tahu-menahu tentang urusan mobil, Lee Ryder'', jawab Margot Evans.
''Kau menyerahkan urusan mobil setelah kau tidak bertanggung-jawab karenamu jika mobil ini hilang dicuri orang, nona'', kata Lee Ryder.
''Lalu aku harus bagaimana ? Apakah kamu akan menolak permintaanku yang datangnya sangat langka ini, tuan besar ?'', sahut Margot Evans.
''Entahlah !? Aku juga tidak tahu harus bagaimana lagi karena kau adalah yang paling utama bagiku, nona'', kata Lee Ryder.
Margot Evans langsung berubah cemberut ketika Lee Ryder mengatakan hal yang seharusnya tidak Margot Evans lakukan sebagai gadis dewasa.
''Kenapa kau menekuk wajahmu seperti itu ?'', tanya Lee Ryder. ''Kau kesal karena aku mengingatkanmu, nona ?''
''Dan aku tegaskan sekali lagi padamu bahwa wajahku bukanlah panekuk yang bisa ditekuk sesuka hati'', sahut Margot Evans.
''Panekuk !? Kapan aku menyebutmu mirip panekuk lezat ?'', ucap Lee Ryder terkejut.
Rasa geli menghinggapi Lee Ryder ketika melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Margot Evans saat dia kesal.
__ADS_1
''Kamu selalu pandai mengalahkanku tapi aku tidak akan menyerah sampai disini'', kata Margot Evans.
''Baiklah, baiklah... Katakanlah bahwa ini merupakan kesalahanku tetapi aku juga harus mengatakan padamu bahwa aku tidak mungkin membiarkan mobil ini hilang dicuri orang, Margot'', ucap Lee Ryder.
''Kalau begitu maka turunkan aku ! Kenapa kamu masih menggendongku, Lee Ryder ???'', sahut Margot Evans.
''Tidak mudah juga untuk mululuskan permintaanmu karena aku meminta imbalan spesial darimu, nona'', lanjut Lee Ryder.
''Meminta imbalan !? Apa yang telah aku lakukan padamu sehingga aku harus memberimu imbalan ???'', ucap Margot Evans.
''Kau tidak paham juga !?'', kata Lee Ryder.
''Tidak ! Aku tidak paham !'', sahut Margot Evans tegas.
''Aku akan memberitahumu sesuatu yang sangat penting sekali...'', kata Lee Ryder.
''Ya, apa itu ?'', jawab Margot Evans.
''Aku akan mengatakannya padamu, pertama ! Kau telah membuat tubuhku harus membungkuk ! Dan itu tidak pernah aku lakukan sebelumnya !'', kata Lee Ryder.
''Apa !?'', sahut Margot Evans.
''Lalu yang kedua ! Dengarkan aku baik-baik ! Kamu telah membuatku menggendongmu maka aku harus meminta imbalan spesial itu darimu !'', kata Lee Ryder.
''Hah !? Apa !?'', ucap Margot Evans. ''Bagaimana bisa !?''
''Bisa saja karena aku tidak pernah memakai tubuhku untuk sesuatu yang berat seperti menggendong orang dewasa atau membungkukkan badanku untuk hal sepele'', kata Lee Ryder.
''Kau sangat menyebalkan, Lee Ryder !'', sahut Margot Evans.
''Margot !!!'', ucap Lee Ryder.
Lee Ryder tampak menyesal karena telah menggoda Margot Evans sampai gadis itu marah padanya.
Cepat-cepat Margot Evans menutup pintu mobil Bugatti Chiron Profilee kemudian mengejar Margot Evans yang berlari kecil mendahuluinya.
''Astaga !? Margot !!!'', panggil Lee Ryder panik.
Lee Ryder berusaha menyusul langkah Margot Evans tetapi gadis muda dengan gaun warna peachnya itu semakin mempercepat larinya sehingga Lee Ryder kerepotan mengejarnya.
''Margot Evans !'', panggil Lee Ryder.
Tampak Lee Ryder berlari mengejarnya dengan cepat.
Ditangkapnya salah satu tangan Margot Evans kemudian menahan gadis itu agar dia tidak berlari lagi.
''Margot ! Ayolah, jangan marah ! Aku hanya bercanda saja tadi !'', bujuk Lee Ryder.
Margot Evans tetap terdiam dengan memalingkan wajahnya ke arah lainnya.
''Hai, kenapa kau tidak menjawabku !'', kata Lee Ryder.
Lee Ryder menarik dagu Margot Evans ke arah dirinya agar mendekat kepadanya tetapi Margot Evans bersikeras untuk menjauh dari Lee Ryder.
''Margot...'', ucap Lee Ryder berbisik pelan.
__ADS_1
Pria berwajah tampan itu berusaha membujuk Margot Evans agar dia tidak marah padanya.
Diusapnya wajah halus Margot Evans dengan ujung jari tangannya kemudian mendekatkan wajah mereka berdua.
Lee Ryder mendekatkan keningnya di dahi Margot Evans seraya berbisik pelan.
''Jangan marah..., aku hanya tidak ingin bertengkar denganmu, dan apakah aku sangat keterlaluan ?''
Margot Evans masih terdiam lalu menundukkan pandangannya dari Lee Ryder.
''Kenapa masih tidak menjawab ucapanku ?'', kata Lee Ryder.
Lee Ryder mengusapkan keningnya di dahi Margot Evans seraya tersenyum simpul lalu memainkan ujung jarinya di atas bibir Margot Evans yang basah oleh sapuan lipgloss merah muda yang menggoda mata.
Ditariknya dagu Margot Evans agar mendekat ke arah wajah Lee Ryder sehingga nyaris kedua bibir mereka menempel lekat.
Keduanya berdiri bersandar di dinding luar sebuah toko di atas trotoar dengan tubuh sama-sama saling menekan satu dengan lainnya.
''Tidak baik selalu marah-marah karena akan mengganggu kesehatanmu apalagi akan timbul kerut-kerut di wajah cantikmu, Margot'', bisik Lee Ryder menggoda.
''Tidak ada kerutan di wajahku ! Dan aku selalu memakai masker wajah setiap menjelang tidur sehingga kerutan akan menjauh dari wajahku !'', kata Margot Evans.
''Baiklah, kalau kamu menginginkan seperti yang kamu ucapkan maka aku akan menerimanya tapi tolonglah, jangan marah lagi'', sahut Lee Ryder.
''Aku tidak marah tapi aku hanya kesal padamu'', ucap Margot Evans.
''Jadinya akan sulit dibedakan mana saat kamu marah dan mana saat kamu kesal, nona'', kata Lee Ryder.
''Aku sudah bilang bahwa aku tidak marah padamu dan kamu memang tidak bisa membedakan kedua hal itu, Lee Ryder'', jawab Margot Evans.
''Baiklah, baiklah, aku keliru... Dan sekarang aku menagih imbalanku tadi...'', kata Lee Ryder.
''Imbalan ? Imbalan apa !?'', ucap Margot Evans.
''Bukankah aku tadi meminta imbalan kepadamu atas permintaanmu untuk menggendongku !?'', kata Lee Ryder.
''Apa lagi ini ???'', sahut Margot Evans keheranan.
''Apa kamu telah melupakan janjimu untuk memberiku imbalan ''spesial'' untukku ?'', kata Lee Ryder.
Lee Ryder mengangkat kedua alisnya ke arah atas kemudian dia mengerutkan keningnya seraya berdecak pelan.
''Tapi kamu tidak menyelesaikan permintaanku dengan baik lalu bagaimana bisa aku memberikan imbalan itu ?'', sahut Margot Evans.
Lee Ryder tertegun sesaat mendengar ucapan Margot Evans lalu menggendong gadis itu sambil berjalan menuju ke arah cafe coffee yang letaknya tak jauh darinya.
''Hai, Lee Ryder !? Apa yang kamu lakukan !?'', ucap Margot Evans tersentak kaget.
''Melakukan hal sesuai permintaanmu agar aku segera memperoleh imbalan yang aku inginkan atas jerih payahku ini'', sahut Lee Ryder acuh tak acuh.
''Apa !?'', gumam Margot Evans terpana kaget.
Margot Evans tidak pernah akan menyangka bahwa Lee Ryder akan mululuskan permintaannya dengan menggendongnya sambil melangkah cepat ke arah cafe coffee.
Wajah Margot Evans langsung berubah merah padam sehingga dia menyembunyikan wajahnya dari pandangan orang-orang yang berjalan sepanjang trotoar dekat cafe coffee yang dituju oleh Lee Ryder.
__ADS_1
Margot Evans membenamkan kepalanya ke dada Lee Ryder saat berada dalam gendongan pria tampan yang membawanya menuju ke cafe coffee. Menutupi rasa malunya yang teramat sangat karena semua orang sibuk memperhatikan ke arah mereka berdua saat mereka masuk ke dalam cafe coffee yang tak jauh dari tempat mobil Bugatti Chiron Profilee milik Lee Ryder terparkir di depan cafe.