
Kebahagiaan terpancar dari roman muka Margot Evans atas keberhasilannya memenangkan lomba menyanyi pada festival.
Lee Ryder memeluknya mesra di depan kerumunan semua penonton yang menyaksikan perlombaan menyanyi di festival.
Senyum terus-menerus merekah di wajah Margot Evans saat semua orang bertepuk tangan untuknya.
Margot Evans melambaikan tangannya ke arah para penonton festival yang menyambutnya dengan hangat, Lee Ryder membawanya ke tempat lain.
Digandengnya tangan Margot Evans agar berjalan mengikutinya ke suatu tempat yang agak sepi dari kerumanan penonton.
Mereka berdua lalu berdiri saling berhadapan di depan suatu tenda festival yang menjual manisan kapas.
"Kenapa kamu tidak memberitahukan padaku jika kau akan langsung datang kesini ?", tanya Lee Ryder.
"Maafkan aku, karena aku pikir jika pulang kembali ke mansion, waktu kami tidaklah cukup apalagi harus bolak-balik dari butik ke mansion", sahut Margot Evans.
"Setidaknya kamu bisa mengirim pesan padaku agar aku tidak panik mencari kalian", kata Lee Ryder.
"Maafkan aku..., aku tidak sempat mengirimimu pesan karena aku juga terlalu panik harus menghadapi lomba", sahut Margot Evans.
Lee Ryder menarik nafas panjang kemudian menatap Margot Evans.
"Jika tidak berpikir bahwa sesuatu buruk menimpa kalian, mungkin saja aku tidak semarah atau segelisah ini, Margot", ucap Lee Ryder.
"Maafkan aku...", sahut Margot Evans.
Margot Evans menundukkan kepalanya ke arah bawah tanpa berani menatap kembali ke arah Lee Ryder.
"Kau tahu, Margot... Kau membuat hidupku kacau balau, hampir padam rasanya saat harus kehilanganmu, aku menyebar semua pengawalku untuk mencarimu karena aku sangat mencemaskanmu", ucap Lee Ryder.
Lee Ryder menundukkan kepalanya dengan menahan gejolak hatinya.
"Betapa aku sangat mengkhawatirkanmu, selalu memikirkan keadaanmu bahkan aku tidak tahu rasanya jika harus kehilanganmu, Margot", lanjut Lee Ryder.
"Lee Ryder...", ucap lembut Margot Evans.
"Aku tahu jika aku pria brengsek yang tidak tahu caranya untuk mencintai dengan benar tetapi saat aku tidak mendengar kabar darimu, rasanya seluruh jiwaku benar-benar mati dan aku tidak tahu lagi harus berbuat apa lagi tanpamu", kata Lee Ryder.
"Kenapa kau begitu mengkhawatirkanku ?", tanya Margot Evans dengan wajah polosnya.
"Karena...", sahut Lee Ryder.
Lee Ryder menatap wajah Margot Evans lembut seraya melangkah lebih dekat ke arah gadis cantik itu.
Dipandanginya wajah Margot Evans dengan penuh perasaan cinta.
"Karena kau berharga untukku..., melebihi seluruh hidupku..., Margot...", sahut Lee Ryder.
"Apakah aku sangat begitu berharga untukmu ?", tanya Margot Evans lugu.
"Yah, sangat..., sangat berharga...", sahut Lee Ryder.
Margot Evans tersenyum lembut, mendengarkan ucapan Lee Ryder yang mampu membuat hatinya berbunga-bunga.
Sudut bibir Lee Ryder membentuk senyuman tipis, membalas senyum cantik yang merekah di wajah gadis pujaan hatinya.
Lee Ryder menggenggam tangan Margot Evans seraya menatapnya lembut.
"Berjanjilah tidak akan pernah pergi dari hidupku, Margot", ucap Lee Ryder.
"Lee Ryder...", sahut Margot Evans.
__ADS_1
"Margot...", bisik lembut Lee Ryder.
Lee Ryder membelai lembut wajah Margot Evans yang cantik bagaikan batu pualam, didekatkannya wajahnya ke wajah gadis pujaan hatinya perlahan.
"Seharusnya kau tidak secantik ini sehingga aku tidak mampu mengendalikan diriku untuk tidak berhenti mencintaiku, Margot...", ucap Lee Ryder.
Lee Ryder mencium lembut bibir Margot Evans dan dibalas oleh gadis jelita itu dengan penuh cinta.
"Kau akan selalu menjadi pujaan hatiku, Margot Evans", bisik lembut Lee Ryder.
Keduanya kembali berciuman mesra, malam itu suasana di sekitar mereka benar-benar terasa hangat dan indah.
Penuh taburan bintang-bintang disekitar area tempat festival serta dilengkapi dengan indahnya pesona taman.
Suasana malam kian larut diselingi alunan musik yang menghibur sepanjang festival berlangsung.
Orang-orang berjalan hilir mudik melintasi area jalan yang ada di arena festival, ada yang membawa buah tangan berupa makanan ada juga yang terlihat asyik melihat produk-produk yang dijual oleh perusahaan Chris Fullham.
Sebagian pengunjung lebih memilih menyerbu stan tenda yang menjual makanan serta minuman karena bagi mereka itu merupakan hiburan jika merasa lelah selama menghadiri festival.
Lee Ryder menggandeng tangan Margot Evans, mereka berjalan ke arah sebuah stan tenda yang menjual manisan kapas.
Dipandangnya Margot Evans yang berdiri disisinya sambil berucap pada gadis cantik itu.
"Apakah kamu ingin membeli manisan kapas ?", tanya Lee Ryder.
"Ya, aku suka sekali manisan kapas", sahut Margot Evans.
"Kita pesan dua manisan kapas", kata Lee Ryder.
"Jangan lupa membelikan juga untuk Aaron Lee karena dia pasti suka dengan manisan kapas", sahut Margot Evans.
Lee Ryder memesan dua buah manisan kapas untuk mereka berdua.
"Tidak baik juga jika terlalu mengekang anak itu, dia masih terlalu kecil jika harus dilarang menyukai hal yang dia inginkan", sahut Margot Evans.
"Tapi dia harus banyak belajar untuk membatasi kegemarannya memakan cokelat akan membuatnya sulit lepas dari manisan yang merusak kesehatannya nanti", kata Lee Ryder.
"Baiklah..., karena kau adalah ayahnya maka kau yang bertanggung jawab, aku hanya pengasuh baginya dan tidak berhak mengatur hidup Aaron Lee", ucap Margot Evans.
"Benarkah !? Bukankah kau akan menjadi ibunya nanti karena aku tidak akan terlalu lama menunda hubungan serius ini", sahut Lee Ryder.
"Jangan terlalu cepat mengambil keputusan yang jauh dan belum pasti", kata Margot Evans.
"Belum pasti !?", ucap Lee Ryder.
"Yah...", sahut Margot Evans.
Margot Evans menganggukkan kepalanya pelan.
"Astaga !", seru Lee Ryder.
"Apa !?", sahut Margot Evans.
"Bagaimana tidak serius !?", ucap Lee Ryder.
"Siapa yang tidak serius ?", jawab Margot Evans.
"Kau pikir semua ini belum pasti, katakan padaku yang seharusnya aku lakukan untukmu", ucap Lee Ryder.
"Aku !?", sahut Margot Evans.
__ADS_1
"Masih bertanya lagi ? Tentu saja lalu siapa lagi yang aku maksudkan !?", kata Lee Ryder.
"Aku tidak tahu...", jawab Margot Evans.
"Tuhan semesta alam !", ucap Lee Ryder mengeluh.
Lee Ryder mengusap wajahnya serta berusaha tidak terbawa emosi atau larut dalam perasaan.
Penjual manisan kapas memberikan dua buah manisan kapas kepada Lee Ryder.
Dua manisan kapas berwarna-warni berbentuk bulat besar yang dipesan oleh Lee Ryder untuk mereka.
Lee Ryder memberikan manisan kapas untuk Margot Evans dan satunya untuk dirinya.
"Mari kita segera pergi dari sini ! Dan mencari tempat lainnya untuk duduk, banyak tempat yang cukup menarik di festival ini", ucap Lee Ryder.
"Aku pikir itu idea yang sangat tepat", sahut Margot Evans.
"Hmmm..., iya...", ucap Lee Ryder.
Keduanya lalu berjalan-jalan menelusuri sepanjang area festival yang diadakan di resort Disneyland.
Saling tertawa riang sembari menikmati manisan kapas.
Sesekali Lee Ryder mengusap hidungnya setiap dia selesai menggigit manisan kapas yang ada di tangannya.
"Kenapa dengan wajahmu ? Dan kenapa berubah memerah seperti itu ?", tanya Margot Evans.
"Oh !? Tidak apa-apa..., hanya sedikit alergi mungkin...", sahut Lee Ryder.
"Kau alergi manisan kapas !?", tanya Margot Evans terkejut.
"Mungkin saja", sahut Lee Ryder.
Lee Ryder kembali mengusap ujung hidungnya yang memerah.
"Oh, tidak, ini tidak bisa dibiarkan, kau harus segera ke dokter untuk periksa, Lee Ryder", ucap Margot Evans.
Margot Evans meraih manisan kapas dari tangan Lee Ryder agar pria tampan itu tidak lagi memakannya.
"Biarkan aku saja yang menghabiskan semua manisan kapas ini !", sambungnya.
Lee Ryder hanya membalasnya dengan tertawa kecil.
"Ternyata kau juga sangat perhatian padaku, Margot", ucap Lee Ryder.
"Tentu saja, kau sudah menjadi bagian dalam hidupku, Lee Ryder", sahut Margot Evans.
"Benarkah ?", kata Lee Ryder.
"Yah, haruskah aku membuktikannya !? Bukankah cukup bersamamu sudah membuktikan bahwa aku sangat peduli terhadapmu, Lee Ryder", sahut Margot Evans.
"Kalau begitu tetaplah selalu disisiku dan bersama denganku...", sambung Lee Ryder.
"Jika itu yang kau inginkan" sahut Margot Evans.
"Kau selalu pandai menarik perhatianku, Margot", ucap Lee Ryder.
Lee Ryder menarik Margot Evans ke atas pangkuannya lalu memeluknya erat-erat sambil berbisik mesra di telinga Margot Evans.
"Tetaplah bersamaku, Margot..., karena aku sangat mencintaimu...", ucap Lee Ryder lembut.
__ADS_1