
Seseorang berdiri di depan kamar mansion seraya mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
Berdiri tegak dengan sikap sempurna, raut wajahnya terlihat sangat serius ketika menatap ke arah pintu kamar mansion.
Pintu kamar mansion terbuka dari arah dalam kamar, muncul Margot Evans yang telah berpakaian rapi keluar kamar menemui wanita yang ada di depan kamarnya.
Senyum mengembang di wajah wanita itu lalu menyapa Margot Evans.
"Apa kabar, nona Margot ?", ucapnya ramah.
"Baik, Bibi Gerenda..., apa kabarmu juga ?", sahut Margot Evans.
"Kabarku senantiasa dalam keadaan baik, nona Margot..., saya sangat bersyukur sekali akan kondisiku saat ini", kata Bibi Gerenda.
"Syukurlah, Tuhan selalu menjagamu", ucap Margot Evans.
Margot Evans tersenyum manis kepada Bibi Gerenda yang disambut uluran tangan dari wanita separuh baya itu.
"Maafkan saya, telah membuat hari anda sibuk hari ini karena tuan Lee Ryder meminta saya untuk membawa anda keluar kamar, nona", kata Bibi Gerenda.
Bibi Gerenda meraih tangan Margot Evans sembari menyunggingkan senyumannya.
"Tidak mengganggu, apa Lee Ryder menungguku ?", kata Margot Evans.
"Tuan Lee Ryder meminta saya untuk mengantarkan anda sampai teras mansion karena Jhon telah menunggu anda diluar mansion", sahut Bibi Gerenda.
"Jhon !?", ucap Margot Evans kaget. "Siapa dia ? Oh, astaga ! Aku baru ingat jika dia salah satu orang Lee Ryder !", sambungnya.
Margot Evans menepuk dahinya lalu bergegas keluar dari kamar mansion.
"Kita berangkat sekarang, nona Margot", ucap Bibi Gerenda.
"Tunggu ! Aku ambil dulu tas milikku, sebentar !", sahut Margot Evans tergesa-gesa.
Gadis bermata indah itu kembali masuk ke dalam ruangan kamar mansion untuk mengambil tas kecil miliknya dari dalam lemari pakaian.
Berlari kecil keluar dari dalam kamar sembari menutup pintu kamarnya dengan menguncinya rapat-rapat.
"Baiklah, kita berangkat sekarang !", ucap Margot Evans seraya berdiri tegak menghadap ke arah Bibi Gerenda yang telah menunggu dirinya.
"Baiklah... Mari kita berangkat sekarang !", sahut Bibi Gerenda dengan senyuman.
Margot Evans berjalan mengikuti langkah kaki Bibi Gerenda yang telah melangkahkan kakinya selangkah lebih dulu darinya.
Keduanya sama-sama berjalan sepanjang koridor rumah yang menghubungkan antara kamar-kamar di dalam ruangan mansion yang terletak berderet sepanjang jalan koridor mansion.
Suara langkah kaki Bibi Gerenda terdengar menggema di seluruh ruangan sama halnya dengan suara langkah kaki Margot Evans yang saat itu mengenakan sepatu hak rendah saat dia melewati koridor mansion terdengar hingga ke ujung langit-langit koridor.
TAK... TAK... TAK...
Mereka turun menggunakan lift yang tersedia di dalam ruangan mansion menuju lantai bawah.
Bibi Gerenda membawa Margot Evans ke depan mansion saat mereka tiba di lantai bawah mansion yang merupakan ruangan utama berukuran luas beserta alas lantainya terbuat dari marmer utuh.
Keduanya berjalan menuju ke arah teras rumah mansion saat keluar dari ruangan utama mansion.
__ADS_1
Seorang pria berpawakan langsing serta berpakaian serba hitam telah menunggu mereka di depan pintu masuk mansion.
"Jhon, bagaimana persiapan keberangkatan kalian ke butik ?", ucap Bibi Gerenda.
"Siap, Bibi Gerenda ! Semua sudah disiapkan dengan baik !", sahut pria bernama Jhon.
"Baiklah... Nona Margot Evans, saatnya anda berangkat sekarang karena tidak banyak waktu yang tersisa lagi untuk persiapan ke festival", ucap Bibi Gerenda.
Bibi Gerenda menolehkan kepalanya ke arah Margot Evans yang berdiri di dekatnya.
"Butik ? Apakah kita akan membeli pakaian dari sana ? Bukankah ini hanya sebuah festival biasa ?", tanya Margot Evans.
"Benar, memang benar acara festival yang diadakan oleh tuan Chris Fulham hanyalah sekedar festival biasa tapi tuan Lee Ryder menginginkan anda memiliki penampilan yang sempurna dari orang-orang yang hadir nantinya...", sahut Bibi Gerenda.
"Bukankah kalah-menang hal biasa !?", ucap Margot Evans.
"Bukan masalah kalah-menang yang diinginkan oleh tuan Lee Ryder melainkan tuan ingin membuat kejutan hebat untuk tuan Chris Fulham pada acara yang dia selenggarakan", kata Bibi Gerenda.
"Aku mengerti..., Lee Ryder ingin Chris Fulham sendiri terpukul atas sikapnya yang telah memicu persaingan diantara mereka...", ucap Margot Evans.
"Tidak hanya terpukul keras tapi dia telah salah mengirimkan surat tantangan kepada orang yang salah", sahut Bibi Gerenda.
Wanita separuh baya itu lantas tersenyum simpul seraya berjalan tegak menuju mobil Jeep yang telah menunggu sedari tadi.
Dibukanya pintu Jeep lalu memandang ke arah Margot Evans dengan tatapan mata tajam.
"Silahkan naik, nona Margot Evans ! Sudah saatnya pergi berperang !", ucap Bibi Gerenda.
"Ya Tuhanku !? Apakah aku harus terlibat dalam perselisihan ini !?", kata Margot Evans.
Margot Evans mengerlingkan matanya seraya tersenyum lalu berjalan turun dari arah teras mansion menuju Jeep hitam.
"Baiklah ! Kali ini aku akan mengalah padanya karena aku juga tidak ingin kalah pada lomba festival nanti !", sahut Margot Evans.
"Saya pikir saya setuju dengan anda karena jika saya sebagai anda maka saya akan memenangkan lomba menyanyi pada festival, nona Margot Evans", ucap Bibi Gerenda.
"Pasti !!!", jawab Margot Evans.
Margot Evans menepuk lengan Bibi Gerenda kuat-kuat dengan penuh semangat sebelum dia masuk kedalam mobil Jeep hitam.
Bibi Gerenda hanya tersenyum simpul saat melihat sikap Margot Evans yang dia pikir adalah suatu semangat seorang gadis muda yang penuh energik.
Tiba-tiba terdengar suara memanggil nama Margot Evans dari arah mansion ketika Margot Evans hendak menaiki mobil Jeep.
"Margot Evans... !!!"
Margot Evans langsung memalingkan muka ke arah suara yang memanggil namanya dan diikuti oleh Bibi Gerenda yang turut serta menolehkan kepalanya ke arah datangnya suara tersebut.
Terlihat bocah kecil berumur lima tahun berlarian kecil ke arah Margot Evans dan Bibi Gerenda sambil tersenyum riang.
"Aaron Lee !?", gumam Margot Evans tersentak kaget.
"Margot !!!", panggil Aaron Lee.
"Ada apa, Aaron Lee ?", tanya gadis bermata indah itu pada bocah lima tahun itu.
__ADS_1
"Aku akan ikut bersama mu, Margot !", jawab Aaron Lee sambil berdiri mencoba meraih tangan Margot Evans.
Margot Evans kembali terkejut kaget saat mendengar ucapan dari Aaron Lee yang menginginkan bocah kecil itu ikut bersama dengannya ke butik.
Gadis cantik itu langsung mengerutkan keningnya ke arah Aaron Lee.
"Apakah ayahmu mengijinkan mu ikut dengan ku, Aaron Lee ? Bukankah kau masih perlu beristirahat setelah terkena hipotermia !?", ucap Margot Evans.
Margot Evans meraih tangan Aaron Lee lalu berjongkok di depan bocah lima tahun itu.
"Kau masih perlu banyak istirahat, sayang...", lanjut Margot Evans.
TAP... ! TAP... ! TAP... !
Terdengar suara keras langkah kaki dari arah mansion menuju keluar.
Tampak berdiri Lee Ryder di depan mansion sembari menatap lurus ke arah Margot Evans serta Aaron Lee yang berada di dekat Jeep hitam.
Lee Ryder lalu melangkah turun dan berjalan mendekati mereka bertiga dengan langkah cepat.
"Aaron Lee, aku mencari mu sedari tadi, nak", panggil Lee Ryder.
Aaron Lee langsung mendekap erat badan Margot Evans saat dia mengetahui bahwa ayahnya sedang mencari dirinya.
"Aku akan ikut pergi bersama Margot Evans, ayah !", kata Aaron Lee tanpa menoleh.
"Ayah sudah katakan bahwa kau harus meminum obat mu dahulu sebelum ikut bersama Margot Evans, kenapa kau lari ?", sahut Lee Ryder.
"Aku tidak suka meminum obat yang rasanya pahit, ayah !", kata Aaron Lee.
"Obat itu tidak pahit tapi sedikit kurang enak di lidahmu, nak", sahut Lee Ryder.
"Tetap saja rasanya sangat tidak manis... Aku tidak suka, ayah !", ucap Aaron Lee.
"Bukan obat kalau rasanya manis melainkan permen, Aaron Lee ", kata Lee Ryder.
Lee Ryder menarik tangan Aaron Lee dari tubuh Margot Evans agar bocah kecil itu melepaskan pelukannya.
"Tidak, ayah !!!", kata Aaron Lee memberontak.
"Ayolah, Aaron Lee ! Jangan bersikap sekeras itu ! Akan menyulitkan bagi mu sendiri, nak !", sahut Lee Ryder.
Lee Ryder berusaha melepaskan pelukan kedua tangan Aaron Lee dari Margot Evans.
"Aaron Lee sayang..., kau boleh pergi bersama ku setelah kau selesai meminum obat mu...", ucap Margot Evans mencoba membujuk bocah kecil itu.
"Tidak mau !!!", sahut Aaron Lee seraya menggelengkan kepalanya cepat.
Bocah kecil berumur lima tahun itu tetap mendekap erat tubuh Margot Evans serta bersikukuh keras untuk tidak melepaskan dirinya dari Margot Evans.
"Aaron Lee !", ucap Lee Ryder.
"Tunggu, Lee Ryder ! Biarkan dia pergi bersama ku dan tolong bawakan obat yang seharusnya diminum oleh Aaron Lee !", kata Margot Evans.
"Tapi... !?'', ucap Lee Ryder.
__ADS_1
Lee Ryder terlihat kebingungan tetapi dia langsung tanggap dan segera memanggil asisten pribadinya untuk mengambilkan obat yang harus diminum oleh Aaron Lee.