ANAK GENIUSKU

ANAK GENIUSKU
Bab 53


__ADS_3

Cafe Coffee...


Margot Evans duduk di dekat jendela sambil mengamati Lee Ryder yang berjalan ke arahnya dengan tersenyum.


Senampan baki berisi makanan tersaji diatasnya berada di antara kedua tangan Lee Ryder.


Lee Ryder terus melangkah cepat dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya.


"Kenapa tidak pelayan cafe saja yang membawakannya dan kenapa harus kamu sendiri, Lee Ryder ?", tanya Margot Evans.


"Peraturan di cafe ini memang seperti ini, setiap pembeli harus mengambil makanannya sendiri jadi kita tidak dilayani bak raja di cafe ini", sahut Lee Ryder.


Pria tampan itu lalu meletakkan nampan baki yang ada di tangannya ke atas meja seraya membagikan sepiring roast beef serta burger cheese kepada Margot Evans.


Duduk sambil memperhatikan ke arah sekelilingnya.


"Makanlah ! Dan nikmati saja acara santai kita hari ini !", kata Lee Ryder.


Lee Ryder menarik nampan di depannya agar mendekat ke arahnya lalu mengambil sendok serta garpu yang ada di sebelah piring makanannya.


"Aku tidak tahu sistem kerja cafe ini karena itu juga bukan urusanku dan aku sarankan kepadamu supaya kita segera menghabiskan waktu makan kita di cafe ini", lanjut Lee Ryder.


Tampak Lee Ryder memotong roast beef di atas piring menjadi potongan kecil lalu menyantapnya dengan lahap.


"Apa yang kamu takutkan disini ?", tanya Margot Evans.


"Takut !?", sahut Lee Ryder.


"Iya, aku merasakan bahwa kamu tidak menikmati waktu kita ini di cafe, adakah yang mengganggu pikiranmu, Lee Ryder ?", kata Margot Evans.


"Mengganggu ?", ucap Lee Ryder.


"Iyaaah...", sahut Margot Evans.


"Tidak, tidak ada ! Tidak ada yang mengganggu pikiranku sekarang !", jawab Lee Ryder.


Lee Ryder kembali menikmati makanannya dengan sangat cepat sedangkan Margot Evans hanya melirik ke arah pria tampan itu tanpa menyentuh makanannya.


Sorot mata Margot Evans tampak serius bahkan tidak pernah lepas dari Lee Ryder yang terus melahap makanannya dengan nikmat.


"Kenapa ?", kata Margot Evans.


Lee Ryder menghentikan gerakan tangannya saat Margot Evans melanjutkan ucapannya.


"Kenapa !?", jawab Lee Ryder. "Kenapa !? Apa maksud dari pertanyaanmu !? Kenapa ??", sambungnya bingung.


Lee Ryder meletakkan sendok serta garpu di tangannya ke atas piring yang tersisa separuh makanannya.


Terdiam menatap Margot Evans dengan tatapan serius.


"Ada apa Margot Evans ?", ucap Lee Ryder.


"Tidak ada sebenarnya karena aku hanya ingin tahu tentang perasaanmu sekarang ini", sahut Margot Evans.


"Tentang perasaanku ? Mengapa ?", tanya Lee Ryder.


"Benar, bukankah perasaanmu tidak nyaman sekarang !?", jawab Margot Evans.

__ADS_1


"Tidak nyaman ???", ucap Lee Ryder.


"Aku hanya merasakannya bahwa kamu tidak suka berada di cafe ini dan aku tidak ingin kamu memaksakan dirimu untuk melakukannya hanya sekedar menghiburku, Lee Ryder", kata Margot Evans.


"Payah !", sahut Lee Ryder.


Lee Ryder lalu bersandar di bahu sofa cafe sambil memperhatikan piring milik Margot Evans yang masih penuh berisi makanan.


"Aku rasa perkataanmu hanyalah kesia-siaan saja, nona muda", kata Lee Ryder.


"Tidak, menurutku tidak demikian", sahut Margot Evans.


"Tidak !?", ucap Lee Ryder sambil mengangkat kedua alisnya ke atas. "Bagaimana bisa kamu mengatakannya bahwa kamu tidak berkata hal yang sia-sia, nona cantik ?", sambungnya.


"Karena sangat jelas bahwa kamu tidak menikmati acara kita hari ini disini", jawab Margot Evans.


"Terus terang hal yang membuatku tidak merasa nyaman di cafe ini karena aku tidak ingin berhadapan dengan wartawan yang selalu mengejar berita mengenaiku", kata Lee Ryder.


"Berita !?", ucap Margot Evans.


Gadis cantik itu menyandarkan tubuhnya sama persis yang dilakukan oleh Lee Ryder sambil menyilangkan kedua tangannya ke arah depan.


Memandang serius Lee Ryder yang duduk di seberang meja yang menghadap lurus ke arahnya dengan tatapan sama seriusnya dengannya.


"Berita apa yang mereka cari darimu ? Aku pikir tidak ada hal yang menarik untuk diberitakan darimu ?", kata Margot Evans.


Lee Ryder hanya menjawab dengan senyuman tipis lalu melanjutkan ucapannya.


"Tentu saja tidak ada yang menarik dariku untuk bahan berita tapi pada kenyataannya memang demikian adanya", sahut Lee Ryder.


"Tidak juga..., aku merasakan bahwa aku sangat nyaman denganmu saat ini meski aku tahu tidaklah nyaman jika wartawan mengetahui keberadaanku disini...", sahut Lee Ryder.


Lee Ryder meraih secangkir kopi kemudian meminumnya.


"Aku sarankan sebaiknya kita segera pergi dari sini karena aku tidak ingin pihak wartawan mengetahui keberadaanmu di tempat umum", kata Margot Evans.


Lee Ryder hanya melirik sekilas ke arah gadis cantik itu kemudian kembali menikmati minumannya.


"Tidak !", sahut singkat Lee Ryder.


Lee Ryder meletakkan kembali secangkir kopi ke atas piring kecil lalu memajukan posisi duduknya.


"Makanlah makananmu setelah itu kita pergi dari cafe ini karena aku ingin sekali mengajakmu berkeliling di Kota Anaheim ini", ucap Lee Ryder.


"Tapi akan menyita waktu lama jika aku harus menghabiskan makananku dan keberadaan kita akan segera diketahui oleh wartawan pemburu berita, Lee Ryder", sahut Margot Evans.


"Tidak secepat itu pergerakan mereka, nona", ucap Lee Ryder.


Lee Ryder memotong roast beef menjadi beberapa bagian potongan kecil yang ada di priring milik Margot Evans sambil menuangkan saos diatasnya kemudian menyuapkannya ke arah gadis cantik dihadapannya.


"Makanlah, Margot Evans ! Akan terasa tidak enak jika makananmu menjadi dingin karena roast beef lebih enak disantap ketika masih panas", kata Lee Ryder.


"Mmmm... !?", gumam Margot Evans.


Margot Evans hanya memandangi potongan kecil roast beef yang ada di garpu yang sedang dipegang oleh Lee Ryder dengan gamang sedangkan Lee Ryder terlihat agak memaksakan keinginannya untuk menyuapi Margot Evans.


"Cobalah roast beef ini ! Makanan ini sangat enak sekali ! Aku merekomendasikan cafe ini karena makanannya terkenal sangat lezat !", ucap Lee Ryder serius.

__ADS_1


"Baiklah, jika itu membuatmu menyukainya maka aku akan bersedia memakan makanan ini sampai habis", kata Margot Evans.


Margot Evans meraih garpu yang dipegang oleh Lee Ryder kemudian menyuapkannya kedalam mulutnya seraya mengunyahnya cepat.


Diambilnya kembali potongan roast beef di atas piring makanannya lalu memasukannya kembali potongan roast beef kedalam mulutnya sampai roast beef itu habis.


Lee Ryder yang melihatnya lalu tersenyum lembut ketika Margot Evans melahap habis makanannya.


Pria tampan itu lalu melanjutkan kembali menikmati roast beef miliknya hingga habis.


"Wahhh !?", ucap Margot Evans.


Diambilnya secangkir kopi latte di sebelahnya kemudian meminumnya sampai habis tak tersisa.


"GLEK... GLEK... GLEK..."


Margot Evans mengusap mulutnya dengan telapak tangannya kemudian bersendawa pelan.


"Ternyata makanan di cafe ini benar-benar sangat lezat ! Aku sangat suka sekali terutama kopi lattenya ini !", ucap Margot Evans cuek.


"Benarkah !?", sahut Lee Ryder datar.


Tampak ekspresi wajah Lee Ryder yang biasa-biasa saja ketika mendengar ucapan Margot Evans yang memuji kelezatan hidangan makanan di cafe ini.


"Kamu mulai menyukai tempat ini sekarang daripada tadi", lanjut ucapan Lee Ryder.


"Tentu saja, aku merasa sungkan dengamu karena terus terang aku tidak suka melihatmu merasa tidak nyaman saat bersama denganku di cafe ini", sahut Margot Evans.


Gadis berparas cantik itu lalu mengedipkan salah satu matanya ke arah Lee Ryder yang sedari tadi memandanginya.


Ekspresi genit Margot Evans membuat Lee Ryder tertegun sesaat ketika melihat sikap genit yang ditunjukkan oleh gadis cantik itu kepada dirinya.


Lee Ryder lalu tertawa pelan dengan santainya dia tersenyum melihat sikap Margot Evans.


"Baiklah..., karena makananku sudah habis dan ditambah lagi minumanku juga sudah habis... Bagaimana kalau kita segera pergi dari cafe ini sekarang ?", kata Margot Evans melanjutkan ucapannya.


"Tunggu lima belas menit lagi, kita akan segera pergi dari cafe ini !", sahut Lee Ryder.


"Kenapa ? Bukankah akan sangat merepotkanmu jika wartawan segera mengetahui letak keberadaanmu sekarang ?", jawab Margot Evans.


"Tidak apa-apa, selama mereka tidak mengganggu acara kita berdua, aku rasa itu akan baik-baik saja, menurutku", sahut Lee Ryder.


"Benarkah !?", ucap Margot Evans was-was.


"Iyah... ! Percayalah padaku ! Semua akan baik-baik saja, nona !", jawab Lee Ryder.


"Sepertinya itu bukan kamu, Lee Ryder...", kata Margot Evans hampir tak percaya dengan jawaban Lee Ryder.


"Percayalah...", sahut kembali Lee Ryder.


Lee Ryder kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa cafe sembari memperhatikan keadaan sekeliling cafe.


Keadaan cafe yang tampak mulai ramai oleh pengunjung cafe, membuat kegiatan yang ada di cafe terlihat sibuk sekali dari sebelumnya.


Margot Evans hanya menarik nafas panjangnya lalu ikut bersandar di bahu sofa cafe. Dan turut memperhatikan keadaan sekitar cafe yang mulai ramai oleh pelanggan cafe yang berdatangan silih berganti.


Ekspresi wajah Lee Ryder tampak serius sekali saat dia memperhatikan keadaan sekeliling cafe yang mulai padat oleh pengunjung cafe.

__ADS_1


__ADS_2