
Sistem Ordo II aktif...
Aaron Lee memencet tombol mousenya dengan satu hentakan keras hingga layar laptop di depannya langsung bereaksi cepat.
BIP... !
Suara laptop pada layar monitor menyala serta berubah kembali menjadi sistem.
Muncul gambar tiga dimensi berupa gambar kucing berwarna metalik di layar, berputar secara vertikal.
Aaron Lee menoleh pada perangkat print komputer disebelah laptop lalu mengaktifkannya karena dia hendak menyalin gambar ordo II pada kertas cetak.
Bocah lima tahun itu berniat mencetak hasil rancangannya berupa gambar kucing metalik untuk membuat salinannya berbentuk robot.
NG... NG... NG... CEKREK...
Suara alat perangkat mesin print bekerja cepat, menghasilkan gambar tiga dimensi yang sangat cerah pada kertas cetak.
Aaron Lee mengambil kertas yang berisi gambar-gambar rancangan Ordo II berupa gambar kucing berwarna metalik.
Dikibaskannya kertas di tangannya secara pelan agar cepat mengering sempurna.
Ada seratus salinan gambar rancangan Ordo II yang berhasil dicetak pada mesin print dan Aaron Lee segera menyusunnya menjadi satu dokumen penting dalam map khusus.
Aaron Lee kembali membuka isi map tersebut lalu mengamati gambar desain rancangan Ordo II miliknya dengan cermat.
Mulai berpikir tentang cara mewujudkannya menjadi sebuah robot Ordo II dengan sistem sempurna.
KRIEEET...
Pintu kamar terbuka, terlihat Margot Evans berdiri di dekat pintu kamar seraya mengusap kedua matanya.
Aaron Lee menolehkan kepalanya ke arah Margot Evans yang sedang menguap lebar.
"Kau belum tidur Margot ?", tanya Aaron Lee.
''Seharusnya aku yang bertanya demikian padamu, kenapa kau belum tidur, Aaron Lee ? Sudah tengah malam ?", sahut Margot Evans.
"Aku masih menyelesaikan hasil rancanganku ini", ucap Aaron Lee.
"Hoam... !?", Margot Evans menguap kembali lalu berjalan masuk ke dalam kamar Aaron Lee.
Duduk di tepi ranjang dengan kedua mata setengah terpejam.
"Apa kau berniat membuatnya malam ini ? Bukankah masih ada hari esok, aku tahu kau sekolah di rumah tetapi kebiasaan ini harus segera kamu ubah, sayang", kata Margot Evans.
"Aku mengerti...", ucap Aaron Lee.
"Jika kau mengerti sebaiknya segeralah tidur, bergadang hingga larut tidak baik untuk anak kecil seusiamu lagipula kau juga harus kembali sekolah secepatnya, aku tidak ingin ayahmu menyalahkanku atas keinginanmu yang menghabiskan waktu belajarmu di rumah bukan di sekolah", lanjut Margot Evans.
Meski dia setengah mengantuk berat tetapi gadis cantik itu tetap berusaha memberikan nasehat berharga pada Aaron Lee.
__ADS_1
Mengingatkan pada bocah lima tahun itu untuk tidur karena kebiasaan buruk akan membiasakannya terbiasa dan menjadi rutinitasnya nanti yang akan mempengaruhi jalan Aaron Lee kembali sekolah.
Pada awalnya niat Margot Evans ingin Aaron Lee secepatnya kembali belajar di sekolahnya agar dia dapat memiliki teman-teman belajar seusianya karena tempat itu adalah satu-satunya wadah yang tepat bagi perkembangan tumbuh-cerdasnya Aaron Lee dan itu sangatlah penting bagi masa depan Aaron Lee nantinya meski bocah lima tahun itu merupakan anak genius.
Sekolah tetaplah hal yang paling penting bagi anak-anak.
Pergi ke sekolah adalah hal yang paling utama bagi pertumbuhan kecerdasan Aaron Lee. Dan Margot Evans sebagai pengasuh pribadinya menaruh harapan besar pada Aaron Lee untuk mau belajar kembali ke sekolah.
"Aku tahu kau sangatlah jenius tetapi belajar di sekolah adalah tempat yang paling tepat buatmu, Aaron Lee", ucap Margot Evans.
"Aku tahu itu...", sahut Aaron Lee.
"Jika kau tahu lalu kapan kau akan kembali belajar di sekolahmu lagi, ayahmu sudah lama menunggunya meski aku tahu dia tidak terlalu memikirkannya tapi dari setiap ekspresi wajahnya, ayahmu sangat mengharapkannya", kata Margot Evans.
"Berilah aku waktu...", ucap Aaron Lee.
"Iya, kapan ? Kapan waktu itu datang, Aaron Lee ?", sahut Margot Evans.
Aaron Lee terdiam dengan pandangan tertunduk ke arah map yang ada di tangannya.
Lama berpikir lalu menoleh ke arah Margot Evans.
"Bagaimana setelah aku menyelesaikan hasil rancanganku berupa robot Ordo II ini ? Dan aku akan kembali ke sekolah", sahut Aaron Lee.
''Benarkah !?", ucap Margot Evans.
Margot Evans membelalakkan kedua matanya yang cantik saat mendengar ucapan Aaron Lee.
"Iya, aku janji padamu", kata Aaron Lee.
"Aku sungguh-sungguh mengatakannya, Margot", jawab Aaron Lee.
"Benarkah !?", kata Margot Evans.
"Yah, benar", sahut Aaron Lee.
Aaron Lee menjawab ucapan Margot Evans dengan disertai anggukkan kepala sedangkan terlihat Margot Evans yang didera rasa kantuk yang berlebihan langsung ambruk dan tertidur nyenyak di atas tempat tidur Aaron Lee.
BRUK... !
"Benarkah... !?", gumam Margot Evans dalam tidurnya.
Margot Evans terbaring di atas tempat tidurnya seraya mendengkur pelan, dia tidak mampu lagi menahan rasa kantuknya yang berlebihan sehingga memaksanya jatuh terlelap tanpa bisa kembali ke kamarnya sendiri.
Suara dengkuran nafas Margot Evans terdengar halus saat dia tertidur lelap.
Tampak Aaron Lee melanjutkan kegiatannya membaca gambar-gambar desain rancangannya berupa Ordo II.
Lama tenggelam dalam hasil rancangannya serta sibuk membaca ulang desain Ordo II ciptaannya.
Tak terasa kedua matanya mulai terasa berat dan rasa ngantuk mulai merambati dirinya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Aaron Lee meletakkan map yang berisi rancangannya ke atas meja belajarnya lalu turun dari atas kursinya.
Berdiri sesaat seraya menatap ke arah Margot Evans yang telah lelap tertidur.
Aaron Lee memutuskan untuk pindah kamar ke kamar ayahnya yang ada di seberang kamarnya di lantai atas.
Bocah lima tahun itu lalu berjalan keluar kamarnya, tidak lupa menutup pintu kamarnya dengan hati-hati supaya Margot Evans tidak terbangun dari tidurnya.
KLEK... !
Aaron Lee bergegas pergi sembari setengah berlari kecil menuju kamar tidur ayahnya yang terletak di seberang kamarnya.
Tap... ! Tap... ! Tap... !
Suara langkah kecilnya saat berlarian terdengar keras menggema di lantai atas yang dinding ruangannya menjulang tinggi.
Terlihat Aaron Lee berdiri tepat di depan kamar ayahnya lalu dia mendorong pintunya untuk masuk.
KLEK... KLEK... KLEK...
"Ayah...", panggilnya saat dia membuka pintu kamar ayahnya.
Tidak ada suara jawaban dari dalam kamar ayahnya.
"Ayah !", panggilnya sekali lagi. "Apakah kau sudah tidur, ayah ?", sambungnya.
Masih tidak terdengar suara jawaban dari dalam ruangan tidur Lee Ryder saat Aaron Lee masuk ke dalam.
Ruangan kamar yang sangat luas dengan hiasan lukisan gambar ayahnya serta dinding-dinding kamarnya yang hampir bercat hitam, terkesan dingin tetapi agak suram.
Saat masuk ke dalam kamar akan disambut oleh udara dingin yang berasal dari mesin pendingin ruangan, menambah suasana kamar semakin sangar.
Lampu-lampu kamarnya yang sengaja dibuat remang justru memberi kesan unik pada kamar beronamen barocco itu meski dicat hampir seluruh ruangannya dengan warna hitam tetapi ada kesan lain saat berada di kamar Lee Ryder.
Suasana romantis sekaligus dingin bercampur aduk menjadi satu pada gaya kamar Lee Ryder yang memiliki kepribadian unik seperti tercermin pada seluruh ruangan kamar tidurnya.
"Ayah !", panggil Aaron Lee. "Kemana ayah ?", sambungnya.
Aaron Lee melangkah mendekat ke arah ranjang tidur berukuran luas di tengah-tengah ruangan kamar ayahnya.
"Ayah...", panggilnya lagi dengan langkah hati-hati.
Adanya pencahayaan yang minim serta suasana yang remang, menghalangi jarak pandang Aaron Lee untuk melihat lebih jelas ke arah ranjang tidur ayahnya.
Aaron Lee memicingkan kedua matanya dan berusaha melihat lebih dekat ke arah ranjang tidur ayahnya.
Namun, dia tidak mendapati ayahnya berbaring di atas tempat tidurnya bahkan keadaan ranjang ayahnya masih terlihat sangat rapi, tidak tersentuh.
Aaron Lee sesaat termenung sambil berpikir akan keberadaan ayahnya yang tidak ada di kamarnya sedangkan hari telah menginjak larut malam.
Pada saat dia melangkahkan kedua kakinya mendekat tiba-tiba lampu kamar ayahnya menyala terang benderang, seluruhnya hingga membuat seisi ruangan kamar tidur tampak terang.
__ADS_1
Aaron Lee kaget dengan cepat dia mengalihkan pandangannya ke arah lainnya.
Betapa terkejutnya dia saat mendapati keadaan seluruh ruangan kamar ayahnya, Lee Ryder mendadak terang tanpa seorangpun yang terlihat berada di dalam kamar.