
Terkadang rasa sakit yang datang adalah obat luka itu sendiri
" Rio, siang ini aku mau ketemu ama Raga. Ada hal yang harus aku selesaikan dengannya"
" Soal apa?" Rio bertanya tanpa menoleh pada Cantika, masih tetap fokus pada lembaran kertas di hadapannya
" Masih ada hal antara aku dan Raga yang belum terselesaikan, jadi aku minta ijin nanti siang untuk menyelesaikannya."
" Baiklah lakukan yang terbaik, ingat jangan sampai ada gosip, aku malas mengurus yang begituan!."
" Iya tenang saja, gak akan ada gosip aneh-aneh. Kami juga hanya makan siang saja, sambil bicara. Lagi pula Raga tadi bilang gak punya waktu banyak karna akan rapat setelahnya."
" Hemm." Rio hanya bergumam dan mengangguk sebagai jawabannya
" Makasih ya Rio, kalau gitu aku siap-siap sekarang."
" Dasar centil " Rio melirik Cantika yang sedang berjalan keluar ruangannya
°°°°°°
Ketika hati dan kenyataan tak sama maka perasaan lah yang akan dikorbankan, entah itu untuk kebaikan atau keburukan hasilnya tetap akan sama " sakit "
" Ada apa sih? kok buru-buru amat sampai melarangku untuk berdandan"
" Diam lah jangan banyak protes, nanti juga kamu akan tau."
" Huuu dasar manusia batu."
Lidya, andai saja kamu tau berita apa yang akan aku sampaikan nanti masih kah kamu akan bersikap begini?. Tapi aku tidak tega untuk mengatakan padamu sekarang karna bukan hak ku untuk itu.
Tapi kalau aku diam dan berpangku tangan, juga tidak akan baik kedepannya. Akan sangat fatal baginya juga bagi keluarga Rahma.
Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi, bagaimanapun Ayah sudah sangat baik padaku dan keluargaku. Mungkin sekaranglah waktunya aku membalas kebaikan keluarga Beliau, sekaligus membawa kembali Lidya ke jalan yang benar dan merubah cara berfikir dia yang arogan.
Walau untuk itu semua aku harus mengorbankan hatiku. Mungkin nanti cinta itu akan tumbuh untuknya seiring dengan berjalannya waktu. Walau aku sendiri tidak yakin tapi aku harus melakukannya.
" Lid, bagaimana kalau pernikahan kita dipercepat?".
__ADS_1
Uhuk uhuk
" Kau bercanda ya?" Tanya Lidya
" Tidak sama sekali, mari kita percepat pernikahan kita."
" Kau mau bikin lelucon untuk menyenangkan ku kah ?, sayang sekali itu tak cukup bisa menyakinkanku. Bukannya kau sangat mencintai adik kecilmu ya."
" Kenapa kau suka sekali menyangkut pautkan masalah kita dengan orang lain?."
" Karna aku tau kau mencintainya bukan mencintaiku!"
" Sudahlah aku gak mau bertengkar denganmu, kita tentukan saja sekarang."
Aku menghela nafas panjang untuk menetralisir gejolak di hatiku, sudah aku pikirkan dan aku pertimbangkan segala konsekwensi yang akan aku tanggung nantinya.
" Bulan depan kita menikah" Sangat berat tapi harus aku. tanggung.
Gadis kecilku, aku harap kamu selalu berbahagia. Karna setelah ini aku tidak akan lagi bisa menjagamu sepenuh hati, ada dia yang harus aku jaga perasaannya.
Aku memandang Lidya yang duduk dihadapanku sambil menikmati chees cake, kupandang lama seolah aku ingin menyelami dan bertanya pada hatiku sendiri " akankah cinta itu tumbuh untuknya nanti " . Sungguh aku gk pernah bisa untuk menjawabnya
°°°°
Dulu awal aku menjalani komitmen dengannya memang aku akui tanpa cinta untuknya, tapi aku sangat berusaha untuk selalu menumbuhkan rasa itu.
Tak ada niat sedikitpun aku melukai hatinya, sampai ketika pagi itu dia datang dengan berurai air mata dan memelukku erat. Seolah semua yang ada dihadapanku berhenti bergerak dan menjadikanku patung hidup yang kembali kecewa dalam urusan cinta.
Dulu aku pernah menjalin hubungan, tak pernah terfikirkan olehku kalau dia orang yang sangat aku cintai menjadi penyebab sakit hatiku.
Dihadapanku dia berselingkuh dengan sahabatku sendiri, sakit itu sangat membekas karna aku mencintainya sepenuh hatiku. Sampai-sampai aku berfikir kalau lebih baik aku mati saja, cengeng memang untuk ukuran cowok sepertiku, tapi jika itu menyangkut hati akan sulit sekali dikendalikan.
Beruntung aku punya teman seperti Yana, dia yang jadi penyemangatku. Darinya aku belajar banyak hal, membuat aku kembali semangat untuk menapaki jalan ini. Tapi aku harus kembali terluka hati karna wanita.
" Lima menit lagi aku sampai" Balasku akhirnya.
Sepertinya aku sudah mulai mencintai Cantika, sayangnya semua sudah terlambat. Saat cinta itu hadir Dia harus pergi meninggalkanku.
__ADS_1
" Sorry Can, aku terlambat beresin kerjaan tadi nanggung dikit lagi soalnya." Ucapku basa basi.
"Tak apa Ga, seneng kamu bisa datang."
" Aku sudah pesan makan siang tadi, maaf bukannya lancang cuma biar semua cepat tersaji. Kan kamu bilang masih ada kerjaan nanti setelah ini."
" Iya tak apa kok. Oh ya mau bicara soal apa?."
" Apa gak sebaiknya kita makan dulu Ga?, nanti baru ngobrol santai." Aku mengangguk menanggapi.
Hening tercipta hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring. Sesungguhnya aku penasaran apa yang mau dibicarakan Cantika.
" Emm Ga, aku mau minta maaf sama kamu. Atas apa yang terjadi pada kita, sungguh semua diluar kemauanku. Terus terang aku gak tau menahu soal perjodohan ini."
" Aku sudah mencoba menolaknya tapi semua sia-sia Ga. Aku tak sanggup lagi melawan Ayahku."
" Maaf kan aku, sungguh aku gak berniat untuk berhianat. Aku sayang kamu Ga, tak ada sedikitpun aku punya pikiran untuk membuat sakit. Aku tau bagi laki-laki ini hal biasa tapi bagiku sangat luar biasa."
" Semua orang berpikir aku meninggalkanmu dan bersanding dengan Rio karna harta, semua itu gak benar. Aku tak punya kuasa untuk melawan."
Aku masih terdiam, ingin mendengar cerita yang lebih lagi dari Cantika. Aku tau soal ini, pertunangan ini adalah perjodohan yang aku mau tau perasaan dia kepadaku selama ini.
" Ga, maaf kan aku ya. Seandainya aku mampu akan memilih pergi menjauh dan akan kembali nanti bersamamu kalau waktunya sudah tepat. Tapi aku tidak mampu melakukannya, Ayahku sakit Ga. Ayah mengidap paru-paru basah dan harus cek up rutin, aku tidak sanggup memberi Beliau luka lagi karna perlawananku. Jadi aku memilih untuk menyerah dengan takdirku." Tangis Cantika sudah tak terbendung lagi.
Permainan apa lagi ini Tuhan? kenapa harus berakhir pilu lagi kisah cintaku ini. Batinku melirih sakit.
" Sudahlah Can, tidak ada yang perlu disesali. Aku sudah ikhlas menerima semuanya, mungkin ini yang terbaik buat kita. Bisa jadi ini teguran buatku karna pada awalnya aku tak mencintaimu, dan disaat cinta itu mulai tumbuh kamu harus pergi dariku. Aku rasa Tuhan memberi hukuman yang adil buat ku."
" Berjanjilah kamu akan bahagia setelah ini Can, jangan menagis lagi. Aku tau kamu wanita hebat, pasti kamu sanggup melewatinya."
***Cinta tak selamanya harus memiliki tapi cinta juga tak patut dibenci. Karna cinta tak pernah salah hanya keadaan yang membuatnya jadi serba salah.
TBC genk's
Mohon dukungannya
° like, komen , rate dan favorit
__ADS_1
° thanks all and love you***