Andai Kau Tau Rasaku

Andai Kau Tau Rasaku
Luka


__ADS_3

VIANDRA


" Apakah Aku sudah mencintainya? mencintai istriku?."


Viandra tidak mampu menemukan jawaban pasti untuk dirinya sendiri. Yang Dia tau saat Lidya menangis seperti semalam hatinya pun ikut nyilu dan membayangkan Lidya pergi membuat jiwanya takut. Apakah itu sudah bisa disebut cinta?


" Yank."


" Eh Abi sudah bangun."


Lidya tersenyum menghampiri suami tampannya yang berdiri diambang pintu tanpa mengalihkan pandangan ke arahnya. Celana kolor, kaos tipis dan rambut yang masih acak-acakan tidak mengurangi kadar tampan Vin dimata Lidya.


Lid bersyukur sudah diberi kesempatan untuk berada disisi Vin yang cuek ganas tak tersentuh itu. Bahkan Lid bisa merasakan limpahan kasih sayang Vin untuknya.


" Kenapa tidak bangunkan Abi, kamu sengaja ya bikin Abi sport jantung pagi-pagi." Vin langsung berucap setelah mengecup mesra kening istrinya


" Ha, sport jantung apaan sih Bi? Lid gak ngerti. Ohya tadi Lid sengaja tidak membangunkan Abi, karna Lid mau belajar masak sama Bibik."


" Hasilnya?"


" Itu dimeja hasil Lid belajar dibantu Bibik tentunya. Abi mandi dulu gih sana biar tidak bau acem terus Kita sarapan."


" Baiklah Abi mandi dulu dan nanti siang bersiaplah Kita akan pergi ke apartement AL, memperingati hari meninggalnya Mama Al." Lidya hanya mengangguk.


Vin beranjak kembali ke kamar setelah berhasil mencuri satu kecupan dibibir istrinya. Hatinya melega karna masih bisa memeluk tubuh mungil itu.


°°°°


Kailandar


" Queen, Ayah baru saja menghubungiku Beliau bilang masih dalam perjalanan namun nanti akan mampir kesuatu tempat dulu, mungkin butuh waktu 45 menit lah kurang lebih baru sampai sini."


" Tak apa Ayy, semua sudah siap kok. Tinggal menunggu tamu saja ini."


" Maaf ya Yank kamu jadi ikut repot hari ini menyiapkan ini semua."


" Bicara apa sih, Kamu tau kan kalau masak adalah hobiku jadi mau berapa banyak pun Aku senang melakukannya." Aku tersenyum puas memandang hasil karyaku.


" Makasih my Queen."


Beberapa menit berlalu ternyata beneran banyak tamu yang datang, bahkan beberapa aku tidak mengenal mereka karna memang ini pertama kalinya Aku ikut acara ini, sedikit bingung saat nanti ada yang bertanya Aku ini siapa disini? Aku harus menjawab apa?


" Mikirin apa sih Yank, kok ngelamun."


" Ayy nanti kalau ada yang nanya Aku siapa disini, Aku harus jawab bagaimana dong."

__ADS_1


" Jawab saja Kamu tunangan AL, calon menantu Om."


Astaga Om Rahma datang dari mana sampai Aku tidak menyadari keberadaannya di samping ku berdiri.


" Benar begitu kan AL? kali ini Ayah tidak mau ada bantahan lagi. Sudah Ayah putuskan semua."


" Tapi Ayah Kami belum membicarakan .."


" Ayah tidak mau mendengar alasan apapun lagi, bagi Ayah ini adalah bagian dari kebahagiaan yang Ayah impikan selama ini."


Aku dan AL akhirnya hanya bisa terdiam mendengar keputusan yang telah diambil oleh Om Rahma. Aku sendiri tidak tau harus bagaimana lagi memberi jawaban, sementara orang tuaku saja belum ada yang tau tentang hubunganku dan AL.


" Yank bagaimana ini, Aku sendiri tidak tau rencana Ayah."


AL menatapku dengan tatapan menyesal Aku tau Dia juga terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini dan Aku tidak ingin lagi menambahnya.


" Tak apa Ayy, nanti kedepannya baru Kita pikirkan lagi ya."


" Kamu tak marah Yank?."


" Tidak, untuk apa marah kalau itu demi kebaikan Kita. Aku yakin Om Rahma sudah memikirkan semuanya."


" Jadi Queen kamu setuju?."


" Ih apaan jangan lah, Kamu tau sudah lama Aku menunggu jawabanmu yang ini Queen. Makasih, makasih banget untuk semuanya."


" Ehem, ingat ada Ayah disini ya. Astaga kalian anak muda benar-benar tidak tau tempat."


" Kaya Ayah tidak pernah muda aja." Eh Kak Andra tiba-tiba sudah nyambung pembicaraan saja.


" Kak kapan sampai kok gak liat ya." Basa basiku menutupi malu haha


" Mana bisa lihat sekeliling kalau yang ada didepan mata lebih menarik." Kak Andra mulai ngeledek aish ini gara-gara AL yang tidak tau tempat


" Lid ayo kesana bantuin Aku ya."


Sengaja Aku menghindar dari pada diledekin terus, Aku mengajak Lid menyiapkan semua hidangan buat tamu. Bahagia Aku melihat Lidya dan Kak Andra sudah bisa saling menerima, awalnya Aku dan AL ragu dengan hubungan mereka yang terkesan dipaksa.


" Lid bagaimana kabar Kamu? udah berapa lama ya Kita tidak ketemu?."


" Baru juga seminggu Yan, Aku baik dan sangat baik mala."


Lidya tersipu dapat terlihat jelas pancaran kebahagiaan itu diwajah cantiknya. Alhamdulillah Aku turut senang dengan kebahagiaan mereka. Kak Andra akhirnya bisa menerima Lidya disisinya, Aku tidak harus merasa bersalah lagi bukan?


" Benarkah? ih Aku kira sudah sebulan lebih mala haha. Selamat ya Lid Aku ikut bahagia untukmu."

__ADS_1


" Makasih banyak Yan, ohya kapan-kapan main ke rumah Kami ya Aku pengen belajar masak, Abi bilang masakan Kamu itu enak."


" Kalau libur ya, InsyaAllah kesana tapi harus lihat Dia( aku menunjuk AL) ada acara tidak."


" Yang penting setuju dulu kalau masalah waktu bisa diatur belakangan. Bisa juga Aku yang main ke tempatmu."


Acara demi acara peringatan kepulangan Mama AL kepangkuan Ilahi berjalan khidmat dan penuh haru. Aku melihat kesedihan di wajah Om Rahma dan AL, mereka berdua adalah orang yang paling terpukul atas kejadian itu.


Rio hadir bersama Mbak Nia namun Aku tidak melihat Cantika ikut menghadiri acara.


Tahun ini saja begini harunya bagaimana tahun yang kemari-kemarin yang sudah berlalu.


" Yan kamu dari kapan menginap disini?"


" Baru kemarin Aku kesini Lid, jadi bisa dibilang dua hari satu malam aku disini."


Acara berlangsung hingga sore hari, dan menjelang jam empat sore rombongan keluarga besar bersama-sama pergi berziarah ke makam Mamy yona termasuk Aku.


Ku lihat Om Rahma terdiam dengan wajah sendu yang kentara, Aku tidak tau bagaimana perasaan Beliau. Mungkin pada waktu Mamy meninggal Om Rahma lah yang paling terpojok, dan mungkin Beliau merasa bersalah karena itu.


" Sayank kita pulang dulu yuk?" AL menghampiriku


" Om Rahma gimana Ayy?"


" Ayah akan disini sampai nanti Beliau lega dan pulang Queen, tiap tahun Ayah melakukan nya jadi jangan khawatir. Ada mang Udin dan Jojo yang akan menemani Ayah disini."


Akhirnya Aku hanya mengangguk, Kami berdua berlalu tanpa berpamitan pada Om Rahma. AL bilang saat begini Beliau tidak ingin diganggu, itu sebabnya tak ada seorangpun yang menyapanya. Dari awal masuk kearea pemakaman Om Rahma sudah terdiam mengunci rapat mulutnya.


Mungkin rasa penyesalan dalam diri Om Rahma hingga Beliau melakukan hal itu sebagai pengganti kata maaf yang belum sempat Beliau ucapkan pada mendiang istrinya.


☆***Terkadang apa yang kita lihat diluar tidak sama dengan kebenaran yang ada. Apa yang kita lihat indah bisa jadi itu hanya kamuflase saja. begitupun senyum dan tawa. Tak jarang mereka hadir hanya sebagai pelengkap dan penutup luka.


°°°°


TBC Genk's


° mohon dukungannya


°Like komen rate ☆ 5 dan favorite


° Makasih & love you all



Mampir juga ke karya ke dua ku ya guy's.

__ADS_1


__ADS_2