Andai Kau Tau Rasaku

Andai Kau Tau Rasaku
Gunda


__ADS_3

2 Minggu kemudian


Acara pernikahan yang digadang-gadang hampir tiba, pernikahan yang dimajukan dari rencana awal. Tidak ada yang tau alasan pasti kenapa Kak Andra memilih mempercepat pernikahannya, padahal dari awal Dia yang terkesan mengulur waktu.


2 hari sebelum keberangkatan AL ke Sidney waktu itu, Kak Andra mengajak kami berkumpul untuk mengutarakan maksudnya. Kaget? sudah pasti apalagi Aku dan AL mengetahui suatu kebenaran yang belum terbukti benar atau tidaknya.


Kami tidak mau ambil resiko dengan berasumsi sebelum dapat bukti, tapi keputusan yang diambil Kak Andra mematahkan semangat kami. Banyak sekali pertanyaan yang belum ketemu jawaban dan ujung pangkal dari semua permasalahan


AL sendiri terkesan sangat santai menghadapi situasi ini, bahkan AL bilang " Tenang saja, jangan terlalu khawatir karna pasti Aa Vin sudah mendapatkan jalan keluar dan tau situasi sebenarnya."


Huuuf, Aku memang orang baru dilingkungan mereka bahkan aku tidak tau bagaimana mereka menjalin keterikatan satu sama lain hingga mereka sepertinya punya banyak badan tapi hanya satu kepala yang menjadi otaknya.


Seandainya Kak Andra mengetahui prihal Lidya yang sebenarnya mungkin itu baik tapi, kalau seandainya Dia belum mengetahuinya itu yang akan menjadi masalah besar dikemudian hari. Tapi benarkah orang-orang seperti AL dan Kak Andra yang selalu waspada dalam segala hal bisa terkecoh?.


°°°°°°


" Sayank ada apa? dari tadi aku perhatikan kamu banyak melamun?."


" Tidak ada apa-apa sih AL, hanya saja aku masih bingung."


" Bingung? soal apa?."


" Pernikahan Kak Andra lusa"


" Kenapa memang, apa yang kamu khawatirkan?."


" Soal Lidya itu AL, apa Kak Andra mengetahuinya."


AL tersenyum, duduk disebelah ku sambil membenahi berkas-berkas yang baru selesai.


" Kamu masih saja khawatir soal itu Yank, tenanglah pasti Aa Vin sudah memikirkan dengan matang sebelum mengambil keputusan. Apalagi masalah ini menyangkut masa depannya."


" Iya juga sih, selama ini Kak Andra selalu memakai perhitungan saat bertindak, pasti Dia juga tau kebenarannya kan AL?"


" Atau jangan-jangan kamu masih mengharapkan Aa Vin menggagalkan rencananya Yank?."

__ADS_1


" Eh, maksudnya gimana ini AL? kenapa jadi aku?"


" Siapa tau hatimu masih mengharapkannya, bukankah rasa itu pernah hadir?"


Aku terdiam, kupandangi AL yang masih serius membereskan kertas-kertas laporan itu. Tak nampak olehku dia menyesali ucapannya, apakah dia sengaja atau memang mencurigaiku.


" Kau bertanya atau menuduhku AL?"


" Tergantung jawabanmu nanti, aku baru bisa melihat kearah yang mana."


Sakit terasa saat apa yang kita lakukan mala menjadikan kita tertuduh. Apalagi orang terdekat kita yang melakukannya, mungkin baginya biasa tapi bagi kita orang yang dituduh akan terasa sangat kecewanya.


" Baiklah AL, terima kasih karna kamu sudah menuduhku. Maaf jika harus membuatmu berfikir keras untuk itu, lupakan lah aku mau pergi dulu."


Aku segera beranjak dari tempatku, sakit ini tidak bisa aku tutupi terlalu lama. Pergi sesaat setidaknya bisa membuat hatiku tenang dan bisa berfikir logis lagi nantinya


" Ga, nanti tolong bawain tasku ke taman belakang ya. Kayaknya aku tidak masuk ruangan lagi deh Ga"


" Ok, lue gak kenapa-napa kan Yan?"


" Ya ya siap."


Sakit sekali rasanya bila diri ini dituduh tanpa tau kebenarannya, apalagi orang itu orang yang paling dekat dengan kita. Yang mengetahui segala apa rasa dihati dan pikiran kita. Yang selalu bicara tentang apapun dan bagaimana berusaha mencari solusi terbaik di setiap waktu dan masalah, tapi sakit benar-benar sakit ketika kita menjadi tertuduh dalam hal ketidak pekaan. Iya tidak peka, karna mereka lebih mempercayai perkataan orang yang belum tentu akan kebenarannya.


Aku terduduk di Taman belakang gedung kantor, jarang sekali ada karyawan yang melewati Taman ini karna memang letaknya yang tidak begitu strategis. Berbeda dengan taman samping yang lebih dekat dengan jalan yang biasa digunakan karyawan berlalu lalang tiap harinya.


Udara disini lebih sejuk, gedung ini terdiri dari beberapa lantai. Tiap lantai ada kantor sendiri karna gedung ini adalah gedung sewa. Ada beberapa kantor yang tergabung di sini, sementara untuk kantor AL ada dilantai 3 dan 4. Lantai 1 dan 2 disewa sebuah perusahaan yg begerak di bidang percetakan. Sementara lantai 5 dan 6 aku kurang tau kantor apa, mungkin karna aku tidak pernah keliling ke lantai atas.


Fasilitas gedung ini bisa dibilang cukup lengkap, ada supermarket, tempat foto copy, coffe breack, cafe dan resto, juga ada taman-taman indah dengan bunga-bunga yang dirawat untuk memanjakan mata kami yang mungkin lelah seharian menghadapi keyboard dan layar monitor.


Aku mencoba mencari kesalahan akan ucapanku tadi hingga membuat AL menuduhku dan berasumsi berbeda, mencari cela mana yang aku lewati hingga tanpa sadar menyinggung AL.


Akhirnya aku putuskan untuk tidak lagi ikut campur dan bertanya tentang segala sesuatu yang menyangkut keluarganya, mungkin menunggu lebih baik, iya menunggu AL sendiri yang menceritakannya padaku.


°°°°°°

__ADS_1


" Yess, ayah akhirnya kita tidak perlu menunggu lebih lama lagi untuk bisa masuk menjadi bagian dari keluarga Om Rahma. Tapi sayangnya kenapa sama Dia sih yah, kenapa bukan dengan si AL."


" Tak apa Lid, segini juga sudah lumayan. Kamu tau Viandra juga sangat berpengaruh dalam keluarga Rahma, Dia bukan hanya asisten dan kakak angkat AL tapi dia juga pemilik dari Hotel dan Resto cabang 2 yang ada disini."


" Benarkah yah? kok aku tidak tau ya. Perasaan yang disini Reza yang pegang yah."


" Memang benar, tidak banyak yang tau kalau sebenarnya Viandra lah pemilik dari Hotel itu. Hanya beberapa orang lama yang memang mengenal baik Pak Rahma."


" Untuk cabang 1 dan 3 masih dipegang AL, ada kabar yang beredar kalau sebenarnya cabang 1 pun sudah ada pemiliknya tapi belum tercium siapa orangnya."


" Ayah tau banyak hal tentang Om Rahma, berarti ayah juga termasuk teman dekatnya?."


" Tidak juga, ayah hanya pandai menggunakan kesempatan yang ada untuk masuk menjadi kenalannya. Dan sekarang menjadi keluarganya untuk itu kamu jangan sampai kecewain ayah Lid!."


" Pasti ayah, Lidya akan melakukan yang terbaik." .


°°°°°


" Sudah lama kamu tidak mengajak Aa ngopi bareng AL, pasti ada yang mau kamu bicarakan! katakan ada apa?."


" Kau selalu bisa menebakku Aa."


" Maaf sebelumnya karna mungkin ini masalah agak pribadi Aa, seharusnya AL juga tidak boleh ikut campur tapi AL juga ingin tau alasan sebenarnya Aa mengambil keputusan untuk menikah lebih cepat."


" Banyak pertimbangan yang Aa sudah pikirkan matang-matang sebelum ini AL, harusnya kamu sudah tau kan? Aa tau kamu juga menyelidiki Lidya. Aa juga tau kamu mengetahui rasa Aa yang sebenarnya." Aa Vin berulang kali menarik nafas mungkin untuk meredam segala gejolak didadanya walau sikapnya tetap tenang aku tau jiwanya lagi gunda


***TBC GENK'S..


Terkatung-katung dulu bab ini ya..seperti Viandra yang lagi gunda eh bahasa gaulnya galon ya ....


Mohon dukungannya


° like komen rate ☆5


°vote jika berkenan

__ADS_1


° Terima kasih banyak & love you all***


__ADS_2