
Pov Raga
Tangis takkan sanggup mengulang lagi, semua penyesalan dihati hanya tinggalkan nestapa. Bila waktu memihakku harusnya ku bilang sayang, harusnya kubilang cinta karna semua milikmu.
Lirik lagi Element sepertinya sangat cocok mewakili kegundahanku saat ini, ternyata harus aku rasakan lagi perihnya.
Kenapa selalu terlambat aku menyadari cintaku? membuatku harus kehilangan. Dulu saat aku masih bersama Mona tak pernah aku merasa was-was dan gunda, karna aku menempatkan rasa percaya diatas segalanya. Tapi ternyata kepercayaan yang aku junjung tinggi mengandung penghianatan tanpa aku sadari. Mona berselingkuh dengan Rendi teman ku sendiri.
Aku tidak habis pikir waktu itu dengan mereka, apa yang ada di pikiran dan perasaan mereka saat melakukan itu. Tapi ada yang aneh dengan hatiku, dulu tak sesakit ini rasanya. Kenapa sekarang rasanya begitu menyakitkan.
maaf kan bila aku tiada lagi disisi kita terpisah waktu dan keadaan, tetaplah kau jalani mimpimu walau tak bersamaku. Semua lirik lagu itu menyesakkan dadaku.
Cintaku berbalut pilu
°°°°°
Tok tok
" AL boleh masuk?."
" Masuk saja Yank, masih lama jam makan siang. Ada apa? kangen ya?."
" Ih, kamu ini AL. Emh, mau ijin boleh?."
AL menghentikan tangannya yang sedang bekerja, dia memandangku lekat-lekat seolah mencoba menebak apa yang ada didalam pikiranku
" Ijin? mau kemana emang kamu Yank?."
" Makan siang nanti aku ijin mau makan bareng Raga ya AL."
" Dengan Raga? kenapa apa kamu bosan makan denganku?."
" Eh, apaan si AL kok gitu amat ngomongnya." Aku berjalan mendekat
AL berubah jadi sosok yang posesif akhir-akhir ini, aku senang tapi juga sedih dan kesal. Senang karna dengan begitu dia menunjukkan perhatiannya padaku tapi sedih karna kebebasanku bersama teman-temanku sedikit berkurang dan kesal karna batasan ruang gerakku.
Tapi aku tau niat Dia baik, ingin menjagaku dan bertanggung jawab terhadapku. Tapi tetap saja aku terkekang walau aku tidak pernah mengeluh untuk itu.
" Raga lagi ada masalah AL, dia mau bercerita. Gak mungkin kan kalau aku ajak kamu dan Suci, Dia malu pastinya."
" Kan aku gak akan ikutan bicara atau bisa juga aku duduk di meja lain nanti."
" Astaga AL, kamu tidak percaya sama aku." Aku mencoba memasang wajah memelas walau aku tau, keahlianku sangat parah dalam hal ini.
" Sini!!" Al melambaikan tangan menyuruhku mendekat
" Ada syaratnya tapi."
__ADS_1
" Apa? kalau gak sulit bisa diperhitungkan."
" Kemarilah, kenapa jauh sekali sih!! sini berdiri didekatku."
Mau apa sih Dia ini, makin hari makin aneh saja tingkahnya, protesku dalam hati tapi tak urung juga aku tetap melangkah mendekatinya.
" Mau makan dimana emangnya?" Tanyanya setelah melingkarkan tangan dipinggangku.
" Belum tau, palingan di cafe depan itu biar gak terlalu jauh."
" Kalau gitu aku gak makan deh, nanti kamu bungkusin aja buat aku ya." Ucapnya sambil mendongak menatapku, dengan segera aku mengangguk agar drama ijin gak tambah panjang hihihi.
" Jangan nakal ya."
" Emang aku anak kecil ya." Cemberutku
" Anggap saja begitu, kangen yank." Lanjutnya sambil memeluk ku erat dan meletakkan kepalanga diperutku, Ish kambuh lagi kan manjanya
°°°°°°
Bahagia itu bukan berarti kita harus memiliki segalanya , tetapi bahagia itu jika kita tidak membandingkan apa yang kita miliki dengan orang lain dan tetap selalu mensyukuri apa yang kita miliki . Kata ini menjadi penyemangat ku selama ini
" Ga, ngelamun kan."
" Sorry Yan, akhir-akhir ini aku hilang fokus banget. Terlalu banyak kejadian yang serba kebetulan terjadi, kadang kala aku belum siap untuk menghadapinya."
" Ceritakanlah Ga, aku siap mendengarkan."
" Dua hari lalu kami bertemu, dan Dia menceritakan semuanya. Tentang perjodohannya, tentang keadaan keluarganya dan juga tentang hatinya."
" Cantika mengatakan kalau dia tidak tau menahu soal perjodohannya, saat perjodohan itu dia masih ada diyogya. Tapi belakangan dia tau kalau perjodohan itu dilakukan saat dia masih kecil."
" Cantika juga mengatakan bahwa dia sudah berusaha menolak perjodohannya tapi semua menjadi sia-sia saat dia harus dihadapkan pada kenyataan kalau Ayahnya sedang sakit dan butuh perawatan yang rutin. Jadi dia tidak punya pilihan lain selain menerima perjodohan itu Yan."
" Lalu apa yang membuat mu gunda Ga?perasaanmu kah? atau keadaan yang harus Cantika jalani setelah ini?."
" Kamu ini kenapa selalu saja bisa menebak sebelum aku ceritakan sih Yan?."
" Eh mana aku tau Ga, aku kan cuma bertanya tadi. Kalau ternyata benar anggap saja aku jenius."
" Bukan karna kamu para normal ya atau cenayang."
" Di kupret kamu emang, dalam keadaan begini masih saja bisa-bisanya ngeledek ya."
" Lucu kali Yan, liat wajah kamu cemberut jadi pengen ketawa."
" Enak aja emang aku badut yang kalau ngambek atau marah dan bahagia tetap aja tuh muka begitu gak berubah "
__ADS_1
" Nah kan kamu yang bilang itu hahahah."
Huuf Ga akhirnya kamu tertawa juga, walau aku harus jadi korbannya tak apalah yang penting sedikit beban bisa terangkat karna kamu bisa tertawa lagi.
" Eh Yan."
" Emh..apa."
" Tumben kamu bisa keluar sangkar tanpa pengawasan Pangeranmu, biasanya kemana-mana selalu ada ngekor kan."
" Ya aku rayulah supaya bisa makan siang ama kamu, tadinya juga susah sih untungnya bisa berhasil juga."
" Kamu apain emang sampai dia bisa luluh gitu?."
" Kagak ada, dia cuma minta dibungkusin makan siang untuknya saja."
" Kenapa jadi bahas Aku Ga, kan kita disini mau cerita masalah kamu, dih pengalihan topik aja kamu ini."
" Intermezo dikitlah Yan, biar gak terlalu tengang aku ini."
" Lanjut ceritanya, keburu nih waktu, durasi-durasi." Candaku sambil melihat jam dipergelangan.
Raga menceritakan semua hal yang mengganjal dihatinya, tentang semua rasa yang dia alami, tentang cintanya juga tentang masa lalunya.
Miris memang disaat cinta yang kita harap datang diwaktu yang tidak tepat itu sangatlah menyakitkan, apalagi bagi Raga yang selama ini mencoba berperang dengan waktu dan masa lalu untuk menemukan rasanya kembali.
" Yan aku,." Aku menatap Raga menunggu kata selanjutnya yang mau dia uncapkan
" Aku boleh minta tolong, rahasiain ini dari siapapun."
" Kirain mau bilang apa kamu Ga, kalau itu pasti lah eh tapi kalau AL yang bertanya aku harus bilang apa dong Ga?."
Panikku seketika mengingat kalau AL paling tidak suka dibohongi dan bertele-tele. Karna dia akan cepat marah kalau hal itu sampai dilakukan.
" Kalau bos yang nanya ya kamu ceritakan saja semua, dari pada dia marah gak jelas. Dikiranya aku ada rasa nanti sama kamu Yan."
Eh Ga, itu kalimat emang sudah diucapkan lo sama AL. Tapi mana mungkin aku katakan sama kamu sekarang.
" Kalian berdua disini? ." Aku dan Raga menoleh pada asal suara yang sangat familiar diteliga dengan cepat
Lo kok,,
°°°°°
***TBC genk's
Mohon dukungannya
__ADS_1
° like komen rate dan favoritnya
°Terimakasih dan love you all***