
"Sayank jawab aku, Kamu sakit?."
"Kamu bohong sama aku yank, tadi bilang baik-baik saja. Tapi apa ini ! Kenapa yank? masih kah kamu tidak mempercayaiku?."
"Bukan begitu, aku cuma gak mau membuat mu khawatir. Sungguh gak ada maksud lain lagi." Astaga apa lagi ini.
Ku dengar helaan nafas berat dari sebrang sana. Otakku berputar mencoba berfikir cepat, harus diselesaikan agar tidak berlarut dan menjadi masalah.
"Sayank please jangan marah, jangan khawatir lagi ya. Aku cuma pusing, gak ada yang serius kok." Sayank astaga baru kali ini aku menjawab panggilannya begitu. Berharap agar semua baik.
"Ayo cepet masuk, aku antar kemana ini? Kita kedokter aja dulu ya, liat kamu pucat sekali begitu."
Astaga kenapa makhluk itu angkat bicara lagi sih, baru aku mau menutup telpon.
"Yank, aku tetap khawatir. Aku mohon yank jangan berbohong lagi, kamu sakit kan? Itu tadi siapa yang bicara?."
"Bos ku, boleh aku tutup dulu telpone nya. Nanti aku kasih kabar, janji kok. Gak enak kan sama bos ku ."
"Ok, aku akan menunggu kabarmu. Hati-hati yank".
"Eh tunggu yank, jawab satu pertanyaan lagi ya."
"Apa?" sahutku cepat sambil duduk dan memasang sabuk pengaman.
"I love you." Aku terdiam, apa yang harus aku jawab.
"Minggu depan, aku akan menemuimu. Aku tau keraguanmu yank, tapi percayalah itu kamu dan hanya kamu yank."
"Bersedia menjawabku yank?." Pemaksaan secara halus, tapi aku butuh untuk saat ini karna tanpa sadar ternyata aku duduk di bangku depan bersebelahan sama Rio. Napa jadi bego gini ya aku
"Iya," Aku menjedah ucapanku, menghela nafas demi menyakinkan hati ini.
"I love you to." Malu itu yang aku rasakan, jujur aku gugup. Kata itu sudah lama tidak pernah keluar dari mulut ku.
"Makasih sayankku, hati-hati ya. Aku tutup telfonenya, nanti aku hubungi lagi. Istirahat setelah ini ya, aku sayank kamu."
Kupandangai benda pipih ditanganku, bagai mimpi. Kepala ku yang tadi sakit mendadak hilang sakitny. Ajaib bukan hahahah
"Pacar atau suami kamu."
"Pacar."
"Aku kira kamu sudah menikah Ay." Aku menoleh cepat
__ADS_1
"Jangan pangil aku pakai sebutan itu lagi, aku gak mau membuat orang lain salah faham nantinya." Protes ku cepat
"Tenang aja, cuma berdua aja kita ini. Lagi pula aku kangen pengen manggil kamu pakai sebutan itu lagi." Acuhnya
"Tidak, aku gk suka. Dan tolong jangan lakukan lagi." Tolakku tegas
"Kenapa? bukannya kamu senang dengan sebutan itu Ay?."
"Iya, tapi itu dulu dan sekarang sudah berubah. Tolong jangan membuat semuanya menjadi rumit."
"Karna dia?." tebakny
"Jangan masukan orang lain dalam permasalahan kita, lagi pula semua sudah berakhir lama kan. Untuk apa? untuk apa kita mengusik kisah yang sudah lama berlalu." Hardikku
Ku buang pandanganku keluar jendela, menghela nafas berat yang menyesakkan dada ini. Kenapa dia harus datang hadir kembali?.
Ku pejamkan mata, mencoba mengusir lara ini. Mencoba lari dari kenyataan yang menyakitkan, tapi lagi dan lagi aku gagal. Semua kembali seperti untaian pita kaset yang berputar di otakku.
"Kita belum putus bukan Ay?."
"Tapi kita sepakat untuk berpisah, dan itu sudah menjadi keputusan final kita waktu itu." Dengan mata terpejam aku menjawab agar tak terlihat lagi luka di mataku
"Tapi rasa itu masih ada Ay, dan selalu ada. Sekuat apapun aku mencobanya, ternyata aku tak mampu."
"Semua sudah berakhir, aku mohon jangan mengungkitnya kembali."
Pintaku penuh harap tanpa menoleh atau pun memandang, aku masih setia memejamkan mataku
"Aku tau, aku sudah menyakitimu begitu dalam Ay. Aku juga yakin tak akan ada lagi pintu maaf darimu untukku." Kembali dia menghela nafas
"Aku hanya ingin kau tau, rasa ini masih ada untukmu Ay."
"Cukup Rio please !. Kubuka mata dengan tatapan nyalang. Muak, sungguh aku sudah muak dengan semua permainan hati ini.
Aku menyalahkan diri dan hatiku. Kenapa? kenapa sangat rapuh. Kenapa aku muda jatuh cinta dan muda pula terluka.
Apa aku tidak pantas bahagia? Aku capek menata hati tapi dalam sekejab hancur lagi.
Salah? dimana salahku hingga semua ini menghantui jalan hidupku. Tidak pantaskah aku bahagia?
"Aku mohon jangan lanjutkan dan jangan ungkit lagi masa yang sudah lalu, itu hanya akan mengingatkan kita pada luka. Aku sudah melupakannya dan tolong kamu hargai itu Rio."
Ingin aku menangis sekencang-kencangnya demi meluapkan emosi ini. Tapi aku tak mau orang lain melihat kelemahanku.
__ADS_1
Kupejamkan mata kembali, menghela nafas pelan untuk mengusir emosi yang tersulut.
"Ay,."
"Diamlah Rio please, dan fokus menyetir." Potongku cepat, tidak ingin lagi mendengar dia mengungkit semuanya. Aku lelah sungguh lelah.
Hening, hanya suara deru mobil jalanan, kami diam tanpa suara.
"Sudah sampai."
"Makasih ya." Buru-buru ku buka seatbelt, dan bergegas membuka pintu mobil. Tapi aku tercenung bingung, lah aku dimana ini kok bukan rumahku.
Kutoleh Rio yang baru keluar dari mobil, dia tersenyum. Shit, umpatku dalam hati.
"Tadi aku mau menanyakan alamatmu, tapi kamu mala menyuruh aku diam. Ya sudah aku bawa kesini kamu Ay, sekalian aku lapar belum makan siang."
Senyum kemenangan tersungging di bibirny. Dia melangkah masuk ke sebuah rumah makan sederhana, yang aku sendiri tak tau ini didaerah mana
Aku merutuki kebodohanku, kenapa aku ceroboh. Dia kan belum tau rumahku bagaimana akan mengantarku coba. Ish bener-bener deh otakku sedang aku gadaikan kemana hari ini. Napa konsen ku hilang beterbangan begini.
"Makan dulu, aku tau kamu juga belum makan tadi."
"Setelah ini aku pulang sendiri, boleh? Biar aku pesan angkutan online, kamu harus kembali ke kantor ini sudah terlalu terlambat untuk jam makan siang."
Mencoba mencari alasan yang tepat untuk lepas dari situasi seperti ini. Setidakny untuk hari ini, aku sudah terlalu pusing.
"Gak papa biar aku antar saja, lagi pula aku gk balik kantor lagi kok. Bentar lagi ada tamu, kami janjian di suatu tempat. Tapi masih cukup sedikit waktu buat anterin kamu".
Pergi jauh, titipkan perih sedikitpun peduli.
Ku raih handphone di tas Al dia menelfonku. Astaga hari ini benar-benar membuat aku berteriak.
"Sayank, aku pesankan makanan buat kamu. Bentar lagi mungkin kurirnya sampai. Dimakan ya sayankku." Belum juga aku mengucap hallo dia sudah main tancap aja
"Iya, tapi aku sudah makan ini. Eh sedang makan maksudnya, aku belum sampai rumah. Masih singgah makan dulu."
Takut-takut aku menjelaskan pada Al keadaanku sekarang. Bagaimanapun dia adalah kekasih ku walau hanya kekasih bayangan
Al siapa ya...Wwkwkk
Tebak hayo inisial pemilik nomer asing ya..oupss.
happy reading guy's...Mohon dukungannya ya ..like komen dan rate nya .love you all
__ADS_1